
Terdengar langkah Grey mendekati isteri dan ibunya "Lho, kalian tumben duduk di meja makan ?" kata Grey sambil mengecup pipi ibunya dan melangkah mendekati Lila dan mengecup pipi Lila.
"Aaahhh iya sayang, kita keasyikan ngobrol tadi sampai malas untuk berpindah tempat heeeee." sahut Lila.
"Kamu kok sudah pulang jam segini ?" tanya Bu Ratih.
"Iya Bu, kan ada janji sama Tante Florence, jadi Grey putuskan untuk pulang lebih awal biar tidak kemalaman nanti ke rumah sakitnya." jawab Grey masih merangkul pundak isterinya.
"Bu, Lila urusin bayi gedenya Lila dulu ya." Kata Lila sambil merangkul pinggang suaminya dan bangkit berdiri.
Ibu Ratih tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di dalam kamar, Grey langsung melempar tas kerjanya dan langsung meraih tengkuknya Lila, mencium bibir Lila dengan penuh gairah bagaikan seorang musafir yang kehausan di tengah Padang gurun.
Lila kaget awalnya tetapi langsung bisa mengimbangi ciuman panas yang Grey daratkan saat ini. Grey meletakkan tangan kanannya di perut Lila.
Lila menarik diri dari ciumannya Grey dan bertanya "Sayang, ngapain kamu taruh tangan kamu di perut aku ?"
"Biar Sweety tidak melihat kita sayang, kita kan sedang berciuman, tidak baik jika anak kita melihatnya." jawab Grey polos.
"Buahahaha kamu itu ada ada saja ya sayang, mana bisa Sweety melihat kita sayang, Sweety ada di dalam perutku." jawab Lila geli melihat tingkah polos suaminya.
"Tapi aku tetap merasa Sweety sedang mengawasi kita sayang heeee" jawab Grey sambil nyengir.
Grey lalu mencium lehernya Lila dan Lila langsung berkata "Sayang, jangan tinggalkan tanda kepemilikkan lho ya, nanti Lila malu kalau berhadapan dengan Tante Florence, leher Lila merah merah"
"Hmmm " Grey berucap lirih di lehernya Lila. Dia lalu membopong Lila menuju ke sofa dan memangku isterinya setelah dia duduk di atas sofa.
"Sayang, kenapa sih kamu tambah cantik pas kamu hamil gini, bikin aku tersiksa nih, aku pengen menciumi kamu terus nih" kata Grey parau menahan gairah.
"Masa sih ? perasaan Lila sama aja " jawab Lila tersenyum sambil menatap mesra suaminya.
Grey langsung mencium lembut bibir Lila kembali, menggigit pelan bibir Lila supaya Lila membuka bibirnya dan Grey langsung memainkan lidahnya di dalam mulut Lila, liar dan penuh gairah.
Akhirnya dengan terpaksa Grey melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya di kening Lila.
"Sayang, empat bulan itu lama banget ya ternyata, sekarang ini satu hari saja serasa lama banget bagiku " kata Grey sambil mencoba meredam gairahnya.
"Kamu mau membantu aku nggak sayang, bantu aku melepaskan kerinduanku sama kamu dengan cara lain ?" kata Grey parau sambil menatap isterinya.
"Tentu saja aku akan membantu suami Lila tersayang, tapi bagaimana caranya ?" tanya Lila bingung.
"Ayok aku tunjukkan !" Grey langsung menarik pelan tangan Lila masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah menolong suaminya melakukan pelepasan gairahnya dengan cara ala Grey, mereka pun mandi bersama, lalu berganti baju dan bersiap pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter Florence.
Lila masih merona dan menunduk malu mengingat cara baru yang Grey ajarkan tadi di dalam kamar mandi.
"Sayang, makasih ya, I Love you, dan ngapain kamu kelihatan malu sih ? kita sudah sah sebagai suami isteri lagian saat ini kami sudah hamil anak aku." Kata Grey geli saat melihat wajah Lila tampak malu.
Lila hanya diam saja masih menundukkan kepalanya. Grey akhirnya memeluk Lila dan mengecup pucuk kepalanya Lila "Aku semakin mencintaimu sayangku" bisik Grey di telinganya Lila.
Setelah pamit sama Bu Ratih, Lila dan Grey pun meluncur menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, grey dan Lila langsung dipersilahkan masuk ke ruangannya dokter Florence karena sudah membuat janji dan sudah ditunggu sama dokter Florence.
"Halo Grey dan cantikku Lila " sambut dokter Florence, mamanya Rio dengan senyum cantiknya.
"Selamat sore Tante, terima kasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk kami" sahut Grey sambil mengajak Lila duduk di depan meja prakteknya dokter Florence.
"Ini Tante sudah belikan kaos kaki kompresinya, terus ini obat anti mual, dan pengencer darahnya juga sudah Tante siapkan." kata dokter Florence penuh senyum.
"Terima kasih banyak Tante " jawab Lila penuh senyum menatap mamanya Rio.
"Ayok Tante periksa dulu, calon cucunya Tante yang ada di dalam kandunganmu nih." kata dokter Florence sambil merangkul Lila dan mengelus elus perut Lila.
Tidak begitu lama mereka duduk kembali ke kursi mereka dan dokter Florence berkata "kandungannya Lila sehat, janinnya sehat, ibunya juga sehat emm jadi Tante akan kasih surat ijin untuk naik pesawat."
Lila spontan menoleh ke arah suaminya.
"Emm iya Tante, Grey mau bertanya nih kenapa ya akhir akhir ini semenjak hamil tuh Lila gampang banget mewek ? lalu sering minta yang aneh aneh" kata Grey.
Lila mencubit pinggangnya Grey dan Grey pun mengaduh lirih.
"Hahaha iya memang seperti itu ibu hamil di trimester awal Grey, akibat dari hormon yang belum stabil, lagipula Lila kan masih sangat muda jadi wajarlah kalau Lila seperti itu di masa masa awal kehamilannya." jawab dokter Florence sambil memasukkan surat ijin yang sudah selesai dia tulis ke dalam sebuah amplop dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang berisi obat obatan dan kaos kaki kompresi tadi.
"Maafkan Lila ya sayang, kalau Lila merepotkan mu hiks hiks hiks" kata Lila mulai mewek lagi.
"Nah kan Tante, baru aja diomongin sudah nongol nih meweknya " kata Grey sambil meraih tas kecil yang disodorkan dokter Florence dan langsung merangkul bahu isterinya.
"Hahahaha kamu yang sabar dong, harus siap jadi suami siaga sampai isteri kamu melahirkan nanti." dokter Florence menanggapi ocehannya Grey dengan geli.
"Sudah dong sayang nangisnya, cup cup cup habis ini kita makan es krim yuk " kata Grey.
"Aaahhh benarkah ?" jawab Lila langsung menghentikan tangisnya dan langsung cerah ceria.
"Terima kasih Tante, kami permisi dulu ya, mumpung cerah ceria nih, emm untuk semua biayanya nanti Grey transfer ya" kata Grey sambil meringis.
Dokter Florence tertawa geli dan menggeleng nggelengkan kepalanya menanggapi tingkah konyolnya Grey dan Lila.
Begitu masuk ke dalam mobil, Grey memasang sabuk pengamannya Lila dan sabuk pengamannya sendiri lalu langsung meluncurkan mobilnya menuju ke kedai es krimnya Grace, es krim kesukaannya Lila.
"Aaahh Lila bakalan ketemu lagi sama Raja, Lila kangen banget sama anak itu " kata Lila penuh semangat dan dengan mata berbinar binar.
"Tapi ingat lho, jangan gendong Raja lagi karena saat ini kamu sedang hamil" kata Grey tegas.
"Iya sayang, Lila ingat kok " jawab Lila sambil menoleh ke arah Grey dan tersenyum.
Sesampainya di kedai es krimnya Grace, Grace langsung menghampiri Lila dan Grey dan langsung mengajak Lila dan Grey untuk masuk dan duduk di ruangan spesial.
Raja pun tiba tiba nongol dan berteriak senang saat melihat Lila "ante Lila, Laja kangen" kata Raja langsung memeluk Lila.
Lila lalu menggandeng tangan Raja dan mengajaknya duduk.
"Tante juga kangen banget sama kamu" jawab Lila sambil mencium pipi gembulnya Raja.
"Sama om Grey nggak kangen nih ?" tanya Grey.
"Nggak " jawab Raja tanpa menoleh ke arah Grey.
"Waaahh galak bener nih anak, mirip nih kayak Dony kalau gini nih, suka banget cuekkin gue " kata Grey.
Lila tertawa terbahak bahak.
"Sayang, maaf ya saat ini Tante nggak bisa gendong kamu dan nggak bisa memangku kamu lagi" kata Lila sambil menggenggam tangan mungilnya Raja.
"Kenapa ante ?" tanya Raja bingung.
"Di perut Tante ada dedek bayi" jawab Lila.
klonthang, terdengar suara sendok jatuh. Lila dan Grey spontan menoleh ke arah suara.
Nampaklah Grace tersenyum canggung dan langsung berkata "Aaahh selamat Lila, Grey, maaf sendoknya terjatuh emm ini es krimnya, sebentar ya aku ambilkan sendok yang baru."
Grace cepat cepat berbalik melangkah pergi setelah menaruh es krim kesukaannya Lila di atas meja.
"Ante Lila, Laja boleh pegang perutnya ante ? Laja pengen pegang adiknya Laja " kata Raja polos.
Grey langsung berkata "nggak boleh pegang perutnya tante Lila, dan dedek yang ada di dalam perutnya tante Lila, dia bukan adik kamu"
"Sayang, jangan gitu ah kasihan Raja, dia kan masih polos sayang, emm iya boleh sini tangan kamu, kamu taruh di perutnya Tante." jawab Lila.
Grey langsung bersedekap mengerucutkan bibirnya karena kesal dan cemburu dengan Raja, karena Raja memegang perut isterinya.