
Pagi pagi buta James sudah datang ke rumahnya Grey, bersama dengan Bean dan Amber anak buah terbaiknya, yang dia suruh untuk menjaga Lila dan Ibu Ratih nantinya.
James, menyuruh semuanya untuk memakai rompi anti peluru.
Ivan ingin ikut bergabung tetapi semua melarangnya, Ivan disuruh tetap di rumah untuk tetap memasak dan ikut menjaga Lila dan Bu Ratih.
"Betul itu, memasak aja dia sembrono apalagi mau ikut misi kita ini" kata Charlie.
"Hahahahaha I don"'t know what you say but I know that you don't like me" kata Ivan agak jengkel sama Charlie.
Semua pun tertawa melihat tingkah konyolnya Charlie dan Ivan.
Akhirnya, setelah mereka semua sarapan, berangkatlah Melly dan Rio ke rumahnya Joy Simpsons.
James memberi tugas kepada Melly dan Rio untuk berangkat terlebih dahulu, untuk mengulur waktu dengan cara mengajak diskusi Joy simpsons, dan pada saat itulah James, Grey juga Charlie akan memulai aksinya menyelamatkan Edward.
Rio dipasangi alat perekam sama James, yang ditempelkan di kancing kemejanya Rio.
Lima belas menit kemudian James, Grey dan Charlie pun menyusul Rio.
Rio dan Melly sudah masuk ke dalam rumahnya Joy Simpsons dan sudah mulai melakukan percakapan.
Sedangkan James, Grey dan Charlie masih menunggu di dalam mobil tidak jauh dari rumahnya Joy Simpsons., James sudah mengaktifkan alat perekamnya, sambil menunggu kode dari Rio, yaitu kata siap.
Setelah mendengar kata siap dari Rio, dengan bergegas, Grey, James dan Charlie pun mulai masuk ke dalam rumahnya Joy Simpsons, langsung menuju ke lokasinya Edward yang tertera di layar alat pelacaknya James.
"Sorry Mam, we disturb your time " kata Melly membuka suara.
"It's okay, what can I do for you?" kata Joy masih memainkan drama sebagai tuan rumah yang ramah dan baik.
"Mister Grey sent me here to discuss the matter of his Father" kata Melly kemudian.
Joy Simpsons mulai berubah raut mukanya, mulai sedikit menakutkan.
"Kita pakai bahasa Indonesia saja" kata Joy Simpsons.
"Siap " kata Rio yang juga merupakan kode masuk untuk James, Grey dan Charlie.
Sementara itu, James, Grey dan Charlie berhasil masuk ke dalam ruangan di mana papanya disekap, setelah berhasil menjatuhkan lima anak buahnya Joy Simpsons.
Grey melihat Papanya tengah tertidur. Grey mendekati papanya, sedangkan Charlie dan James beranjak keluar dari ruangan tersebut untuk berjaga jaga di depan pintu.
"Pa, bangun Pa, ini Grey" Grey menepuk nepuk pelan bahu Papanya.
Edward pelan pelan membuka matanya, langsung menatap Grey.
Grey membantu Papanya untuk bangun "Pa, ini Grey"
Papanya mengelus elus pipinya Grey "Kamu benar benar Grey ?"
Grey masih menopang tubuh papanya dan menganggukan kepalanya, Grey mulai menitikkan air mata saat melihat kondisi papanya yang tampak kurus, dan terlihat sangat menyedihkan.
Edward langsung memeluk Grey, menangis dan berkata "Terima kasih Tuhan, Engkau sudah mempertemukan aku kembali dengan anakku, aku siap jika Engkau akan memanggilku naik ke Sorga Tuhan"
Grey membalas pelukan Papanya, mengelus elus punggung Papanya dan berkata "Pa, jangan berkata seperti itu, Grey datang untuk menyelamatkan Papa, mengajak Papa bertemu kembali dengan Ibu, Papa harus semangat untuk hidup"
Edward langsung melepaskan pelukannya dan menatap Grey "Ratih, aku ingin bertemu dengan Ratih"
"Iya, Papa minum obat ini dulu ya, ini obat untuk memulihkan kesadarannya Papa, dan membuat Papa fit lagi, setelah ini kita akan bawa Papa bertemu kembali dengan Ibu" Kata Grey sambil memasukan pil hitam pelan pelan ke dalam mulut Papanya.
Mereka harus menunggu lima belas menit, sampai pil tersebut bereaksi di dalam tubuhnya Edward.
James menugaskan anak buahnya untuk terus berjaga di area sebelah barat rumahnya Joy Simpsons, memberi perintah kepada anak buahnya untuk langsung saja melumpuhkan siapa saja yang berusaha masuk menuju ke ruangan di mana Edward disekap.
Kelima anak buahnya James langsung mengiyakan.
Sedangkan kelima anak buahnya James yang lain berjaga di dalam mobil Van kepolisian, di depan rumahnya Joy Simpsons, mengawasi Rio dan Melly, dan menunggui alat perekam yang terpasang di dalam mobil Van tersebut.
Setelah lima belas menit meminum pil tadi, Papanya Grey mulai bisa duduk tegak dan berdiri dengan kokoh.
"Papa bisa berjalan ? kalau tidak biar Grey gendong Papa, naiklah ke punggungnya Grey Pa" Kata Grey mulai jongkok di depan Papanya, dan menyodorkan punggungnya.
"Bangunlah Grey, Papa bisa berjalan kok, bahkan berlari pun sepertinya Papa bisa nih" Kata Edward.
Grey akhirnya berdiri dan berbalik arah menghadap ke Papanya, langsung melepas rompi anti pelurunya lalu memakaikan rompi anti peluru tersebut di tubuh Papanya.
"Lalu kamu Grey ? " tanya Edward saat Grey memakaikan rompi anti peluru tersebut di tubuhnya.
Sementara itu di rumahnya Grey, Ibu Ratih dan Lila tidak berhenti hentinya berdoa, mendoakan keselamatan mereka semua, semoga mereka semua berhasil pulang kembali ke rumah tanpa terluka sama sekali.
Selesai berdoa Bu Ratih keluar dari kamar bersama dengan Lila untuk minum dan kemudian duduk di ruang tamu, sambil menunggu kedatangannya Grey dan kawan kawannya.
"Bu, kok sepi ya ?" tanya Lila agak heran.
"Mungkin Ivan ke pasar sama pengurus rumah tangganya kita, siapa namanya ibu lupa, soalnya namanya unik dan sulit untuk diingat" kata Bu Ratih.
"Iya, Lila juga nggak ingat namanya."
Tiba tiba Bean nongol dan ikutan duduk di atas sofa.
"Maafkan saya" Kata Bean tiba tiba.
"Kamu bisa berbahasa Indonesia, wah bagus sekali" sahut Lila.
"Iya, saya bisa berbahasa Indonesia karena saya selama ini ditugaskan di Indonesia untuk mengawasi kalian" jawab Bean.
"Maksudnya, kamu, kamu ditugaskan sama James untuk menjaga kami dari ancamannya Joy Simpsons ?" tanya Lila.
"Saya dapat tugas dari kedua tuan saya, yang satu adalah atasan saya di kepolisian untuk mengawasi kalian karena kalian ada kaitannya dengan Joy Simpsons dan saya juga ditugaskan sama Joy Simpsons untuk mengawasi kalian, untuk mencegah kalian jangan sampai pergi ke London dan membawa Mister Edward balik ke Indonesia" kata Bean sambil tersenyum santai.
"Apa ?!" Lila langsung menggenggam tangan Ibu Ratih.
"Tapi kenapa kami bisa pergi ke London dengan lancar, kalau kamu ditugaskan sama Joy Simpsons untuk mencegah kami ke sini ?" tanya Lila.
"Karena satu Minggu sebelum keberangkatannya kalian, saya sudah ditarik kembali ke London sama pimpinan saya yang ada di kepolisian, karena hasil dari penyelidikan kami, kalian ternyata tidak ada kaitannya sama sekali dengan bisnis kotornya Joy Simpsons" Bean tersenyum dan menatap Lila penuh arti.
Lila mengedarkan pandangannya dan bertanya "Dimana Amber partner kamu ?" tanya Lila.
"Amber, Ivan dan pengurus rumah tangga anda saat ini sedang tertidur lelap di dalam mobil" jawab Bean santai.
Ya ampun, situasi apa ini, Tuhan tolong kami. Kata Lila di dalam hatinya.
"Bu, tolong masuk kedalam kamar ya, dan kunci pintunya, sekarang Bu !" kata Lila sambil berdiri dan meraih tangan ibu mertuanya untuk ikutan berdiri.
"Enggak nak, Ibu nggak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi bocah ini" kata Bu Ratih mulai mengkhawatirkan Lila.
"Lila bisa jaga diri Bu, tolong cepatlah masuk ke dalam kamar dan kunci kamarnya !" kata Lila kemudian.
"Tapi, kamu lagi hamil, dan........." kata Bu Ratih tetap tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Bu, tolong !" kata Lila tegas.
"Enggak, Ibu nggak mau " kata Bu Ratih tidak kalah tegasnya.
"Hahahaha kalian saling menyayangi ya, tapi maaf saya harus memisahkan kalian saat ini, karena saya harus membawa Ibu Ratih sesuai dengan perintah dari Joy Simpsons" Kata Bean santai.
"Tidak !! bawa saja aku" Kata Lila spontan.
"Bawa saya saja " Bu Ratih mulai melangkah mendekati Bean.
Lila langsung melangkah di depannya Bu Ratih, langsung membelakangi Bu Ratih mencoba untuk melindungi ibu mertuanya.
Bean langsung mencoba menyingkirkan tubuh Lila dengan paksa, dan mencoba meraih tangannya Bu Ratih, tetapi langsung terhuyung pelan ke samping, karena tiba tiba Lila mendaratkan bogem mentahnya di mukanya Bean.
"Jangan pernah coba coba memegang Ibunya Lila" Kata Lila mulai menggertakkan giginya.
"Hahahaha saya sebenarnya tidak ingin membawa anda ke dalam bahaya, saya tidak ingin menyakiti anda, tetapi karena anda sudah berani memukul saya, maka dengan sangat terpaksa saya akan membawa anda sebagai hukumannya" jawab Bean sambil mengelus elus pipinya yang sedikit berdenyut akibat dari pukulannya Lila tadi.
"Ya bawa saja aku, tapi jangan sakiti Ibu Lila" jawab Lila dengan sorot mata tajam.
"Tidak, jangan !!!" kata Bu Ratih mencoba untuk mencegah Bean membawa Lila.
"Anda mau ikut dengan damai dan suka rela, atau dengan sangat terpaksa saya akan membuat Ibu mertua anda tidak berdaya" kata Bean santai.
"Ibu tenang, Lila bisa jaga diri" Lila melepaskan genggamannya Bu Ratih dengan pelan lalu tersenyum dan berbalik arah mendahului langkahnya Bean.
"Tidak jangan !!!!!" Bu Ratih mencoba untuk mengejar dan meraih tangannya Lila.
Bean menghalangi langkahnya Bu Ratih dan tersenyum ke arah Bu Ratih, lalu berkata "jangan mencoba untuk mencegahnya, atau saya akan menyakiti salah satu dari kalian berdua saat ini dan kalian akan menyesalinya nanti" Bean menganggukkan kepalanya dan mengekor langkahnya Lila.
Lila masuk ke dalam mobil pribadinya Bean yang tadi Bean bawa, memang sengaja Bean membawa mobilnya sendiri, dia tidak ikut bergabung dengan Amber yang membawa mobil dinas kepolisiannya.
Bu Ratih langsung berjongkok menangis histeris menatap kepergiannya Lila dan Bean.