
FLASHBACK ON
Berdirilah Edward Simpsons menatap sebuah bangunan yang sudah jadi dan siap untuk dijadikan sebuah kafe. Aku butuh seorang desainer dan asisten pribadi. Batin Edward.
Tiba-tiba ada seorang cewek yang berlari tanpa melihat arah dan menabrak dirinya.
"Aaahhh maa maaf" kata cewek tersebut.
Edward tersenyum, cantik juga cewek ini. Batin Edward.
Cewek tersebut langsung melepaskan diri dari pelukannya Edward, yang secara refleks tadi menangkapnya agar dia tidak terjatuh di atas aspal.
"Bantu saya mister sembunyikan saya emm Mister bisa berbahasa Indonesia kan ?" kata cewek tersebut.
"Bisa, tapi kenapa aku harus membantu kamu dan kenapa juga kamu harus sembunyi dan ketakutan seperti ini ?" tanya Edward heran.
"Tolong saya, saya dikejar sama penjahat emm dia mau menjual saya ke om om hidung belang" jawab cewek tersebut.
Edward langsung menarik tangan cewek tersebut untuk masuk ke dalam kafenya, dan menyuruh cewek tersebut untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.
Tidak begitu lama beneran datang tiga orang cowok berbadan kekar tengah celingak celinguk di depan kafenya. Akhirnya mereka pun melangkah pergi menjauhi kafenya Edward. Saat dirasa Edward keadaan sudah aman, Edward menyuruh cewek tersebut untuk keluar.
"Sudah aman" kata Edward.
"Terima kasih Mister " kata cewek tersebut sambil beranjak keluar dari kafenya Edward.
"Tunggu sebentar, kamu berhutang penjelasan sama aku, duduk dulu dan cerita sama aku, siapa nama kamu dan siapa kamu ?" kata Edward tegas.
"Tetapi menurut saya, saya tidak perlu menjelaskan apa apa karena kita tidak saling kenal Mister " kata cewek itu heran.
"Hei, aku sudah membantu kamu, aku hanya minta penjelasan dari masalah kamu, bagaimana bisa kamu hendak dijual ke om om ?" kata Edward mulai kesal.
Cewek itu pun menghela napas dengan kesal lalu melangkah untuk duduk.
"Siapa nama kamu ?" tanya Edward.
"Ratih Wijaya" jawab cewek tersebut.
"Kenapa mereka mengejarmu ? kamu bukan pencuri atau penjahat kan ?" tanya Edward penuh selidik.
"Bukan Mister, hufft baiklah saya ceritakan yang sebenarnya, saya seorang yatim piatu, saya diasuh sama paman dan bibi saya, tetapi mereka ternyata bukan orang baik baik" kata Ratih menghela napas sebentar menahan air matanya.
"Lanjutkan !" kata Edward.
"Hufft emm saya akan dinikahkan dengan om om kaya raya saat saya sudah menginjak usia delapan belas tahun" kata Ratih lirih.
"Berarti umur kamu sekarang delapan belas tahun ?" tanya Edward.
"Iya Mister, hari ini saya akan dibawa ke rumah om om tersebut untuk dinikahkan, tetapi saya berhasil kabur " kata Ratih mulai menatap Edward.
"Lalu kamu tadi mau beranjak pergi dari sini, mau kemana kamu ? bukannya kamu sudah tidak bisa pulang lagi ke rumah paman kamu karena kamu sudah kabur dan kalau kamu pulang kamu akan dinikahkan ?" Edward mulai memberondong Ratih dengan pertanyaan.
"Saya akan pergi ke luar kota, ke rumah teman saya, saya ada sedikit uang dari hasil saya berjualan kue" kata Ratih.
"Kamu bisa memasak ?" tanya Edward.
"Bisa mister, selama ini saya bikin kue, saya jual keliling kampung sepulang dari sekolah" kata Ratih bangga.
"Kue apa ?" tanya Edward.
"Macam macam mister, ada kue cucur, pisang goreng, sama kue bolu " kata Ratih dengan mata berbinar binar.
"Kapan kamu bikin kuenya kalau kamu sekolah ?" tanya Edward sambil tersenyum menatap Ratih yang tampak berbinar binar di depannya.
"Kalau kue bolu bikinnya pagi pagi buta, kalau pisang goreng sepulang sekolah" kata Ratih.
"Begini aja, aku mau masukkan kue kamu itu ke dalam menu kafe ku ini, dan kamu boleh tinggal di sini, ada kamar khusus untuk para karyawan, tapi besok kamu harus mulai bikin kue itu untuk aku cicipi" kata Edward.
"Aaahhh benarkah Mister, terima kasih banyak" kata Ratih yang tanpa sadar memeluk Edward.
Edward langsung menjauhkan tubuh Ratih dari tubuhnya dan memegang tangan Ratih.
"Apa maksudmu main peluk kayak tadi ?" tanya Edward heran.
"Aahh maaf Mister, saya refleks tadi saking bahagianya dapat pekerjaan sekaligus tempat tinggal" kata Ratih sambil menarik tangannya dan membungkukkan badannya.
"Baiklah aku maafkan, mari aku tunjukkan kamarnya, dan kamu bisa mulai tinggal di sini malam ini, dan ingat besok kamu harus mulai bikin kue kue yang tadi kamu sebutkan, aku ingin mencicipinya" kata Edward sambil melangkah menuju ke kamar yang dia maksud, dan Ratih langsung mengekornya, beberapa karyawan mengangguk dan tersenyum saat Edward melangkah melewati mereka.
"Ini sudah lebih dari cukup mister, terima kasih banyak" jawab Ratih yang spontan mau memeluk Edward lagi.
Edward mengernyitkan dahinya dan spontan melangkah mundur. Ratih pun mengerem langkahnya tidak jadi memeluk Edward.
"Jangan kamu biasakan memeluk seseorang apalagi cowok di saat kamu merasa ingin berterima kasih, itu berbahaya !" kata Edward.
"Baik mister, maaf " kata Ratih sambil menggaruk nggaruk kepalanya.
"Baiklah aku tinggal dulu" kata Edward sambil melangkah pergi meninggalkan Ratih.
"Aahhh terima kasih Tuhan untuk semua berkatMu ini, untuk semua pertolonganMu lewat Mister tadi, eh siapa ya namanya aku kok lupa nanya tadi ya." kata Ratih.
Tiba tiba ada salah seorang karyawannya Edward yang datang melongok ke kamarnya Ratih.
"Hai, namaku Endang" kata cewek itu.
"Aku Ratih " Ratih berkata sambil menyambut uluran tangannya Endang.
"Ini aku pinjami seprai, semoga betah ya di sini, bos Edward itu orang baik, nggak tegaan dan suka menolong orang cuma jarang tersenyum dan tidak suka sama kebohongan"
"Oooo namanya mister Edward, dia berasal darimana, tampangnya bule banget tapi tampan heee" kata Ratih.
"Dia dari Inggris, sudah beberapa tahun di Indonesia untuk mengembangkan bisnis kafenya" jawab Endang.
"Dia memang tampan, banyak yang naksir tapi kayaknya dia tidak tertarik sama cewek" kata Endang.
"Haaah ?! jadi dia sukanya sama cowok gitu ?" tanya Ratih heran.
"Hahaha entahlah nggak ada yang tahu, tapi selama dia di Indonesia dia tidak pernah punya pacar " jawab Endang.
"Apa mungkin karena terlalu sibuk sama bisnisnya jadi dia lupa untuk berpacaran" kata Ratih kemudian.
"Ya bisa jadi sih " kata Endang sambil manggut manggut.
"Kamu tahu berapa umurnya ? kayaknya masih muda " tanya Ratih.
"Dua puluh lima tahun, gila ya masih begitu muda tapi sudah kaya raya, keren dan tampan pula, kalau misalnya aku dilamar pasti aku langsung mau hahahahaha" kaya Endang mulai berkhayal.
"Hahahaha " sahut Ratih ikutan tertawa.
"Berapa orang karyawan yang tinggal di sini ?" tanya Ratih.
"Hanya empat orang, sudah dulu ya, met beristirahat dan jangan lupa besok harus bangun pagi pagi benar, besok aku bangunkan ya biar kamu tidak dimarahi sama si bos, karena si bos orangnya disiplin banget" kata Endang.
"Ok, terima kasih ya Endang" Ratih pun menutup pintu kamarnya setelah Endang pergi.
FLASHBACK OFF
"Aaahh Bu, kok berhenti sih ceritanya ?" Lila mulai protes saat Bu Ratih menghentikan ceritanya.
"Makan dulu, ini sudah siang kasihan cucu ibu tuh, ayok makan dulu !" kata Bu Ratih sambil menarik pelan tangannya Lila.
"Nanti lanjut ya Bu ceritanya, sebelum suaminya Lila pulang dari kantor " kata Lila sambil melingkarkan kedua tangannya di lengan mertuanya.
Bu Ratih melangkah menuju ke ruang makan, tersenyum dan mengelus elus rambutnya lila.
Lila mengambilkan Bu Ratih nasi dan lauknya.
Bu Ratih tersenyum dan berkata "Terima kasih ya nak, emm kemarin Stephanie menelepon Grey, tanpa mengatakan papanya Grey sakit apa ?"
"Tidak Bu, tetapi katanya nanti mau telepon lagi" jawab Lila.
Bu Ratih pun tersenyum, mengangguk dan mulai menyantap makanannya.
"Maaf ya Bu, kalau Lila mulai membuka masa lalunya Ibu" kata Lila kemudian.
"Nggak apa apa nak, Ibu kan juga sudah berjanji sama kamu, kalau kamu sudah benar benar pulih dari luka tembak kemarin, Ibu akan bercerita tentang papanya Grey." jawab Bu Ratih sambil tersenyum.
"Kamu sudah minum obat anti mualnya belum ?" tanya Bu Ratih.
"Sudah Bu, semoga Lila nggak mual nih pas makan" jawab Lila.
"Iya, makan yang banyak biar kamu dan cucu ibu sehat dan kuat " kata Bu Ratih.
"Setelah makan, jangan lupa makan buahnya, mbok Iyem sudah kupasin tuh apel sama pearnya " tambah Bu Ratih sambil menatap Lila penuh kasih sayang.
"Siap laksanakan Ibunya Lila yang awet cantiknya" jawab Lila yang disambut tawa renyah dari Bu Ratih.