
Keesokan harinya, Grey langsung berangkat ke kantor dengan berbekal vitamin C dari Lila.
Istilahnya Grey kalau habis dapat ciuman dari istrinya, itu berarti dia dapat vitamin C, kalau habis dapat jatah istilahnya habis dapat multivitamin. Lila selalu geleng geleng kepala setiap Grey menyebutkan istilah istilah barunya itu.
Sesampainya di kantor Grey tampak cerah ceria dan menatap Rio dengan senyum lebar.
"Waahhh cerah ceria nih, habis dapat multivitamin kayaknya" Rio langsung berkomentar.
"Belum dapat multivitamin, pabriknya masih tutup bro, harus puas cuma dapat vitamin C tiap hari, tapi itu pun sudah membuat gue bersemangat hahahahaha" jawab Grey dengan mata berbinar binar.
"Gue juga dapat tuh vitamin C tiap hari dari Melly, dan gue biasa aja nggak lebay kayak elo bos" ucap Rio santai.
"Itu bedanya gue sama elo, elo tuh kurang menikmati hidup jadi ya biasa aja bagi elo hahahahahaha" sahut Grey sambil duduk di meja kerjanya.
"Cih ! pamer" sahut Rio sambil membereskan beberapa berkas untuk kelanjutan rapat akbar mereka kemarin.
Sementara itu di rumah, Lila sudah menghadap Bu Ratih untuk kembali mendengarkan ceritanya Bu Ratih.
FLASHBACK ON
Edward terus memberikan perhatian lebih sama Ratih, seperti mengajari Ratih saat kesulitan dalam mengerjakan tugas kuliahnya, dan selalu siap terlebih dahulu menjemput Ratih ke kampus.
Charlie mulai kesal, setiap Charlie menanyakan jawaban ke Ratih, Ratih selalu menghindarinya, dan selalu mengatakan belum siap menjawabnya.
Suatu hari saat Charlie sedang pergi untuk rapat antar Chef di sebuah hotel, Edward dan Ratih berada di ruangannya Edward, membahas soal desain.
Edward terus menatap Ratih dan bertanya "Kamu sudah bilang sama Charlie kalau kamu tidak menyukainya ?"
"Apa sih Mister, itu kan masalah pribadi saya dan saya tidak punya kewajiban untuk menjawabnya.
"Emm lalu perasaan kamu untuk aku gimana ?" kata Edward lirih dan lembut.
"Mister, desain yang saya buat ini kurang apa ?" tanya Ratih tiba tiba, Ratih mencoba mengalihkan pertanyaan Edward tadi.
Tetapi saat Ratih membelokkan badannya untuk melangkah ke sofa menghampiri Edward, dia langsung menabrak tubuh Edward, karena ternyata tanpa Ratih sadari, Edward sudah berdiri di belakangnya dari tadi dan kini Ratih berada sangat dekat sekali dengan tubuh Edward.
"Mister, maaf saya menabrak anda, tolong minggir Mister, saya merasa gerah nih" Kata Ratih lirih dan langsung menundukkan kepalanya.
"Kenapa gerah ? AC nya menyala kok" kata Edward sambil tersenyum dan terus menatap Ratih.
Ratih diam saja dan terus menundukkan kepalanya.
Edward tiba tiba memeluk pinggang Ratih dan mengangkat dagunya Ratih dengan pelan.
"Karena kamu terus menghindari pertanyaanku soal perasaanmu yang sebenarnya, maka aku akan mencari jawabannya dengan cara lain " kata Edward sambil terus menatap Ratih.
"Maksudnya apa Mister......eemmm" Ratih langsung memejamkan matanya saat Edward tiba tiba mencium bibirnya.
Ciuman pertama bagi mereka berdua. Ratih awalnya kaku, kaget dan bingung, tetapi lama kelamaan mulai bisa menikmati ciumannya Edward.
Tanpa mereka sadari Charlie melihatnya. Charlie langsung keluar dari ruangannya Edward dan melangkah keluar dari kafe untuk sekedar mencari udara segar. Charlie merasa sangat kesal, sedih dan marah.
Edward melepaskan ciumannya, lalu menatap Ratih yang masih memejamkan matanya.
"Aku sudah tahu jawabannya, mulai dari sekarang kamu adalah kekasihku" kata Edward santai sambil mengusap lembut bibirnya Ratih.
Ratih membuka matanya dan menundukkan kepalanya lagi.
Edward tersenyum senang dan langsung memeluk Ratih dengan erat. "Aku mencintaimu, bagaimana kalau besok kita langsung menikah saja ?"
"Mana bisa secepat itu kita menikah Mister, baru juga kita jadian" kata Ratih lirih.
Ratih pun menganggukkan kepalanya dalam pelukannya Edward.
FLASHBACK OFF
"Lalu, chef Charlie gimana Bu ?" tanya Lila penuh semangat.
"Chef Charlie langsung mengucapkan selamat sama ibu dan papa mertua kamu saat dia sudah balik lagi ke kafe, tapi itu tidak berlangsung lama, selang satu bulan kemudian chef Charlie resign dengan alasan mau meneruskan studinya di Belanda." Bu Ratih menjawab Lila dengan tersenyum sedih.
"Ibu sedih dong waktu itu." ucap Lila
"Iya, ibu sedih banget harus kehilangan chef panutannya ibu sekaligus sahabat bagi ibu, yang selalu sabar mengajari ibu soal masak memasak, tapi ya mau bagaiman lagi itu sudah menjadi pilihannya" ibu Ratih berkata lirih.
"Lalu ?" Lila masih penasaran dengan kelanjutan kisah cinta ibu mertua kesayangannya.
"Satu bulan setelah kepergian chef Charlie ke luar negeri, ibu sama papa kamu akhirnya menikah, kami hidup dengan penuh cinta, dan kebahagiaan. Satu tahun kemudian setelah kami menikah, Grey pun lahir" Bu Ratih berbinar binar matanya saat melanjutkan kembali ceritanya.
"Kami bahkan berebut mencarikan nama untuk baby Grey saat itu hahahaha " Bu Ratih tertawa senang mengingat masa lalunya yang indah waktu itu.
"Papa mertua kamu inginnya nama Grey tuh singkat aja Greyson Simpsons, tapi ibu protes karena ibu pengen nama almarhum ayah ibu juga dipakai untuk namanya Grey " kata ibu kemudian.
"Jadilah nama Grey panjang banget hahaha" Bu Ratih tertawa bahagia kembali, Lila pun ikutan tertawa.
"Tapi, saat Grey berumur sembilan tahun, papa kamu mengatakan sebuah cerita yang membuat ibu kaget dan patah hati" Bu Ratih mulai meredupkan sinar matanya yang tadi berbinar binar.
"Cerita apa Bu ?" tanya Lila ikutan merasa sedih dan langsung merangkul bahu ibu mertuanya itu.
"Hufft emm papa kamu menceritakan kalau maminya yang ada di London sebenarnya sudah menikahkan dia dengan seorang gadis, gadis yang selalu merawat dan menemani mami mertuanya ibu." jawab Bu Ratih sambil menggenggam tangan Lila.
"Papa kamu tidak menyetujui pernikahan itu, papa kamu tidak pernah mencintai gadis itu, itulah kenapa dia melarikan diri ke sini dan tidak pernah balik lagi ke London, dan Kabar yang mengejutkan bagi papa kamu dan ibu adalah emm ternyata gadis itu sudah mempunyai seorang anak perempuan, terpaut dua tahun usianya, lebih tua dari Grey." Kata Bu Ratih dengan nada bergetar menahan tangis.
"Maminya papa mertua kamu sakit waktu itu, dan mengharapkan papa kamu untuk pulang dan berkumpul lagi dengan anak istrinya yang ada di London." Bu Ratih menghela napas.
"Ibu berusaha menerima semuanya dengan lapang dada, ibu tahu dan percaya sama papa kamu kalau papa kamu tidak pernah menginginkan pernikahan tersebut, tapi anak papa kamu yang ada di London juga berhak mendapatkan kasih sayang dari papanya"
Bu Ratih mulai terisak menangis.
"Papa mertua kamu sering bergumam sendiri bagaimana bisa dia mempunyai anak sama perempuan tersebut, karena setelah menikah, kata papa mertua kamu, dia tidak pernah menyentuh perempuan itu, dia bahkan bersumpah kalau beneran tidak pernah menyentuh perempuan tersebut." Kata Bu Ratih kemudian di sela sela isakannya.
Lila memeluk ibu mertuanya dan mengelus elus punggung ibu mertuanya mencoba menenangkannya.
"Papa kamu sebenarnya sangat ngemong sama ibu. Sangat ngerti dan paham betul kalau ibu tidak menginginkan papa kamu balik ke London itulah kenapa papa kamu tetap tidak balik ke London walaupun mendapatkan kabar kalau maminya sakit" Bu Ratih berkata sambil terisak isak dalam pelukannya Lila.
"Tapi yang menjadi ganjalan di hati ibu adalah adanya seorang anak, dan anak itu tidak bersalah, dia punya hak atas papanya" Bu Ratih berkata lirih di dalam pelukannya Lila.
Bu Ratih melepaskan diri dari pelukannya Lila dan mengusap airmatanya dan melanjutkan ceritanya kembali "Satu tahun setelah menerima kabar tersebut, hubungan ibu dan papa kamu menjadi aneh, tidak seperti biasanya dan akhirnya apa yang ibu takutkan pun terjadi, saat Grey tepat berumur sepuluh tahun, papa kamu mendapat telepon dari seseorang di London yang mengatakan kalau maminya kritis "
"Akhirnya dengan sangat terpaksa ibu merelakan papa mertua kamu untuk balik ke London, dan setelah kepergiannya ke London dia tidak pernah mengirimkan kabar sama sekali untuk ibu dan Grey, dan tidak pernah sekalipun balik ke sini untuk menengok anak dan istrinya yang ada di sini. Itulah kenapa Grey tidak pernah mau menyebut atau membahas soal papanya, dan tidak pernah mau menyebutkan nama keluarga dari papanya." kata Bu Ratih.
"Kenapa ibu tidak menelepon papa saat papa tidak pernah berkirim kabar ?" kata Lila.
Ibu Ratih menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata lirih "Ibu takut kecewa dan sakit hati "
"Papa Edward salah juga sih kenapa dari awal tidak menjelaskan statusnya sama ibu waktu menikahi ibu. Walaupun pernikahan beliau tanpa cinta dan hanya perjodohan semata tapi kan harusnya papa Edward bilang sama ibu." kata Lila.
"Iya, ibu juga berkata hal yang sama waktu itu sama papa mertua kamu, tapi papa mertua kamu hanya diam dan berkata maaf berkali-kali." kata Bu Ratih lirih.
"Papa Edward pasti punya penjelasan Bu, sabar ya, besok kita sudah terbang ke London, ibu akan mendapatkan penjelasan dari papa Edward" kata Lila sambil mencium pipi ibu mertua kesayangannya.
Cinta oh cinta, kasihan papa Edward dan ibu ya, batin Lila sedih.