
Susan tertunduk tidak berani menatap Rio yang saat ini menatap tajam penuh selidik ke arah dia.
"Jawab pertanyaan saya Bu Susan ?!" tegas Rio.
Rio sebenernya malas banget harus menyebut wanita iblis ini dengan sebutan Bu, Cih! menjijikkan batin Rio.
"Sss sa sa saya waktu itu ingin melihat keadaan pak Grey, dan saat masuk ke kamar....... sa saya langsung didekap pak Grey, pak Grey lalu menarik saya ke ranjang dan......dan....hal itu pun terjadi." sahut Susan lirih dan masih menundukkan kepalanya.
"Bohong !! aku tidak ingat sama sekali pernah memelukmu, Cih!! memikirkannya pun aku tak sudi." Teriak Grey geram sambil menatap ke arah Susan penuh amarah.
Rio menepuk pundak sahabatnya lalu mengusap usap telinganya sendiri karena sumpah teriakkan Grey tadi keras sekali pas di telinga Rio dan memekakkan telinga Rio.
"Baiklah, begini saja Bu Susan hmm mendingan ibu pulang dulu. Biar masalah ini saya selesaikan, saya diskusikan dengan bos saya dan......."
"Diskusi apalagi hah !! Cih !! buang buang waktu aja !! pokoknya aku tidak ingat dan aku tidak mau tahu !!" teriak Grey lagi.
Rio pun berdiri memegang kedua bahu Susan dan membantu Susan untuk berdiri juga lalu melepaskan tangannya cepat cepat dari bahu Susan setelah Susan sudah berdiri.
"Ibu pulang dulu saja ya, hmm tiga hari lagi saya akan menemui bapak Hartawan untuk membahas masalah ini, saya janji akan menyelesaikannya." kata Rio pelan pelan.
Susan menatap Rio "saya cuma ingin pak Grey bertanggung jawab dan menikahi saya."
"Cih !" Grey mendengus kesal tanpa melihat Susan.
"Tiga hari lagi saya akan mengunjungi papa anda untuk membahas masalah ini, lagipula saat ini bos saya emosinya tidak stabil, jadi saya mohon ibu pulang aja dulu." kata Rio sambil menyerahkan kembali HPnya Susan yang tadi dia pegang.
Susan pun menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangannya Grey.
Setelah pintu tertutup. Grey melotot ke arah Rio "Bro, apa apaan kamu sudah kasih janji nggak jelas sama Susan, memangnya kamu mau aku menikah dengan wanita iblis macam dia ? Sumpah bro aku tidak ingat apa apa dan aku merasa aku tidak pernah melakukan hal menjijikan itu dengan Susan." cerocos Grey.
Rio hanya geleng geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.
"Lila pergi bro, aku nggak tahu dimana dia saat ini, Shit!! pesanku pun tidak dibalasnya." ucap Grey lirih sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lila ada di ruanganku, nih pesan dari Melly dan......
Belum selesai Rio ngomong Grey langsung berdiri, keluar dari ruangannya dan melangkah cepat ke ruangannya Rio. Rio pun setengah berlari mengejar Grey.
ceklek pintu ruangannya Rio terbuka, terlihat Lila menunduk menangis terisak sambil dipeluk Melly.
Rio memberi kode ke Melly untuk meninggalkan ruangannya.
Grey melangkah ingin mendekati Lila tapi ditahan sama Rio. Grey pun terpaksa duduk di sofa single sambil menatap Lila. Grey merasa sedih banget melihat Lila kecewa dan terluka karena foto tadi.
Rio mengambil laptopnya menaruhnya di atas meja sofa, Lalu duduk menghadap Lila, Lila otomatis mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk dan menatap Rio yang sedang menyalakan laptopnya mencari rekaman saat Susan menjebak Grey lalu memencetnya dan mengarahkannya ke arah Lila supaya Lila bisa melihatnya.
Lila menatap layar laptop Rio dan melihat ke arah Grey. Grey pun melangkah duduk di samping Lila untuk ikutan menatap layar laptopnya Rio.
Grey menggebrak meja sofa "kurang ajar, berani benar dia menjebakku."
"Ayok kita ke kantor polisi bro, kita perkarakan dia, biar membusuk dia di penjara." sahut Grey yang langsung berdiri.
"kamu nggak mikir proyek kita ? yang nilainya milyaran rupiah ? Kita harus hati hati dalam bertindak jangan sampai membuat pak Hartawan tersinggung dan membatalkan kontrak kita." cerocos Rio.
"Susan itu anak tunggal pak Hartawan, pastilah pak Hartawan akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya." Rio menambahkan.
"Kak, Lila minta maaf sudah salah paham dan tidak percaya sama kakak." sahut Lila
Grey pun merangkul bahu Lila dan memeluknya "wajar Lil kalo kamu bersikap seperti itu, aku aja akan membenci diriku sendiri kalo itu benar benar aku lakukan." kata Grey lirih.
"kita keep dulu masalah ini dan semoga saja si Susan bisa bersabar dan tidak menyebarkannya di medsos." kata Rio sambil menatap Grey.
"Aku sarankan setelah masalah ini kelar, kalian cepatlah menikah supaya tidak ada lagi wanita wanita aneh yang akan menjebak kamu lagi dan merengek rengek untuk kamu nikahi." ucap Rio tegas ke arah Grey.
" Kamu benar bro, hmm kamu nanti pulang kantor ke rumahku dulu ya, kamu jelaskan ke ibu, supaya nanti hari Sabtu ibu bisa aku ajak ke rumah Lila untuk membujuk ayahnya Lila, supaya ayahnya Lila mengijinkan aku sama Lila menikah secepatnya." kata Grey penuh semangat.
" Wani Piro ?" goda Rio sambil nyengir.
"Bro tolong please, kamu minta apa aja nanti aku turuti deh." sahut Grey.
"Carikan aku istri yang mirip Lila bisa elo ?" sahut Rio asal.
Grey melemparkan kotak tissue ke Rio.
"ok ok iya nanti aku cerita ke ibu peristiwa hari ini " sahut Rio sambil tertawa dan menatap Lila yang juga ikutan tertawa melihat tingkah kedua sahabat ini.
"Soal Susan nanti biar aku aja yang menemui pak Hartawan kamu nggak usah ikut, takutnya nanti kamu baku hantam sama pak Hartawan lha aku nanti yang kena bonyoknya. " kata Rio sambil berdiri dan membawa laptopnya, melangkah ke meja kerjanya, meraih tasnya meletakkannya di atas meja dan memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Pak Rio hebat ya." kata Lila yang membuat Grey membelalakkan matanya ke arah Lila.
Rio menoleh ke arah Lila dan tersenyum.
Grey cemburu melihat mereka saling pandang "Lila Putri Cantika mulai sekarang aku melarang kamu untuk memuji cowok selain aku, titik nggak pakai koma." sahut Grey lalu menarik tangan Lila keluar dari ruangannya Rio.
Rio geleng geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.
Dia melangkah ke kursi kerjanya lalu duduk dan langsung meletakkan kepalanya di sandaran kursinya, menghela napas panjang.
Rio teringat akan kejadian yang sama waktu Rio kuliah dulu, pacarnya Ro juga berfoto dengan seorang cowok dalam keadaan setengah telanjang. Hanya karena dia model, dia pun bersedia berfoto dengan pose setengah telanjang bersama seorang cowok, demi kontrak gede dengan majalah dewasa ternama kala itu. Rio selalu mengatakan keberatannya tetapi pacarnya tidak pernah memperdulikannya dan selalu memberi alasan kalau dia bersedia melakukan hal tersebut demi profesionalisme kerja.
Lama kelamaan Rio pun mulai mencurigai ada yang tidak beres, Suatu hari Rio memutuskan untuk datang tiba tiba ke apartemen pacarnya tanpa mengabarinya terlebih dahulu, Rio membuka pintu apartemen pacarnya dengan kunci yang pernah diberikan oleh pacarnya, dan benar benar seperti disambar petir di siang bolong, Rio melihat dengan mata kepalanya sendiri pacarnya berada diatas ranjang dengan laki laki yang sama yang sebelumnya berpose setengah telanjang dengan pacarnya Rio.
Rio langsung melangkah pergi meninggalkan apartemen pacarnya dan semenjak itu Rio tidak pernah menemui pacarnya lagi.
Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏
Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.
Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗