
Tidak begitu lama setelah kepergiannya Susan, Stephanie pun nongol, Stephanie langsung memeluk Grey, Lila, terakhir Bu Ratih.
Setelah semuanya duduk kembali, Stephanie membuka suara terlebih dahulu "Emmm aku memberitahukan sama kalian kabar buruk, Mommy mengincar Ibu Ratih dan Grey, Mommy menginginkan kematian kalian kalau kalian tidak menghentikan niat kalian untuk menemui Daddy dan membawa Daddy pergi"
"Lila nggak akan membiarkan hal itu terjadi" Lila mulai geram.
"Sayang, ingat kamu lagi hamil" kata Grey sambil menggenggam tangannya Lila.
"Iya kami sudah tahu, untuk itulah aku meminta tolong sama kamu untuk datang ke sini, tolong taruh alat pelacak ini di tubuh Papa dan alat penyadap ini di ruang kerja Mommy kamu" kata Grey sambil menyerahkan kedua alat super canggih tersebut kepada Stephanie.
"Kamu bisa kan ?" tanya Grey kemudian.
Stephanie langsung memasukkan kedua alat super canggih tersebut ke dalam tasnya "Harus bisa demi Daddy"
"Terima kasih banyak ya" ucap Grey tulus.
"Kami akan mulai menyelamatkan papa besok" tambah Grey.
"Aku setuju Grey, lebih cepat lebih bagus. emm aku langsung pamit ya, aku akan segera melaksanakan instruksi kamu Grey, dan aku mohon kalian jaga diri kalian baik baik ya karena Mommy aku bukan orang sembarangan dan sangatlah kejam" Kata Stephanie sambil bangkit berdiri, menyalami semuanya dan langsung beranjak pergi.
"Stephanie sudah beres, semoga dia bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, dan kamu Mel besok jam sepuluh pagi, Joy Simpsons bersedia untuk bertemu dengan kamu di rumahnya" kata Grey.
"Siap pak" kata Melly sambil memijit mijit kepalanya Rio.
"Aku antar kamu ke dokter ya bro ?" kata Grey mulai mengkhawatirkan keadaannya Rio.
"Nggak usah, aku sudah mendingan kok" kata Rio masih memejamkan matanya menikmati pijatannya Melly.
"Dua jam lagi kamu harus minum obatnya lagi ya nak Rio, jangan lupa " sahut Charlie.
Rio menganggukkan kepalanya pelan dan berkata "baik om, terima kasih sudah mengingatkan"
"Om, emm bisa temani Grey ke markasnya James, ada yang ingin Grey diskusikan lebih lanjut sama James" tanya Grey sambil menatap Charlie.
"Sama aku aja" Rio langsung melek dan menegakkan badannya.
"Nggak bro, elo belum pulih benar, dan besok elo harus ngawal Melly, jadi pulihkan dulu lukamu " kata Grey.
"Iya nak Rio, nak Grey benar" sahut Charlie.
"Emm lebih baik kamu hubungi James aja untuk ke sini Grey, ibu takut kamu kenapa napa di jalan" kata Bu Ratih.
"Sayang, ibu benar lagian kalau kamu sama om Charlie pergi, nanti siapa yang menjaga kita di sini, kalau mama tiri kamu menyuruh berandalan berandalannya lagi ke sini, kamu lihat kan kalau kak Rio belum pulih benar" kata Lila.
"Baiklah, sebentar aku ke ruang kerjaku dulu ya" kata Grey, mengecup pipinya Lila dan langsung berdiri menuju ke ruang kerjanya.
"Mbak, lebih baik ajak kak Rio untuk berbaring di kamar, sambil menunggu waktunya minum obat lagi" kata Lila ke Melly.
"Ok mbak, ayuk beb aku papah ke kamar lagi !" kata Melly sambil membantu Rio untuk berdiri lalu memapah Rio menuju ke kamarnya.
Begitu sampai di dalam kamar, Melly langsung menolong Rio untuk kembali rebahan di atas ranjang.
"Mel, temani aku ya, tidur di samping aku sebentar aja ya, aku pengen meluk kamu" kata Rio sambil menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Melly berbaring di sampingnya.
"Tapi janji peluk aja lho, nggak boleh nakal !" kata Melly.
"Bukannya yang sering nakal tuh kamu, ingat kemarin nggak, siapa yang agresif banget menggoda aku" Rio tersenyum jahil sambil menatap Melly penuh cinta.
Melly langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.
"Aku kan sudah janji sama kamu, sama keluarga kamu dan sama diri aku sendiri untuk selalu menjaga kesucian kamu sampai kita menikah nanti, kalau kamu sudah nggak suci lagi karena ulah aku, kan aku sendiri juga yang rugi, sudah nggak ada lagi sensasinya pas malam pertama nanti, ya kan ?" kata Rio sambil meraih kedua tangan Melly dan langsung menggenggamnya.
Melly tersenyum penuh cinta menatap Rio.
Rio menepuk kasur di sampingnya, memberi kode sama Melly untuk berbaring di sampingnya.
Melly pun membaringkan tubuhnya pelan, membelakangi Rio. Rio langsung memeluk Melly, mencium lehernya Melly, dan tidak begitu lama Rio pun tertidur pulas.
Pelan pelan Melly melepaskan pelukannya Rio, mencium keningnya Rio lalu beranjak pergi keluar kamar untuk menyiapkan makan siangnya Rio dan obat yang harus Rio minum.
Grey sudah mulai melakukan panggilan video call dengan James.
📱 "Okay Grey, besok aku akan ke rumah kamu jam 7 pagi, aku bawa dua anak buahku yang terbaik untuk menjaga ibu dan isteri kamu" jawab James.
📱"Aku, kamu, nona Melly, Rio, dan pak Charlie, meluncur ke rumahnya mami tiri kamu" tambah James.
📱"Ok, ini Stephanie kakak tiri kamu sepertinya sudah berhasil melaksanakan tugasnya, alat pelacak dan penyadapnya sudah aktif dan tersambung " kata James sambil tersenyum senang.
📱"Bagus" jawab Grey ikutan senang.
📱"Besok saat Rio dan nona Melly menemui mama tiri kamu dan mengajak ngobrol mama tiri kamu, aku, kamu dan pak Charlie langsung menuju ke lokasi dimana papa kamu disekap" tambah James.
📱"Siap, aku setuju" sahut Grey.
📱"Kalau menurut alat pelacak yang Stephanie pasang, saat ini papa kamu berada di sebelah barat dari rumah mama tirimu, ada di ruangan paling belakang" kata James kemudian.
📱"Okay, kita besok langsung menuju ke sana , kalau Rio dan Melly sudah melancarkan aksinya" jawab Grey.
📱 "Okay, besok kita bahas lebih lanjut ya, aku besok pagi meluncur ke rumahmu " kata James.
📱"Okay, thank you" Grey langsung menutup sambungan video callnya.
Sementara itu Chef Charlie dan Chef Ivan tengah berdebat soal masakan. Chef Charlie ingin memasak sop buntut kesukaannya Ratih. Tapi Chef Ivan tidak mengijinkannya untuk memasak di dapurnya, karena sesuai jadwal hari ini, dia akan memasak bakmi goreng dan cap cay.
"This is my kitchen, you must obey my rules" kata Ivan agak kesal.
Aaahhh sial, ngeyel juga ya nih anak. Batin Charlie tidak kalah kesal.
"I understand this is your kitchen, but please let me cook too, only one cuisine okay ?" Charlie tidak patah semangat membujuk Ivan untuk mengijinkan dia memasak di dapur tersebut.
"No, I don't like to be bothered when I'm cooking" kata Ivan santai.
"Have a seat and don't bother me" tambah Ivan, sambil mendorong tubuh Charlie menuju ke meja makan dan menyuruh Charlie untuk duduk.
"Shit ! pengen gue tusuk pakai garpu tuh anak" gumam Charlie sambil mendengus kesal.
"What do you say ?" Ivan menoleh sambil memasak bakmi gorengnya.
"I hate you, okay" kata Charlie sambil menatap kesal ke Ivan.
"Hahahahaha no problem if you hate me" Ivan berkata santai sambil terus memasak.
"What kind of fried noodle is that ?" kata Charlie kesal saat Ivan salah langkah dalam pengamatannya.
Ivan menoleh dan berkata dengan santai "My kitchen and my rules"
"Aaaissshhh lama lama aku bunuh nih anak" gumam Charlie sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.
"I know the meaning of bunuh, that is not good" kata Ivan sambil tersenyum manis ke arah Charlie.
huuuffttt sabar Charlie sabar.
Akhirnya Charlie pergi meninggalkan Ivan daripada dia nanti tambah kesal.
Grey nampak keluar dari ruang kerjanya.
"Aaah Grey, om mau nanya nih" tanya Charlie sambil melangkah lebar menghampiri Grey.
"Iya om, ada apa ?" Grey tersenyum ramah menatap Charlie.
"Ivan, chef kamu itu lulusan mana sih ? parah betul caranya memasak,step step dia dalam memasak bakmi goreng aja salah tadi" kata Charlie mulai protes.
"Hahahahaha memangnya step step itu penting ya om ? bukannya yang penting tuh hasil akhir dan rasanya ?" tanya Grey geli melihat wajah seriusnya Charlie membahas soal step step dalam memasak.
"Dalam segala hal itu diperlukan step step yang benar, kalau tidak benar ya tidak bagus jadinya" tambah Charlie dengan wajah serius.
"Benar juga sih om, tapi kalau soal masak memasak Grey sama sekali tidak paham" jawab Grey.
"Ya sudahlah Grey, bukan masalah besar juga, om ke kamar dulu ya" kata Charlie sambil menepuk pelan pundaknya Grey.
Grey menatap Chef Charlie dengan heran, sebenarnya dia mau ngomong soal apa sih. batin Grey heran.