Lila And Grey

Lila And Grey
Rio ingin move on



3 Bulan kemudian.


Lila sudah lulus dari kuliahnya, orangtuanya Lila juga sudah memulai kembali berdagang sejak dua bulan yang lalu dengan modal yang diberikan oleh Grey. Dan sekarang Ibu Ratih sudah menetap di kota B, karena cabang butiknya di kota B yang baru dirilisnya masih perlu banyak pengawasan langsung, kalo bolak balik dari kota J ke kota B bisa capek.


Kontrak rambut lurusnya Lila sudah habis dan tidak diijinkan Grey untuk smoothing lagi, ternyata Grey lebih menyukai rambut panjang Lila yang bergelombang. Walaupun Lila cukup kesulitan untuk mengatur rambutnya. Tetapi Grey sangat menyukai rambutnya, dan setiap kali Lila mengeluh saat menyisir rambutnya, Grey langsung bergerak mendekati Lila, mengambil sisir rambut dan menyisir rambut Lila sambil menciumi rambut Lila dengan mesra.


"Sayang, kamu kan sudah lulus kuliah nih, kemarin kemarin kamu masih nolak untuk hamil karena takut kerepotan pas wisuda." kata Grey sambil menyisir rambut Lila, dan sesekali mencium leher Lila.


"Uhm." sahut Lila


"Kok uhm sih, gimana sudah siap bikin Grey junior belum, keburu tua aku nanti hiks hiks." Grey memasang wajah mewek.


Lila berbalik badan dan kini berhadapan dengan Grey " Sayang, oke aku sudah siap untuk hamil." sahut Lila mengelus pipi suaminya.


Grey langsung melempar asal sisir yang tengah dia pegang, begitu mendapatkan lampu ijo dari isterinya dan langsung menggendong tubuh Lila melangkah ke ranjang, menjatuhkan tubuh Lila dengan lembut diatas ranjang.


Grey langsung memerangkap tubuh Lila, mencium kening Lila, kedua mata Lila, hidung Lila dan ******* bibir Lila. Lila membalas ciuman suaminya penuh damba yang membuat Grey semakin menggila, Grey mencium leher Lila dan meninggalkan tanda kepemilikkannya disana, bibirnya merajai sekujur tubuh isterinya, dan penyatuan mereka sangatlah membara, membakar malam panjang yang dingin karena tengah turun hujan diluar sana.


Keesokan paginya Grey melakukan aksinya kembali saat melakukan ritual mandinya bersama Lila.


Setelah selesai, Grey membopong Lila ke ranjang, merebahkan Lila, lalu menyelimuti tubuh isterinya.


"Tidurlah lagi sayang " kata Grey sambil mencium kening Lila.


Grey pun bersiap untuk berangkat bekerja. Setelah selesai mengenakkan kemeja, dasi dan jasnya, diliriknya Lila sudah tertidur lelap, Grey melangkah ke tempat tidur mengecup bibir Lila, lalu keluar dari kamar, menutup pintu kamar dengan pelan.


Setelah sarapan, Grey langsung tancap gas menuju ke kantornya.


Sesampainya Grey di ruangannya, Rio sudah tampak duduk membaca sebuah kontrak kerja diatas sofa. Rio menoleh ke arah Grey dan tampak heran, kok Lila tidak ikut batin Rio.


"Bos, Lila mana ? apa sakit kok tidak ngantor hari ini ?" tanya Rio sambil menatap kembali kontrak kerja yang sedari tadi dia baca.


Grey melangkah ke meja kerjanya, meletakkan tas dan duduk.


"Capek dia." sahut Grey asal sambil menyalakan laptopnya.


"Ckckckck elo hajar berapa ronde isteri elo sampe KO begitu." celoteh Rio tanpa melihat ke arah Grey.


"Makanya elo cepetan nikah biar tahu rasanya senikmat apa, jangan asal komentar melulu." sahut Grey kesal.


"Cih ! pamer nih critanya." jawab Rio asal.


"Bro, untuk rapat hari ini elo aja ya yang handle malas gue ketemuan sama cewek model beginian." kata Grey menatap layar laptopnya yang menampakkan profil seorang cewek seksi dengan make up tebal.


"Waaahh gila elo bos, masak tega ngelepas sahabatmu ini seorang diri masuk ke sarang singa." ucap Rio masih menatap layar laptopnya Grey.


"Gue malas ketemu klien kayak uget uget gini, hiiihhhhh" kata Grey sambil menggedikkan bahunya.


"Lalu gue nggak malas gitu." sahut Rio sambil melangkah ke ke arah sofa dan duduk kembali.


"Please Bro, nanti gue beliin apapun yang elo mau." ucap Grey sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Rio berdiri dan berbalik badan menatap Grey


"Ok, gue cuma minta satu dari elo."


"Apa bro ? jangan yang sulit dan aneh aneh lho." kata Grey


"Terserah gue dong, elo bilang tadi apapun kan ? " Rio berucap sambil menyeringai


"Hufffft ya iya baiklah, apa itu ?" kata Grey.


"Gue minta, elo temui Adelia dan tolong bilang padanya untuk jangan mencari aku lagi, menelepon kesini lagi, dan jangan mengganggu hidupku lagi " kata Rio.


"Yakin elo bro, dia model terkenal,cantik dan seksi lho." Ucap Grey


"Itu mau gue titik, bisa nggak menuhin permintaan gue ?" tanya Rio.


"Oke deal, kamu nanti yang rapat sama cewek uget uget ini dan masalah Adelia gue yang urus." ucap Grey sambil menepuk dadanya.


Rio pun mengacungkan jempolnya lalu melangkah keluar dari ruangannya Grey, menuju ke ruangannya sendiri.


Adelia memang sangat gigih selama tiga bulan ini berusaha untuk menemui Rio, tetapi Rio selalu menghindar. Rencana Grey dan Lila untuk menemui Adelia menggantikan Rio juga terpaksa ditunda karena repot mengurusi Lila belajar untuk ujian kelulusan dan persiapan wisuda.


Aku rasa ini saat yang tepat untuk menemui Adelia. Grey sudah mengantongi nomer HPnya Adelia. Nanti saja kalau sudah di rumah akan aku hubungi Adelia. Gumam Grey pada dirinya sendiri.


Melly mengetuk pintu ruangannya Rio, mengantarkan Kopi untuk Rio. Melly melirik ke arah Rio tetapi tidak berani mengganggunya karena Rio tampak sibuk membaca sebuah kontrak kerja.


"Memang wajahku setampan itu ya Mel, sampe air liurmu menetes tuh." ucap Rio tiba tiba membuat Melly kaget dan spontan mengusap mulutnya.


Melly sadar telah dikerjai Rio, karena malu dan salah tingkah akhirnya Melly melangkah dengan cepat keluar dari ruangannya Rio.


Rio menggeleng nggelengkan kepala menatap kepergian Melly. Mungkin aku akan berusaha membuka hati untukmu Mel, aku harus move on dari masa laluku. Gumam Rio pada dirinya sendiri.