
Dokter Florence menjawab boleh boleh aja kalau mau naik pesawat cuma seminggu sebelum keberangkatan, Lila harus kontrol terlebih dahulu, dan harus menuruti persyaratan yang dokter berikan dengan patuh.
"Apa saja Tante persyaratannya ?" tanya Grey penuh semangat.
"Harus duduk di lorong biar gampang kalau mau ke toilet karena ibu hamil itu sering kencing, terus harus minum obat pengencer darah nanti aku kasih, karena terlalu lama duduk bisa menyebabkan penggumpalan darah di bagian kaki dan itu berbahaya, minum obat anti mual juga karena kehamilan di trimeser awal masih sering merasa mual dan muntah" dokter Florence mulai menjelaskan secara detail kepada Grey.
"Ok siap Tante, apa masih ada lagi ?" tanya Grey.
"Emmm oooo iya hampir lupa, kamu nanti beli kaos kaki kompresi untuk meminimalisir pembekuan darah di kaki, harus sering minum air putih dan setiap 2 jam harus jalan jalan sebentar di sepanjang lorong pesawat nggak apa apa." tambah dokter Florence kemudian.
"Ok terima kasih banyak Tante, Grey sayang Tante mmuaahh, besok Grey bawa Lila kontrol deh." Kata Grey penuh kegembiraan.
"Hahaha makasih untuk sayangnya, Tante juga sayang kamu, peluk cium Tante buat ibu kamu dan Lila ya." Kata mamanya Rio.
"Siap laksanakan " Jawab grey, lalu Grey memutuskan sambungan teleponnya.
"Gimana ?" tanya Ibu dan Lila bersamaan.
"Boleh, tapi ada beberapa syarat yang harus dipatuhi seminggu sebelum berangkat Lila harus kontrol dulu, untuk dikasih obat anti mual dan pengencer darah." jawab Grey.
"Syukurlah, Ibu juga merasa khawatir kalau harus meninggalkan Lila sendirian di sini ? kata Bu Ratih.
"Maksud Ibu, Ibu mau ikut juga ke London ? Ibu yakin ?" kata Grey sambil mengerutkan dahinya.
"Kata Stephanie papa kamu sakit parah, Ibu jadi khawatir emm bagaimana pun juga papa kamu pernah masuk ke dalam hati Ibu, dan papa kamu juga sudah banyak berjasa dalam hidupnya Ibu." kata Bu Ratih lirih sambil menundukkan kepalanya menahan tangis.
Lila dan Grey langsung memeluk Bu Ratih. Bu Ratih pun membalas pelukan anak dan menantunya dengan penuh rasa sayang.
Bu Ratih akhirnya melepaskan diri dari pelukannya Lila dan Grey, "Sudah sana istirahat, Ibu hamil tidak baik kalau tidur terlalu malam "
Lila dan Grey mencium pipi Bu Ratih secara bergantian, Lalu pamit untuk balik ke kamar mereka.
Sepeninggalnya Grey, Bu Ratih masih duduk melamun di ruang keluarga.
Aku masih sangat mencintaimu mas Edward, bertahanlah bagaimanapun kondisi kamu sekarang, tunggu aku dan anak kamu datang ya. Batin Bu Ratih.
Kita menengok ke Rio sebentar ya, apa kabarnya cowok cool berlesung pipit itu heee. Rio masih ada di rumahnya Melly, karena tidak diijinkan Merry untuk pulang.
Mereka asyik bermain karambol, yang kalah harus dibedakki mukanya, dan Merry kalah telak. wajahnya sudah penuh bedak kayak donat.
"Kak Rio nggak boleh pulang sampai Merry menang, ayok kita main sekali lagi." kata Merry mulai mengerucutkan bibirnya saat Rio menang lagi dan langsung pamit untuk pulang karena malam sudah mulai larut.
"Dek, ini sudah malam, besok lagi ya" kata Rio sambil menahan tawa mengulum bibirnya melihat tampang lucunya Merry penuh bedak dan sedang cemberut.
"Kakak jahat" Merry langsung berdiri dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Rio pun merasa bersalah dan menggaruk nggaruk kepalanya nggak tahu harus bagaimana.
"Sudah pulang sana nggak apa apa, sudah biasa kalau Merry tuh ngambek, mirip tuh sama maminya, tukang ngambek" kata papinya Melly setengah berbisik ke Rio.
"Apa Pi ?" tanya maminya Melly.
" Nggak ada apa apa mi, heeee sudah pulang aja nggak apa apa." kata papinya Melly lagi sambil meringis.
Rio pun tertawa lirih melihat ekspresinya papinya Melly, akhirnya Rio pun pamit mencium punggung tangan papi dan maminya Melly, karena kakek sudah tidur Rio nitip salam buat kakek.
Melly mengantarkan Rio sampai di depan mobil. "Aku pulang dulu ya" kata Rio sambil mengecup bibir Melly dan masuk ke dalam mobil, mulai meluncurkan mobilnya menuju ke rumahnya.
Melly tersenyum sambil melambaikan tangannya. Setelah mobilnya Rio sudah tidak nampak lagi, Melly pun masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di kamarnya Grey, tiba tiba Lila terisak menangis dan membangunkan Grey.
"Sayang kenapa ? apa yang sakit ? kenapa kamu menangis ?" tanya Grey mulai panik dan langsung memeluk Lila.
"Lila pengen mangga" kata Lila masih terisak Isak.
"Ok, cup cup cup, sekarang ya pengennya ?" tanya Grey sambil menatap wajah Lila dan mengusap air matanya Lila.
Lila mengangguk angguk lagi.
"Bukan mangga yang ada di lemari es" kata Lila.
"Lalu ?" tanya Grey heran kembali memeluk Lila.
Lila mengusap usap dada bidangnya Grey dan berkata "Aku mau mangga mentah yang ada di pekarangan rumah tetangga kita"
"Hah ? tetangga yang mana ? aku aja nggak kenal sama tetangga tetangga kita sayang, karena aku jarang di rumah dan tidak punya waktu untuk bertetangga, lagian ini sudah larut malam" kata Grey sambil menjauhkan Lila dari pelukannya, memegang kedua bahu Lila dan menatap isterinya dengan heran.
"Yang rumahnya di seberang jalan rumah kita, tadi pas Lila menyirami tanaman, Lila melihat ada pohon mangga dan mangganya banyak yang masih mentah, Lila sekarang kok jadi pengen banget ya" jawab Lila lirih.
"Lila merepotkan ya sayang, maafkan Lila " kata Lila yang mulai terisak isak lagi.
Aaahhh susahnya jadi suami yang isterinya lagi hamil ya. Batin Grey.
"Nggak kamu nggak merepotkan, cuma sayang sekarang sudah malam dan aku harus menyeberang jalan, memencet bel rumah tersebut hanya untuk meminta mangga ?" kata Grey mencoba untuk membawa Lila ke pemikiran yang logis.
Tetapi Lila malah semakin keras nangisnya, tiba tiba Bu Ratih nongol di kamarnya Grey dan bertanya "Grey kamu apakan Lila ?"
Bu Ratih melangkah mendekati Lila dan langsung memeluk Lila.
Grey menghembuskan napasnya dan berkata "Lila minta mangga tapi mangga yang ada di kebon rumah yang ada di seberang jalan rumah kita Bu"
"Ya sudah kamu nyebrang gih, minta mangga sana" kata Bu Ratih sambil mengelus elus punggungnya Lila.
"Tapi Bu, ini sudah jam 11 malam, kalau Grey nyebrang terus mencet bel rumah tersebut ya kalau yang keluar orang, kalau yang keluar anjing penjaga rumah itu bisa mati berdiri dong Grey, Grey kan takut anjing" kata Grey.
"Ayok Ibu temani, Ibu nggak mau kalau sampai Lila dan cucu Ibu kenapa napa " jawab Bu Ratih.
Tiba tiba Lila mengusap air matanya dan berkata "Lila aja yang temani, ayok sayang heeee Lila suka sama anjing"
Grey menatap Lila dengan heran, tadi menangis histeris sekarang tiba tiba cerah ceria huuffftt sabar Grey sabar. Batin Grey.
"Sayang, mana ada kamu ikut sudah biar aku saja yang ke sana sendiri, kalau ada anjing nanti kamu malah digigit bisa bahaya, kamu kan lagi hamil." kata Grey mulai melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Tanpa Grey sadari, Lila dan Bu Ratih mengikuti langkahnya Grey, dan mengamati Grey dari teras rumah mereka.
Grey mulai memencet bel rumah tersebut, dan benar yang nongol anjing penjaga rumah tersebut, menggonggong nyaring di balik gerbang rumah tersebut dan berlari mendekati Grey.
"Aaaisshh kalau elo terus menggonggong, besok aku suruh Rio ke sini menculik kamu, asal kamu tahu ya, yang namanya Rio itu jagoan dia tidak takut sama apapun." Kata Grey ke anjing tersebut dan ajaibnya si anjing pun diam lalu pergi meninggalkan Grey.
Hahahaha hebat ya Rio, anjing aja mendengar namanya langsung lari ketakutan hahahaha. Gumam Grey geli sendiri.
Tidak begitu lama, muncul seorang pria seumuran Bu Ratih, gagah dan tampan.
Bu Ratih pun kaget dan menutup bibirnya dengan sebelah tangannya lalu melangkah lebar setengah berlari menyusul dan mendekati Grey.
"Chef Charlie ?" kata Bu Ratih setengah tidak percaya.
Grey menoleh ke arah Ibunya kemudian menoleh lagi ke arah pria tersebut.
"Ratih ?" kata pria tersebut.
"Kalian saling kenal ?" tanya Grey.
"Kapan Chef Charlie balik ke Indonesia ?" tanya Bu Ratih ke pria tersebut tanpa menghiraukan Grey.
"Baru tiga tahun ini, bagaimana bisa aku tidak menyadari kalau ternyata selama ini kita bertetangga, bahkan rumah kita berseberangan jalan gini hahaha, dunia memang sempit ya." kata pria tersebut.
Sial aku dicuekin "Ehheeemmm" Grey pun berdehem kesal melihat pria tersebut menatap ibunya dengan tatapan yang spesial.
"Aaah ini Edward junior ya, siapa nama kamu nak ?" kata pria tersebut sambil menoleh ke arah Grey.
"Iya ini anaknya mas Edward, namanya Grey, emm kami ke sini pengen meminta mangga, menantuku sedang ngidam pengen mangga muda" kata Bu Ratih.
"Oooooo baiklah, kalian pulang aja dulu, aku petikkan mangganya, nanti aku antarkan ke rumah kalian." kata pria tersebut.
Grey pun mengangguk tanpa senyum dan langsung menyeberang kembali ke rumahnya.