
Radit memeluk bahu Lila dan memapah Lila pelan, menuntun langkah Lila menuju ke kamarnya. Tetapi tiba tiba Lila mendorong Radit kembali dengan sisa tenaga dan kesadaran yang Lila milikki.
Lila mencubit lengannya sendiri dengan keras supaya dia bisa lebih sadar lagi dan tidak ambruk. Lalu berkata sambil menatap cowok yang ada di depannya kini "Kamu bohong ! kamu bukan suaminya Lila, wangi parfum kamu beda emmm no no no kamu bukan suami Lila !" Lila berteriak dan mendaratkan bogem mentah ke hidungnya Radit.
Radit terhuyung beberapa langkah mundur ke belakang, dan langsung memegang hidungnya yang mulai mengeluarkan darah. Radit tersenyum kagum menatap Lila dan berkata "Kamu ternyata bukan cewek sembarangan ya, aku suka hahahaha suka sekali, kamu seksi di mataku ! Bahkan dalam kondisi seperti ini kamu masih menyisakan tenaga yang luar biasa untuk memukulku hahaha, shit !"
Lila menyandarkan tubuhnya ke tembok dan kembali mencubit lengannya. Jangan sampai pingsan dan tertidur Lil. Batin Lila.
"Maju kamu ayok ! " kata Lila mengayunkan tangannya ke cowok tersebut tetapi mata Lila terpejam karena sumpah pusing yang Lila rasakan saat ini sangatlah hebat.
Di tempat pesta, Melly sudah balik dari toilet dan tampak bingung mencari Lila. Lho mbak Lila kemana ya, apa ke toilet juga ? Batin Melly.
Tiba tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dan bertanya "Apa mbak mencari teman mbak yang tadi duduk di sini ?"
"Benar pak, sekarang teman saya di mana ya pak, apa bapak tahu ?" tanya Melly.
"Tadi sepertinya teman mbak mabuk, lalu dipapah sama suaminya masuk ke dalam lift." jawab bapak tersebut.
"Hah ?!" mana mungkin mbak Lila mabuk orang minumnya cuma soda, terus kalau pak Grey masih ada di sini lalu siapa yang memapah mbak Lila, waduh gawat nih. Batin Melly.
"Emmm maaf pak, apa bapak memperhatikan liftnya menuju ke lantai berapa ya ?" tanya Melly kemudian.
"Maaf mbak, saya tidak memperhatikannya lagi karena saya pikir teman mbak sudah aman bersama suaminya." jawab bapak tersebut.
"Aaahh iya pak, terima kasih banyak infonya. Mari pak saya tinggal dulu ya pak, saya mau mencari teman saya." sahut Melly dan langsung dibalas dengan senyuman dan anggukkan kepala dari bapak tersebut.
Melly langsung melangkah setengah berlari mendekati Rio dan Bosnya yang masih tampak asyik mengobrol dengan beberapa kliennya.
"Ayang Bebeb, mbak Lila hilang dan sepertinya diculik." kata Melly langsung ke telinganya Rio.
"What ?!" Rio langsung menoleh ke arah Melly.
Rio pun langsung membisikkan kata yang sama yang tadi diucapkan Melly ke telinganya Grey, tapi tanpa kata ayang bebeb heee.
"What ?! Shit ! " Grey spontan berteriak dan mengagetkan seluruh klien kliennya yang saat ini tengah mengelilinginya.
"Pak Hendrawan, cepat bawa saya ke ruang CCTV, isteri saya hilang, ayok cepat !" kata Grey sambil menarik tangannya pak Hendrawan.
Pak Hendrawan langsung menuntun langkah Grey ke ruang CCTV dengan berlari kencang mengikuti langkah Grey.
Rio menelepon ketua tim pengawalnya Grey, untuk menyuruh anak buahnya berpencar mencari Lila, sambil berlari mengikuti Grey dan pak Hendrawan.
Melly pun dengan panik dan gemetar mengekor Bosnya dan ayang Bebebnya.
Sesampainya di ruang CCTV, pak Hendrawan langsung menyuruh karyawannya untuk memutar balik waktu perkiraan terakhir saat Lila menghilang dan akhirnya ketemu. Lila tampak berada di salah satu selasar kamar hotel tersebut.
"Lantai berapa ini ?" tanya Grey.
"Lantai 6 pak." jawab pak Hendrawan.
"Grey langsung berlari masuk ke dalam lift menuju ke lantai 6."
Rio meraih tangan Melly dan berlari mengejar Grey.
Pak Hendrawan tampak mematung menatap layar hasil rekaman CCTVnya. Dia tidak berani berkutik karena salah satu anak buahnya Grey masih menunggu di ruangan tersebut meminta salinan rekaman CCTV tersebut.
Sosok cowok yang memapah Lila dan membawa Lila adalah anaknya sendiri. Shit ! kenapa kamu harus berurusan dengan pak Grey sih Dit. Batin pak Hendrawan.
Bisa hancur hotelku hiks hiks, kalau pak Grey menarik investasinya bisa hancur aku hiks hiks, dasar Radit tidak berguna. Sialan tuh anak. Umpat pak Hendrawan untuk anaknya sendiri. Pak Hendrawan akhirnya tersadar dari lamunannya dan berlari menyusul Grey.
Sesampainya di lantai 6 Grey langsung belok ke kanan ke arah selasar kamar hotel tersebut yang nampak di rekaman CCTV tadi, Grey langsung mengernyitkan dahinya dan ternganga.
Tampak di depan matanya kini, Lila tengah duduk di atas seorang cowok yang tengah pingsan dengan kondisi tertelungkup.
Tidak begitu lama nongol lah Rio, Melly dan pengawalnya Grey.
Grey langsung menghampiri Lila lalu jongkok dan memegang bahu Lila "Sayang, kamu tidak apa apa kan ?"
Lila mendongakkan kepalanya dan mengerjap ngerjapkan matanya lalu bertanya "Kamu siapa ?"
"Aku suami kamu sayang." sahut Grey, apa Lila mabuk, tapi kenapa bisa mabuk gini ya. Batin Grey.
Grey langsung membungkam mulut Lila dan tersenyum dengan canggung ke arah semua orang yang ada saat ini dan tengah menatap dia dan Lila.
Lila menepis tangan Grey dengan kasar lalu berkata "Jawab, atau mau aku kasih bogem mentah lagi nih."
"Hahaha maaf ya semuanya." Grey tampak canggung dan malu, karena saat ini banyak mata tengah menatap dirinya.
Rio dan Melly tampak mengulum bibir mereka menahan tawa.
Akhirnya Grey berbisik di telinganya Lila, dan Lila pun langsung menghambur ke dada bidang suaminya dan berkata "Sayang, kamu kok lama sekali. Emm tadi ada cowok kurang ajar berani memeluk Lila dan hendak menculik Lila, lha sekarang dimana ya cowok tadi?"
"Cowok itu kamu dudukki sekarang sayang, tuh ada di bawah kamu, kamu sedang duduk di atasnya sekarang." jawab Grey sambil bangkit berdiri.
Lila langsung berdiri dan merangkul pinggang Grey dan berkata sambil menunjuk ke cowok yang tadi membawanya dan kini sudah tertelungkup tidak sadarkan diri "Dia menggoda Lila tadi saat mbak Melly pamit ke toilet, lalu........." Zzzzzzzzzzzz Lila pun tertidur.
"Sayang, sayang" kata Grey panik sambil menepuk pelan pipinya Lila.
Lila membuka matanya lagi dan berdiri tegak lalu berkata dengan lantang "Lila cat womannya Greyson Adi Wijaya tidak terkalahkan."
"Iya sayang iya." sahut Grey.
Grey menghela napas lega saat tahu isterinya tidak kenapa kenapa cuma mabuk berat saat ini.
Grey lalu membopong Lila, dan berkata sama Rio "Bro, tolong kamu urus cowok ini. Kamu bawa dia dan buat dia tersadar lalu interogasi dia !"
"Siap Bos " sahut Rio.
"Aku mau bawa Lila pulang dulu. Mel, kamu ikut aku !" kata Grey kemudian lalu cepat cepat beranjak pergi dari tempat tersebut.
Melly mengangguk dan langsung mengekor langkahnya Grey.
Sepeninggalnya Grey, Rio langsung meraba saku kemeja cowok tersebut dan menemukan kunci chip kamar 620. Rio pun langsung menyuruh pengawalnya Grey untuk mengangkat cowok tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamar tersebut.
Pak Hendrawan sudah sampai di lantai 6 sejak tadi. Tetapi tidak berani mendekat. Pak Hendrawan bingung mau bertindak bagaimana. Di satu sisi Radit adalah putra tunggalnya, sedangkan Grey adalah rekan bisnisnya yang sangat penting.
"Aarrghhh bisa gila aku" gumam pak Hendrawan di tempat persembunyiannya.
Kalau sampai Radit bilang dia adalah anakku bisa tamat hotelku ini. Aaahhh sial sial ! Batin pak Hendrawan.
Radit Radit banyak cewek cantik di pesta tadi, kenapa juga kamu menggoda isterinya pak Grey. Batin pak Hendrawan kesal.
Sementara itu di dalam kamar. Rio duduk di kursi di depan cowok tersebut. Rio memerintahkan salah satu pengawalnya Grey untuk menampar cowok tersebut supaya cepat tersadar dari pingsannya.
Sekali tamparan keras mendarat di pipinya, Radit pun langsung mengaduh dan mulai pelan pelan membuka matanya, saat melihat Rio dia pun kaget dan bertanya "Siapa kamu ?"
"Harusnya aku yang bertanya siapa kamu ? berani beraninya mengganggu isterinya pak Greyson Adi Wijaya." sahut Rio tanpa ekspresi menatap tajam cowok tersebut.
"Siapa isterinya pak Greyson, aku sendiri nggak kenal bagaimana bisa aku menggodanya ?" sahut Radit tanpa dosa.
"Siapa nama kamu ?" tanya Rio tegas.
"Radit, memangnya mau apa kamu ?" tanya Radit mulai tampak panik saat melihat di sekelilingnya ada banyak sekali orang berdadan kekar tengah menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Ok Radit, kamu ingat cewek yang kamu goda di pesta tadi ? tidak usah mengelak karena aku sudah melihat rekaman CCTVnya." kata Rio sambil mencondongkan badannya ke arah Radit.
"Iii iii iya., ta ta tapi saya tidak menggodanya" kata Radit gugup.
"Dia isterinya pak Greyson Adi Wijaya." jawab Rio masih menatap tajam ke arah Radit.
"Hah ?! ba ba ba bagaimana bisa ?" jawab Radit mulai bergetar ketakutan.
"Aku yang harusnya nanya bagaimana bisa kamu punya keberanian menggodanya, membuatnya mabuk, dan hendak berbuat tidak senonoh, cih ! menjijikkan benar kelakuanmu " kata Rio mulai kesal.
*Aku sudah membawa salinan rekaman CCTVnya jadi kamu tidak bisa mengelak lagi dari jerat hukum." kata Rio tegas.
"Jangan pak, saya mohon hiks hiks saya hanya membantunya tadi, dia tadi tampak mabuk dan tidak ada teman jadi saya berniat membantunya." Jawab Radit asal berniat untuk menyelamatkan dirinya dari penjara makanya dia membuat alasan seperti itu, mencoba untuk menarik simpatinya Rio juga.
"Cih ! asal kamu tahu ya isteri pak Greyson Adi Wijaya adalah cewek baik baik tidak pernah mengenal yang namanya minuman keras, sekarang aku tanya sama kamu, kamu masukkan apa ke dalam minumannya ?" kata Rio sambil menggertakkan giginya.
Aaahhh sial, aku berniat membela diri tapi kenapa malah jadi tambah runyam gini. Batin Radit.