Lila And Grey

Lila And Grey
I Love You



Rio melihat tawanya Melly dan langsung membungkam bibir Melly dengan bibirnya, dengan pelan pelan, Rio membaringkan tubuh Melly di atas ranjang mewahnya, ranjang berwarna merah menyala itu, seolah mengerti kalau saat ini, semangat Rio untuk memulai membuka kado pernikahannya pun juga tengah menyala nyala.


Rio secara intens dan dalam mencium bibirnya Melly, mulai menelusupkan lidahnya ke dalam bibirnya Melly. Rio,memang ahlinya kalau dalam teknik berciuman. Itu yang dikatakan Adelia, mantan pacanya Rio, dulu.


Melly, seakan meleleh, dan kewalahan mengikuti permainannya Rio, yang luar biasa. Permainan baru sampai pada tahap berciuman, sudah membuat Melly kehabisan napas.


Rio, melepas ciumannya, menatap Melly yang masih memejamkan matanya dan tampak terengah engah. Rio, tersenyum senang menatap istri cantiknya. Rio, mengusap usap bibirnya Melly yang nampak basah dan sedikit bengkak akibat dari ciumannya yang dahsyat dan memabukkan.


Rio, mulai membuka kaosnya, lalu pelan pelan membuka satu persatu kancing blusnya Melly, sambil menciumi lehernya Melly, meninggalkan beberapa tanda cinta dan gairahnya di sana.


Melly tanpa sadar mendesah dan memanggil manggil nama Rio.


Rio, tersenyum bangga saat melihat istrinya begitu menikmati permainannya.


Rio, menurunkan ciumannya di atas dadanya Melly, tangannya pun ikutan bermain main di sana. Melly, semakin kelimpungan, semakin panas, dan terus memanggil manggil nama Rio.


"Mel, aku mulai masuk ya" kata Rio sambil mengecup keningnya Melly.


Melly membuka matanya dan menatap Rio lalu menggelengkan kepalanya.


"Lho kok kamu gelengkan kepala kamu, kenapa?" tanya Rio heran.


"Melly, baca di novel novel sama dengar dari cerita mami, waktu malam pertamanya mami dulu itu, rasanya sakit banget, Melly takut" jawab Melly.


"Hahahaha" Rio tertawa geli melihat ekspresi polosnya Melly yang nampak beneran takut.


Rio, menghela napasnya dan membelai pelan kening istrinya lalu mengecupnya "Aku janji, aku akan melakukannya dengan pelan pelan dan hati hati Mel, kalau nantinya ada rasa sakit, kamu gigit aja aku, jambak rambut aku, atau pukul aku, ya" kata Rio penuh kesabaran.


"Baiklah, kata mami, juga harus ditahan walaupun sakit banget karena, menolak keinginan suami itu dosa" kata Melly sambil menganggukkan kepalanya, tapi masih nampak gurat ketakutan di wajahnya Melly.


Rio menjadi tidak tega dan berkata "kalau kamu takut, benar benar merasa takut, kita lakukan nanti aja, ya"


Melly merasa kasihan melihat Rio yang sudah nampak sangat bergairah, kalau tidak terlampiaskan, kasihan.


Akhirnya Melly berkata "Nggak, Beb, lakukan sekarang aja, Melly akan tahan sakitnya, tapi pelan pelan ya" kata Melly.


Rio tersenyum, mengecup kening Melly dan menganggukkan kepalanya.


Rio, memulai aksinya, dengan sangat pelan awalnya, tetapi karena, gairah yang sudah sangat memuncak, tanpa Rio sadari dia mempercepat gerakannya. Melly, langsung berteriak dan menjambak rambutnya Rio. Melly, terisak dan meneteskan setitik air mata.


Mereka akhirnya mencapai puncaknya secara bersamaan. Rio kemudian memakai kembali kaos dan celana boxernya. Mengusap setitik air mata yang nampak di pelupuk mata isteri cantiknya, dengan jari jempolnya.


Rio lalu membaringkan tubuhnya di sampingnya Melly, menyelimuti tubuh isterinya yang masih polos, dengan selimut.


Melly menatap Rio dengan penuh cinta, rasa sakit yang tadi dia rasakan seolah sirna saat melihat wajah bahagianya Rio.


Rio memeluk Melly dan berkata "terima kasih banyak ya Mel, kamu sudah jaga segel kamu dengan sangat baik, kamu sudah kasih aku kesempatan emas untuk menjadi yang pertama dan satu satunya yang membuka segel kamu, dan rasanya sangat manis, Mel"


"I Love You Beb" kata Melly di dalam dekapan suaminya.


"Aku juga sangat mencintaimu, tidurlah!" kata Rio sambil mengecup pucuk kepalanya Melly.


"Nggak jadi ke rumahnya papa?" tanya Melly sambil mendongakkan kepalanya menatap Rio.


"Nanti sore aja, kalau nggak malam, aku telepon mama bentar lagi, tidurlah!" kata Rio.


Melly akhirnya memejamkan mata dan tidak begitu lama dia pun tertidur lelap di dalam dekapannya Rio.


Rio, pelan pelan bangun dari ranjangnya. Rio meraih ponselnya dan menelepon mamanya.


"Ma, Rio ke rumahnya mama, nanti sore aja ya" Kata Rio saat sambungan teleponnya sudah terhubung dengan mamanya.


"Lho, kenapa nggak sekarang?" tanya mamanya Rio di seberang sana.


"Heeee, masih ada urusan penting nih, ma" jawab Rio.


"Dasar kamu ini ya, mama paham deh, iya lanjutkan dulu sana urusan penting kamu, hahahaha, dasar anaknya dokter Arkan, ya sama persis deh kayak papanya" kata Mamanya Florence yang langsung paham apa yang dimaksud Rio dengan urusan penting tadi.


"Hahahaha mama memang cerdas ya, langsung paham aja nih, hahahaha" Kata Rio.


"Ya, sudah lanjutkan! mama, tutup ya teleponnya, sun sayang buat Melly, pasti lagi ketiduran kan Melly, akibat dari ulah kamu, ish ish ish" Kata mamanya Rio dengan nada geli.


"Hahahahaha" Rio langsung tertawa ngakak menanggapi ucapan mamanya.


Tante Florence akhirnya menutup sambungan teleponnya.


Sementara itu, di kota S, Chef Charlie, Raja,dan Grace tengah berjalan jalan di sekitar Hotel The Rain. Chef Charlie belum balik ke kota J, menolak balik saat diajak balik sama Grey kemarin.


Chef Charlie mengurungkan niatnya untuk mengikuti rombongan Grey, balik ke kota J kemarin, saat mengetahui kalau Grace belum berniat untuk balik ke kota J.


Mereka berjalan jalan dan membeli beberapa bahan untuk membuat es krim. Grace meminta tolong sama Chef Charlie untuk mengajarinya cara membuat es krim yang smooth karena, menurutnya Chef Charlie, es krimnya Grace enak rasanya, tapi masih kurang smooth teksturnya.


"Kita bikin es krimnya di kamar kamu atau di kamar aku?" tanya Chef Charlie to the point.


"Di Kamal Laja aja" Raja yang menjawab pertanyaannya Chef Charlie.


"Aaahh, baiklah Raja kecilku" kata Grace sambil mencium pipi gembulnya Raja.


Chef Charlie mengikuti langkah Grace yang tengah menggendong Raja, untuk menuju ke kamarnya.


Saat mereka sudah masuk ke dalam kamarnya Grace, mereka langsung menuju ke dapur, meletakkan semua bahan di atas meja makan.


Grace menurunkan Raja dari gendongannya.


Raja langsung berjalan menuju ke ruang keluarga, menghadap TV LCD yang tertempel di tembok kamar hotel tersebut, duduk dengan santai, menyetel program kartun kesayangannya, dan mulai asyik menontonnya.


Grace dan Chef Charlie langsung memasang celemek mereka.


Chef Charlie mulai menyiapkan semua alat alat yang diperlukan untuk mulai membuat es krim.


Garam, vanili, pisang, susu cokelat, cokelat batangan, susu murni,gula, telor, sudah disiapkan sama Grace, dan diletakan di atas meja dapur, di samping mixer.


"Ini bahan bahannya Om" kata Grace kemudian.


"Aahhh, iya terima kasih" kata Chef Charlie sambil tersenyum dan menoleh sekilas ke arah Grace.


Chef Charlie lalu memulai pelajarannya, menerangkan secara pelan dan penuh kesabaran sambil memasukkan semua bahan sesuai step stepnya. Kecepatan mixer pun perlu diperhatikan. Grace memperhatikan semua penjelasan Chef Charlie dengan serius.


Saking seriusnya tanpa sadar Grace terpeleset kulit pisang yang terjatuh. Grace langsung jatuh ke dalam dekapannya Chef Charlie, yang secara refleks dan sangat cekatan berhasil menangkap tubuh rampingnya Grace.


Karena terbiasa olah tubuh dan pandai teknik bela diri, membuat Chef Charlie menjadi begitu cekatan dan refleksnya sangat bagus dalam segala hal.


Mereka membeku dan saling menatap. Tangan Chef Charlie masih berada di atas pinggang rampingnya Grace.


Saat Chef Charlie hendak melepaskan pinggang rampingnya Grace, tiba tiba Grace berjinjit dan merangkulkan kedua tangannya di lehernya Chef Charlie.


Grace terpesona akan ketampanannya Chef Chalie, tersihir akan sikap pahlawannya Chef Charlie yang dengan sangat cepat bisa menangkap dia, membeku saat menatap senyum indahnya Chef Charlie, dan merasa mabuk saat mencium wangi maskulinnya Chef Charlie dari dekat.


"Grace, kalau kamu seperti ini, aku bisa nekat mencium kamu" kata Chef Charlie.


Grace tersenyum dan memejamkan matanya.


Chef Charlie pun langsung mencium lembut bibirnya Grace. Kenapa rasanya begitu manis dan memabukkan seperti ini ya, apa aku sudah mulai mencintainya. kata Chef Charlie di dalam hatinya.


Mereka semakin memperdalam ciumannya mereka.


Akhirnya Chef Charlie melepaskan ciumannya lalu mengusap bibir indahnya Grace dengan jari jempolnya.


Grace nampak kecewa dan membuka matanya.


Chef Charlie tersenyum geli menatap wajah kecewanya Grace saat dia melepaskan ciumannya.


Chef Charlie lalu berkata "Ada Raja"


Grace tersenyum malu dan langsung menundukkan kepalanya.


"Sudah selesai nih, kamu masukkan ke dalam freezer dulu nih!" kata Chef Charlie kemudian.


Grace menganggukkan kepalanya dan mulai memasukkan cup cup es krim tersebut semuanya, ke dalam freezer.


Setelah selesai, Grace membalikkan badan, dan langsung terkejut saat melihat Chef Charlie tangah menatapnya


"Maukah kamu jadi wanitaku?" tanya Chef Charlie dengan hati hati dan terus menatap Grace.


Grace masih membeku menatap Che Charlie.


"Emm, kita sudah berciuman tadi, itu berarti kamu sudah......."


"Iya, saya mau Om" jawaban Grace langsung memotong ucapannya Chef Chalie.


Chef Charlie merasa senang lalu menarik tangannya Grace dan langsung memeluk tubuh rampingnya Grace.


"Bagaimana kalau kita langsung menikah saja, besok?" kata Chef Charlie kemudian sambil terus memeluk Grace.


"Hahahaha, tunggu beberapa bulan ke depan Om, menikah itu butuh persiapan" kata Grace di dalam pelukannya Chef Charlie.


"Jadi, kamu mau menikah denganku?" tanya Chef Charlie semakin mempererat pelukannya.


Grace mendongakan kepalanya, menatap wajahnya Chef Charlie, dan menganggukkan kepalanya.


"Aaahh, terima kasih Grace, I love you" Chef Charlie kembali membenamkan kepalanya Grace ke dalam pelukannya.