
Pagi hari ini Grey tidak bisa mengantarkan Lila pergi ke kampus, Mang Udin nanti juga repot mengantar jemput Bu Ratih untuk kembali mengurus butiknya. Butik Bu Ratih jaraknya agak jauh dari kampus Lila, Lila pun berangkat ke kampus naik motor Mio kesayangannya.
Grey dan Bu Ratih sebenarnya nggak tega melepas Lila berangakat ke kampus sendiri.
"Sayang, cepetan berangkat ke kantor gih telat nanti. Lagian Lila juga selama ini selalu berangkat ke kampus sendirian naik motor." kata Lila menenangkan hati suaminya yang tampak khawatir saat akan beranjak pergi ke kantor pagi pagi, dan harus merelakan Lila berangkat sendiri ke kampus.
Setelah mendapatkan tiga kecupan dari Lila di bibirnya, akhirnya Grey melajukan mobilnya menuju kantor.
"Nak, apa nanti biar mang Udin menunggu di kampus kamu begitu Ibu sampai butik, nanti Ibu bisa nunggu kamu dulu di butik sepulang dari kampus." ucap Bu Ratih sambil membelai rambut Lila.
Lila tersenyum menatap ibu, lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya yang sangat dia sayangi. " Enggak usah Bu, kasihan mang Udin nanti capek harus bolak balik menempuh perjalanan yang cukup jauh, lagian nanti Lila ada kerjaan jadi asisten dosen, kasihan juga kalau harus nungguin Lila." sahut Lila.
"Lila pamit Bu " memeluk singkat ibu mertuanya lalu melangkah ke motor mionya yang sudah cantik menunggu Lila dengan setia.
"Ati ati ya nak." sahut Bu Ratih sambil melambaikan tangan ke arah Lila yang sudah mulai melajukan motornya.
Jam makan siang, Rio masuk ke ruangannya Grey.
"Lho Lila mana bos ?" tanya Rio
"Lila padat jam kuliahnya, terus nanti ada kerjaan jadi asisten dosen, hari ini nggak bisa ngantor." sahut Grey sambil terus membaca berkas berkas yang ada di depannya.
"Makan siang yuk laper nih." kata Rio sambil memegangi perutnya.
"Tunggu aja, duduk sana ! Bentar lagi makanan datang. kita makan aja disini. kerjaan masih banyak nih, males keluar aku." sahut Grey.
Rio akhirnya nurut duduk di sofa. Tidak begitu lama makanan mereka pun datang.
Grey mengetikkan pesan text ke Lila.
jangan lupa makan siang, jangan makan siang sama Dony.
Lila membalas pesan Grey.
kamu juga jangan lupa makan siang, i love you😘
Setelah makan siang, Grey dan Rio kembali berkutat dengan pekerjaan mereka masing masing. Sampai tidak terasa hari terus beranjak petang.
Lila melajukan motornya menuju ke rumah. Tiba tiba dia melihat di trotoar yang tampak sepi, tampak olehnya, Ratna sahabatnya dihadang empat orang laki laki yang sepertinya ingin bertindak jahat pada sahabatnya itu.
Lila langsung menepi,memarkir motornya di pinggir jalan setelah itu penuh amarah menyeberang, berlari ke arah sahabatnya.
"Waaahh memang rejeki nggak kemana ya bang, ada dua cewek manis yang muncul untuk kita santap." ucap salah satu berandalan yang menghadang Ratna.
"Lil, ngapain kamu kesini pergi sana ."kata Ratna dengan suara bergetar.
"Kamu minggir ke tepi dulu Rat, biar aku beri pelajaran berandalan ini." sahut Lila sambil menoleh ke belakang ke arah sahabatnya
Ratna pun menepi dengan gemetar, saat Lila menoleh ke arah berandalan berandalan tersebut, Lila langsung mendapat pukulan dari salah satu berandalan itu.
Craasshh darah segar mengucur dari bibir Lila, Lila mengusapnya cepat sambil tersenyum sinis menatap keempat berandalan itu.
"Maju kalian !" kata Lila sambil mengayunkan tangan menyuruh mereka untuk menyerang Lila.
Mereka mengepung Lila melancarkan tendangan, pukulan dan tinju ke arah Lila tetapi dengan lincahnya Lila bisa menangkis semua serangan mereka. Saat mereka lengah, Lila melancarkan serangan balik dan satu persatu dari mereka pun jatuh tersungkur.
Bertepatan dengan mobil patroli polisi datang. Rupanya di saat Lila sibuk meladeni berandalan berandalan itu, Ratna menelepon polisi.
"Bos, ayok pulang sudah petang nih." sahut Rio nongol lagi di ruangannya Grey untuk mengambil HPnya yang tadi ketinggalan.
"Ada apa ?" tanya Rio.
"Lila di kantor polisi." sahut Grey bergegas pergi yang langsung diikuti Rio.
Sesampainya di kantor polisi Grey langsung menghampiri Lila yang tengah duduk di samping Ratna.
Rio langsung duduk di depan salah satu meja bapak polisi yang tengah bertugas, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Grey menyentuh ujung bibir Lila yang tampak biru dan ada bekas darah kering disana. Grey langsung naik pitam.
"Siapa yang berani melukai isteriku hah !! mana orangnya ?!" Grey berkata dengan lantang sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Salah satu petugas polisi mendekati Grey untuk tenang dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sambil menunjuk ke arah keempat berandalan yang kini tengah diinterogasi rekannya.
Grey langsung menepis tangan polisi tersebut dari bahunya dan melangkah lebar menuju ke empat berandalan tersebut.
Langkah Grey langsung dicegah Rio.
"Bos, jangan gegabah ini kantor polisi dan bos harus ingat bos itu siapa ? kalo sembarangan memukul orang bisa kena perkara. Lagian para berandalan itu sudah bonyok dihajar habis habisan sama Lila." tunjuk Rio ke wajah para berandalan yang tampak mengernyit menahan sakit setelah dihajar oleh Lila tadi.
Grey tampak heran, lalu menoleh lagi ke belakang ke arah isterinya. Grey heran bagaimana mungkin sosok isterinya yang mungil dan imut bisa mengalahkan keempat berandalan itu dengan telak. Grey lalu menatap ke empat berandalan itu, yang tampak bonyok dan kesakitan.
"Saya mau mereka dihukum seberat beratnya." ucap Grey kepada petugas polisi yang tengah menginterogasi keempat berandalan tersebut. Lalu melangkah balik ke tempat isterinya duduk bersama Ratna yang tengah menunggu proses hukum yang berlaku.
"Maafkan aku Lil, gara gara aku kamu jadi kayak gini." kata Ratna tampak khawatir sambil membelai pipi Lila.
"Aku harus melakukannya apalagi itu kamu, sahabatku tersayang yang sedang berada dalam bahaya. Aku nggak mungkin tinggal diam Rat, lagian ini hanya Luka kecil." jawab Lila santai.
Grey mendengar percakapan mereka tapi diam saja tidak menanggapinya. Lalu dia duduk di samping Lila merangkul bahu Lila.
"Jangan diulangi lagi, aku nggak suka." kata Grey singkat tanpa menoleh ke arah Lila.
Lila dan Ratna hanya diam membisu tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat wajah Grey masih tampak menahan geram dan amarah. Ratna merasa bersyukur memilikki sahabat seperti Lila, dan sangat bersyukur Lila tadi lewat dan menolongnya. Kalau tidak pasti hal yang sangat mengerikan akan menimpa dirinya. Tangan Ratna bergetar, Lila melirik tangan Ratna yang bergetar lalu menaruh tangannya diatas tangan Ratna, menggenggam tangan Ratna untuk menenangkannya.
Grey melirik Lila, dan merasa semakin menyayangi Lila yang baik hati dan pemberani. Grey mempererat pelukannya.
Dalam perjalanan menuju ke kantor polisi tadi Grey menelepon pengacaranya Begitu pengacaranya datang, Grey berbicara sebentar dengan pengacaranya menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan menegaskan kepada pengacaranya untuk menuntut para berandalan itu dengan sanksi hukum yang seberat beratnya karena sudah berani melukai isterinya.
Setelah sang pengacara paham, Grey, Rio, Lila , dan Ratna pergi meninggalkan kantor polisi.
Ratna diantarkan pulang, sesampainya di rumah Ratna. Lila turun sebentar mengantarkan Ratna dan menjelaskan kejadian yang tadi mereka alami kepada orangtuanya Ratna.
Mama dan papanya mengucapkan banyak terima kasih kepada Lila. Lila pun tersenyum mengatakan kalo Ratna adalah sahabatnya wajar kalo Lila menolong Ratna. Begitu selesai menjelaskan semuanya Lila pun buruan pamit karena hari sudah mulai larut.
Lila masuk ke dalam mobil kembali sambil melambaikan tangan ke arah Ratna dan mamanya Ratna.
"Lila kamu hebat ya " kata Rio sambil melakukan mobil kembali ke rumah Grey.
"Biasa aja kok kak, nggak ada yang hebat." sahut Lila pelan melirik suaminya tercinta terlihat diam dan masih tampak kesal.
Grey lalu menelepon mang Udin untuk mengambil motor Lila yang mereka tinggalkan di kantor polisi.
Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏
Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.
Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗