Lila And Grey

Lila And Grey
Adelia belum menyerah.



Saat Grey mendongak dia langsung tersenyum senang penuh cinta, melihat isterinya sudah ada di depannya yang juga tengah tersenyum sangat manis penuh cinta.


"Kamu lapar nggak? mau keluar sekarang untuk makan siang ? atau mau aku makan ?" ucap Grey sembari menyeringai penuh arti.


ceklek


Pintu kantor tiba tiba terbuka dan nongol lah Rio.


"Hai, selamat siang pengantin baru." Sapa Rio tampak kerepotan membawa satu box pizza ukuran jumbo.


Grey dan Lila langsung berdiri mengekor Rio untuk duduk di sofa. Lila duduk di samping Grey yang langsung merangkul bahu isterinya dan langsung dipeluknya.


"Kangen nih sama aku ?" ujar Rio memasang senyum sumringahnya yang sangat khas.


"Cih ! mana ada kangen ." sahut Grey kesal.


"Makasih ya kak, untuk semua bantuannya." kata Lila sambil tersenyum tulus menatap Rio.


"Waaahh makasih juga Lila yang manis, dah manggil aku kakak, kemarin kemarin aku tuh sedih dipanggil pak, emang aku setua itu sampai dipanggil pak hiks hiks." sahut Rio memasang wajah mewek.


" Berani elo bilang manis ke Lila lagi, habis Lo ." sahut Grey menatap Rio tajam.


"buahahaha lha kan memang manis, kalo gue nggak katakan apa adanya jadinya fitnah bos dosa tahu" sahut Rio asal


"Cih !" Grey mendengus kesal sambil meraih sepotong pizza untuk disuapkan ke Lila.


Jiwa jombloku meronta nih batin Rio melihat kemesraan Grey dan Lila.


"OOO iya bro, gimana dengan pak Hartawan ? Dia nggak membatalkan kontrak kita kan ?" tanya Grey sambil menggigit pizza bekas gigitan Lila.


"Pak Hartawan tetap menjalankan kontrak kerja sama kita, dia tidak membatalkannya. Tapi kita harus berhati-hati sama si Susan karena Susan itu orangnya dendaman dan nekat, selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya." Kata Rio sambil mangap ke arah Grey.


"Ngapain elo mangap kayak Gitu ?" Grey heran menatap sahabatnya.


"Suapin juga dong, masak Lila terus yang elo suapin" kata Rio mangap lagi.


"Aku panggilkan Melly, tunggu dulu." Grey berucap sembari berdiri yang langsung ditarik tangannya oleh Rio untuk duduk kembali.


" Nggak usah gue bisa makan sendiri." Rio pun meraih sepotong pizza dan memakannya dengan cemberut.


Lila tertawa melihat tingkah konyol mereka berdua.


tok tok tok


"Masuk" sahut Rio, karena Grey tengah sibuk menyuapi Lila.


Melly masuk, dan berdiri mematung tampak ragu untuk menyampaikan pesan dari seseorang yang baru saja menelepon.


"Ada apa Mel ? pizzanya kurang ?" tanya Rio, ya Rio tadi memberi satu box pizza juga untuk Melly sebagai ganti oleh oleh.


"Nggak pak, terima kasih pizzanya hmm anu barusan ada yang menelepon menanyakan keberadaan pak Rio." sahut Melly.


Grey menoleh ke arah Melly " siapa ? "


"Namanya Adelia pak, tadi juga meminta nomer HP nya pak Rio tetapi tidak saya kasih, terus Bu Adelia mengatakan kalau nanti akan menelepon lagi." ucap Melly lalu menganggukkan kepala "Permisi pak. " beranjak pergi tetapi dicegah Rio.


"Tunggu Mel, kalau yang namanya Adelia menelepon lagi nggak usah disambungkan ke aku, bilang saja Rio selalu sibuk dan tidak ada waktu meladeni urusan yang tidak penting." tegas Rio.


"Baik pak, permisi ." Melly menganggukkan kepala lalu menutup pintu.


Rio meletakkan pizza yang sudah separo dia makan. Lalu duduk termenung.


"Bro ? elo nggak apa apa ?" tanya Grey khawatir.


"Kemarin gue ketemu dengan Adelia, dan cewek gila itu hampir memperkosa gue secara terang terangan." Rio berucap dengan lirih.


"wah mapan dong elo." sahut Grey asal yang langsung mendapat cubitan dari Lila.


"Mantan pacarnya Rio" jawab Grey.


"Kenapa nggak elo ajak pulang kesini bro, elo kenalin sama mama papa kamu dan elo nikahi." Ucap Grey santai.


"Dia sudah menikah." sahut Rio datar.


"Hah ?! sudah menikah tapi mau memperkosa kamu ? ckckckckck masih gila juga tuh cewek." Grey berucap dengan kesal.


"Itulah Adelia kecantikan fisiknya berbanding terbalik dengan karakternya." kata Rio sedih.


"Pasti cantik banget ya mbak Adelia itu ? " tanya Lila.


"Dia model perwakilan dari Asia yang bisa menembus majalah dewasa terkenal sejagad raya, dan bisa berpose di cover depannya. kamu bayangkan sendiri Lil." sahut Rio.


"Waaahh hebat ." sambung Lila takjub.


"Masih kalah hebat sama kamu, sayang." ucap Grey sambil mencium kening Lila.


"Habiskan pizzanya, aku mau balik ke ruanganku." Rio berujar sambil berdiri dan melangkah menuju ke ruangannya.


Setelah Rio pergi, Lila menatap Grey.


"apa sayang ?" tanya Grey sambil mengecup pipi Lila, "mau aku makan disini ? aku pengen makan kamu nih."


"Sayang nanti aja di rumah aku kasih dobel ya, tapi sekarang ceritain dulu soal Adelia. " sahut Lila.


Akhirnya Grey menceritakan kisah Adelia dari awal mula pertemuan Rio dengan Adelia. Lila mendengarkan dengan penuh antusias. Merasa sedih begitu mendengar ending dari ceritanya Grey.


"Lalu, sayang hmm mantan kamu kayak apa ? kamu pasti dulunya punya banyak rahasia kan. Ayok ceritain." Pinta Lila dengan memasang wajah imutnya.


Grey mengecup bibir Lila lalu berdiri dari sofa menuju ke meja kerjanya lagi, meninggalkan Lila yang masih duduk di sofa.


"Sayang, kok malah pergi sih ." protes Lila menatap suaminya yang telah duduk di kursi kerjanya.


"Apa tanya tanya mantan, nggak ada mantan." kata Grey asal sambil menatap berkas berkasnya. Dia sengaja tidak menatap Lila, takut ketahuan Lila kalau dia sengaja menghindar untuk menceritakan soal mantannya. Yang dia sendiri pun malas untuk mengingatnya bahkan sudah mulai bisa untuk melupakannya.


Lila mengerucutkan bibirnya lalu beranjak bangun menuju ke meja kerjanya.


Tidak terasa sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Grey merapikan berkas berkasnya, menutup laptopnya. Lalu berdiri mengulurkan tangan menyambut tangan Lila. Mereka pun keluar dari ruangannya Grey dengan bergandengan tangan.


Grey berhenti di mejanya Melly sambil menoleh ke arah ruangannya Rio.


"Rio masih di dalam ?" tanya Grey.


Melly berdiri dan menjawab "masih pak."


" Hmm tolong ya kalo nanti Adelia menelepon kasih aja nomer HPku, terus tolong kamu hubungi EO suruh datang besok jam 10 di ruanganku."


"Baik pak" Melly menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah Lila, Lila pun tersenyum.


"Kalo Rio sudah tidak ada tugas buat kamu, pulanglah segera ini sudah sore." sahut Grey sambil menarik Lila beranjak pergi meninggalkan Melly.


"Baik pak" sahut Melly


" Sayang ?" ucap Lila saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Ya sayang, kenapa ?" tanya Grey lembut sambil melirik Lila.


"Kenapa meminta mbak Melly memberikan nomer HP kamu kepada mbak Adelia.?" ucap Lila bingung.


" oooo itu, iya aku pengen menemui Adelia untuk menolong Rio, nanti kamu ikut ya, kan kamu penasaran dengan yang namanya Adelia." sahut Grey.


Lila pun langsung sumringah mendengar penjelasan Grey, Grey langsung mengusap usap rambut Lila.