Lila And Grey

Lila And Grey
Pertemuan kedua



Grey melanjutkan makan malamnya. Setelah selesai dia beranjak dari kursinya dan pamit sama ibunya untuk beristirahat.


Dia melangkah naik ke lantai dua menuju ke kamarnya, membuka pintu, dan merebahkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang.


Dia merasa sangat capek, tapi kenapa jadi kepikiran sama Lila ya, padahal dia sama sekali bukan cewek ideal buat Grey.


Greyson adalah seorang pengusaha muda yang terkenal di kota J, dia memiliki beberapa kafe yang bukan hanya ada di kota J, tapi juga ada di London yang merupakan kota kelahiran papanya.


Ya..... Papa yang meninggalkan dia dan Ibunya sejak Greyson masih berumur 10 tahun usia yang cukup ngerti sakitnya kehilangan Papa yang meninggalkannya.


Dia merasa sebagai anak yang dibuang karena, papanya memilih tinggal bersama istri sahnya daripada bersama Ibunya yang hanya sebagai istri kedua, yang hanya dianggap sebagai pemanis bagi papanya, selama papanya disini mengembangkan bisnisnya.


Papanya Grey membagi dua sama adilnya harta kekayaan yang dia milikki, untuk grey dan untuk anak sahnya yang ada di London sana, yang grey sendiri pun belum pernah bertemu dan tidak akan pernah sudi bertemu.


Satu kafe warisan papanya yang ada di London tidak pernah sekalipun Grey menengoknya, dia hanya menerima laporan keuntungan yang masuk ke pundi pundi kekayaannya.


Dia memang tidak mau ke London karena, dia tidak mau bertemu dengan Papanya lagi selamanya. Grey pun tertidur pulas dan keesokan paginya terbangun karena pintu kamarnya diketuk sama ibu nya.


"Grey, bangun nak, Ibu mau minta tolong nih " kata Ibu dari luar kamarnya.


Grey melangkah membuka pintu kamarnya "ada apa Bu ? " kata grey sembari mengusap kasar wajahnya karena, sumpah ini masih jam 5 pagi, dan dia masih sangat mengantuk.


"Maaf nak, ini buku Lila jatuh di kamar Ibu kemarin dan sepertinya buku penting nih ada tanda kalau ini buku pinjaman dari perpustakaan, hmm ada nama universitasnya disitu, cuma kita nggak tahu jadwal kuliahnya Lila, dan kita nggak tahu kost nya Lila " sahut Ibunya grey dengan raut muka khawatir kalo Lila mencari bukunya dan menjadi masalah bagi Lila kalo sampai bukunya nggak dikembalikan.


"Ok Bu, nanti Grey coba cari info soal Lila dan coba nanti Grey ke universitas yg tertera di buku ini pas isitrahat makan siang kalo nggak ketemu sama Lila nanti Grey Cari info dimana Lila kost" jawab grey mengambil buku dari tangan Ibu nya dan menepuk bahu Ibunya supaya tidak khawatir lagi.


"Makasih ya nak" sambil berjinjit mencium kening anaknya " ya sudah kamu cepetan mandi itu mbok Iyem sudah masak nasi goreng kesukaan kamu." Ibunya tersenyum dan menutup pintu kamar Grey lagi.


Grey menatap buku yang kini ada di tangannya lalu dia masukkan ke tas kerjanya, dia ambil handuk, dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai bersiap siap dan memakai dasinya dia menenteng tas kerjanya dan turun ke bawah.


Setelah selesai sarapan dia mencium punggung tangan Ibunya dan dibalas ciuman di rambutnya Grey. Grey melajukan mobil Pajero hitamnya ke arah kantornya. Dia biasa didampingi asistennya si Rio tapi kini Rio masih di London mengurus kafe yang ada di sana dan masih balik besok pagi jadi hari ini, dia bawa mobilnya sendiri.


Sesampainya di kantor dia naik memakai lift khusus untuk CEO, Grey baru merilis bisnis property dia membangun kantor barunya ini dua tahun yang lalu tapi sudah berkembang dengan pesat karena kepiawaiannya berbisnis menurun dari bakat Papanya.


Grey menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya sampai tidak terasa sudah siang, pintu kantornya diketuk "masuk" jawab Grey.


Sekretarisnya Grey masuk mengingatkan Grey waktunya makan siang "Bapak, maaf mau dipesankan makanan apa mau makan di luar ?" tanya Melly sekretarisnya.


"Aku makan di luar aja Mel sekalian ada urusan mencari kucing liar " sahut Grey sambil merapikan berkas berkas dan mengambil kunci mobil plus bukunya Lila.


" Emangnya bapak mau pelihara kucing liar, itu berbahaya lho pak mengandung banyak virus, lagian kalo mau pelihara kucing nggak beli aja di pet shop pak ?" Melly mengikuti langkah bos nya yang sudah beranjak keluar dan menutup pintu ruangan bosnya.


Grey hanya menoleh sebentar menatap Melly tanpa ekspresi lalu melangkah pergi meninggalkan melly yang masih bengong.


Kampus XXX bener ini kampusnya dan Grey pun masuk ke area kampus setelah melewati pos satpam dan menuju area parkir mobil. Grey turun dari mobil celingukkan, dia baca lagi bukunya Lila,


judul buku itu


*C**ara Menjadi sekretaris Yang Benar*


Hmm Grey memicingkan mata dan mengerutkan alisnya, apa Lila jurusan sekretaris ya, eh busyet salah ambil jurusan tuh anak bagaimana bisa cewek tomboy tak beraturan itu ambil jurusan sekretaris gumam Grey. Dia lalu melangkahkan kaki ke arah kantor registrasi mahasiswa dia bertanya apa ada mahasiswi bernama Lila dan bapak yang bertugas bertanya balik "jurusan apa dan angkatan berapa pak ?"


Grey menjawab kesal "angkatan 45 pak"


"Eh busyet tua amat pak, sudah masuk musium tuh angkatan segitu" sahut bapaknya asal yang membuat Grey tambah kesal "lha lagian mana saya tahu pak, saya juga baru kenal kemarin, ya udah kalo gedung sekretaris arahnya mana ?"


Bapak itu akhirnya menjelaskan sambil melangkah keluar dari gedung registrasi yang sebelumnya arahan si bapak membuat Grey mulai menampakkan wajah garangnya karena si bapak cuma bilang keluar kanan kiri kanan kiri kanan kiri lah kalo ini karyawan gue udah gue tendang pantatnya gumam Grey.


""Sudah paham pak ?" tanya si bapak registrasi, Grey menatap kesal tanpa menjawab lalu meninggalkan si bapak yang ngedumel "wooo cakep-cakep nggak punya sopan santun huh"


Akhirnya Grey menemukan gedung sekretaris. Dia melangkah masuk ke ruangan dosen, langkah Grey diikuti berpuluh-puluh pasang mata, para calon sekretaris langsung berbisik bisik andai besok setelah lulus punya bos setampan itu pasti betah kerja di kantor.


Ratna menjawab asal "mau mengekor Lil"


"Mengekor apa, sejak kapan kamu punya ekor " Lila pun menatap bokongnya Ratna "nggak ada ekornya eh apaan sih maksud elo ?"


Tangan Lila langsung ditarik Ratna menuju pintu ruangan dosen, niatnya Ratna mau ngajak Lila ngintip pangerannya tadi, tapi saat sampe di depan pintu mereka langsung mengaduh.


"Aduh ! sakit nih"


Pintu langsung kebuka saat Grey melangkah keluar dan kaget saat melihat dua cewek menunduk mengelus-elus kening mereka. begitu mereka mendongakkan kepala mereka.


Grey tersenyum yang membuat Ratna berbunga-bunga karena, Ratna pikir Grey tersenyum sama dia dan senyumnya bener-bener membuat Ratna lemas secara jiwa dan raga. Eh tapi kok tangan Lila yang ditarik pergi, Lila menoleh ke arah Ratna minta pertolongan tapi Ratna malah bengong aja.


Grey menarik Lila hingga sampe ke mobilnya dia menyuruh Lila masuk ke mobil, Lila bingung dia hanya berdiri mematung di depan pintu mobilnya Grey "masuk ayok keburu siang ni !" kata Grey karena kaget suara Grey yang setengah membentak Lila pun langsung masuk ke mobilnya Grey dan Grey menutup mobilnya dengan keras yang membuat Lila semakin ciut nyalinya. ada apa ini gumam Lila.


Di dalam mobil mereka diam saja sampai mobil Grey masuk ke sebuah kafe dan Grey membuka pintu mobil setelah dia turun dan menyuruh Lila ikutan turun "ayok temani aku makan siang aku keburu lapar " langsung melengos melangkah meninggalkan Lila setelah Lila turun dari mobil.


Lila melirik tangan kanan Grey mau makan kok bawa buku waahhh bener-bener pekerja keras nih bener kata Bu Ratih kemarin gumam Lila.


Sampai di sebuah meja, mereka pun duduk. Datanglah seorang pelayan mendekati meja mereka, yang merupakan karyawannya Grey karena, kafe yang mereka singgahi saat ini memang salah satu kafe miliknya Grey dan Lila tidak tahu soal ini.


"Mau pesan apa pak Grey ?" Lila menatap pelayan tersebut kok kenal sama Grey batin Lila.


Oooo memang ya kalo orang kaya tuh makan siangnya di kafe mewah seperti ini pasti sering tuh makan siang di sini sampai mbak mbaknya hapal batin Lila.


"Kamu mau makan apa ?" tanya Grey sambil mengulurkan buku menu ke arah Lila dan Lila menatap buku menunya dan langsung spontan berkomentar "ya ampun es lemon tea aja 100 ribu per gelas hmm memangnya si lemon diambil langsung dari pohonnya ya kok bisa mahal banget ?"


Pelayan kafe senyum-senyum mendengar komentarnya Lila dan Grey menatap tajam ke arah Lila "sudah jangan banyak omong pesan aja keburu siang ni !"


"Saya ngikut aja takut nanti disalahkan kalau totalannya banyak dan bikin dompet putranya Bu Ratih kempes" Lila ngomong sambil meringis menatap Grey dan Grey langsung memesan beberapa makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Setelah pelayan kafe pergi menyiapkan pesanan mereka, Grey menggeser buku yang tadi dia bawa ke arah Lila.


"Lho ini buku yang saya cari kemarin malam hmm saya sampai dapat nilai pas pas an tadi pas quiz karena nggak bisa belajar kemarin malam" kata Lila meraih bukunya mengelus-elusnya dan memonyongkan bibirnya.


"maaf ya kemarin aku menelantarkan kamu" kata Lila sambil menatap bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas.


" Lila, aku mau ngomong sama kamu, berhenti manggil aku putranya Bu Ratih, aku punya nama, panggil nama aku"


Lila beralih menatap Grey "nah itu" jawaban Lila semakin membuat Grey bingung "nah itu apa ? " tanya Grey.


"Anda usianya berapa ?" tanya Lila yang membuat Grey balik bertanya "kamu dulu, berapa umurmu ? "


Lila mendengus kesal " saya 22 tahun "


Lalu Grey menjawab "aku berapa menurutmu ?"


Lila menjawab asal sambil sengaja dieja biar jelas "em-pat-pu-luh" lalu merenges seenaknya sambil menatap Grey.


Grey langsung menatap Lila kesal " enak aja aku masih 28 " mereka berhenti bicara saat pesanan mereka datang.


" Nah itu saya bingung mau memanggil anda apa enaknya, kalo nama aja takut kualat karena anda jauh lebih tua dari saya, kalo manggil mas kan anda bukan pacar saya, kalo bapak hmm anda bukan bos saya." Lila menjawab santai sambil menyantap makanannya tapi membuat Grey tambah kesal.


Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏


Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.


Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗