
Grey melongokkan kepalanya lagi lalu memicingkan matanya, ketika tampak olehnya sesosok cewek mungil keluar dari pondok dan langsung memasang kuda kuda hendak melawan anak buahnya Raymond yang tengah berjaga di depan pondok tersebut.
Begitu sadar yang dilihatnya itu adalah Lila, Grey langsung berlari ke arah pondok hendak menolong Lila melawan para berandalan anak buahnya Raymond.
Lila tampak senang melihat Grey suaminya tengah berlari ke arahnya. Saat anak buahnya Raymond mulai menyerang Lila, Lila dengan tangkas menghindar dan menangkis sekaligus membalasnya.
Tidak begitu lama Grey pun mendekat langsung melompat dan menendang anak buahnya Raymond yang tengah mengepung isterinya.
Kini Grey berdiri tepat di sebelahnya Lila, siap untuk memporak porandakan anak buahnya Raymond yang mengepung mereka.
"Sayang, kamu minggir gih, biar aku yang melawan mereka !" perintah Grey sambil menoleh sebentar ke arah Lila.
"Nggak mau, Lila tuh lebih jago dari kamu sayang." sahut Lila tanpa melihat Grey.
"Lila !" Grey mempertajam perintahnya.
""Apa ?" Lila kini berkacak pinggang menoleh sebentar ke arah Grey. "Lila nggak akan minggir enak aja. " Kata Lila sambil mengayunkan sebelah tangan ke arah anak buahnya Raymond "Ayok, maju kalian semua !" teriak Lila lantang.
Grey mendengus kesal yang akhirnya terpaksa merelakan isterinya bertarung karena anak buahnya Raymond sudah kembali menyerang mereka.
Sementara Rio, masih mencoba bernegosiasi dengan Raymond. Yang ternyata cukup alot juga pendiriannya dan benar benar membuat Rio hampir kehilangan kesabarannya.
"Aku akan membuat Lila melupakan Grey dan menikahiku, aku akan membuat mereka bercerai, hahahaha." ujar Raymond penuh keyakinan.
"Jangan pernah berani berpikir seperti itu, kami tidak akan tinggal diam, lebih baik kamu menyerah saja serahkan Lila sekarang juga dan kami akan melupakan semuanya." sahut Rio.
"Hahahaha kalian punya apa untuk menekanku hah ! aku tetap ingin memilikki Lila titik." kata Raymond tanpa takut.
Rio hampir saja berdiri dan ingin menghajar Raymond tapi dia tahan. Dia mengetikkan pesan text kepada si detektif untuk lapor polisi dan menyusul ke rumahnya Raymond secepatnya, Saat dilihatnya Raymond berdiri melangkah meninggalkan Rio sebentar untuk mengambilkan minuman.
Tidak begitu lama Raymond kembali duduk dan meletakkan dua botol air mineral di meja.
"Silahkan diminum untuk melegakan tenggorokanmu yang dari tadi terus berteriak teriak hahahaha." kata Raymond.
Raymond menatap tajam Rio.
"Namamu Rio kan ? gimana kalau kamu bekerja denganku, kau tinggalkan Grey. Aku akan membayarmu lebih besar, bagaimana ?" Tanya Raymond sambil tersenyum ke arah Rio.
Rio menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kesal, menatap tajam ke arah Raymond dan memilih untuk tidak menanggapi pertanyannya Raymond.
"Kamu itu bodoh hahahaha bodoh ! lebih memilih Grey yang jauh segala galanya di bawahku. Bo....doh !" kata Raymond sambil menyeringai.
HP Rio bunyi ada dua pesan text masuk, dari sang detektif isi pesannya OTW dan dari Grey tanda 👌. Rio paham maksud dari semua pesan text tersebut.
Rio mendongakkan kepalanya lagi menatap Raymond.
Saatnya bagi Rio untuk mengulur waktu, sampai polisi datang.
Raymond mengambil satu botol air mineral dari atas meja dan meminumnya. "Lebih baik kamu pulang, percuma membujuk aku untuk melepaskan Lila dan memberitahukan dimana Lila saat ini. " kata Raymond sembari meletakkan kembali botol air mineral keatas meja.
Rio membuka obrolan yang sekiranya bisa untuk mengulur waktu, dan termyata topik yang Rio katakan cukup menarik perhatian Raymond. Percakapan mereka pun berlanjut kembali. Cukuplah untuk mengulur waktu batin Rio.
Sementara di luar, Grey dan Lila sudah berhasil membuat semua anak buah Raymond jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Grey langsung menarik tangan Lila untuk kembali masuk ke dalam pondok. Menunggu pesan text dari Rio.
Begitu masuk ke dalam pondok, Grey meraih pinggang Lila dan langsung ******* bibir Lila cukup lama. Setelah Grey melepaskan ciumannya Dia memegang kedua bahu Lila.
"Kamu tidak apa apa kan sayang ? Dia tidak menyakiti kamu kan ? tanya Grey sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Lila.
"Sayang, aku nggak papa. Puji Tuhan berkat doa kamu dan doa semuanya Lila selamat." kata Lila sambil membelai pipi Grey lalu mengecup kening Grey.
Grey langsung memeluk Lila. "Kita tunggu kode dari Rio." kata Grey sambil mengelus punggung Lila.
Lila pun menganggukkan kepalanya.
Tidak begitu lama terdengar suara sirene mobil polisi.
Para polisi langsung masuk ke rumah Raymond.
Raymond langsung berdiri dan menatap Rio.
"Angkat tangan !" kata pak polisi ke arah Raymond.
Rio melangkah ke arah sang detektif. Lalu menelepon Grey, mengaktifkan speaker HPnya "Kamu dimana ?"
Grey menjawab "pondok belakang rumah, puji Tuhan, Lila aman." Sahut Grey.
Begitu pak polisi mendengar jawaban dari Grey. mereka pun langsung berlari menuju ke pondok belakang rumah Raymond. Tersisa dua orang polisi yang langsung memborgol tangan Raymond.
"Hahahaha ini belum berakhir." kata Raymond tajam ke arah Rio.