
Lila melangkah ke bed ayahnya saat mendengar ayahnya berkata lirih minta minum. Lila memberikan gelas yang sudah dikasih sedotan khusus agar ayahnya dapat lebih gampang untuk minum. Setelah puas minum ayah kembali memejamkan mata dan Lila menaruh gelasnya kembali ke meja di samping bed.
Lila merapikan selimut yang dipakai ibunya, lalu melangkah ke bednya Grey ingin merapikan selimutnya Grey juga. Pas sudah sampai di bednya Grey, Lila menatap Grey yang tidur terlentang. merapikan selimutnya dan membelai wajah Grey.
Lila beranjak mau balik ke sofa lagi tiba tiba tangannya di tarik Grey dan Lila terjatuh di atas tubuh bidang Grey yang terlentang. Grey memeluk Lila erat lalu mencium kening Lila.
"bangunlah Lil, aku mau bangun haus nih. kamu tidur gih biar aku yang menjaga ayah." sahut Grey sambil mengelus kepala Lila.
Lila bangun dan mengambilkan air mineral yang ada di dalam lemari es. kalo kamar VVIP itu enak ya, apa apa sudah disediain batin Lila. Lila melangkah ke arah Grey setelah menutup pintu kulkas dan menyodorkan air mineralnya ke arah Grey.
"tidurlah, biar aku yang jaga ayah." kata Grey.
Lila pun melangkah ke sofa merebahkan diri, Grey melangkah mengambil selimut yang tadi dia pakai dan menyelimuti Lila.
Grey lalu duduk di sofa single yang ada diantara sofa yang dipakai tidur Lila dan sofa yang dipakai tidur ibu. Grey mengirim pesan ke Rio. "Bro, di kantor ada masalah nggak ? besok kayaknya aku masih belum pulang."
Tapi belum ada balasan dari Rio. Grey melihat jam di layar HPnya, oooo pantesan dah molor dia ternyata sudah jam satu dini hari. Grey menyandarkan kepalanya di sofa. memandang ke arah ayah yang tertidur nyenyak dan lama lama Grey pun terlelap.
keesokan paginya Lila sudah bangun paling pagi untuk bersaat teduh dan berdoa lalu mandi dia sebenarnya ingin membangunkan Grey tadi untuk bersaat teduh dan berdoa bersama tapi saat memandang grey yang lelap tertidur Lila pun tidak tega untuk membangunkannya.
Bu Endang pun sudah bangun dan berdoa, saat selesai berdoa dia melihat Lila keluar dari kamar mandi. Bu Endang pun giliran masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Lila menepuk pipi Grey lembut dan berkata lirih "Kak, bangun HP kakak bunyi."
Grey pun langsung melek dan meraih HPnya
" halo bro, gimana ? lancar kan semuanya ? terus nanti ada meeting sama ibu Susan untuk membahas proyek kita apa sudah beres? " cerocos Grey tanpa jeda.
hoaaaammmm suara dari seberang sana Rio menguap panjang banget karena merasa sangat capek mengurus semuanya sendirian "iya bos, elo tenang aja kalo nanti Bu Susan kangen sama kamu dan mencari kamu kan kita bisa meeting bertiga pakai aplikasi jaman now yang lagi hits. Aku sudah siapkan semuanya bos." sahut Rio santai.
"ya udah lah pusing lama lama ngobrol sama kamu, pokoknya nanti begitu ada masalah langsung kabari. " Grey pun menutup telponnya.
Setelah Bu Endang keluar dari kamar mandi Grey pun meraih baju yang sudah disiapkan sama Lila dan masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai Grey pun mengajak Lila untuk mencari sarapan "ibu pengen apa, biar nanti Grey bawakan."
"apa aja nak." sahut Bu Endang.
Grey sama Lila pun pamit lalu keluar dari kamar ke parkiran mobil. Setelah masuk semua ke dalam mobil, Grey pun tancap gas menuju ke warung makan terdekat. setelah sampai Grey membelokkan mobilnya untuk parkir
Pecel Madiun hmm kayaknya enak nih batin Grey lalu buruan turun dari mobil dan diikuti Lila. Kik Kik Kik mengunci mobilnya lalu melangkah masuk kedalam warung sambil menggandeng tangan Lila.
Model warungnya ambil sendiri bahasa jawanya poekwe (njoepoek dewe ) waaahh aman nih dari gangguan pelayan macam jenglot kemarin batin Grey senang. Setelah mereka selesai mengambil nasi dan beberapa lauk, Grey pun memesan nasi pecel sama telor ceplok untuk dibungkus buat Bu Endang nanti.
"Kak, ehmm Lila boleh nggak ngomong ?" tanya Lila
"ya boleh lah kan memang kita punya mulut dan dikasih Tuhan suara gratis buat ngomong Lil. " sahut Grey sambil mengusap kepala Lila lembut.
" Lila tatap aku dulu" sahut Grey
Lila pun mendongakkan kepalanya menatap Grey. Grey menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan "kenapa kamu pengen kerja ? kamu tuh masih kuliah, masih setahun lagi baru kamu lulus kan ?" tanya Grey.
Lila menatap Grey dan mengangguk "kakak benar, tapi kak kalo Lila tidak bekerja Lila bayar kuliah pakai apa ? saat ini kondisi ayah dan ibu masih seperti ini" Sahut Lila dengan suara bergetar menahan tangis.
Grey meraih tangan Lila "kan ada aku Lila, aku mampu membiayai kuliah kamu sampai selesai toh kita nantinya juga menikah itung itung aku belajar menjadi suami yang baik."
Lila menggelengkan kepalanya "Tolong ijinkan Lila bekerja, Lila nggak enak menjadi beban buat kakak."
Grey mengusap wajahnya dengan kasar dan mendengus kesal karena Lila ngeyel. "habiskan dulu sarapannya kita harus segera balik kasihan ibu kelamaan nunggu. kita bahas lagi soal ini nanti." kata Grey tegas .
Sepanjang perjalanan dari warung sampai ke rumah sakit Grey hanya diam. Itu membuat Lila semakin sedih. Lila menundukkan kepalanya dan memainkan tangannya di atas pangkuannya. hufft Grey mendesah pelan dan melirik Lila sebenernya dia nggak tega melihat Lila seperti ini tapi tambah nggak tega lagi kalo harus membiarkan Lila bekerja.
Lila turun dari mobil membawa bungkusan makanan yang disodorkan Grey. "ini sarapannya ibu jangan lupa dibawa" sahut Grey.
Lila bingung saat akan menutup pintu mobil melihat Grey tidak turun dari mobilnya "kakak tidak turun?" tanya Lila.
Grey menggeleng "aku ada urusan kantor sebentar" sahut Grey tanpa menoleh ke arah Lila.
Lila pun menutup pintu mobil dan meninggalkan Grey sendirian di dalam mobil.Lila masuk kamar dan menyerahkan bungkusan makanan kepada ibunya dan menyuruh ibunya untuk sarapan dulu.
"lho nak Grey mana Lil ?" tanya Bu Endang.
"masih ada urusan kantor Bu, tadi dapat telpon dari asistennya." jawab Lila mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya saat ini sangat sedih.
saat suster masuk untuk memandikan ayah. Lila pamit sama ibunya untuk mencari Grey. Ibunya pun mengangguk.
Lila sampai di parkiran mobil dan melihat Grey masih di dalam mobil. Grey terlihat masih melakukan meeting sambil menatap laptopnya. Lila lalu memilih untuk menunggu Grey selesai sambil duduk di kursi taman.
Grey mencoba aplikasi yang dikatakan sama Rio tadi dengan laptopnya dan lewat aplikasi tersebut, Rio bisa melihat langsung wajah bosnya saat ini, Rio melihat wajah bosnya jutek, Rio pun bertanya "ada apa bos pagi pagi kok mendung wajahnya.? " goda Rio.
"Lila pengen bekerja dan aku nggak rela dia bekerja, secara dia kan belum lulus kuliah lah mau kerja apa coba ? untuk ijazah SMA bisanya cuma jadi pelayan resto,kafe atau toko. cih! nggak rela aku! " dengus Grey kesal.
"bosku yang ganteng, sahabatku yang pinter kenapa bingung sih, kamu kan punya kafe, punya perusahaan lah kenapa nggak kamu angkat Lila jadi salah satu staf kamu, aman kan." cerocos Rio.
Dan kata kata Rio barusan berhasil membuat Grey kembali tersenyum cerah secerah mentari di pagi hari ini.
Salam kenal buat semuanya, ini karya pertama saya, mohon dukungannya🙏
Mohon tinggalkan jejak like, komen dan vote di setiap episodenya.
Terima kasih banyak. God Bless You all readers😘🤗