Lila And Grey

Lila And Grey
Kamu unik dan indah di mataku



Selesai makan, Grey, Pak Edward, Rio, Melly, Pak Charlie, James, dan Amber menuju ke ruang tamu. Sedangkan Lila dan Ibu Ratih, masuk ke dalam kamarnya Grey.


James membuka percakapan "Maaf, kami gagal menangkap Joy Simpsons, Saat ini Joy Simpsons membawa Stephanie sebagai sandera."


"Tega benar ya, seorang Ibu menyandera anaknya sendiri" kata Melly.


"Kalian belum tahu siapa Stephanie sebenarnya ?" tanya James.


Grey, Rio, Pak Charlie, Melly, Pak Edward, menggelengkan kepala mereka secara serempak.


"Stephanie bukanlah anak kandung dari Joy Simpsons dan pak Edward" ucap James sambil mulai menyulut rokoknya.


"Haaahhh ?!" Grey, Pak Edward, Pak Charlie, Melly dan Rio ternganga bersamaan.


"Pantas saja, waktu pertama kali aku bertemu dengan Stephanie, saat dia memelukku, aku tidak merasakan adanya ikatan batin sama dia" Grey berkata lirih.


"Joy Simpsons merekayasa kehamilannya karena, dia tidak mau kehilangan Pak Edward, dan tidak mau kehilangan harta kekayannya keluarga Simpsons." Kata James kemudian.


"Dia tidak pantas menyandang nama keluarga Simpsons, Pa, cepat urus masalah ini, Grey tidak rela dia menyandang nama keluarga kita" kata Grey sambil menoleh ke Papanya.


"Iya Grey, kamu benar, Papa akan menceraikan Joy secepatnya" sahut Pak Edward.


"Lalu ?" tanya Rio kepada James.


"Waktu dia melahirkan tiga puluh tahun yang lalu, dia membayar seseorang untuk mencarikan dia seorang bayi, bayi yang baru lahir." Kata James.


"Keluarga Stephanie, orang tua kandungnya Stephanie tidak pernah putus harapan untuk terus mencari keberadaannya Stephanie, dan akhirnya beberapa bulan yang lalu, penyelidikan mereka, mengarah ke Stephanie." tambah James sambil menghisap dalam dalam rokoknya.


"Amber saya tugaskan untuk menyamar sebagai asisten rumah tangganya Joy selama tiga bulan. Amber saya tugaskan untuk mengambil rambutnya Stephanie dan mencari beberapa petunjuk soal penculikannya Stephanie tiga puluh tahun yang lalu." James masih terus asyik merokok.


Amber tersenyum menatap semuanya dan berkata "We need Stephanie's hair for DNA testing, and I'm also in charge of making sure the safety of Mister Edward."


"Dan dari test DNA yang keluar beberapa Minggu yang lalu ternyata benar kalau Stephanie adalah anak kandung dari keluarga


Wilson." tambah James.


"Apa Stephanie sudah tahu ?" tanya Grey.


"Kami belum sempat memberitahukan hal ini secara langsung kepada Stephanie, tapi kami yakin saat ini, Joy pasti sudah memberitahukannya sama Stephanie" jawab James.


"Saya menyampaikan semua informasi ini karena, saya ingin kalian besok pagi segera balik ke Indonesia karena, situasi di sini sudah tidak aman bagi kalian semua" tambah James.


"Lalu Stpehanie ?" tanya Pak Edward.


"Stephanie anak yang sangat baik, saya sudah terlanjur menyayangi dia seperti anak saya sendiri, selama ini Stephanie yang menjaga saya, melindungi, dan merawat saya" sambung Pak Edward dengan ekspresi sedih.


"Serahkan semuanya kepada kami, pihak yang berwajib, kalian harus segera balik ke Indonesia, saya dan beberapa anak buah saya, besok akan mengawal kalian sampai ke bandara dengan selamat, dan menugaskan Amber untuk ikut bersama kalian ke Indonesia, Amber akan melindungi kalian semua, hingga sampai di Indonesia dengan selamat" jawab James sambil kembali mengambil rokok, dan menyulutnya lagi.


"Tolong nak selamatkan Stephanie dan kembalikan Stephanie kepada orang tua kandungnya." Pinta Pak Edward.


"Baik om, saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Stephanie dan membawanya kembali berkumpul dengan keluarganya yang asli" James berkata sambil tersenyum kepada Edward.


"James benar, kita harus kembali ke Indonesia secepatnya, aku mengkhawatirkan keselamatan kita semua kalau Joy masih beredar di luar sana, aku takut kejadian tadi terulang kembali " sahut Grey.


"Baiklah, sampai di sini dulu, aku permisi" James berkata sambil bangkit berdiri dan menyalami semuanya, Amber mengikuti James.


Sepeninggalnya James, mereka akhirnya beranjak pergi untuk masuk ke dalam kamar mereka masing masing.


"Eeeiiits tunggu dulu !" suara Grey membuat mereka semua mengerem langkah mereka.


"Ada apalagi bos ?" tanya Rio heran.


"Papa aku tidur di kamar siapa ?" tanya Grey.


"Ya pastinya di kamar ibu kamu dong " Pak Edward berkata sambil tersenyum jahil, menggoda Grey.


"Hah ? bukankah kalian sudah............" tanya Grey.


"Hahahaha Papa bercanda Grey, Papa akan tidur di kamarnya Charlie." Kata Pak Edward sambil tertawa pelan melihat ekspresinya Grey.


"Iya nak, kami juga ingin bernostalgia, ada banyak hal yang ingin kami bagi saat ini" sahut Chef Charlie.


"Oke, baiklah " jawab Grey sambil tersenyum lega.


Mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mereka masing masing, untuk mandi dan beristirahat.


Ceklek


Grey nongol ke dalam kamarnya, melihat Lila sudah tertidur pulas, dan Bu Ratih rebahan di sampingnya Lila.


Bu Ratih beranjak bangun dan berkata " Grey, tolong ambilkan beberapa baju ganti untuk Papa kamu !"


"Baik Bu " Grey melangkah menuju ke lemari pakaiannya, mengambil beberapa kaos, celana boxer, celana dalam yang masih baru, baju hangat, selimut, handuk, dan perlengkapan mandi.


"Biar Grey yang membawanya ke kamarnya Papa Bu, ini berat " kata Grey saat Bu Ratih bangkit berdiri dan hendak meraih bawaannya Grey.


"Baiklah, terima kasih ya Grey " Ibu berkata sambil mengekor langkahnya Grey untuk keluar dari kamarnya Grey, Grey menuju ke kamar di mana Papanya berada saat ini, dan Bu Ratih menuju ke kamarnya untuk mandi dan beristirahat.


Grey mandi dan setelah selesai mandi, Grey langsung melompat ke atas ranjangnya dan langsung memeluk isteri tercintanya, menciumi rambutnya Lila.


Lila biasa merasakan ciumannya Grey di atas rambutnya, Lila pun pelan pelan membuka matanya, mengelus elus tangan suaminya yang kini tengah berada di atas perutnya.


"Tidurlah lagi, maaf kalau aku membangunkan kamu " kata Grey saat melihat Lila mulai membuka matanya.


Lila tersenyum lega, saat ini, dia bisa membuka matanya, dan melihat suaminya.


"Sayang, aku lega dan bersyukur sama Tuhan, bisa berada kembali di dalam pelukanmu" kata Lila sambil terus mengelus elus tangan suaminya.


Grey mengecup bibirnya Lila dengan singkat dan bekata "Aku juga tiada henti hentinya berterima kasih sama Tuhan karena, kamu dan Sweety selamat dan tidak terluka sama sekali"


"Terima kasih juga sama kamu sayangku, kamu bisa menjaga Sweety dan diri kamu dengan baik, sampai kami tiba tadi" Grey berkata sambil kembali mengecup singkat bibirnya Lila.


"Sayang, James tadi mengatakan apa ?" tanya Lila.


"Sudah, nggak usah tahu, tidurlah !" kata Grey sambil mempererat pelukannya.


Lila bangun dan duduk bersila menghadap ke Grey dan berkata " Sayang, aku pengen tahu "


"Hufft iya baiklah, sini dulu " Grey menyuruh Lila untuk tiduran di atas dada bidangnya.


Lila tersenyum sumringah dan langsung meletakkan kepalanya di atas dada bidang suami tercintanya.


Grey mengelus elus rambutnya Lila dan menciumi pucuk kepalanya Lila, lalu berkata


"Joy berhasil kabur dan membawa Stephanie sebagai sandera"


"Hah ?" Lila kaget bukan main dan secara spontan mendongakkan kepalanya untuk menatap suaminya.


Grey mengecup kening isterinya "James juga berkata, kalau Stephanie bukan anak kandungnya Papa dan Joy, Stephanie diculik sama orang suruhannya Joy, tiga puluh tahun yang lalu."


Lila kembali merebahkan kepalanya di atas dada bidang suaminya dan berkata "kasihan kak Stephanie, ya."


"James juga menyarankan kepada kita semua untuk segera kembali ke Indonesia, kalau bisa besok pagi karena, situasinya sudah tidak aman di sini" tambah Grey sambil menciumi tangannya Lila.


"Lalu bagaimana dengan kak Stephanie ?" tanya Lila dengan nada sedih.


"James sudah berjanji, kalau dia akan menyelamatkan Stephanie dengan sekuat tenaga, dan akan menyatukan Stephanie kembali dengan keluarganya yang asli" jawab Grey.


"Aahhh, syukurlah" kata Lila sambil menghembuskan napas lega.


"Sweety pengen apa saat ini, emmm, besok pagi kita sudah balik ke Indonesia, kamu sama Sweety pengen apa ?" tanya Grey.


"Tidak pengen apa apa" jawab Lila.


"Oooo iya, sebentar ya " Grey bangun dari tidurnya dan mengambil sesuatu yang dia taruh di dalam laci yang berada di samping ranjangnya.


Grey menyerahkan satu kotak dari bahan beludru ke Lila.


"Apa ini ?" tanya Lila.


"Bukalah !" kata Grey sambil tersenyum dan mengusap lembut pipi Lila dengan tangannya.


Lila membukanya dan terbelalak kaget.


Lila melihat satu set perhiasan yang indah banget. Satu set berlian tersebut berrwarna ungu, yang merupakan warna kesukaaannya.


"Kamu suka ?" tanya Grey.


"Suka sih, tapi ini untuk apa dan dalam rangka apa, aku kan belum ulang tahun ?" tanya Lila heran.


"Hahahahaha kamu itu lucu ya, memangnya kalau suami pengen kasih sesuatu sama isterinya tuh harus nunggu sampai isterinya ulang tahun dulu ?" Grey membelai lembut pipinya Lila.


"Aku pakaikan ya ?" kata Grey.


Lila menganggukkan kepalanya.


Grey langsung menggeser duduknya ke belakangnya Lila, mengambil kalungnya dan mulai memakaikannya di atas leher indahnya Lila, setelah selesai memakaikannya, Grey menciumi leher Lila dengan penuh mesra, tanpa meninggalkan jejak khasnya Grey.


Lalu Grey kembali menggeser duduknya dan kembali duduk menghadap Lila.


"Aku pakaikan juga gelang dan cincinnya ya ?" kata Grey dengan senyum tampannya.


Lila tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya.


Grey memakaikan gelang dan cincinnya, lalu mencium lama tangannya Lila sambil menatap mesra isteri cantiknya.


"Sayang, kapan kamu membelinya ?" tanya Lila.


"Kemarin, emm, sehari sebelum kita pergi jalan jalan, Rio ngomong ke aku kalau dia pengen beli perhiasan untuk melamar Melly, sekalian saja aku nitip, aku lalu browsing di internet cari model yang unik dan indah buat kamu karena, kamu itu unik dan indah di mata aku, dan setelah aku sudah temukan modelnya, aku kasihlah ke Rio, aku nitip Rio untuk membelikannya." jawab Grey.


"Terima kasih banyak ya sayang" kata Lila sambil menghambur masuk ke dalam pelukan suaminya.


Grey tersenyum bahagia dan penuh cinta, lalu pelan pelan merebahkan tubuh Lila di atas dada bidangnya kembali. Tidak lama kemudian mereka pun tertidur lelap sambil berpelukan.