Lila And Grey

Lila And Grey
Lakukan yang terbaik



Grey, Rio, dan Dave, masuk duluan menuju ke kamar 305.


Grey, Rio, dan Dave masuk ke dalam kamar 305 setelah mengetuknya dan anak buahnya Gilang mempersilakan mereka semua untuk masuk, menemui bos besar mereka, Gilang Erlangga.


Gilang duduk bersandar di kursinya sambil bersedekap dan tersenyum sinis saat Grey, Rio, dan Dave, sudah berada di hadapannya saat ini.


"Hahahaha, selamat datang semuanya, duduk karena obrolan kita akan sangat panjang kali ini!" Kata Gilang sambil mengayunkan tangannya sebagai kode supaya ketiga cowok yang sangat dia benci itu, duduk di kursi yang sudah tersedia di depannya.


Di tengah tengah mereka ada sebuah meja. Di atas meja itu, terdapat beberapa lembar surat dan tiga gelas minuman berwarna merah pekat hampir mendekati warna hitam.


Ketiga jagoan kita mengernyitkan dahi mereka secara bersamaan.


"Kau, pengacara brengsek, ambil kertasnya dan baca dengan cepat, lalu tanda tangani, setelah itu suruh Grey untuk menanda tanganinya juga!" kata Gilang dengan sorot mata kejamnya.


Dave mengambil semua berkas yang ada di meja tersebut, lalu membacanya.


"Apa apaan ini?" tanya Dave langsung protes.


"Diam, baca dan tanda tangani cepat!" kata Gilang mulai jengkel.


"Greyson Adi Wijaya Simpsons harus menghibahkan semua asetnya ke Gilang Erlangga?" Dave langsung mendongakkan wajahnya menatap Gilang dengan pandangan jijik.


"Hahahaha, sudah paham, sekarang tanda tangani semua surat itu!" kata Gilang dengan santainya.


Sepuluh menit kemudian, Chef Charlie dan pak Gatot menyusul masuk ke dalam Losmen tersebut tetapi, Chef Charlie dan pak Gatot menuju ke kantor manajemen dari hotel tersebut.


Pak Gatot langsung menemui dan berkoordinasi dengan pemilik losmen tersebut. Chef Charlie dan pak Gatot mengganti baju mereka dengan seragam karyawan Losmen tersebut.


"Aku akan serahkan semuanya tapi bebaskan dulu kedua orang tua dan ibu mertuaku" kata Grey di dalam kamar 305.


"Mereka aman di kamar sebelah, kalau kau sudah tanda tangan, aku akan ijinkan kau menemui mereka" sambil tersenyum sinis.


"Adik kamu, baik sama kamu selama ini dan inikah balasan dari kamu, Cih!" Rio mulai menggertakkan gigi dan mengepalkan tinjunya.


"Hahahaha, dia lebih menyayangi kamu daripada aku, itulah kenapa aku sangat membenci kamu, Rio Putra" kata Gilang Erlangga sambil menatap Rio dengan sorot mata penuh kebencian.


Chef Charlie dan pak Gatot menuju ke kamar 304 dengan menyamar sebagai karyawan dari losmen tersebut. Memakai seragam lengkap karyawan Losmen tersebut sambil membawa baki minuman.


Tok tok tok


Chef Charlie mengetuk pintu kamar 304. Anak buahnya Gilang Erlangga membukakan pintunya.


"Ada layanan spesial dari kami" kata Chef Charlie sambil tersenyum penuh arti menatap Edward yang nampak bingung, saat tahu kalau sahabatnya yang nongol.


Pak Gatot melihat semua anak buahnya Gilang Erlangga, ada 10 orang. Banyak juga, batinnya.


Pak Gatot langsung menyalakan televisi yang ada di kamar tersebut lalu mengeraskan volumenya.


"Heeeiii! apa yang kau lakukan?" tanya anak buahnya Gilang Erlangga yang lain lagi.


Sedangkan Chef Charlie langsung mendaratkan pukulan mautnya ke anak buahnya Gilang yang tengah menerima baki minuman yang disodorkan sama Chef Charlie.


Pak Gatot mengejar salah satu dari anak buahnya Gilang yang hendak melarikan diri. Setelah merobohkan bocah tengil, anak buahnya Gilang tersebut, pak Gatot langsung mengunci pintunya, menarik kunci kamar itu dan memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya.


Pak Gatot kembali melancarkan aksinya untuk membantu Chef Charlie merobohkan satu per satu kesepuluh anak buahnya Gilang Erlangga yang ada di dalam kamar 304.


Setelah semuanya roboh tidak sadarkan diri, pak Gatot menyuruh anak buahnya untuk naik sambil membuka kembali kunci pintu, kamar 304.


Anak buahnya pak Gatot langsung hadir di dalam kamar 304 dan memborgol semua anak buahnya Gilang Erlangga yang sudah roboh dan pingsan.


Sementara Chef Charlie membuka ikatannya Ibu Endang, Ratih, dan Edward sahabatnya.


Setelah selesai. Mereka pun langsung turun, sedangkan pak Gatot dan kelima anak buahnya masih berdiam diri di kamar tersebut. Bersiap masuk dan mendobrak kamar 305.


Chef Charlie menuntun langkah Ibu Endang, Ratih dan Edward, menuju ke mobilnya Grey.


"Lalu, di mana Grey? tanya Edward saat mereka sudah sampai di dekat mobilnya Grey.


"Menemui Gilang untuk mengalihkan perhatian Gilang, sementara kami membebaskan kalian" kata Chef Charlie sambil terengah engah.


"Semoga Grey tidak kenapa napa" sahut Ratih.


"Amin" sahut Bu Endang yang masih kaget,bingung, dan mulai khawatir.


Baru kali ini Bu Endang berhadapan secara langsung dengan seorang penjahat yang kejam seperti, Gilang Erlangga.


"Siap?" tanya pak Gatot kepada kelima anak buahnya.


"Oke, masuk dan serang!" kata pak Gatot.


"Siap!" jawab anak buahnya secara bersamaan.


Braaakk


Pintu kamar 305 langsung didobrak oleh pak Gatot.


Saved by the bell. Tepat di saat Grey akan membubuhkan tanda tangannya di atas surat tadi.


"Diam di tempat!" kata pak Gatot sambil menodongkan pistolnya ke arah Gilang Erlangga.


Dan tanpa mereka duga sama sekali, Gilang nekat melompati meja yang ada di antara dia dan Grey. Gilang hendak menusuk mati Rio Putra dengan tujuan agar Greyson Adi Wijaya Simpsons menangis merana, meratapi kematian sahabatnya itu.


Grey dengan sigap langsung mendorong Rio dan bahu kirinya Grey yang terkena tusukan pisaunya Gilang.


Gilang langsung berteriak histeris saat melihat semua tujuannya gagal. Semua impiannya hancur berantakan.


Anak buahnya pak Gatot langsung memborgol Gilang Erlangga beserta kesepuluh anak buahnya yang ada di dalam kamar 305.


Pak Gatot menyarungkan kembali pistolnya dan langsung menghampiri Grey.


Pak Gatot tidak berani mencabut pisaunya karena, takut kalau Grey akan semakin berdarah dengan sangat hebat, lalu akan kehabisan darah sebelum sampai di rumah sakit. Rio dan Dave langsung memapah tubuh Grey, menuju ke mobilnya Grey dengan secepat mungkin.


Bu Ratih, pak Edward, dan Bu Endang langsung panik saat melihat Grey dipapah oleh Rio dan Dave.


Rio dan Dave langsung menaruh Grey ke dalam mobil. Rio langsung masuk ke belakang kemudi dan langsung meluncurkan mobilnya Grey dengan kecepatan super cepat, menuju ke rumah sakit terdekat.


Pak Gatot langsung memberi perintah kepada salah satu dari anak buahnya untuk mengendarai mobil dinas kepolisian dan membunyikan sirenenya, untuk mengawal mobilnya Grey menuju ke rumah sakit, sekalian untuk mencarikan jalan tercepat menuju ke rumah sakit.


Chef Charlie, bu Endang, Bu Ratih, pak Edward, dan pak Gatot masuk ke dalam mobil dinasnya pak Gatot menyusul mereka.


Sementara itu, kesepuluh anak buahnya pak Gatot yang lainnya membawa Gilang Erlangga dan gerombolannya menuju ke kantor polisi.


Dave yang duduk di jok belakang mobilnya Grey, memeluk bahu kanannya Grey dan terus memberi semangat ke Grey.


"Pak Grey, jangan pingsan, oke!?" kata Dave.


"Uhuk uhuk, oke" Grey mulai batuk batuk dan menjawab ucapannya Dave dengan lirih.


"Semangat bro, demi Lila dan anak kamu, sebentar lagi sampai nih!" kata Rio sambil menekan gas mobilnya Grey untuk menambah kecepatan laju dari mobil tersebut.


Grey hanya tersenyum menatap Rio tapi matanya Grey, mulai meredup.


"Jangan pingsan pak Grey, jangan mati, kalau anda mati, saya akan menjadikan Lila sebagai istri kedua saya" kata Dave asal.


Rio langsung menatap Dave dengan kesal lewat Rear-Mirror Vision.


Grey langsung membelalakkan matanya kembali dan berkata "kalau aku sampai mati dan kamu menjadikan Lila sebagai istri kedua kamu maka, uhuk uhuk"


"Dave ngawur kamu dan Grey sabar jangan emosi!" teriak Rio dari balik kemudi.


"Maaf, saya hanya mencoba membuat pak Grey tetap semangat untuk hidup" kata Dave sambil nyengir.


"Uhuk uhuk, gue akan menghantui kamu seumur hidupmu, uhuk uhuk" kata Grey kesal.


"Makanya semangat pak Grey, jadi hantu itu tidak enak, kalau tidak mau Lila saya miliki, maka semangat untuk bertahan, sebentar lagi kita sampai" kata Dave mencoba memberi suntikan semangat untuk Grey.


Ciiiiiiiittttt


Rio membelokkan mobilnya Grey dengan cepat dan mengeremnya secara mendadak di depan UGD rumah sakit tersebut sehingga, menimbulkan suara ban mobil berdecit dengan sangat kencang.


Rio memanggil petugas medis yang tengah berjaga untuk segera menangani Grey.


Dua orang petugas medis langsung mendorong keluar sebuah bed biru dan langsung mengangkat tubuhnya Grey, mereka baringkan dengan sangat pelan di atas bed tersebut dan langsung membawanya masuk untuk segera ditangani.


Rio dan Dave langsung mengikuti langkah mereka.


Tidak begitu lama seorang petugas medis menghampiri Rio.


"Kita akan langsung membawa pasien ke ruang operasi, tolong tanda tangani surat persetujuannya, pak" kata perawat tersebut.


Rio langsung menanda tanganinya dan berkata "selamatkan dia!"


"Kami akan lakukan yang terbaik, pak" kata perawat tersebut sambil berlari menuju ke kamar operasi. Rio dan Dave ikut berlari mengikuti perawat tersebut.