Lila And Grey

Lila And Grey
Chef Charlie so sweet



Waktunya makan siang, pramugari menghidangkan makan siang di kursi para penumpang mereka masing masing, pramugari yang satu melirik lirik ke Grey, sedangkan yang satunya melirik lirik Rio.


Percakapan pramugari dengan pilot dan co-pilotnya sewaktu di ruang belakang pesawat tersebut :


"Gila ya penumpang kita kali ini cantik cantik, bahkan mamanya pak Grey pun cantik, anggun dan elegan" kata Deo nama dari sang pilot.


"Penumpang cowoknya juga ganteng ganteng, keren keren, gue mah pak Rio banget, aduh aduh cakepnya ruaarrr binasa, dan lesung pipitnya itu aduh aduh aku nggak ku ku" Kata Ayu nama si pramugari yang berambut cepak.


"Aku mah pak Grey, cool, kaya raya, duh duh beruntung banget ya yang jadi isterinya." kata Ria nama si pramugari yang rambutnya dicepol.


"Aku kok kebayang bayang wajahnya Bu Lila ya, eh tapi Bu Melly juga nggak kalah menarik sih, cuma Bu Melly itu cantik doang kalau Bu Lila ada manis manisnya gitu" kata Bram nama si co-pilotnya.


"Andai aku lebih tua sedikit aja dari umur aku yang sekarang, aku akan mendekati Bu Ratih, aku suka wanita seperti Bu Ratih, kalem, ramah, cantik elegan dan tampak bersahaja, emm sepertinya papanya pak Grey sudah meninggal, kayanya Bu Ratih tuh janda" kata Deo kemudian.


"Iya ya sepertinya begitu" kata Ayu.


"Hahahahaha ngenes bener ya nasib kita nih, derita para jombowan dan jomblowati ya seperti ini, ghibah nggak jelas hahahahaha" kata Ria geli.


"Ya habisnya hari ini memang rejeki mata kita, penumpang kita kali ini keren keren semuanya." kata Bram.


Percakapan mereka pun langsung terhenti saat Melly nongol dan mengatakan kalau makan siang mereka sudah selesai.


Pramugari Ayu semangat membereskan makan siangnya Rio dan Melly terlebih dahulu.


Sedangkan Ria langsung bersemangat menuju ke tempat duduknya Grey dan Lila.


Setelahnya, kedua pramugari tersebut membereskan makan siangnya Bu Ratih.


"Maaf pak Grey, ada lagi yang dibutuhkan ?" tanya Ria.


"Tidak terima kasih" jawab Grey tanpa menatap Ria, karena dia sedang sibuk menciumi tangan Lila.


Aaahhh pengen gue gigit nih piring piringnya, melihat kemesraan pak Grey dan isterinya. Batin Ria sambil mengangguk dan beranjak pergi menuju ke dapur kembali.


Pilot dan co-pilotnya kembali ke kokpit. Bram si Co-pilot nekat melirik sebentar ke arah Lila saat melewati kursinya Lila. Untung Grey tidak memperhatikannya.


Grey mencium pipi Lila lalu bangkit berdiri mengajak Rio untuk duduk di kursi lain yang kosong, ada sesuatu yang ingin Grey bahas dengan Rio.


Sedangkan Lila dan Melly langsung bangkit berdiri dari tempat duduk mereka dan menghampiri Bu Ratih.


"Bu, lanjutkan cerita Ibu dong, daripada bengong nih" kata Lila kemudian.


"Iya Bu, Melly juga pengen ikutan dengar nih boleh kan Bu ?" tanya Melly.


"Boleh, ok ibu mulai cerita ya " kata Bu Ratih sambil tersenyum.


FLASHBACK ON


Cerita tentang Charlie berlanjut, saat Charlie mengetahui Edward mencium Ratih di ruangannya Edward, Charlie pun keluar dari kafe untuk sekedar berjalan jalan, dia keluar mengendarai motor kesayangannya.


Charlie jadi ingat saat saat dia mengajari Ratih naik motor. Ratih begitu bahagia, dan sinar matanya tidak berhenti berbinar binar, saat Charlie menawarkan diri mengajari Ratih naik motor.



Ratih pun langsung bisa menguasai motor dalam sekejap, dan mereka pun langsung berjalan jalan keliling kota menikmati senja sambil naik motor, mencari jalan yang sepi, yang aman dari pengawasannya bapak polisi, karena Ratih masih belajar dan belum punya SIM.


Saat mereka berhenti sejenak di sebuah taman, Charlie sebenarnya sudah berniat untuk mencium Ratih, tapi sialnya Ratih berhasil menghindar, dan gagal lah niat Charli untuk mencium Ratih kala itu.


Sekarang Edward yang berhasil mencium cewek yang begitu dia sukai, dan Ratih sepertinya merespon ciuman tersebut. Sial sial sial ! umpat Charlie semakin kencang melajukan motornya.


Sesampainya dia di kafe, Charlie langsung menemui Edward untuk berbicara empat mata dengan Edward.


"Ratih dan kamu sudah......." Charlie tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.


"Iya, kami sepasang kekasih sekarang" jawab Edward.


"Ok, gue kalah bro, gue akui itu dan gue akan mundur, setelah menyelesaikan semua tanggung jawab gue di sini dalam satu bulan, gue akan resign dan akan pergi ke Belanda melanjutkan studi gue" kata Charlie dengan sorot mata kecewa dan sedih.


"Maaf gue nggak bisa melihat cewek yang gue suka bersama dengan cowok lain setiap harinya" jawab Charlie lirih.


"Tapi ingat, gue terus awasi elo walaupun gue di Belanda, kalau elo menyakiti Ratih, gue akan langsung bikin perhitungan sama kamu" kata Charlie tajam.


"Aku akan selalu membahagiakan Ratih, aku janji " jawab Edward.


"Bagus, aku pegang janji kamu" kata Charlie sambil menepuk pelan pundak Edward dan beranjak pergi meninggalkan Edward.


Satu bulan kemudian hari perpisahan dia dengan Ratih pun tiba, Charlie meminta ijin sama Edward untuk mengajak Ratih keluar sebentar untuk berpamitan secara pribadi dengan Ratih.


Edward pun mengijinkannya dengan syarat tidak boleh lebih dari satu jam.


Akhirnya Charlie dan Ratih tiba di sebuah taman, dan dan sambil menghela napas panjang, Charlie pun mulai membuka kata untuk mengucapkan kata perpisahan.



"Ratih, terima kasih ya selama ini sudah menjadi asisten aku yang terbaik, tidak banyak bawel, selalu nurut, malah banyak kasih masukan buat aku" kata Charlie lirih berusaha menahan kesedihannya.


"Sama sama Chef, Ratih juga berterima kasih banyak Chef sudah bersedia berbagi ilmu sama Ratih, dan maaf kalau murid Chef satu satunya ini sering bikin Chef kerepotan hahahaha" jawab Ratih.


Charlie tersenyum tipis menanggapi celotehannya Ratih dan berkata "Emm aku bawa kamu ke sini karena aku mau pamit sama kamu, aku sudah resign dari kafenya Edward mulai hari ini, dan aku besok sudah harus berangkat ke Belanda meneruskan studiku" Kata Charlie sedih.


"Hah ? kok mendadak sih Chef ?" Ratih mulai protes dan melangkah di depannya Charlie persis.


"Tidak mendadak sebenarnya, tapi maaf kalau aku baru bisa mengatakannya sama kamu sekarang" Kata Charlie sambil menatap Ratih, ini terakhir kalinya dia menatap wajah cantiknya Ratih, wajah cewek yang begitu dia sukai.


"Chef, maaf kalau Ratih tidak bisa membalas perasaannya Chef sama Ratih hiks hiks hiks" Ratih mulai menangis.


Secara refleks Charlie pun langsung memeluk Ratih "Maaf Ratih, ijinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya."


Ratih pun menganggukkan kepalanya dan semakin kencang tangisnya.


"Aku doakan kamu selalu bahagia dengan Edward, jaga cinta kalian sampai maut memisahkan kalian ya, aku tulus mendoakan kalian" kata Charlie sambil melepas pelukannya, dan menghapus air matanya Ratih dengan kedua tangannya.


Ratih hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


FLASHBACK OFF


Sejak kepergiannya ke Belanda sesuai dengan janjinya tanpa sepengetahuannya Edward dan Ratih, Charlie selalu mengawasi Edward, tapi saat mendengar kabar kalau Edward dan Ratih sudah memilikki anak, Charlie pun menghentikan pengawasannya atas Edward. Edward dan Ratih pasti akan selalu bahagia karena sudah memilikki anak sekarang. Batin Charlie saat itu.


"Aaahhh so sweet banget sih yang namanya pak Charlie itu" Melly spontan berkomentar sewaktu Bu Ratih sudah menyelesaikan ceritanya.


"Nggak cuma so sweet mbak, tapi keren dan ganteng juga " sahut Lila.


"Lho mbak Lila kok tahu kalau pak Charlie itu ganteng dan keren, perasaan tadi Melly nggak dengar lho, Bu Ratih mengucapkan kata kalau pak Charlie ganteng dan keren ?" kata Melly heran.


"Hahaha iya tahu lah orang pak Charlie tuh rumahnya di seberang rumah kita " jawab Lila santai.


"Hah ? kok bisa ? bukannya beliau tadi di Belanda, kalau menurut cerita Bu Ratih tadi sih" komentar Melly dengan nada heran dan bingung.


"Iya Mel, tiga tahun ini Chef Charlie ternyata sudah balik ke Indonesia dan ternyata selama ini Chef Charlie menjadi tetangga kita, kita tahunya ya pas Lila pengen mangga muda, di rumah Chef Charlie ada pohon mangga ya, ya dari situ ibu dan Chef Charlie bisa bertemu lagi " jawab Bu Ratih.


"Aaahhh asyiknya, keren nih Melly suka kalau ibu bisa bernostalgia lagi sama pak Charlie." Melly berkomentar dengan mata berbinar binar.


"Lila juga sama mbak, Lila merasa merinding gimana gitu saat Chef Chalie bertamu ke rumah dan mencari ibu, dan tahu nggak mbak ternyata Chef Charlie selama ini belum menikah lho, dia masih sangat mencintai Ibu, keren ya " kata Lila penuh semangat.


"Aaahhh so sweet " sahut Melly sambil tersenyum lebar menatap Bu Ratih.


"Hush kalian ini, ssstttt jangan keras keras bicaranya, nanti Grey dengar bisa berabe." kata Bu Ratih sambil tersenyum malu.


"Hihihihihi"


Melly dan Lila spontan cekikikkan berjamaah.