Lila And Grey

Lila And Grey
Pertemuan dengan Adelia



Rio Putra



Dony



Lila Putri Cantika



Ibu Ratih



Greyson Adi Wijaya



Greyson,Ibu dan Lila akhirnya sampai di rumah. Mang Udin tergopoh gopoh menyambut kedatangan bosnya. Mang udin membantu Grey menurunkan koper, dan beberapa bingkisan yang berisi oleh oleh dan belanjaan ibunya kemarin waktu jalan jalan bersama Lila.


Tanpa permisi, mang Udin pun langsung membawa koper koper ke lantai atas, menaruhnya di depan pintu kamar masing masing setelah itu mang Udin turun kembali.


Ibu turun dari mobil langsung menggandeng lengan Lila saat Lila sudah berdiri di samping ibu. Ibu langsung mengajak Lila naik menuju ke kamarnya Grey.


Grey masih sibuk membawa beberapa bingkisan ke dapur lalu meletakkan semuanya di atas meja makan. Untuk tas belanjaan yang berisi baju dan aksesoris Grey bawa naik ke lantai atas.


ceklek ibu Ratih membuka pintu kamarnya Grey dan merangkul bahu Lila, melangkah masuk.


Lila dan Ibu duduk di atas ranjang Grey. Kamar Grey bernuansa putih dan ranjangnya Grey yang paling mencolok warnanya di dalam kamar tersebut, ranjang Grey berwarna merah darah tetapi malah membuat kamar ini lebih hidup batin Lila sembari mengamati kamar Grey. Ini pertama kalinya Lila masuk ke dalam kamarnya Grey.


Tidak begitu lama Grey nongol membawa dua koper, langsung melangkah masuk, sambil menarik kedua koper yang ada di tangannya. Bu Ratih memang sengaja tidak menutup pintunya dengan maksud nantinya Grey bisa langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


"koper Ibu sudah Grey masukkan ke dalam kamar ibu barusan beserta tas belanjaan yang berisi baju dan aksesoris" ucap Grey sambil menatap kedua wanita yang sangat dia cintai.


"makasih sayangku, di dalam tas belanjaan itu ada beberapa baju yang ibu beli untuk Lila tapi dibongkar nanti aja ya, capek nih " sahut Ibu sambil tersenyum ke arah Grey.


Grey meletakkan koper koper tadi di sebelah ranjangnya lalu melompat ke atas ranjang langsung memeluk kedua wanita yang sangat dia cinta itu.


Ibu berdiri, mengusap kepala Lila dan Grey dengan kedua tangannya. "Ibu, capek mau ke kamar dulu."


Setelah ibu keluar dari kamar dan menutup pintu. Grey menarik Lila hingga jatuh terjerembab diatas dada bidang Grey. "ayok kita tidur, biar nanti bisa lembur." ucap Grey langsung merem.


Lila mengusap dada Grey pelan. "Lembur ngerjain apa kak ?" tanya Lila


Grey langsung bangun otomatis Lila pun ikutan bangun dan sekarang terduduk di atas ranjang berhadapan dengan Grey.


"Kita kan udah nikah nih, kenapa nggak manggil Sayang ?" Grey menatap Lila.


"iii ii itu kan....." Lila langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Grey menarik kedua tangan Lila memegangnya dan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Lila.


"ayok bilang sa....yang." ucap Grey


"sa.....yang." sahut Lila yang langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Grey karena malu.


Grey menarik tubuh Lila untuk kembali tidur, mengecup kening Lila, memeluk Lila dengan sangat erat, meraih remote AC menghidupkannya dan langsung terlelap penuh cinta dan rasa bahagia.


Sementara pagi tadi di Kota B, pak Hartawan tampak begitu kaget, terpukul dan malu mengetahui kelakuan putri tunggalnya.


Setelah Rio menceritakan semuanya, Rio pun menunjukkan beberapa bukti yang ada, dan memperlihatkannya di hadapan pak Hartawan.


"memalukan." ucap pak Hartawan geram sembari menatap layar laptopnya Rio yang berisi rekaman putri tunggalnya, menjebak Rio tanpa rasa malu sedikitpun. Keterlaluan kamu Susan, kamu mempermalukan papa yang sangat menyayangi kamu yang selalu memanjakan kamu batin pak Hartawan sedih.


Sudah aku duga reaksinya akan seperti ini batin Rio


"Maaf pak, menurut saya, bos saya tidak memiliki kewajiban untuk menikahi putri anda, karena bos saya tidak melakukan apapun kepada putri anda, bos saya dijebak sama putri anda." sahut Rio


"Tetapi tetap saja saya merasa kalau pak Grey dan Susan harus menikah dan saya menginginkannya " Kata pak Hartawan penuh penekanan dan mengandung makna tidak bisa dibantah.


Rio tersenyum menatap pak Hartawan.


"Maaf pak, bos saya dan putri anda tidak akan pernah bisa untuk menikah."


"kenapa ? memang kelakuan putri saya sudah sangat keterlaluan tetapi itu dia lakukan karena putri saya sangat mencintai pak Grey." ucap pak Hartawan yang tetap saja berusaha membela anaknya.


"maaf pak, saya beritahukan kepada Bapak kalau bos saya sudah menikah." Sahut Rio sambil menunjukkan surat nikah Grey dan Lila yang ada di layar HPnya dengan penuh sopan ke arah pak Hartawan.


"Apa!" Pak Hartawan langsung berdiri dan menggebrak meja kafe.


"Saya pamit." pak Hartawan langsung beranjak pergi meninggalkan Rio. Rio pun langsung berdiri mengangguk ke arah pak Hartawan. Tetapi tidak dihiraukan sama pak Hartawan.


Begitu pak Hartawan sudah tidak nampak batang hidungnya, Rio menelpon Grey. Tetapi tidak aktif. Hmm kebiasaan tuh anak, pasti lupa mengisi batere HPnya, keasyikan sama istrinya tuh mentang mentang pengantin baru batin Rio.


"ya sudahlah nanti aja aku coba telpon lagi" gumam Rio.


Rio memasukan kembali laptopnya kedalam tas kerjanya, lalu menaruh tasnya di kursi yang ada di sampingnya.


Kemudian mengayunkan tangan ke salah satu pelayan resto untuk memesan makanan, dan langsung mendongakkan kepalanya begitu ada suara cewek memanggil namanya.


"Rio kan ?" kata cewek cantik, langsing, tinggi, bernampilan sangat modis dan elegan, berambut lurus, hitam, panjang sebahu.


Cewek tersebut langsung duduk di kursi di depannya Rio.


"Silahkan aja ikutan pesan, kamu mau pesan apa ?" sahut Rio masih dengan wajah kaget dan heran bagaimana cewek yang saat ini ada di hadapannya bisa berada di kota B.


"Tidak terima kasih, aku masih kenyang." jawab cewek tersebut.


Setelah pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan Rio. Rio menatap cewek tersebut tanpa ekspresi.


"apa kabar ?" tanya cewek tersebut.


Rio masih menatap cewek tersebut dan kembali teringat akan masa lalunya, ya cewek tersebut adalah mantan pacarnya, yang dulu mengkhianatinya. Adelia nama yang cantik, secantik orangnya tetapi tidak dengan karakternya batin Rio.


"Rio " Suara Adelia membuyarkan lamunan Rio.


Rio menatap Adelia datar "Ya, ada apa ?"


"Kamu apa kabar ? kok jadi canggung gitu sih sama aku ?" sahut Adelia tanpa basa basi.


Rio hanya menatap Adelia dan langsung menunduk menyantap makan siangnya yang sudah tersaji di depannya.


"Rio, kamu sudah menikah ?" tanya Adelia lagi.


Rio menarik napas lalu menghembuskannya kesal.


"Ada berapa daftar pertanyaan kamu ? kenapa juga kamu penasaran dengan kehidupanku ? kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun." sahut Rio kesal tanpa melihat ke arah Adelia, dan masih menundukkan kepala untuk menikmati makanannya.


"Rio aku merindukanmu, aku tahu selama ini kamu menetap di kota kelahiranmu di kota J. Tetapi aku tidak mempunyai nyali untuk menemuimu." Adelia mengamati Rio yang masih terus menunduk tidak menghiraukannya.


Aku memang salah, tetapi aku sudah menyadari kesalahanku dan pengen menjalin kasih kembali dengan kamu Rio. Adelia berkata di dalam hati sambil terus menatap Rio.


"Lalu sekarang, kamu sudah punya nyali menemuiku ?" Rio berkata sembari mengayunkan tangan ke pelayan resto untuk menyerahkan kartu kreditnya guna membayar semua makanan yang dia pesan.


Rio menunggu proses pembayarannya dan kini Rio menatap Adelia.