Lila And Grey

Lila And Grey
Tawaran maut dari Grace



Sudah satu Minggu berlalu dan Lila belum tersadar dari komanya. Grey hari ini terpaksa harus pergi ke kantor. Grey bangun dan menatap Lila, serasa enggak rela harus meninggalkan Lila seharian ini.


Grey membelai lembut wajah Lila "Sayang, cepatlah bangun. Aku sangat merindukanmu." Ucap Grey sambil mencium keningnya Lila sangat lama.


Grey lalu bangun untuk mandi. Selesai mandi Grey mendekati Lila lagi. Berbaring di sebelahnya Lila. Mencium pipi Lila. Mencium telapak tangan Lila berkali kali, lalu menggenggamnya erat dan didekapnya tangan itu sambil menciumi rambutnya Lila.


Grey menunggu ibunya, yang akan datang pagi ini membawa sarapan dan baju dinasnya untuk ngantor hari ini. Rio hari ini ada urusan ke kantor polisi dan ke kantor kejaksaan bersama dengan pengacaranya, untuk mengurus perkaranya Raymond.


Grey berharap, Raymond kali ini akan membusuk di penjara.


Bu Ratih dan ibunya Lila pun akhirnya datang, Grey segera berganti baju dan sarapan lalu buruan pamit untuk segera berangkat ke kantor, ada meeting hari ini.


Sesampainya di kantor, Melly langsung mengekor Grey masuk ke ruangannya Grey dan menaruh beberapa dokumen diatas meja sofa. Setelah itu Melly pun permisi untuk keluar dari ruangannya Grey.


Tidak begitu lama pintu kantornya diketuk "Masuk " jawab Grey.


Melly masuk bersama seorang cewek yang membuat Grey langsung mengernyitkan dahinya "kok bisa kamu ?" tanya Grey heran.


Melly menganggukkan kepala ke arah Grey dan melangkah keluar dari ruangannya Grey.


"Aku tidak dipersilahkan duduk nih ?" tanya Grace sambil tersenyum penuh arti.


"Ah iya maaf, silahkan duduk." sahut Grey sambil melangkah duduk di sofa single.


Greace berucap setelah dia menggeser letak duduknya agar lebih dekat dengan Grey "Grey, gimana Lila ? maaf aku belum ada waktu untuk menengoknya."


"Kata Rio akan ada meeting penting hari ini dengan PT. Dunia Global, kok bisa kamu yang nongol ?" tanya Grey heran tanpa menjawab pertanyaannya Grace.


"Iya maaf Grey, PT.Dunia Global adalah milik papaku dan beliau saat ini sangat sibuk jadi meminta tolong aku untuk mewakilinya." Jawab Grace sambil tersenyum dan menaruh tangannya diatas tangan Grey.


Grey menatap tangan Grace lalu menarik tangannya dan bersedekap "Ehem, baiklah mari kita mulai aja meetingnya."


Grace tersenyum puas menyadari kalau saat ini Grey mulai salah tingkah akibat ulahnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kondisinya Lila saat ini ?" Jawab Grace sambil menaruh tangannya diatas pundaknya Grey.


Grey spontan menepis tangan Grace, berdiri dan menjawab "Lila masih koma, emm silahkan kamu baca dulu berkas itu. Aku mau memeriksa ulang surat perjanjiannya." Grey melangkah ke meja kerjanya.


Grace menoleh ke Grey begitu dia sudah selesai membaca berkasnya, dilihatnya Grey tengah asyik membaca surat perjanjiannya, melihat Grey begitu serius bekerja, membuat Grace tersenyum penuh arti. Grey masih sangat tampan dan menarik dan dia masih sangat mencintainya.


Grace berdiri dan memutari meja kerjanya Grey dengan pelan lalu memutar kursinya Grey langsung duduk di pangkuannya Grey tanpa permisi dan langsung mencium bibir Grey penuh gairah.


Grey kaget dan gelagapan, Grey berusaha mendorong tubuh Grace dari pangkuannya, alih alih Grace merangkul leher Grey mempererat pelukannya dan semakin memperdalam ciumannya


Grace paham saat ini Grey pasti sangat merindukan kehangatan dari seorang wanita, sedangkan Lila masih koma. Seorang lelaki tidak akan menolak mendapatkan vitamin gratis, apalagi saat ini Grey sedang kesepian, Batin Grace.


Grey semakin berusaha melepaskan diri dari Grace saat dirasanya lidah Grace mulai memaksa masuk ke dalam mulutnya. Lidah Grace berhasil masuk dan bermain main dengan liarnya di dalam mulut Grey.


"Kau........." Grace menatap Grey dengan kesal


"Bangun dan keluarlah !" kata Grey menatap Grace dengan jijik sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.


Grace pun bangun dan hendak menghambur ke pelukannya Grey, tetapi Grey menghindar.


Grace mengumpat dalam hati.


"Jangan sok suci Grey, kamu lelaki normal kamu butuh kehangatan kan ? aku bersedia memberikannya kepadamu kapan saja " kata Grace sambil menatap Grey.


"Kamu gila ! keluar kamu sekarang !" kata Grey tajam.


"Grey, aku sangat mencintaimu dan aku sangat merindukanmu, ijinkan aku menghabiskan satu malam saja bersamamu, aku mohon Grey." Grace berucap sambil melangkah pelan mendekati Grey, tetapi Grey terus melangkah mundur menjauhi Grace.


Grace menatap Grey dan mengumpat dalam hatinya. Grey langsung berbalik badan dengan cepat dan membuka pintu ruangannya "Terima kasih Bu Grace untuk kedatangannya, silahkan anda keluar." Kata Grey tanpa melihat Grace.


Grace meraih tasnya yang ada diatas sofa dan melangkah keluar menatap Grey sekali lagi dengan penuh cinta, tetapi Grey sama sekali tidak menoleh ke arah Grace.


"Mel, untuk meeting selanjutnya tolong kamu temani aku ya. Emm tolong kamu hubungi PT.Dunia Global untuk me-reschedule meetingnya." kata Grey kepada Melly.


Melly berdiri dari kursinya, menganggukan kepalanya, dan berucap "baik pak."


"Terima kasih." ucap Grey sambil menutup kembali pintu ruangannya.


Grey kembali duduk di meja kerjanya, dia menghela napas panjang mengingat kelakuan Grace tadi, cepat cepat dia menepis apa yang baru saja dia alami barusan dari benaknya, dia kembali berkutat dengan berkas berkasnya, karena sebentar lagi akan ada meeting selanjutnya.


Beberapa meeting berjalan dengan lancar. Karena ada Melly yang menemani Grey saat meeting, maka kliennya yang kebanyakkan cewek pun menjadi sungkan untuk mencoba menggoda Grey.


"Mel, apa masih ada lagi meeting ?" tanya Grey.


"Ini tadi yang terakhir pak." jawab Melly.


"Ok, terima kasih ya Mel. Kamu boleh keluar sekarang." Ucap Grey.


Melly pun menganggukkan kepala dan melangkah keluar dari ruangannya Grey.


Tidak begitu lama HPnya Grey bunyi, ternyata Rio yang meneleponnya. Rio mengabarkan kalau berkas perkaranya Raymond sudah masuk ke pengadilan. Polisi dan pengacara dari kedua belah pihak menunggu Lila segera sadar dari komanya untuk dimintai keterangan.


Grey menjawab Ok, lalu menutup sambungan teleponnya.


Grey langsung menopang dagunya dan mulai melamun, dia sangat merindukan Lila. Kangen bawelnya Lila, kangen keras kepalanya Lila, kangen senyumnya Lila, kangen masakannya Lila, dan kangen kehangatannya Lila.


Tiba tiba HPnya berbunyi lagi, dari Bu Ratih. Bu Ratih mengabarkan kalau Lila sudah sadar. Grey langsung menutup teleponnya dan berlari keluar dari ruangannya tanpa menyapa Melly.


Melly bengong menatap bosnya berlari dengan sangat kencang, tanpa menyapanya, tanpa meninggalkan pesan apapun, apa pak Grey menang undian ya kok larinya sekencang itu, batin Melly asal.