ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
98 KESEDIHAN DAN AIR MATA



Lexa menatap wajah Tiara yang kini duduk dihadapannya.


"Zio sangat senang saat mengetahui kehamilanku. Setiap hari dia memanjakanku, memberikan apapun yang aku inginkan. Dia sangat romantis, setiap hari dia pasti memelukku dengan mesra dan mengucapkan kata cinta. Dia selalu bilang, bahwa dia laki-laki yang laling beruntung karena bisa bersama dengan cinta pertamanya. Baginya, aku bukan hanya sebagai sahabat dan cinta pertamanya, tapi juga cinta sejati dan satu-satunya."


Tiara mendengar perkataan Lexa di ruang kunjung. Dia melihat Lexa yang sesekali mengelus perutnya.


"Saat aku jauh darinya, dia seperti orang yang tak bernyawa. Satu hal yang aku pelajari selama ini ... bagaimana pun dua orang yang dijauhkan, sejauh apapun jarak memisahkan, selama apa mereka terpisah, cobaan seperti apa yang mereka terima ... pada akhirnya, jodoh tetap menemukan jalannya dan tak akan pernah salah."


Lexa menatap tajam wajah Tiara.


"Aku tidak pernah melakukan apa-apa untuk mengejarnya, tidak pernah berusaha untuk mempertahankannya, tidak pernah bersikap romantis, apalagi mengucapkan kata cinta ... tapi dia tetap bertahan di sisiku, mengejarku, memberikanku seluruh cinta yang dia miliki hingga tak tersisa untuk yang lain."


Seperti ada yang mengoyak hati Tiara, meremasnya hingga dia merasakan sesak.


"Dia selalu menggunakan tipu muslihatnya untuk membuatku tetap di sisinya. Aku membiarkan dia melakukan itu, bukan karena aku mencintainya atau tidak. Aku ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Zion Melviano Willson ... hanya milik Alexa Elora William, tidak akan ada yang bisa merebutnya kecuali aku sendiri yang membuangnya."


Tiara menatap kepergian Lexa. Dia merasakan perutnya yang berkontraksi. Dia mengusap pelan perutnya, sakit itu semakin terasa. Cairan bercampur darah mulai keluar dari jalan lahirnya..


Para petugas yang melihat itu segera membawa Tiara untuk melakukan persalinan.


☆☆☆


Dokter memberikan instruksi pada Tiara. Wanita itu mengatur nafas sambil menahan rasa sakit. Dia teringat akan masa lalunya yang kelam. Tidak dapat dipungkiri kalau dia sangat khawatir akan masa depan anak yang akan dilahirkannya ini. Ibu yang dipenjara, sedangkan ayah yang mungkin tidak akan dikenalnya.


Hatinya mencelos ...


Ingin sekali dia memutar waktu. Memperbaiki masa lalu agar hidupnya jauh lebih baik. Tidak masalah kalau dia yang menanggung semua kesalahannya, tapi jangan anaknya.


Semua ini karena pria itu. Pria yang mendatanginya dan membujuknya dengan segala macam tipu muslihat, menjadikannya seperti ini. Dia menderita seorang diri, menanggung rasa malu dan gunjingan orang-orang. Sedangkan pria itu? Masih bernafas bebas di luar sana, tanpa peduli dengan keadaannya dan keadaan anak yang sedang dikandungnya.


Tiara hanyalah wanita biasa yang ingin bahagia. Saat ada seseorang yang datang kepadanya menawarkan kemewahan dan masa depan yang indah, tentu saja dia tidak akan menolaknya. Gadis yatim piatu yang tidak memiliki sanak saudara satupun sejak kepergian kakeknya.


Dia ingin Zion memandangnya sebagai seorang wanita, bukan hanya sebagai seorang sahabat dari gadis yang dicintainya.


Hah ... lagi-lagi tentang Zion!


Pria yang memiliki sejuta pesona, namun sulit untuk diraih.


Kata-kata Lexa tadi menusuk tajam hatinya. Dia yang melakukan banyak cara untuk mendapatkan hati Zion namun semua sia-sia. Justru semua itu menghancurkan dirinya sendiri. Dia yang suka memberikan foto-foto Zion dengan banyak wanita pada Lexa secara diam-diam, tapi tetap tidak berhasil.


Sedangkan Lexa yang hanya melakukan hal kecil seperti memasak untuk Zion, itupun digagalkan olehnya saat masih sekolah dulu, nyatanya tetap bisa memenangkan hati Zion.


Apakah orang kaya hanya untuk orang kaya saja?


Apakah tidak ada cerita Cinderela dalam kehidupan nyata?


Apakah Tiara tidak berhak menjadi Cinderela itu?


Apakah karena Tiara miskin dan yatim piatu maka Zion sama sekali tidak memandangnya?


Zion ... adalah kasih tak sampai untuk Tiara.


Zion ... adalah cinta pertama yang harus membuatnya bersaing dengan sang sahabat yang sudah banyak menolongnya.


Zion ... adalah pria yang membuat dia rela melakukan hal-hal jahat untuk dapat memilikinya.


Andai saja Tiara bersabar dan tetap bersikap baik, tentu saja dia akan bahagia dengan seseorang yang akan dapat menerima dia apa adanya.


Tiara adalah wanita yang cantik, apalagi memiliki sahabat seperti Lexa, tentu saja Lexa tidak akan membiarkan sahabatnya jatuh pada lelaki yang salah.


Lihat saja Hannie, kini perempuan itu bahagia dengan pria yang telah menjadi suaminya dan memiliki seorang putra yang tampan dan menggemaskan, semua karena campur tangan dan dukungan Lexa.


Memang, Hannie masih lebih beruntung dari Tiara karena memiliki David yang kini juga telah sukses.


Tiara mengejan sekuat mungkin, nafasnya tersengal-sengal. Tidak ada yang mendampinginya melahirkan.


Oeekk ... ooeekk ...


Tiara memejamkan matanya sesaat setelah mendengar suara tangis anaknya. Dia bernafas lega.


"Selamat ya, bayinya sehat dan cantik."


Perempuan ...


Tiara melahirkan bayi perempuan. Rasa takut mulai menghantuinya lagi. Bagaimana nasib anaknya kelak.


Apakah akan ada pria baik-baik yang akan menerima anaknya dengan tangan terbuka saat mengetahui kalau mama kandungnya adalah seorang narapidana?


Apakah ada keluarga baik-baik yang akan menerimanya sebagai menantu?


Apakah akan ada yang mau bersahabat dengannya?


Apakah anaknya akan menerima pembullyan seperti yang pernah dia rasakan dulu?


Dulu saja, dia sering dibully karena miskin. Lalu anaknya bagaimana? Anak dari seorang narapidana yang berbuat hal mengerikan pada sahabatnya sendiri.


Tiara menangis, sakit rasanya membayangkan hal itu. Dadanya terasa sesak. Nafasnya tersengal-sengal dan mulai kejang-kejang. Dokter langsung memberikan pertolongan pada Tiara.


Detak jantung Tiara mulai melemah.


Dalam bayangannya dia melihat Lexa yang tersenyum tulus padanya.


"Tiara, ini untukmu!"


"Tiara, ayo kita jalan-jalan!"


"Kamu kan sahabatku!"


"Tiara ... "


"Tiara ... "


"Tiara ... "


Lexa sabahat terbaikku, maafkan aku yang telah menyakiti dan mengkhianatimu. Maafkan keegoisanku selama ini. Kamu satu-satunya teman yang hadir dalam masa sulitku dulu dan yang tidak memandang rendah diriku. Tanpamu aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dulu, terutama setelah kepergian kakekku.


Lexa, aku adalah orang paling bodoh di dunia ini karena telah menyia-nyiakan sahabat seperti dirimu yang tidak akan ada lagi seperti dirimu.


Lexa, kalau aku memiliki kesempatan hidup lebih lama lagi, aku ingin menebus kesalahanku dan menceritakan satu rahasia penting dalam hidupku.


Lexa, jagalah dirimu baik-baik, doaku untuk kebahagianmu. Berbahagialah selalu bersama Zion.


Lexa, ingin sekali aku memelukmu, seperti yang dulu sering kamu lakukan saat aku bersedih.


Kamu yang selalu melakukan banyak hal padaku. Lexa sahabat terbaikku, tolong jangan benci anakku. Kelak, jika kamu bertemu dengannya dan mengenali dia sebagai anakku, tolong jangan menatapnya dengan tatapan benci apalagi jijik.


Maafkan aku yang meminta hal ini padamu, walau bagaimanapun, dia tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa.


Aku berharap, dia akan memiliki sahabat seperti dirimu, dan dicintai dengan tulus seperti Zion yang selalu mencintaimu tanpa henti dan lelah.


Lexa, sekali lagi ... maafkan aku!