ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
47 SELAMAT TINGGAL INDONESIA



Sudah satu minggu Lexa di rumah sakit namun keadaannya masih sama saja. Dia masih sering bertetiak histeris terutama pada malam hari.


Saat melihat pria dia juga akan ketakutan. Mereka selalu menemani Lexa. Tidak pernah membiarkan gadis itu sendiri sedikitpun.


Hannie mengatakan pada pelayan yang ada di mansion orang tua Lexa kalau Lexa sedang menginap di rumahnya dan belajar untuk masuk ke universitas.


Orang tua Lexa masih berada di Singapura. Hannie yang seorang perempuan saja kesulitan menenangkan Lexa.


Seperti apa yang dikatakan dokter sebelumnya, Lexa mengalami trauma besar dan kalau tidak ditangani secara serius, bisa menyebabkan gangguaan jiwa bahkan bunuh diri.


Banyak psikiater dan psikolog juga sudah didatangkan atas bantuan Andre karena dia juga berasal dari keluarga terpandang di Jakarta.


Beruntunglah David memiliki sahabat-sahabat seperti Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Samuel, Malvin dan Andre.


Mereka dari keluarga yang berpengaruh jadi bisa melakukan banyak hal.


Samuel sudah menyuruh orang untuk menyelidiki Zion. Memang benar malam itu Zion pergi ke London untuk melanjutkan kuliahnya di sana.


Malvin menyuruh orang untuk mencari kelima laki-laki itu namun mereka belum menemukannya. Sepertinya seseorang memang telah mengatur sedemikian rupa agar mereka tidak dapat ditemukan.


“Aku akan membawa Hannie dan Lexa ke Jepang. Di sana aku bisa menjaga mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka terus berada jauh dari pengawasanku!”


Maka Kenzo dan Kenzi lah yang mengatur semuanya. Mereka berdua menyiapkan perjalanan dengan jet pribadi, mengatur tempat tinggal yang baru untuk David, Hannie dan Lexa.


Mereka juga mengatur agar Lexa dan Hannie bisa berkuliah di tempat yang sama dengan mereka.


Yosuke juga sudah menyiapkan segala pengobatan yang dibutuhkan oleh Lexa. Dia menghunbungi ibunya yang juga merupakan seorang psikiater senior yang terkenal.


Pendekatan yang dilakukan oleh perempuan pasti akan mudah dibandingkan laki-laki karena Lexa sudah langsung histeris bila melihat pria.


Bahkan terkadang Lexa tidak mengenali David. Hal itu semakin membuat David sedih.


Ryu sendiri segera merekrut orang-orang berpengaruh dan bisa dipercaya untuk menghacurka Zion dan RW Group.


“Dia akan sembuh. Kami semua akan membantu!” ucap Samuel.


“Benar. Kita akan membagi tugas. Aku akan menghilangkan jejak Lexa, kamu dan Hanie agar tidak ada orang yang bisa mencari tahu tentang kalian!”


“Aku akan mencari tahu tentang RW Group dan kelemahannya. Kita akan menghancurkan pria itu.”


“Kita harus segera ke Jepang agar bisa secepatnya melakukan terapi pada Lexa!”


Akhirnya malam itu juga mereka ke Jepang diam-diam.


Hannie sudah mengirim pesan kepada kedua orang tua Lexa dengan ponsel Lexa. Mengatakan kalau dia dan Hannie akan melanjutkan study ke Jepang dan agar tidak mengganggunya untuk sementara waktu karena ingin fokus belajar masuk universitas.


Setelah itu Hannie langsung mematikan ponsel Lexa.


Hannie membawa barang-barang Lexa secukupnya yang ada di kamar Lexa.


Dia melihat Leon dan Zioxa lalu langsung melemparkannya dengan asal sebagai salah satu bentuk kekesalan walaupun apa yang dilakukannya itu tidak akan berpengaruh pada kehancuran Zion dan kesembuhan Lexa.


Dia sebenarnya ingin membakar semua barang pemberian Zion untuk Lexa namun dia masih tahu diri.


Bagaimana pun itu adalah barang-barang Lexa.


Sebelum menutup pintu kamar Lexa, Hannie melihat kamar itu sekali lagi.


Kamar yang menjadi saksi kebersamaan Lexa dan Hannie.


Saat Lexa bercerita dengan ceria tentang Zion.


Saat Lexa menasihati Hannie kalau dia harus bisa membela diri saat di bully.


“Bagaimana kamu bisa menjaga orang-orang di sekitar kamu, kalau kamu tidak bisa membela dan melindungi diri kamu sendiri!” ucap Lexa saat itu yang langsung membuat Hannie sadar kalau dia harus bisa menjadi gadis yang kuat seperti Lexa.


Hannie juga ingin bisa menjaga Lexa seperti Lexa yang terus menjaganya.


Kini Lexanya disakiti.


Bukan hanya fisiknya tapi juga batinnya.


Luka batin itu sulit untuk disembuhkan.


Hannie merasa sakit hati!


Dia ingin membalas Zion dan dia berjanji akan menjadi gadis yang kuat untuk bisa menjaga Lexa.


☆☆☆


Langit malam mengiringi kepergian sekawanan orang itu ke Jepang.


Langit malam yang dipandangi dari dalam jet pribadi.


Lexa tengah tidur di kamarnya ditemani oleh Hannie. Gadis itu sudah diberi obat penenang agar terus tidur selama dalam perjalanan yang panjang ini.


Hannie memeluk Lexa.


Lagi-lagi air matanya keluar.


☆☆☆


Ya, memang benar Lexa kini telah rapuh!


☆☆☆


Ibunya Yosuke yang bernama Yosune berusaha berbicara pada Lexa namun gadis itu diam saja.


Tatapan matanya kosong dan redup.


Tidak ada lagi senyum apalagi tawa.


Tidak ada lagi Lexa yang ceria.


☆☆☆


“Hannie!” ucap Lexa pelan.


Lexa melihat sekitarnya dan dia tidak mengenali ruangan itu. Dia membuka pintu kamar.


Lexa melihat David dan para pria lalu dia kembali berteriak. Dia langsung masuk dan mengunci pintunya. Dia menuju kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut sambil meringkuk.


“Lexa!” panggil David.


“Pintunta dikunci!” ucapa David lagi.


“Cari kunci cadangan atau dobrak saja!”


“Ada apa?” tanya Hannie yang baru saja menjemur pakaian.


“Lexa mengunci pintunya!”


Suara gedoran pintu semakin membuat Lexa ketakutan dan berteriak.


“Jangan di gedor. Cari kunci cadangan!” perintah Yosuke.


Kenzi lalu mencari kunci.


“Hannie, kamu duluan tang masuk dan tenangkan Lexa!” lagi-lagi Yosuke memberi instruksi.


Hannie langsung masuk dan menghampiri Lexa.


“Lexa. Ini aku, Hannie!”


Perlahan Lexa membuka selimutnya.


“Hannie?”


Hannie merasa lega, ini pertama kalinya Lexa menyebut namanya setelah kejadian naas malam itu.


Hannie langsung memeluk Lexa dan Lexa membalas pelukan itu. David dan yang lain merasa sedikit lega karena ini sudah merupakan suatu kemajuan. Setidaknya Lexa sudah mulai mengenali Hannie setelah tiga bulan berlalu.


Semalam tiga bulan ini Lexa hanya berdiam diri. Asupan nutrisinya juga hanya melalui infus karena mereka kesulitan untuk menyuapi Lexa.


Selama ini gadis itu masih sering histeris dan bermimpi buruk. Lexa melirik ke arah David dan para pria lainnya. Wajahnya kembali ketakutan dan tubuhnya bergetar.


Hannie menyadari itu.


“Jangan takut Lexa. Itu David, kakak aku! Kamu pasti ingat dengan David, kan?”


Lexa hanya diam. Sesekali dia masih melihat mereka lalu langsung menunduk. Melihat lagi lalu menunduk lagi.


“David?”


“Iya, dia David. Dia tidak akan menyakiti kamu!”


“David!”


Sekali lagi Lexa menyebut nama itu.


David langsung menghampiri Lexa dan memeluk gadis itu.


“David!”


“Iya. Ini aku, David!”


Lexa mulai menangis tapi bukan tangisan ketakutan seperti sebelum-sebelumnya.


Lalu dia melihat Kenzo dan yang lain.


“Mereka Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Malvin, Samuel dan Andre.”


“Setiap liburan panjang, kita selalu mengunjungi David dan mereka ke Jepang,” terang Hannie.


Lexa mencuri-curi pandang pada mereka.


“Kenzo itu yang suka sama kamu, kan. Dia sudah melamar kamu, belum?”


Eh?