
“Lexa lebih menyukai David dari pada kamu, Zion!” kata Tiara di hadapan Zion.
Zion tidak peduli dengan gadis yang duduk di hadapannya itu.
“Kamu sendiri sering mendengar Lexa bercerita tentang David, kan?”
“ ... “
“Lexa sangat bangga pada David dan sering memujinya. Dia bilang David itu bukan pria manja yang mengandalkan harta orang tua seperti kamu.”
“Jangan jadi provokator. Kamu benar-benar tidak tahu malu ya. Kamu menjelek-jelekkan teman kamu sendiri yang sudah sangat baik padamu. Kamu semakin membuat aku muak.”
“Bukan begitu! Aku hanya kasihan padamu, Zion!”
“Kasihanlah pada dirimu sendiri. Pantas saja tidak ada yang mau berteman denganmu. Sifatmu seperti itu. Lexa terlalu baik untuk menjadikan kamu sahabatnya!”
Zion meninggalkan Tiara tanpa memperdulikan perasaan gadis itu yang mendengar kata-kata yang menyakitkan darinya.
Awas saja kamu, Lexa!
☆☆☆
Hari ini Zion dan kedua orang tuanya berkunjung ke kediaman keluarga Lexa.
Yang membuat Zion kesal yaitu keberadaan Tiara. Zion menatap Tiara dengan hati dongkol.
Dasar ulat bulu, nempel terus sama Lexa. Pengertian dikit, kek! Aku kan mau berduaan sama Lexa. Dikasih tahu susah banget, tidak mengerti juga.
Tidak lama kemudian Lexa meninggalkan Zion dan Tiara berdua saja.
Yah, kenapa malah Lexa yang pergi? Tidak cemburu apa dia, aku berdua saja dengan si ulat bulu? Mendingan aku pergi juga sebelum kena alergi ulat bulu!
Maka pergilah Zion meninggalkan Tiara seorang diri dan tidak mempedulikan teriakannya.
Tidak tahu malu, teriak-teriak di rumah orang. Ini kan rumah majikan kakeknya.
Zion terus menunggu Lexa tapi gadis itu tidak juga keluar kamar.
Sakit kali, ya?
Zion mengetuk-ketuk pintu kamar Lexa yang dikunci tetapi tidak ada sahutan.
“Le ... Lele, Xa, Xaxa, Lexa!” Zion memanggil-manggil Lexa.
“My Honey, My Beb, My Darling, My Sweety ... !”
Tetap tidak ada sahutan.
“Tidur ya? Jangan kebo gitu dong, Xa! Buruan bangun woyyyyy!”
Zion menggedor-gedor pintu kamar Lexa.
“Pingsan atau minum obat tidur, dia?” gumam Zion pelan.
Hingga satu jam berlalu.
“Calon istri, aku pulang ya!” teriak Zion tanpa mempedulikan kalau orang tuanya dan orang tua Lexa juga para asisten rumah tangga mendengarnya.
Tiara yang mendengar itu merasa kesal. Tidak lama kemudian dia juga pulang.
☆☆☆
Zion termenung di kamarnya sambil memandangi foto Lexa. Akhir-akhir ini dia merasa Lexa semakin jauh darinya. Entah apa penyebabnya.
Tidak lama kemudian ada panggilan telepon dari Lexa dan dia tersenyum.
“David baik sekali padaku. Dia selalu menjaga aku dan tidak pernah membuat aku bersedih apalagi menangis!”
“Baikan mana, David atau Zion?”
“Tentu saja David!”
“David juga sangat tampan!”
Zion langsung mematikan telepon itu dengan hati dongkol.
Apa-apaan itu? David, David! Seberapa hebat sih si David itu? Lagi pula aku juga tidak pernah membuat kamu menangis, Xa!
Zion mengingat-ngingat apa pernah dirinya membuat Lexa menangis atau memperlakukanya dengan tidak baik.
Jawabannya tidak!
Zion akan melakukan atau memberikan apapun kepada Lexa sebelum gadis itu yang memintanya.
Dia selalu rajin belajar agar gadis itu bangga padanya. Dia juga terjun ke peruasahaan demi gadis itu. Agar dia layak untuk Lexa. Hanya untuk Lexa!
Sementara itu Tiara tersenyum sambil melihat ponsel Lexa yang telah diputus oleh Zion.
Hahaha ... ini menyenangkan sekali!
Tiara melihat Leon dan Zioxa yang ada di tempat tidur Lexa.
Lexa kembali menceritakan tentang David kepada Tiara.
Aku jadi penasaran dengan David. Apa dia benar-benar tampan dan baik? Apa seperti Zion?
Zion, Tiara juga David, Hannie tidak pernah melihat foto masing-masing karena Lexa tidak pernah menunjukkan atau memasang foto-foto di kamarnya.
Tidak seperti Zion yang meletakkan banyak foto Lexa di dompet dan kamarnya. Di sosial media miliknya, Lexa hanya memposting foto-foto makanan dan pemandangan.
☆☆☆
Tiara menghubungi Zion dengan ponsel Lexa.
[Zion, besok kita tidak jadi bertemu di taman ya. Kita ke mall saja buat nonton dan makan. Besok aku dan Tiara akan ke rumahmu jam sembilan. Kita pergi bersama.]
Zion
[Berdua saja. Jangan ajak dia!]
Lexa
[Bertiga pasti lebih seru. Aku sudah membujuk Tiara agar mau ikut padahal besok dia ada urusan penting. Ya ya ya ?]
Zion
[Ya sudah deh!]
Tiara langsung menghapus pesan-pesan itu dari ponsel Lexa.
Pagi harinya jam delapan kurang Tiara sudah tiba di rumah Zion. Tanpa tahu malu dia langsung masuk ke kamar Zion sedangkan Zion sendiri sedang mandi.
Dia langsung mengambil ponsel Zion dan membukanya. Ponsel itu dikunci tapi dia yakin kalau passwordnya adalah tanggal lahir Lexa.
Ternyata berhasil.
Tiara langsung menyimpan ponsel Zion ke dalam tasnya lalu bergegas keluar kamar sebelum Zion selesai mandi.
Tiara mensilent ponsel Zion. Dia melihat panggilan dari Lexa tapi tidak mengangkatnya.
“Ngapain kamu di sini? Mana Lexa?”
“Lexa bilang padaku untuk ke sini duluan. Dia ada urusan sebentar dengan David dan langsung ke mall, katanya!”
Zion mendengus kesal.
“Ayo kita pergi saja sekarang!”
“Kamu pergi sendiri, aku juga pergi sendiri!”
Zion langsung naik mobilnya dan meninggalkan Tiara dengan terburu-buru sampai melupakan ponselnya. Dia tidak ingin berlama-lama dengan si ulat bulu.
Akhirnya Tiara pergi menggunakan angkutan umum dengan perasaan kesal.
“Jangan mengikuti aku, terus!”
“Kita kan sama-sama menunggu Lexa!”
“Kamu tunggulah di tempat lain! Aku alergi denganmu!”
Zion tidak pernah berhenti bersikap ketus pada Tiara.
Diam-diam Tiara membaca pesan Lexa yang dikirim ke ponsel Zion tapi tidak membalasnya. Dia selalu langsung menghapus panggilan telepon dan pesan dari Lexa.
Sudah dua jam Zion menunggu Lexa. Dia ingin menghubungi Lexa tapi tidak membawa ponsel.
“Coba pinjam ponselmu!” kata Zion pada Lexa.
“Ponselku ketinggalan di rumahmu!”
Zion sangat mengkhawatirkan Lexa. Lexa tidak pernah terlambat seperti ini.
Dia tidak kenapa-kenapa, kan?
“Bagaimana kalau kita nonton duluan?”
“Nonton saja sana sendiri.”
“Kamu tidak lapar? Ayo kita makan!”
“Berisik!”
Zion langsung meninggalkan mall itu dan pergi ke rumah Lexa. Tapi kata pelayan Lexa sudah pergi dari jam tujuh kurang. Dia lalu pergi ke rumah Aron.
Meskipun gagal nonton bersama Zion, tapi Tiara cukup puas. Setidaknya Zion dan Lexa tidak jadi bertemu. Dia hanya perlu memikirkan cara agar kedua orang itu tidak ada yang curiga dengan dirinya.
Malamnya dia ke mansion Zion dan ternyata Zion belum pulang. Dia langsung menyimpan kembali ponsel Zion di kamarnya lalu cepat-cepat pulang. Dia beralasan kepada pelayan kalau ingin mencari ponselnya yang ketinggalan.
Para pelayan yang memang sering melihat Lexa datang bersama Tiara tidak menaruh curiga sedikit pun pada Tiara.