ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
29 MASAKAN BUAT KAMU



Sudah beberapa hari ini Lexa terlihat murung.


Dia tidak bertengkar dengar Zion.


Tidak juga menghubungi David.


Benar-benar bad mood!


David menghubunginya, namun tidak diangkat.


Zion berbicara dengannya, namun tidak dihiraukan meskipun pembicaraan itu biasanya akan menyebabkan Lexa mengeluarkan kata-kata sinisnya.


Tapi disinilah dia berada. Duduk manis di hadapan Tiara.


"Aku senang kita bisa jalan bersama lagi. Dulu kita sering jalan-jalan."


Tiara mengembangkan senyumannya. Tutur katanya lembut dan wajahnya cantik.


"Hmmm ... Lexa, aku ingin menjelaskan soal hubungan aku dengan Zion."


"Sejak kapan kalian berkencan?"


"Sudah empat tahun ini. Kami tidak sengaja bertemu di London. Awalnya hubungan kami biasa-biasa saja. Dia selalu mendekati aku tapi aku hanya menganggapnya sahabat. Aku ragu akan perasaanya padaku. Ya kamu tahu sendiri kan banyak wanita yang menyukainya ... dia tampan, kaya dan dari keluarga terpandang. Sedangkan aku? Apalah aku yang hanya orang biasa. Jangan salah paham padaku Lexa!"


"Tentu saja tidak."


"Aku senang mendengarnya. Aku tidak ingin hanya gara-gara pria hubungan persahabatan kita yang sudah terjalin lama menjadi rusak. Kita masih bersahabat, kan?"


Lexa mengangguk lalu Tiara memeluknya.


"Hubungan kalian cukup lama juga ya."


"Aku sudah sering minta putus, tapi dia tidak mau dan terus memaksaku bersamanya. Bagaimana pun juga dia sudah banyak membantuku selama berada di London. Berkat dia juga aku bisa menjadi model. Saat pertama kali ditawari menjadi model, aku tidak percaya diri."


"Lalu sekarang kalian masih bersama?"


"Hmmm ... "


"Katakan saja, aku tidak akan marah!"


"I ... iya ... Maafkan aku, Lexa. Aku juga tidak ingin seperti ini. Kamu tahu sendiri kan bagaimana dia."


"Iya, aku tahu. Pemaksa!"


"Lalu apa yang dia katakan tentang aku?"


"Dia hanya bilang beri dia waktu satu tahun. Aku juga tidak mengerti apa maksudnya. Lexa, apa kamu mencintai Zion?"


"Tidak!"


"Aku akan mundur kalau kamu mencintainya. Berarti dia bukan jodohku."


Lexa hanya diam saja.


Setelah makan, mereka melanjutkan acara mereka dengan melakukan perawatan dan shopping.


☆☆☆


Banyak yang Lexa pikirkan. Dia sering termenung seorang diri. Rasanya dia semakin lelah dengan keadaan ini.


"Ayo makan, aku sudah membuatkan makanan untuk kamu!"


Lexa menatap makanan makanan itu.


PRANG!


Makanan-makanan itu berserakan di lantai.


"Lexa, apa yang kamu lakukan?" teriak Alex.


Ternyata kedua orang tua Lexa dan Zion datang ke rumah mereka.


"Kenapa kamu membuang makanan itu?" tanya Diana, bunda Lexa.


"Aku tidak suka melihat makanan yang dia buat."


"Kenapa kamu melampiaskan kekesalan kamu pada makanan-makanan itu?"


Tangan Lexa sudah gemetaran. Akhir-akhir ini emosinya memang tidak stabil. Dia akan mudah marah pada apa saja.


"Sebaiknya kalian cerai saja!" kata-kata itu akhirnya terlontar juga dari mulut mommynya Zion.


"Kalau begitu berikan surat itu padaku, besok!" tantang Lexa.


"Tidak akan!"


"Bersikaplah menjadi istri yang baik, Lexa. Kenapa kamu selalu seperti itu?" tanya Alex.


"Karena aku membencinya. Aku membenciny seumur hidupku. Aku membencinya sampai ke ubun-ubun."


Lexa berteriak dengan histeris. Wajahnya sudah pucat pasi dan mengeluarkan keringat dingin. Dia muntah seketika.


Zion langsung memapah Lexa.


"Jangan sentuh aku!"


Zion tidak mempedulikan berontakan Lexa dan tiba-tiba saja Lexa pingsan dalam pelukannya.


☆☆☆


"Sudah aku bilang, jangan membuat dia setres berlebihan. Sebenarnya apa yang kamu lakukan dan katakan padanya?" ucap dokter Adam.


Zion dan empat orang tua itu hanya diam saja. Mereka tidak menyangka Lexa akan seperti ini.


Lexa tiba-tiba tersadar dan langsung muntah-muntah lagi. Badannya terasa remuk.


"Bawa dia ke rumah sakit sekarang!" perintah dokter Adam.


"Biarkan saja aku mati! Itu kan yang kalian mau?" Lexa kembali tidak sadarkan diri.


☆☆☆


"Kalian semua keluar!" ucap Yosuke kepada semua orang yang ada di ruang rawat itu.


Yosuke, David, Hannie dan Ken sudah berada di rumah sakit tempat Lexa dirawat. David tahu dari bodyguard yang dia tugaskan untuk menjaga Lexa dari jauh.


Sebenarnya Yosuke tidak masalah jika David, Hannie dan Ken ada di kamar itu, tapi pasti Zion dan orang tua mereka juga tidak akan keluar. Bahkan Adam yang seorang dokter juga disuruh keluar.


Mau tidak mau mereka keluar, meninggalkan Lexa dan Yosuke berdua saja.


"Kamu lihat sendiri, kan? Bukannya membuat dia bahagia kamu justru membuatnya menderita dan sakit!" ucapan David memperkeruh suasana.


Belum sempat Zion membalas ucapan David, pintu sudah terbuka.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia sudah tidur!"


Yosuke melihat Zion dan keempat orang tua itu lalu menghela nafas.


"Tolong jaga emosinya agar tetap stabil. Jangan pancing amarahnya. Aku khawatir kalau dia tidak dapat mengendalikan diri, dia akan depresi berat dan bunuh diri."


Yosuke mengatakannya dengan berat dan sangat serius.


"Jangan lakukan atau mengatakan hal-hal yang dia tidak suka!" Yosuke kembali melanjutkan.


"Oya, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."


☆☆☆


Zion sedang memikirkan apakah dia harus menceraikan Lexa atau tidak.


Apa dia akan menyerah?


Apa dia harus kalah?


Kepalanya terasa sakit


Hatinya berkecamuk


Ada perasaan lelah


Ada perasaan tak rela


Disatu sisi ingin mengalah


Disisi lain ingin bertahan


Hhhaahh ... entahlah!


☆☆☆


Perempuan cantik itu masih nyaman dengan tidurnya


Dia bermimpi


Entah itu mimpi yang menyenangkan atau menyakitkan


Sesekali dia tersenyum


Sesekali dia menangis


Buah-buah segar dia petik untuk diberikan pada seseorang


Bunga-bunga dia rangkai untuk dia letakan di sudut ruangan


Tiba-tiba keadaan menjadi gelap


Dia berteriak memanggil nama seseorang, berharap orang itu akan datang.


Dalam kegelapan dia sendirian ...


Hanya kepasrahan yang tertinggal dalam dirinya.


Menunggu atau ditunggu?


Mencintai atau dicintai?


Menyakiti atau disakiti?


Memperjuangkan atau diperjuangkan?


Dalam keadaan terjepit, orang harus memilih menjadi korban atau menjadi tersangka.


Tidak masalah mendengar kejujuran meski itu menyakitkan


Tidak mengapa ditolak walau itu memberikan luka


Hanya saja ...


Tolong lakukanlah dengan cara yang baik!


Jangan menyakiti batinnya secara berlebihan


Sebab luka hati itu sulit untuk disembuhkan


Aku tidak mencintaimu!


Berbahagialah dengan orang lain dan aku juga akan berbahagia dengan orang lain


Bukankah itu lebih baik?


Untuk apa mempertahankan jika hanya menambah luka?


Harus memberi dan diberi kesempatan kedua untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik lagi?


Tapi luka itu belum kering


Rasa sakit itu masih ada


Ikhlaskan!


Biar waktu yang menyembuhkan


Lexa terbangun dari tidurnya. Disisinya ada Zion dan disisi lainnya ada David.


Dia melihat sekelilingnya dan berdecak kesal.


Ck, rumah sakit!


Matanya kembali melirik David dan Zion yang ikut tertidur. Dia menepuk punggung kedua pria tampan itu dan mereka terbangun.


"Aku mau spageti dan pizza!"


Sebuah kalimat pembuka yang diluar dugaan.