
"Jangan masuk!" ucap Aron pada sekretaris Lexa.
"Ada berkas yang harus saya berikan pada nona Lexa."
"Dibilang jangan masuk!"
Mereka berdua ngotot-ngototan di depan pintu ruangan Lexa.
Ceklek ... pintu sedikit terbuka, sekretaris Lexa menyembulkan sedikit kepalanya ke dalam, lalu dia menutup kembali pintu dengan wajah yang merona.
"Kenapa?" tanya Aron. Dia ingin melihat apa yang wanita itu lihat.
"Jangan masuk!"
"Tapi aku penasaran," kali ini Aron yang ngotot.
"Dibilangin jangan masuk."
"Ada apa sih?" tanya David. Mereka (David cs, Hannie dan Kartika) datang ke kantor Lexa untuk membicarakan masalah kerja sama yang sempat tertunda karena kecelakaan Lexa.
"Ayo masuk."
"Jangan!"
Ceklek ... pintu terbuka sedikit dan mereka mendengar percakapan yang merangsang otak untuk berpikir ... hmmm ... itulah.
"Awww ... Beb, pelan-pelan dong."
"Isshh ... sakit tau, Yang!"
"Jangan disitu Xa."
"Pindah posisi dong, Yang"
"Beb, merah banget ini leher aku."
"Kok licin banget sih,Yang?"
"Awww ... "
"Aaahhhh ... "
"AH KAMU MAH BAWEL ... DIAM NAPA! KAMU KIRA AKU ENGGAK CAPEK APA BEGINI TERUS?"
"Iya maaf Yang, lanjutin lagi ya, nanggung banget nih."
"Tapi jangan berisik!"
"Iya, iya."
"Pokoknya nanti malam gantian loh," ucap Lexa.
"Kamu juga mau?"
"Iya lah."
"Ya sudah sekarang saja."
"Enggak ah, nanti keganggu, jadi enggak puas. Davdav dan yang lain kan mau datang."
"Masih lama kok, Yang."
"Hmmm nanti malam aja deh, awas kalau kamu tidur duluan!"
"Seharusnya yang ngomong gitu aku, Beb. Kamu tadi malam tidur duluan."
"Masa, sih?"
"Masa sih, masa sih."
Zion jadi kesel sendiri mengingat tadi malam, tapi dia tidak ingin membawa perasaan kesal itu berlarut-larut. Yang penting nikmatin dulu yang sekarang, pikirnya.
"Duh, enak banget ini, Yang. Enggak nyangka kamu jago juga, ya."
Lexa mengusap punggung Zion dan m****** rambut Zion, antara kesal dan gregetan dibilang jago dengan hal itu, yang menurut Lexa entah itu pujian atau celaan.
Lima menit
Sepuluh menit
lima belas menit
Yang di dalam masih sibuk sendiri.
Sedangkan yang diluar juga masih sibuk menguping.
Entah siapa yang enggak ada akhlak, memang tidak jelas, yang menguping atau yang dikupingin!
"Itu mereka masih lama enggak sih di dalam? Aku sudah enggak tahan, nih!" ucap Kenzo dengan suara yang sangat pelan.
Mereka menatap Kenzo dengan tatapan mencela, tidak sadar diri bahwa perbuatan mereka yang menguping Lexa dan Zion juga tercela.
Mereka kembali melanjutkan menguping.
"Kamu buruan pakai baju, nanti yang lain keburu datang!" kata Lexa.
"Kamu juga rapih-rapih. Jangan lupa cuci tangan. Sofa biar aku aja yang ngelap."
Zion mengambil tisu basah dan mengelap sofa ifu.
"Yang benar ya ngelapnya, jangan sampai masih ada yang lengket."
"Tenang aja, Yang. Oya, mana penyemprot ruangan, biar enggak ada aroma-aroma aneh."
Lexa memberikan penyemprot ruangan beraroma apel.
"Ck, kok kamu belum pakai baju, sih?"
Zion menatap badannya di cermin yang banyak tanda merah.
"Lihat nih Yang, badan aku jadi merah-merah gini."
Lexa mendelik pada Zion.
"Hehehe maaf, makasih banyak ya, Yang!"
CUP
Zion mengecup kening Lexa.
BRAKKK!
Pintu terbuka dengan sangat keras. Sembilan orang pria terjatuh bertumpukan karena mereka saling mendorong saat sedang menguping.
"Aaarrgghhh ... "
Bukan Lexa yang berteriak, tapi Zion. Pria itu menutupi dada bidangnya yang belum memakai baju dan terlihat sok malu namun mengesalkan bagi yang lain. Terlihat jelas tubuh kekar itu masih berkeringat, bahkan rambutnya juga belum disisir.
"Kalian ngapain?" tanya Lexa. Wajahnya juga masih berkeringat.
"Hmmm ... "
"Enggak, kok ... "
"Hehehe ... "
"Ma ... maaf ganggu ... "
Mereka menuju sofa kulit yang masih terlihat basah.
"Kok enggak pada duduk?"
Mereka memang enggan duduk di salah satu sofa itu dan memandang si sofa yang tak bersalah dan menjadi saksi bisu dengan tatapan horor. Lexa ikut-ikutan memandang ke arah sofa yang masih terlihat sedikit basah, tapi dia masa bodo.
David dan yang lain serempak duduk di lantai.
"Zi, sofa aku udah enggak empuk kali ya? Kok mereka duduk di lantai, sih?"
"Biarin saja, Yang. Mereka memang norak, biasa ngegelar tikar ya begitu!"
Zion mendapat tatapan sinis dari David cs dan Aron, tapi sama seperti Lexa, dia masa bodo. Yang penting dia happy.
Suruh siapa kalian tidak melakukan itu di kamar!
Zion mengambil kemeja, dasi dan jasnya yang masih berserakan di lantai, yang tadi dihempaskan begitu saja oleh Zion karena terburu-buru.
"Nanti dulu Zi, jangan dipakai dulu kemejanya."
Lexa mendekati Zion dan membalik tubuh pria itu.
"Lihat deh hasil karya aku ... keren, kan!"
Mereka melihat tanda merah di tubuh Zion dengan muka merah dan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Hmmm ... itu bekas ... "
"Ini bekas kerokan, dong. Tadi Zion mendadak masuk angin, jadi aku kerokin dan mijitin dia, deh. Nanti malam jangan lupa loh kamu mijitin aku ya, pakai minyak zaitun, jangan pake minyak yang tadi aku pakai ke kamu."
"Iya Yang tenang saja, nanti malam aku yang muasin kamu."
Eeerrrgghhh ... suara angin yang keluar dari mulut Zion.
"Ahhh ... lega banget aku, anginnya sudah keluar. Kenapa enggak sekalian keluar dari bawah juga, ya?"
Sebelas orang yang tadi menguping memaksimalkan pendengaran dan penglihatan mereka, oh iya, juga mereset ulang otak mereka.
"Jadi dari tadi kalian lagi kerokan?"
"Iya, pegel banget nih tangan aku ngerokin Zion. Nanti aku mau perawatan pokoknya."
"Iya ... nanti kamu, Hannie dan Kartika perawatan kok, Yang. Tenang saja, aku enggak akan biarin tangan kamu lecet-lecet dan pegal-pegal."
"Kalian kerokan?" masih tetap bertanya, rasanya sulit menerima fakta yang sebenarnya. Memang sebenarnya apa sih yang mereka harapkan?
"Astoge ... masih saja nanya. Makanya sana buruan nikah biar tahu rasanya dikerokin sama istri!" Zion benar-benar kasihan dengan para jomblo ngenes itu.
Kenzo mendekati Zion dan mereka melakukan tos yang terlihat sangat mengesalkan di mata para genk jomblo. Kali ini Kenzo juga mendapat tatapan mencela, padahal tadi dia juga ikut menguping.
"Lalay lalay lalay panggil mereka si jablay ... abang masih jomblo ... tidak pernah dibelay ... " lagu Jablay yang diplesetin oleh Zion.
"Sin***g!"
"G***!"
Lexa, Hannie dan Kartika sudah pasti hanya menertawakan mereka seperti biasanya.
Akhir-akhir ini sikap Kenzo juga menyebalkan untuk genk jomblo itu. Apa jangan-jangan Hannie hamil lagi?
Mentang-mentang sudah menikah mereka jadi sombong.
"Jadi kita meetingnya mau lesehan saja?" tanya Lexa.
Mereka serempak bangun dan duduk di sofa-sofa empuk itu. Membuat Lexa semakin keheranan dengan sikap labil mereka.
"Lain kali kalau mau kerokan jangan di sini!"
"Kapan-kapan kita kerokan di ruangan Andre saja, Beb!"
"Iya deh, sayang nanti ruangan aku jadi bau minyak. Masih kecium enggak sih bau minyaknya?" Lexa mengendus-ngendus, membuat yang lain tanpa sadar ikut mengendus.
Sekretaris Lexa menggaruk tengkuknya dan sesekali memandang Aron. Dua orang tersangka pertama itu saling melirik sambil menghela nafas. Mereka memetik hikmah dari semua ini, bahwa apa yang kamu dengar, belum tentu sesusi dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Entah siapa yang paling somplak diantara mereka semua ...