ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
35 PENGKHIANAT



Saat akan memasuki mobil, tiba-tiba saja Tiara pingsan. Wajahnya sudah pucat. Zion langsung memasukannya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Perawat langsung membawa brankar Tiara menuju UGD.


Zion duduk di bangku depan UGD. Kepalanya jadi semakin sakit. Belum masalah Lexa, masalah berita tentang dia dan Tiara. Lalu sekarang Tiara malah sakit.


Dokter keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Dia tidak apa-apa, tapi kondisinya sangat lemah karena sedang hamil enam minggu. Harus istrihat yang cukup, makan makanan yang bernutrisi dan jangan banyak pikiran. Saya permisi dulu."


DEG!


Apa lagi ini?


Zion mengacak-ngacak rambutnya. Sepertinya dia yang sekarang akan setres.


Zion langsung memasuki ruangan dan menemui Tiara.


"Kamu hamil?"


Tiara hanya diam saja tapi dia menangis.


Zion juga tidak tahu harus berkata apa.


Lexa menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangannya. Ya, dia melihat Zion dan Tiara lalu bergegas mengikuti mereka.


Lexa meninggalkan rumah sakit secepat mungkin lalu dia menelepon seseorang.


"Urus surat perceraianku sekarang juga!"


Lexa menutup telepon itu tanpa menunggu respon dari pengacaranya.


Pikirannya kalut!


Sementara itu di rumah sakit. Zion sedang mendapat telepon dari Aron. Dia meninggalkan Tiara untuk berbicara dengan Aron.


Saat akan kembali ke ruangan Tiara, dia melihat David yang sedang mengusap rambut Hannie.


"Kamu dan bunda yang sehat terus ya, De!" ucap David sambil mengelus perut Hannie.


"Ingat tuh, jangan banyak pikiran. Biar aku saja yang mengurus masalah Lexa! Kamu susah sih, dikasih tahunya!"


Hannie hanya menunduk.


"Jangan sampai kamu dan janin ini kenapa-kenapa!"


Lagi-lagi David menasehati Hannie.


Zion mencoba mencerna apa yang sedang dilihat dan didengarnya.


Dia memasuki ruangan Tiara.


"Ayo aku antar kamu pulang."


Zion berjalan bersisian dengan Tiara.


"Jangan banyak pikiran. Pikirkan saja kesehatan kamu dan kandungan kamu. Jangan hubungi aku dulu, banyak yang harus aku urus!"


Zion juga tidak menyadari kalau Hannie dan David mendengarkan pembicaraan itu.


☆☆☆


"Ayo kita berpisah!"


"Ya ampun Lexa, itu lagi, itu lagi. Bosan aku!"


"Kamu masih mau mempertahankan pernikahan ini sementara kamu sendiri menghamili perempuan lain?"


"Maksud kamu?"


"Jangan pura-pura tidak tahu! Tiara hamil anak kamu, kan?"


Apa yang Zion khawatirkan akhirnya terjadi juga.


"Dengarkan dulu penjelasan aku!"


"Apa lagi? Kita pisah saja setelah itu kamu bisa menikahi dia."


"Tidak mau!"


"Jangan egois! Jangan serakah! Tiara itu sahabat aku. Bisa-bisanya kamu seperti itu!"


"Kamu juga jangan egois! Selama ini kamu selau saja marah-marah sama aku. Menuduh aku ini itu. Sementara pria yang selalu kamu puja-puja itu mengkhianati kamu dengan sahabat kamu sendiri!"


"Maksudnya?"


"Sahabat kamu itu, Hannie. Dia dan David mengkhianati kamu! Sekarang Hannie sedang hamil anak David!"


Lexa melebarkan matanya dan menutup mulutnya. Shock dengan apa yang dia dengar.


"Jangan mengada-ngada. Itu tidak mungkin. Aku sudah lama mengenal mereka. Mereka tidak mungkin mengkhianati aku. Aku juga tahu hubungan mereka seperti apa!"


"Jangan naif kamu, Lexa. Bukan karena kamu sudah lama mengenal mereka, lantas mereka tidak akan mengkhianati kamu!"


"Sudah aku bilang itu tidak benar!"


"Kalau tidak percaya, bawa saja sahabat kamu itu ke dokter kandungan dan tanya siapa ayah dari bayi yang dikandungnya!"


Kepala Lexa sudah benar-benar pening.


Dia segera masuk ke kamarnya dan langsung meminum obatnya lima butir sekaligus.


☆☆☆


"Sebarkan berita itu dan tutup mulut mereka."


"Baiklah!"


.


.


"Hancurkan wanita itu sampai ke akar-akarnya!"


.


.


"Mereka berdua benar-benar cari mati!"


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Selidiki terus mereka berdua!"


.


.


"Jadi anak siapa itu?" tanya Lexa. Wanita yang duduk di hadapannya hanya diam saja.


"Jadi itu anaknya?"


Lagi-lagi wanita itu diam.


Diam berarti iya, kan?


"Bisa-bisanya kalian seperti itu. Kita sudah lama bersahabat!"


Karena tidak ada sepatah katapun dari wanita itu, Lexa lebih memilih pergj dari pada harus bicara dengan tembok.


Lexa kembali ke rumah dengan perasaan sangat kesal. Seharian ini dia ada di apartemennya. Kalau saja dia tidak ingat kalau obatnya tidak ada di apartemen, dia pasti tidak akan pulang ke mansion itu.


Dia ingin menyendiri!


☆☆☆


Besok adalah ulang tahun Lexa.


Lexa dan Zion tidak saling bicara, meskipun begitu Zion tetap menjalankan rencana untuk membuat pesta ulang tahun bagi Lexa.


Lexa juga tidak menanggapi panggilan masuk dari Hannie dan David.


Matanya sibuk melihat layar televisi yang sedang membicarakan perselingkuhan Zion dan Tiara.


"Tiara yang merupakan kekasih dari pengusaha muda Zion Melviano Wilson dikabarkan tengah mengandung anak dari pria tersebut ... "


Lexa menghela nafasnya.


Zion yang juga mendegar berita tersebut mengepalkan tangannya.


"Cari siapa orang yang telah menyebarkan berita itu. Hancurkan dia!"


Sore harinya, sebuah berita baru menggemparkan seluruh masyarakat yang selama ini kepo dengan berita Zion - Lexa - David yang akhir-akhir ini berubah menjadi Lexa - Zion - Tiara!


"Foto-foto juga video Tiara yang sedang bersama pria yang berbeda-beda telah tersebar di dunia maya!"


☆☆☆


Lexa menyandarkan kepalanya di lemari pakaiannya. Botol obat dalam genggamannya sudah habis.


Dia mengeluarkan air matanya dalam diam. Menahan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya.


Kedua kakinya tertekuk, tangannya terkulai lemas. Rasanya dia ingin mati saja!


☆☆☆


"Kita harus bicara pada Lexa!" ucap David.


"Besok saja, sekarang sudah malam!"


"Ya sudah, aku pulang dulu!"


David meninggalkan apartemen Hannie dan menelepon seseorang.


"Ada kabar apa?"


"Nona Lexa ada di mansion itu, Tuan!"


"Awasi terus, jangan sampai lengah. Apa pria itu juga ada di sana?"


"Benar, Tuan!"


☆☆☆


Lexa menatap dua buku dengan warna yang berbeda. Salah satu buku itu sudah lama tidak dia sentuh.


Sebentar lagi semuanya akan selesai!


Zion melihat Lexa yang terbaring lemah di atas kasurnya dari CCTV. Sebenarnya dia ingin masuk ke kamar itu, tapi dalam situasi seperti ini akan membuat Lexa semakin murka saja.


Hanya dari kamar ini saja dia bisa mengawasi Lexa.


Kalau David hanya bisa mengawasi perempuan itu dari luar saja. Maka Zion hanya bisa mengawasi dari CCTV.


Lexa mulai menuliskan sesuatu dalam salah satu buku itu. Dia terlihat sangat serius.


Entah apa yang Lexa tulis, Zion juga tidak tahu.


☆☆☆


Ada perasaan cemas dari diri David untuk Lexa. Dia berkali-kali mencoba menghubungi Lexa tapi ponsel wanita itu tidak aktif-aktif.


David mengacak-ngacak rambutnya.


[Besok Lexa ulang tahun. Kita ke mansion itu!]


David mengirim pesan itu kepada teman-temannya.


Dia mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa.


Ada apa ini? Kenapa perasaan aku tidak tenang?


Lagi-lagi, David berusaha menghubungi Lexa tetapi hasilnya masih nihil!


Semoga saja hanya perasaan aku saja!