ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
150 ALEXA ELORA WILLIAM



Apa yang mau kalian dengar dari kisahku?


Zion?


Ah, bosan aku cerita tentang pria tampan bin narsis itu, wkwkwk.


David?


Kalian juga pasti sudah tahu tentang dia.


Hidupku sangat beruntung, bukan karena aku kaya dan cantik. Tapi karena aku memiliki mereka.


Orang tua yang penyayang dan selalu perhatian meski mereka sangat sibuk. Mungkin karena sejarah masa kecil mereka yang kurang mendapat kasih sayang dari orang tua mereka, yang baru belakangan ini aku tahu.


Juga memiliki Zion yang narsisnya over dosis.


David, yang sudah dipatenkan oleh Zion menjadi saingannya. Ck, padahal menurutku mereka itu seperti kembar, bukan karena wajah mereka mirip, tapi kalau mereka berdua bersama, mereka ibarat kutub utara dan kutub selatan, saling tarik menarik ... eaaaa!


Eh, jangan bilang-bilang Zion, ya. Nanti dia kejang-kejang, hahaha.


Hannie, sahabat dan saudara perempuan yang tidak pernah kumiliki.


Juga Aron, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Malvin, Andre dan Samuel.


Mungkin kalian bertanya kenapa aku bisa dekat dengan mereka semua.


Itu karena aku yang memilih mereka.


Kenapa?


Ya, ada deh.


Yang jelas, saat aku pertama kali melihat mereka (selain Zion, ya. Karena Zion memang sudah kaya buntut aku dari dulu) ada sesuatu dari mereka yang membuat aku tertarik dan bisa merasakan sesuatu.


David, setiap kali aku memandangnya, aku seperti merasa punya ikatan dengannya.


Hannie, dia gadis pendiam dan pemalu, juga kurang percaya diri, berbeda sekali dengan David meskipun mereka berdua bersaudara. Tapi aku tahu dia orang yang baik dan tipe sahabat setia.


Aron, dia memang tidak pernah satu sekolah denganku, tapi saat aku berbicara dengannya, dia orang yang apa adanya dan tidak munafik.


Kenzo, dia orang yang ceria. Entah kenapa saat melihat dia, aku merasa dia orang yang cocok untuk Hannie. Mereka orang yang bisa saling melengkapi, dan misiku adalah menjodohkan mereka.


Kenzi, dia lebih kalem dari Kenzo tapi kalau sudah marah, jangan harap muka kamu bakalan mulus tanpa memar. Dia jagonya karate. Dia guru karateku yang paling galak.


Yosuke, psikiater yang suka oleng. Playboy tengil level akut. Tapi aku tahu dia seperti itu hanya sebagai hiburan saja untuk menghilangkan setres menghadapi para pasiennya. Termasuk aku sih, pasiennya selama bertahun-tahun.


Ryu, orang yang paling curigaan. Lebih tepatnya curiga pada lawan jenis kecuali aku dan Hannie.


Samuel, orang yang gak suka dengan hal-hal yang ribet. Misalnya ditanya mau makan apa, maka dia akan menjawab "Samain aja." Mau minum apa? Apa saja, jawabnya. Ya begitulah dia, simpel.


Andre, orang yang paling cerewet. Ada saja hal yang akan dia bahas agar suasana tidak sepi. Dia kadang membahas harga cabai yang naik, lah ... bawang merah, lah ... ini lah, itu lah ... Seperti ibu-ibu rumah tangga yang pusing dengan harga sembako yang melambung tinggi.


Malvin, dia yang paling cuek dengan sekitar dan tukang kompor. Pernah saat kami di masih di Jepang, sepasang kekasih sedang makan siang bersama dan bersikap mesra. Lalu datang wanita lain yang langsung memeluk pria itu. Ya, terjadilah pertengkaran.


"Dah, jambak saja rambutnya."


"Balas dong, jangan mau dijambak. Cakar mukanya."


"Tinggalkan saja wanita-wanita barbar seperti mereka."


"Kalian cari pria yang lebih tampan dari dia, lebih kaya juga masih ada."


Ya, itulah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut bijaknya.


Sudah bisa dipastikan juga, dia yang selalu kompor jika Zion dan David sedang bertengkar mesra.


"Jadian ... jadian ... jadian ...," ucapnya.


Oke, hanya itu saja yang aku ceritakan tentang mereka, karena aku bukan tukang gosip dan ini bukan lahan untuk menceritakan konflik dan kisah cinta mereka, meskipun aku juga menjadi bagian dari kisah itu.


Ngomong-ngomong, aku harus menceritakan tentang Tiara.


Kenapa aku mau menjadi sahabatnya?


Namun aku sadar, dia dan Hannie sangat berbeda. Jika Hannie kalem, maka Tiara agresif. Jika Hannie apa adanya, maka Tiara lebih selektif dalam segala hal.


Ya, mereka memang bertolak belakang.


Aku selalu berpikir, bahwa pada dasarnya semua orang baik. Yang membuat mereka berubah adalah keadaan dan lingkungan.


Sama seperti Tiara ... dia baik, tapi keadaan yang membuatnya seperti itu. Latar belakang keluarga dan lingkungan sosial di sekitarnya membuat dia minder dan ingin menjadi seperti teman-teman sekolahnya yang kaya.


Kadang aku berpikir, apa aku sudah menjerumuskannya dengan kebaikan hatiku?


Maafkan aku Tiara.


Tapi kembali lagi ke pemikiran masing-masing orang, kenapa Hannie tidak seperti Tiara atau Tiara tidak seperti Hannie? Padahal keadaan ekonomi mereka sama saja, yang membedakan adalah Hannie masih memiliki orang tua hingga SMP dan kakak laki-laki, sedangkan Tiara sejak SD hanya memiliki kakek hingga SMA.


Saat aku tahu Tiara mengkhianatiku, tentu saja rasanya sangat sakit. Orang yang sudah bersama aku sejak kelas satu SD dan sudah aku anggap seperti saudara sendiri teganya berbuat jahat seperti itu.


Tiara, terima kasih telah mengajarkan aku bahwa pengkhianatan itu ada, karena hidup memang seperti itu, tak selamanya mulus.


Zion ... ternyata rasanya masih ada yang kurang jika aku belum bercerita tentang dirinya.


Aku tidak pernah menyangka bahwa akhirnya aku menikah dengan dirinya.


Dia selalu berusaha menghilangksn traumaku, bahkan hingga saat ini terkadang trauma itu masih datang, dan dia akan selalu memelukku dan berkata, "Selama ada aku, tidak akan ada yang menyakiti dirimu. Aku akan menjadi tamengmu, selimutmu, atau apapun yang membuatmu terlindungi."


Ya, aku percaya jika Zion akan selalu menjagaku.


David, pria tampan lainnya yang ada di dekatku. Yang selalu menjagaku bahkan hingga mengorbankan dirinya.


Ikatan antara kami memang tidak bisa hilang begitu saja. Dia selalu menjaga aku dan Hannie sampai-sampai dia lupa untuk dekat dengan perempuan lainnya.


Jika kalian bertanya apa David selama ini mencintaiku secara diam-diam, maka silahkan kalian berspekulasi sendiri, hahaha.


Aku bersyukur dengan hubunganku dengan David tanpa konflik cinta seperti hubunganku dengan Zion. Itulah yang membuat David memiliki ruang sendiri di hatiku yang sampai sekarang aku masih mencari tahu apa itu.


Orang tuaku pun sangat menyayangi David seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan ada yang bilang saking dekatnya aku dengan David, wajah kami mirip, hahaha.


Saat aku koma dulu, aku merasa mereka selalu berada di dekatku, terutama Zion dan David. Samar-samar aku melihat wajah mereka, karena selama itu aku hanya mendengar suara mereka saja.


Saat aku membuka pintu gerbang itu, tangan mereka menarik tubuhku, membuatku berada di pintu lainnya dan suasananya lebih hangat.


Aku memegang handle pintu itu, dan mereka membiarkan aku membukanya. Seketika mataku terbuka dan aku berada di dalam ruangan yang dipenuhi banyak orang (rumah sakit).


Terima kasih, karena sudah membuatku kembali dan jodoh antara kita semua memang masih berlanjut.


Memiliki mereka dalam hidupku membuatku bahagia.


Aku memiliki sepuluh saudara dan satu suami yang selalu setia denganku.


Mereka membuatku menjadi perempuan yang cengeng.


Ya, aku sering menangis karena mereka. Saat mereka melakukan hal-hal konyol di depanku dan Hannie.


Aku bersyukur, benar-benar bersyukur memiliki mereka sampai membuatku terharu dan menangis.


Apa ada yang memiliki saudara rak sedarah seperti mereka?


Aku bangga pada mereka. Bangga akan kesetiaan dan pengorbanan yang mereka lakukan untuk selalu berada di sisiku.


Aku tidak ingin ikatan antara kami berakhir bahkan hingga anak cucu dan semua keturunan kami.


Kepada semua calon besan, siapkanlah bibit-bibit unggul agar masa depan keturunan kita semakin berkualitas.


Ingat ....


Davin, Davio, Davis, Daviv dan Davia menanti anak kalian para ayah dan daddy, hahaha.


Salam sayang, peluk dan cium dari aku untuk kalian semua ....


Love


Alexa Elora William