ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
77 KEJADIAN DALAM LIFT



Cinta butuh pengorbanan. Entah itu waktu, harta, ataupun nyawa.


Terkadang, sulit bagi kita untuk membedakan antara rasa kagum dengan cinta. Cinta dengan ambisi ataupun persahabatan dengan cinta.


Seperti yang di alami Lexa saat ini.


Dia tidak yakin dengan persaaannya dengan Zion saat ini.


Dia juga bimbang dengan perasaannya dengan David.


Ya seperti inilah kalau harus berada diantara dua pria yang tampan dan baik. Yang keduanya telah hadir dalam kehidupannya sejak dia masih kecil.


☆☆☆


Wajah dapat tersenyum, namun hati yang sedih sulit untuk ditutupi. Bunda Lexa menyadari ada tang berbeda dari putri semata wayangnya itu. Akhir-akhir ini Lexa lebih pendiam namun terlihat gelisah.


Lexa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia mengerutkan keningnya, tanda bahwa dia sedang memikirkan banyak hal. Helaan nafas lagi-lagi terdengar. Dia ingin segera sampai di rumah. Besok dia dan Zion harus pergi ke Sidney untuk masalah pekerjaan.


Sebenarnya beberapa hari ini dia menjaga jarak dari Zion juga David. Entah kenapa dia melakukannya, dia juga bingung akan sikapnya.


Ada apa dengan diriku? Kamu seperti gadis galau yang bingung menentukan pilihan. Padahal belum tentu juga mereka menyukaimu lebih dari sahabat. Ck, ada-ada saja kamu, Lexa!


Lexa terkekeh dengan pikirannya sendiri. Selama ini Zion dan David memang bersikap baik padanya, tapi belum tentu mereka menyukai dirinya lebih dari sahabat, kan?


Lexa sendiri tidak tahu, apakah dia menyukai salah satu dari pria itu melebihi sahabat.


Lexa sendiri sebenarnya ingin tahu, jika jauh dari kedua pria itu, siapakah yang akan paling dia rindukan.


Tapi sampai saat ini dia belum menemukan jawabannya.


Mungkin saja mereka berdua memang hanya sahabat bagiku, kenapa aku jadi bodoh begini?


Kali ini Lexa mengerucutkan bibirnya.


Ngomong-ngomong, si Tiara itu menghilang kemana sih?


Alex hanya mengatakan pada Lexa kalau Tiara sudah pindah sejak dia masih SMP. Mereka memang mencegah Lexa mencari tahu tentang keberadaan Tiara, karena Tiara tidak lah penting. Bagi mereka Tiara hanyalah masa lalu kelam yang harus dilupakan dan dihilangkan dari kehidupan mereka, terutama Lexa.


☆☆☆


Lexa dan Zion kini telah tiba di Sidney menggunakan pesawat komersil. Ini karena keinginan Lexa yang merasa bosan dengan jet pribadi, jadi dia ingin merasakan suasana baru. Tapi tetap saja yang mereka gunakan adalah tempat duduk VIP.


Zion tersenyum saat mengingat kalau di dalam pesawat tadi Lexa tidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu Zion. Aroma rambut Lexa yang wangi sangat disukai oleh Zion. Zion juga tidak henti-hantinya mengelus rambut Lexa yang sangat halus itu.


"Kenapa sih, senyum-senyum sendiri?" tanya Lexa pada pria tampan di sampingnya.


Bukannya menjawab, tapi senyum Zion semakin lebar.


"Lagi jatuh cinta, ya?" tanya Leza asal.


"Iya dong!"


Eh?


Tiba-tiba saja jantung Lexa berdebar kencang.


Sama siapa?


Lexa ingin bertanya, tapi takut dibilang kepo. Lexa terus memandang wajah Zion yang terlihat sangat senang.


Suasana hatinya kini menjadi buruk. Berasa seperti bunga yang layu sebelum berkembang.


Dipatahkan sebelum hatinya menjadi kokoh dengan pria mana dia akan berlabuh.


Apa seperti ini rasanya patah hati? Apa benar aku menyukai Zion? Mungkin saja aku salah. Saat bersama Zion, terkadang aku mengingat David. Saat bersama David, aku malah teringat Zion.


Tenangkan dirimu Lexa, kamu bukan gadis seperti itu, yang menyukai dua pria sekaligus. Kamu hanya sedang bingung saja.


Jangan sampai persahabatan kamu dengan Zion dan David rusak hanya karena perasaan yang tidak jelas ini.


Lexa dan Zion masuk ke dalam kamar hotel masing-masing. Zion masuk dengan perasaan riang, sedangkan Lexa masuk dengan perasaan kacau.


Seperti itulah hati, bila tidak diutarakan malah bisa menimbulkan kesalah pahaman.


☆☆☆


"Apa ada masalah?"


"Tidak ada!"


"Kenapa murung?"


"Aku galau!"


Zion terkekeh pelan.


"Kenapa?"


"Rahasia."


"Dih, main rahasia-rahasiaan."


"Aku kan tidak harus menceritakan semuanya sama kamu."


Zion menghela nafas.


Sebagai suami istri seharusnya kita saling terbuka, Lexa. Arrrggghhh ... kapan sih aku boleh bilang kalau kita sudah menikah. Padahal tadi sudah aku pancing-pancing, mengatakan kalau aku sedang jatuh cinta. Kenapa kamu tidak bertanya siapa perempuan itu? Setidaknya sebagai sahabat kamu seharusnya penasaran, syukur-syukur kalau kamu cemburu. Apa tidak ada aku di hati kamu?


Selesai makan malam mereka kembali ke kamar. Di dalam lift, Lexa sibuk dengan ponselnya, membalas pesan dari David yang mengatakan kalau dirinya sedang berada di Singapura, tidak menyadari bahwa sejak tadi Zion sudah memanggilnya berkali-kali.


"Lexaaaaa!"


Lexa menoleh dan cup ... tanpa sengaja dia mengecup bibir Zion karena posisi mereka berdiri sangatlah dekat. Lexa langsung menjauhkan dirinya dari Zion.


DEG


DEG


DEG


DEG


Itu adalah suara detak jantung keduanya.


Salting, itulah yang terjadi pada keduanya. Untung saja hanya ada mereka berdua di dalsm lift ini. Mata Lexa melirik ke arah CCTV. Dia seperti ABG yang ketakutan saat ketahuan telah berbuat mesum.


Hikz, ciuman pertamaku. Awas saja kamu Zion. Eh, tapi kan aku yang salah. Tidak, Zion juga salah, suruh siapa dia berdiri sedekat itu denganku. Arrggghhh ...


Lexa melirik Zion yang masih bersikap cool. Padahal tidak tahu saja dalam hati Zion, pria itu sedang bersenandung riang. Hatinya jingkrak-jingkrak.


Ck, sayang hanya sebentar, kenapa tidak lebih lama, Lexa! Yah, walaupun terjadi dengan tidak sengaja, tapi aku benar-benar bersyukur. Semoga ada lagi kesempatan seperti ini.


Untung saja perempuan itu adalah Lexa, gadis yang sangat dia cintai sekaligus istrinya. Kalau bukan, sudah dapat dipastikan kalau perempuan itu akan didamprat habis-habisan oleh Zion.


Zion juga melupakan satu hal, kalau dia juga tidak mungkin berdiri sedekat itu dengan seorang perempuan kalau bukan Lexa. Bahkan kalau tidak terpaksa sekali, dia tidak akan satu lift hanya berdua saja dengan seorang perempuan. Selama ini dia memang selalu menjaga jarak dengan perempuan manapun. Hanya Lexa saja yang boleh dekat-dekat dengan dia.


Benar-benar suami idaman, kalau saja Lexa menyadari semua itu. Namun entah kapan Lexa akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Jika hari itu tiba, akankah Lexa bisa menerima kenyataannya?


Antara cinta dan benci, sangatlah berbeda tipis. Semua itu pernah Lexa rasakan, dari cinta, lalu membenci, dan sekarang di saat ingatannya hilang, dia merasa.menyukai Zion, tapi bagaimana kalau ingatannya telah kembali lagi?


Apakah perasaan Lexa saat ini hanyalah perasaan sesaat saja?


.


.


.


.


.


.


Kadang aku suka bingung, pilih yang ini kasihan yang itu, pilih yang itu kasihan sama yang ini, wkwkwkkkk.


Ayooo ... mana pendukung Zion? Mana pendukung David?