ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
136 KABUT DAN PERAHU KECIL



Eheemmm ... sekali lagi aku minta maaf ya. Pliz, jangan ngambek sama aku.


.


.


.


.


.


Tahu kah kamu, bahwa aku selalu berdoa agar kita tak hanya disatukan di dunia, tapi juga di surgaNya. Hanya kamu yang aku inginkan menjadi bidadari surgaku. Aku ingin, hanya kematian yang memisahkan kita di dunia ini.


Sayangku, kekasihku, belahan jiwaku ...


Hanya kamu yang dapat membuatku memahami cinta. Jika suatu saat nanti kamu yang lebih dulu pergi, aku yakin saat itulah duniaku hancur.


Jika aku yang meninggalkanmu lebih dulu, tolong maafkan aku. Bukan maksudku meninggalkanmu.


Namun aku yakin, di waktu yang tepat, kita akan kembali bersama.


Selamanya ...


... Bahkan bila aku mati


Ku kan berdoa pada Illahi


Tuk satukan kami


Di surga ... nanti ...


Suara tepukan tangan memenuhi ruangan yang sangat besar itu.


Decak kagum, tangis haru, dan segala macam perasaan dirasakan oleh orang-orang.


Jika orang-orang bertanya bagaimana rasanya dicintai, maka jawabannya adalah seperti apa yang Lexa rasakan saat ini.


Jika ada yang bertanya bagaimana rasanya menjadi satu-satunya orang sangat berarti di hati seorang suami, maka apa yang Lexa rasakan adalah jawabannya.


Ya, semua tentang Zion dan Lexa.


Di sudut-sudut tertentu, beberapa orang pelayan tengah bersiap-siap untuk menjalankan perintah atasannya. Mereka sudah ada di posisi masing-masing untuk memberikan persembahan yang tidak akan dilupakan oleh siapapun yang menyaksikannya.


Terutama keluarga William ...


"Awaaasss!"


DOR


DOR


DOR


"LEXA!"


DOR


DOR


"Arrgghhh!"


DOR


DOR


DOR


Entah berapa banyak peluru yang sudah ditembakkan ke berbagai arah tanpa ampun dan pandang bulu.


Orang-orang berlarian ke segala arah, saling tabrak, berteriak bahkan ada yang terjatuh dan terinjak-injak.


Suara tangisan anak-anak semakin membuat panik orang-orang. Tembakan masih dilakukan oleh pelayan-pelayan itu.


"Samuel!"


"Kenzi!"


"Yosuke!"


Mereka saling menyebutkan nama satu sama lain. Berusaha saling melindungi. Kenzo melindungi Hannie dan Kai.


Suara tembakan dari berbagai arah yang dilakukan oleh para 'pelayan' dan bodyguards Zion dkk yang juga berusaha melindungi atasan mereka.


Malvin menembak salah satu pelayan dan tepat mengenai dada pelayan tersebut.


Andre menembak pelayan yang lain yang juga tepat menembus kepalanya. Andre tidak pernah salah sasaran dalam hal seperti ini, bahkan tangannya memegang dua senjata api.


"Sial, kenapa bisa ada penyusup di sini."


"Aku bersumpah akan membunuh mereka semua."


"Bagaimana situasi sekarang?"


"Tidak ada satu pun yang bisa keluar. Ada tiga bagian, para tamu wanita sudah diamankan di ruangan timur, anak-anak ada di ruangan barat."


"Bagaimana dengan para pria?"


"Sebagian dari mereka ada yang ikut membantu."


"Cepat selesaikan tugas ini!"


"Panggil kepala bodyguard, kita harus bertahan dan keluar hidup-hidup."


"Bagaimana Lexa, Zion dan David?"


"Mereka ada bersama anak-anak."


Ruangan yang begitu besar ini memang dirancang untuk acara para pengusaha. Kaca yang tidak dapat dipecah dan pintu yang dapat dikunci secara otomatis dengan menggunakan kode, dan hanya satu orang saja yang tahu.


"Amankan yang lain."


"Cepat panggil ambulans!"


Beberapa saat sebelumnya ...


Mata itu memadang sayu wajah di hadapan mereka, sebelum nafas melemah, sebelum mata terpejam, saat rasa sakit semakin menguat.


Tolong, tetaplah baik-baik saja. Aku sayang ...


Akhirnya mata itu tertutup, sebelum mampu mengucapkan kata-kata.


Suasana sangat mencemakam, bagai perang yang dilakukan untuk membunuh musuh-musuh mereka.


Di rumah sakit


Brankar dibawa tergesa-gesa, mereka berlari mendapingi tiga brankar itu.


Ya, tiga brankar.


David


Zion


Lexa


Zion dan David berusaha melindungi Lexa. Senjata api yang ditodongkan ke berbagai arah membuat mereka (awalnya) merasa bingung. Itu pun mereka menyadari saat seorang anak berteriak, "Awas!"


Zion dan David, yang untungnya cepat tanggap dan posisi mereka tidak jauh dari Lexa langsung berlari melindungi Lexa. Namun naas, Lexa sudah tertembak duluan, lalu tembakan dari arah belakang itu mengenai Zion. Sedangkan tembakan dari arah samping mengenai David.


Ketiga orang itu saling memandang, saling menguatkan satu sama lain lewat tatapan mata, sampai akhirnya mereka tak sanggup lagi menahan rasa sakit lalu memejamkan mata.


Benar-benar niat. Tembakan dari berbagai arah yang sasaran utamanya hanya satu ... Alexa Elora William.


Mereka masih menunggu dengan parasaan yang sulit untuk diungkapkan. Masih terngiang dalam pikiran dan hati mereka saat Zion menyanyikan lagu itu untuk Lexa. Seolah itu adalah saat-saat terakhir dia dapat mengungkapkan semuanya.


Di suatu tempat ...


"Sayang!"


"Zion?"


"Kalian kenapa di sini? Cepat pulang!"


"David?"


"Pulang, Xa!"


"Aku enggak mau pulang sendiri, harus sama kalian juga."


"Kamu harus pulang, Beb. Kasihan baby kita."


"Kita pergi ke sini bertiga, pulang juga harus bertiga, dong."


"Jangan egois, Xa. Kasihan anak kamu."


"Iya Beb, kasihan baby kita."


"Kalian yang egois nyuruh aku pulang sendiri, enak aja."


Entah berapa lama waktu berlalu. Di tempat mereka kini berada, kabut semakin tebal, udara juga semakin dingin, membuat mereka menggigil.


Zion memeluk tubuh Lexa agar Lexa tetap merasa hangat. Mereka bertiga duduk berdekatan dengan posisi Lexa ada di tengah. Mereka bertiga bergandengan tangan, mengusap tangan untuk saling menghangatkan.


"Sayang ... tolong, untuk kali ini saja kamu turuti kata-kata aku. Pulanglah, jaga anak kita baik-baik. Sampaikan padanya kalau papinya sangat menyayanginya."


Lexa hanya menangis. Bagaimana mungkin dia pergi sendiri meninggalkan Zion dan David berdua saja di tempat seperti ini.


"Sampaikan salam sayangku untuk calon keponakanku, pada Hannie dan baby Kai, juga pada yang lain."


Setelah dengan susah payah dipaksa, akhirnya Lexa meninggalkan tempat itu dengan perahu kecil yang hanya mampu menampung satu orang saja.


Lexa memeluk Zion dengan sangat erat.


"I love so much," bisik Zion di telinga Lexa.


Lalu Lexa memeluk David.


"Aku sayang kamu, sahabatku-adikku," ucap David.


"Kembalilah, kamu harus tetap bertahan demi anak kita."


"Jaga diri kamu dan anak kamu."


Ya Allah, biarkan dia kembali tanpa tersesat lagi. Terima kasih atas waktu yang telah Engkau berikan untuk kebersamaan kami selama ini.


Terima kasih atas cinta yang Engkau tumbuhkan di hatiku hanya untuknya.


Jagalah dia selalu, jangan biarkan lagi ada yang menyakitinya. Jika Engkau hanya memberikan waktuku untuk menjaganya hanya sampai saat ini, maka tolong jangan membuat dia menangis.


Karena tangan ini tak dapat lagi menghapus air matanya.


Tubuh ini tak dapat lagi memeluk dirinya.


Kaki ini tak dapat lagi melangkah bersamanya.


Tak ada lagi yang bisa aku lakukan untuknya, selain doa untuk kebahagiannya.


Terima kasih, karena telah membuatku menepati janjiku untuk menjadikan dia satu-satunya pendamping hidupku.


I will always love you


Entah mana yang lebih menyakitkan, meninggalkan atau ditinggalkan ...


Bahkan bila aku mati, ku kan berdoa pada Illahi, tuk satukan kami di surga nanti ...