
Lexa merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memeluk boneka panda kesukaannya.
Dia baru saja pulang dari puncak. Dia ingin melanjutkan studynya di Jepang. Lexa juga berpikir kalau dia ke Jepang maka dia akan berpisah dengan Zion yang kuliah di Jakarta.
Berat rasanya harus memilih seperti ini. Seperti ini saja dia sudah sering dan sangat merindukan Zion. Apalagi kalau sampai berpisah jauh dan dalam waktu yang lama?
Lexa menghela nafasnya. Dia ingin berbicara pada Zion. Kalau Zion memintanya untuk tetap tinggal, maka dia akan tetap di Jakarta. Tapi apa mungkin? Mengingat sikap Zion yang sekarang sudah berubah.
Lexa ingat bagaimana percakapan antara Zion dengan Aron yang direkam oleh Tiara dulu. Kalau mengingat itu hati Lexa kembali terasa sakit.
Kebimbangan Lexa ini membuat nafsu makannya hilang. Berkali-kali dia ingin mengirim pesan pada Zion, tapi langsung dia hapus lagi. Berkali-kali dia ingin menelepon Zion, tapi langsung dia batalkan sebelum panggilan itu tersambung.
Ah, Lexa belum pernah sebimbang ini.
Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Zion mengirimnya sebuah pesan!
Lexa langsung membaca pesan itu dengan hati berdebar-debar.
[Lexa, apa kamu nanti malam ada waktu? Aku ingin bertemu dengan kamu di taman waktu itu. Tunggu aku di sana jam tujuh malam. Tolong tunggu sampai aku datang, kali ini aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Bagaimana, kamu bisa, kan?]
Dengan cepat Lexa langsung membalasnya.
[Iya, aku bisa. Aku akan menunggumu di sana jam tujuh malam. Tolong jangan kecewakan aku lagi!]
[Iya aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Tolong tunggu sampai aku datang ya?]
[Baikkah, aku janji akan menunggu kamu sampai kamu datang.]
[Terima kasih. Sudah dulu ya, ponselku lowbat. Aku masih di jalan.]
Lexa tersenyum bahagia.
Dia berjingkrak-jingkrak dan berteriak senang.
Kali ini Zion sendiri yang menghubunginya dan ingin menemuinya. Dia langsung membagikan kebahagian itu pada David dan Hannie.
Lexa
[Nanti malam Zion mengajak aku bertemu di taman ... yeyyy!]
Hannie
[Kamu senang?]
David
[Mau aku antar?]
Lexa
[Tentu saja aku senang dan tidak perlu di antar.]
David
[Yakin tidak mau diantar?]
Lexa
[Iya.]
Hannie
[Padahal nanti malam kan Andre mau mentraktir kita.]
Lexa
[Kalian duluan saja. Nanti aku menyusul. Cari saja cafe yang buka 24 jam. Sekalian aku kenalkan kalian pada Zion. Selama ini kan kalian hanya tahu dia dari ceritaku saja.]
David
[Baiklah. Kenalkan dia pada kami. Jadi aku bisa langsung menghajarnya kalau dia membuat kamu menangis lagi!]
Lexa
[Ishhh!]
Hannie
[Benar. Aku akan memarahinya kalau dia membuat kamu menangis lagi!]
Lexa
[Memang kamu berani?]
Hannie
[Untuk Lexaku, maka aku akan berani.]
David
[Good girl!]
Lexa
[Ya sudah, aku mau siap-siap dulu ya.]
Lexa langsung mandi. Dia berendam dan memakai sabun berbagai aroma. Entah akan seperti apa harumnya dia nanti.
Selesai mandi, dia memilih-milih pakaian apa yang akan dia kenakan. Dia memutuskan untuk memakai celana panjang saja karena pasti akan dingin kalau dia memakai dress.
Dia menata rambutnya. Lagi-lagi bingung apa harus diikat atau digerai. Lalu dia memutuskan untuk menggerai saja rambutnya.
Akhirnya jam setengah tujuh. Lexa lalu meminta sopir untuk mengantarnya ke taman.
Jam tujuh kurang Lexa sudah sampai. Dia menunggu di salah satu bangku taman dengan hati berdebar.
Suasana taman masih terlihat ramai. Lexa melihat kiri kanannya, mencari keberadaan Zion.
Waktu berlalu, Lexa masih menunggu. Taman sudah sepi karena sekarang sudah jam sepuluh malam. Dia ingin menelepon Zion tetapi ponselnya ketinggalan.
Tunggu sampai aku datang!
Lexa mengingat perkataan Zion dan dia sudah berjanji akan menunggunya hingga pria itu datang.
Lexa mulai cemas, bahkan takut.
Sudah jam dua belas malam.
Tunggu sampai aku datang!
Haruskah dia menunggu Zion hingga pria itu datang?
Lexa mulai melangkahkan kakinya.
“Hai Nona cantik, mau kemana?”
DEG!
Itu bukan suara Zion!
Lexa langsung menengok.
Insting tidak pernah bohong.
Tanpa pikir panjang Lexa langsung berlari dan kelima pria itu langsung mengejarnya.
Untung saja pakaian yang digunakan Lexa tidak salah. Dia berlari sekuat tenaga.
“Aaaaaa ... tolongggg. David tolong akuuuu!”
Lexa terus berteriak meskipun dia tahu David tidak mungkin mendengarnya apalagi datang menolongnya.
Jantung David seketika berdetak sangat kencang.
Mereka sedang menunggu kedatangan Lexa sejak tadi tapi gadis itu belum datang juga padahal sudah ham satu.
Ponselnya juga tidak di angkat-angkat.
Entah kenapa perasaannya benar-benar tidak enak. Wajah gadis itu yang sedang menangis terbayang dalam pikirannya.
“Ayo!”
David langsung berdiri, tidak mempedulikan makanan yang masih banyak di meja karena sudah beberapa kali di pesan sambil menunggu kedatangan Lexa.
“Tapi Lexa ... “
“Cepat!”
☆☆☆
Lexa terus saja berlari sampai kakinya tersandung jalan yang sedikit berlubang.
“Jangan ganggu tuan Zion lagi!”
“Zion?”
“Benar! Tuan muda Zion tidak menyukai anda, Nona Lexa. Tapi anda terus saja mengganggunya hanya karena orang tua kalian bersahabat.”
“Tapi kenapa? Kami sudah bersahabat sejak kecil.”
“Siapalah Anda ini, kalau buka karena orang tua Anda? Anda hanyalah gadis manja yang beruntung karena memiliki orang tua yang kaya.”
“Bukan salahku kalau aku memiliki orang tua yang kaya.”
“Anda terlalu cerewet, Nona. Tuan Zion tidak menyukai gadis seperti Anda. Hanya karena memandang siapa orang tua Anda, maka orang-orang bersikap baik pada Anda. Kalau Anda dari keluarga biasa-biasa saja, apa Anda akan dihormati?”
Kenapa Zion? Kenapa kamu seperti itu?
“Jadi jangan pernah ganggu tuan Zion lagi!”
“Sekarang ayo kita bersenang-senang!” ucap salah satu dari mereka.
Lexa langsung berlari lagi meskipun kakinya sangat sakit.
“Akkhhhh ... lepas!”
Karena kaki Lexa yang sakit maka gadis itu tidak dapat berlari sekencang tadi. Salah satu dari pria itu berhasil menangkapnya.
“Ayo kita bersenang-senang! Jadi kedatangan Anda ke sini tidak sia-sia!”
“Jangan!”
Lexa berteriak dan memberontak.
Salah satu dari kelima pria itu melukai lengannya dengan pisau kecil.
“Tolong jangan! Aku akan membayar kalian asal kalian melepaskan aku!”
“Tuan Zion sudah membayar kami sangat mahal untuk melakukan tugas ini!”
Hati Lexa semakin sakit. Dia terus memberontak dan menangis.
Tolong aku!
Baju Lexa sudah mulai terkoyak. Pipinya ditampar kanan kiri hingga memar dan bibirnya berdarah. Rambutnya dijambak dengan kencang dan dicekik.
Salah satu dari pria itu bahkan sudah melepas pakaiannya sendiri.
Sisanya masing-masing memegangi kaki Lexa kanan kiri dan dua lagi masing-masing memegangi tangan Lexa kanan kiri.
“Tolong jangan. JANGANNNNN ... DAVID TOLONG AKU. DAVIIIIIIIDDDD!”
David dan yang lainnya sudah berkeliling taman mencari kebaradaan Lexa.
“David ... tolong!”
“Itu Lexa!”
Teriak David!”
Mereka langsung berlari ke asal suara dan betapa terkejutnya mereka melihat Lexa yang akan dinodai.
“BERHENTI!”
Mereka langsung berlari dan menghajar kelima pria berbadan besar itu.
Keadaan Lexa sudah benar-benar kacau. Dia menangis histeris. Tangisan yang sangat menyakitkan itu semakin membuat David memukuli salah satu pria itu dengan membabi buta!
Hannie sangat terguncang! Dia langsung menutupi badan Lexa dengan sweaternya.
“Cepat pergi!” ucap salah satu dari pria itu.
“Tuan muda Zion sudah dalam perjalan menuju London!”
Kelima pria itu lari dengan luka di sekujur tubuh. David dan yang lainnya mengejar mereka.
“Kalian kembalilah. Pikirkan dulu Lexa!” teriak Hannie.
Mendengar perkataan itu akhirnya mereka kembali pada Lexa dan Hannie.
Lexa masih berteriak histeris.
“Jangan! Lepaskan!”
“Lexa, ini aku Hannie! Ini kami!”
“Jangan! Lepaskan! Tolong!”
Lexa masih terus berteriak dan memberontak. Dia juga tidak berhenti menangis.
“Bawa dia ke mobil!”
David langsung menggendong tubuh Lexa yang sudah lemah itu.
Saat digendong oleh David, Lexa semakin histeris. Bahkan David kerepotan saat menggendongnya.
Hannie juga tidak berhenti menangis.
Dia tidak menyangka sahabat satu-satunya itu mengalami kejadian seburuk ini.
Padahal baru tadi sore dia sangat bahagia karena akan bertemu Zion!