ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
HADIAH UNTUK KALIAN



MASIH JADI FAVORIT KAN?


JANGAN NGAMBEK DONG!


AKU KASIH SEASON 2 SEBAGAI PENGOBAT LUKA UNTUK ZION, DAVID DAN KALIAN PEMBACA SETIAKU


SIAP?


HAPPY READING!


1


2


3


.


.


Zion masih tetap memeluk Lexa dengan air mata yang mengalir deras. Sebelah tangannya menggenggam tangan gadis itu. Ada sentuhan kecil ditangannya namun dia abaikan. Yang dia abaikan hanya Lexa. Lalu ada hal lain lagi yang dia rasakan. Ada air yang mengalir di wajah Lexa. Bukan, bukan air matanya. Juga ada nafas lain dan itu juga bukan nafasnya. Dia mengangkat sedikit wajahnya. Air mata itu menyatu dan mengalir bersama. Air mata dia dan Lexa.


"Lexa, Sayang, kamu sudah bangun? Dia bagun! Lexa sadar!" teriak Zion.


Mereka yang mendengarnya menatap Zion dengan pilu.


"Kenapa kamu diam saja Dokter?"


Zion berteriak kesal. Suara monitor terdengar dan memperlihatkan garis yang kembali bergerak pelan. Dokter dan perawat langsung mengambil tindakan. Mereka kembali memeriksa Lexa dengan teliti.


Tidak lama kemudian mata Lexa perlahan terbuka.


Untuk yang pertama kalinya.


Selama lebih dari tiga bulan penantian itu.


"Dia benar-benar sadar!"


"Lexa sudah bangun!"


"Aku tidak salah lihat, kan?"


Mereka bingun tapi juga bahagia.


"Ini benar-benar mukjizat! Dia sempat mengalami mati suri tapi sekarang kondisinya sudah mulai membaik!"


Lexa menggerakkan kepalanya sedikit. Badannya terasa kaku.


Mereka mengucap syukur.


Air mata duka kini berubah menjadi air mata bahagia.


Jantung yang tadinya berdetak karena perasaan kehilangan kini detaknya menunjukkan perasaan bahagia yang membuncah meskipun masih ada perasaan bingung.


Siapa yang mengira kalau ternyata Lexa mati suri.


Segala emosi yang ada menumpuk menjadi satu.


Mereka lalu tersenyum.


"Hu hu hu ... Lexa. Kenapa kamu seperti ini? Kenapa tidak langsung bangun saja tadi tapi justru membuat kami ketakutan dulu. Apakah ini cara kamu memberikan kami kejutan? Tega sekali! Apa kamu ingin memberikan kami serangan jantung dulu? Kamu pikir ini lucu?"


Hannie memeluk Lexa sambil memarahi gadis itu. Tidak ada respon dari Lexa. Gadis itu sepertinya masih bingung denfan keadaannya. Menggerakan matanya melihat ke sekeliling dengan tatapan kosong.


"Jangan ganggu pasien dulu. Biarkan dia beristirahat. Kami akan menyiapkan ruangan untuk memindahkannya setelah kondisinya benar-benar stabil!" ucap dokter.


Mau tidak mau mereka keluar meninggalkan mereka. Wajah-wajah sendu itu kini berbinar bahagia.


Sebelum keluar Zion sempat mengecup kening Lexa.


"Terima kasih telah kembali. Nanti aku akan menemui kamu lagi."


Sepeninggal mereka, Lexa kembali mengamati sekitarnya.


Dia menyadari kalau dia kini telah berada di rumah sakit.


Lexa memikirkan banyak hal, namun semakin berpikir kepalanya justru semakin sakit. Gadis itu kembali memejamkan matanya dan mulai tidur.


☆☆☆


Lexa sudah dipindahkan dari ruang ICU.


Ruangan itu dipenuhi dengan bunga-bunga berbagai warna dan aroma.


Masih tidak ada respon apa-apa dari Lexa. Mereka menatap Lexa dengan tatapan bahagia.


Sang bunda berkali-kali mengecup kening putri semata wayangnya itu.


Dia benar-benar bersyukur kepada Allah SWT.


David berkali-kali menghembuskan nafasnya, sebagai bentuk kelegaan kalau Lexa sudah sadar. Dia berjanji tidak akan lagi lalai dalam menjaga Lexa.


☆☆☆


Mereka mulai merasa cemas. Sejak sadar hingga saat ini, Lexa tidak juga memberikan respon apa-apa kepada mereka.


Beberapa orang dokter sudah dikerahkan untuk menangani Lexa. Berbagai pemeriksaan juga sudah dilakukan.


Secara fisik, kondisi Lexa memang sudah membaik. Dari ujung kepala hingga ujung kaki sudah diperiksa. Tubuhnya memang masih kaku dikarenakan terus berbaring selama tiga bulan lebih.


Tapi bukan itu yang menjadi persoalan.


Dokter spesialis saraf, dokter spesialis penyakit dalam, psikiater (termasuk Yosuke) sudah memeriksa Lexa.


Lexa menatap mereka dengan tatapan tidak peduli.


Bukan tatapan marah.


Bukan juga tatapan rindu.


Hanya tatapan kosong seperti seseorang yang pikirannya melayang jauh tapi raganya tertinggal.


Lexa melihat banyak makanan dan buah-buahan dihadapannya. Matanya terus saja fokus pada meja yang menyajikan semua itu. Dia mulai mengambil buah menggigitnya sedikit. Merasakannya pelan-pelan seperti orang yang takut diracuni.


Gigitan-gigitan itu semakin lama semakin besar dan Lexa mulai menikmatinya. Dia lalu mencoba buah-buahan yang lain. Puding dengan potongan buah juga tidak dia sia-siakan.


Lexa makan dengan lahap tanpa menyadari tatapan orang-orang yang melihatnya dengan heran.


Sejak sadar hingga menjelang hari keempat ini, Lexa tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini. Dia bahkan sempat menolak untuk makan dan minum yang membuat badannya lemas dan doktet terpaksa memberikannya infus.


"Mungkin sebaiknya kita membawanya keluar negeri untuk memeriksanya!" ucap Alex.


Lexa memandang Zion dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jangan takut, aku jamin tidak ada racun atau obat apapun di dalamnya!"


Lexa mulai meminumnya hingga habis.


Setelah merasa puas, Lexa lalu menyalakan TV. Dia mengganti-ganti saluran TV namun tidak juga menemukan acara yang dia inginkan.


Yosuke terus mengamati Lexa dengan teliti. Selama ini dia sudah menangani kesehatan Lexa, jadi dia paham betul bagaimana kondisi psikis Lexa.


Dia belum bisa menarik kesimpulan kalau Lexa hanya diam saja dan selalu menunjukkan ekspresi datar.


Bukan kemarahan.


Bukan kekecewaan.


Kalau Lexa berteriak dan marah-marah, maka itu lebih baik.


Kalau Lexa menangis, maka itu juga baik.


Kalau Lexa tersenyum dan tertawa, itu juga baik.


Tapi ini?


Membuat orang-orang disekitarnya frustasi.


Zion tak kalah cemas.


Dia pikir Lexa akan marah-marah padanya, memukulnya bahkan langsung menggugat cerai dirinya.


☆☆☆


Sudah satu minggu Lexa berdiam diri.


Satu minggu yang diisi dengan tanda tanya besar orang-orang yang menyayanginya.


Para dokter menjadi sasaran kemarahan mereka. Dianggap tidak berguna dan tidak bisa mengetahui kondisi Lexa yang sebenarnya.


Tapi mereka bisa apa?


Segala usaha sudah dicoba.


Lexa sadar setelah koma lebih dari tiga bulan ditambah mati suri selama satu jam lebih saja itu sudah mukjizat.


Mereka hanyalah dokter!


"Sayang, kamu jangan diam saja, dong! Kamu mau apa? Apa yang kamu rasakan sekarang?"


Zion mengucapkannya dengan sangat lembut.


Beberapa orang dokter dan perawat juga ada di ruangan itu. Mereka selalu siap siaga. Tidak ingin melewatkan apa yang terjadi dengan pasien VVIP ini.


Lexa menarik nafas berat, lalu menghembuskannya perlahan sambil memejamkan mata.


"Dokter, suster, kakek, nenek, om, tante, kenapa aku selalu ada disini? Aku ingin pulang."


Ucapan pertama Lexa.


Kakek?


Nenek?


Om?


Tante?


Maksudnya siapa?


Mereka nampak terkejut dengan perkataan Lexa.


Dokter segera menghampiri Lexa.


"Nona, siapa nama Anda?"


"Alexa Elora William!"


"Siapa nama orang Anda?"


"Alexa William dan Diana Anderson!"


"Berapa usia Anda?"


"Sebelas tahun!"


Seperti ada petir yang menyambar mendengar jawaban Lexa yang terakhir.


Sebelas tahun?


"Apa Anda mengenali orang-orang yang ada disini?"


"Tidak. Hanya saja kakek dan nenek itu mirip orang tua aku. Hanya saja orang tuaku tidak setua itu. Oya, sedangkan kakek dan nenek yang itu mirip dengan orang tua Zion, tapi mereka juga tidak setua itu."


Mereka saling memandang. Mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar.


.


.


.


.


.


Emang belum saatnya tamat kok, season satu doang yang tamat hehehe.


Dah jangan kesel, aku juga gak mungkin kasih cerita yang ngegantung buat kalian. Bisa-bisa dibully aku, wkwkwkkk.


Kan belum terbongkar rahasia yang ada.


Ada yang minta biar Lexa buru-buru sadar. Tuh aku kasih dia bangun. Tapi kalau sadar begitu aja kan enggak seru. Harus dibikin emosi dulu (pembacanya wkwkwkkkkk).


Dibikin nangis dulu Zion, David dan yang lainnya.


Biar enggak bosan yang baca, biar enggak monoton.


Yaudah tunggu chapter selanjutnya, ya. Maaf udah bikin kalian kesel kemaren. Hehehehe ...