ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
88 CURHATAN COWOK



Beberapa waktu lagi telah berlalu. Jika dulu adalah reoni sahabat-sahabat Zion saja, maka dua hari lagi adalah reoni teman-teman sekolah Zion yang satu angkatan dengannya. SD, SMP dan SMA Zion adalah yayasan yang sama. Mereka yang telah lulus SD biasanya akan melanjutkan di SMP lalu SMA yang sama. Jadi tidak heran kalau hubungan mereka akan dekat. Begitu juga dengan yayasan milik orang tua Lexa. Hanya saja Lexa dan Zion tidak pernah satu sekolah.


Murid-murid angkatan Zion akan hadir, begitu juga dengan guru-guru. Khusus untuk guru, semua akomodasi mereka akan ditanggung penuh oleh Zion, sedangkan teman-temannya dengan biaya sendiri untuk tiba di kapal pesiar itu. Tentu saja itu bukan hal yang sulit. Mereka adalah para pengusaha, anak pejabat, artis papan, jadi tidak merasa khawatir mengeluarkan biaya yang tentunya tidak sedikit. Akan ada yang naik helikopter agar bisa langsung turun di atas kapal pesiar itu.


Berita tentang reoni akbar yang akan diadakan para pengusaha dan orang-orang terkenal tentu saja sudah tercium oleh awak media. Mereka ingin sekali mengabadikan acara tersebut secara langsung, namun tentu saja bukan hal yang mudah.


Persiapan sudah dilakukan dengan sedemikian rupa. Lampu-lampu kristal mempercantik suasana dalam kapal tersebut. Kamar sudah ditata dengan apik. Ruang makan, tempat olah raga, ruang makan, salon bahkan sampai perpustakaan juga tidak lepas dari dekorasi yang indah.


Berbagai bahan makanan dengan kualitas nomor satu juga sudah ada.


Sementara orang-orang berlalu lalang di hadapannya, Lexa justru sibuk menikmati jus buah apel beserta salad buah dan sayur.


Sedangkan Zion?


Dia sedang memancing bersama Aron. Entah ikan apa yang dia harapkan dapat dipancing. Saat ini kapal memang tidak sedang berlayar sampai dua hari kedepan, di hari pertama reoni akbar tersebut.


"Gimana perkembangan kamu dan Lexa?" tanya Aron.


"Ck, enggak gimana-gimana. Ini semua gara-gara Tiara. Kalau saja dia tidak melakukan hal-hal serendah itu, aku dan Lexa pasti sudah menikah dari dulu dan memiliki dua orang anak."


"Setidaknya tuh cewek lagi menderita di penjara. Bukan hanya kamu yang membalasnya, tuan Alex dan David juga melakukan hal yang sama."


"Ngomong-ngoming soal David, dia belum dekat sama perempuan lain, apa?"


"Belum. Dia sama kaya kamu, hanya dekat dengan Lexa, saja."


"Ngeselin banget tuh, cowok!"


"Bagi dia, kamu juga sama, ngeselin. Hahaha!"


"Sialan kamu, Ron!"


"Coba deh, kamu kenalin dia ke beberapa perempuan, masa enggak ada yang nyantol, sih!"


"Dih, dari pada buat dia, mending buat aku yang juga masih jomblo!"


"Kasih dulu buat dia, nanti kamu aku yang nyariin!"


"Untuk yang satu ini, aku enggak percaya sama kamu!"


"Takut aku ambil?"


"Bukan. Gimana mau nyombaling aku, ngedekitin Lexa aja susah!"


"Ya beda dong, Ron. Aku kan tinggal ngenalin kamu sama anak dari rekan bisnis kita, enggak pake hati, enggak perlu pedekate sama dia dulu baru aku kenalin sama kamu!"


"Memang mereka mau sama aku? Aku kan hanya seorang asisten."


"Ini nih, yang bikin kamu jomblo terus. Makanya jadi cowok tuh harus PD!"


"Sombong, kamu aja takut Lexa direbut sama David!"


"Lama-lama ngeyel ya. David itu juga sudah lama kenal sama Lexa, bahkan dari pertama Lexa masuk SD. Ditambah kebersamaan mereka tanpaku selama di Jepang dulu. Bahkan selama kami menikah, mereka tetap berhubungan. Coba kalau kamu di posisi aku, khawatir enggak? Seharusnya buanglah mantan pada tempatnya!"


"Awas, hati-hati kalau ngomong!"


"Maksudnya?"


"Kamu kan pernah jadi mantan sahabatnya, mungkin juga akan jadi mantan suaminya. Kamu mau, dibuang pada tempatnya?"


"Anjritttt! kam*retttt! Sahabat macam apa, kamu!"


"Hahaha ... ya maaf, becanda Bro!"


"Enggak lucu tahu, enggak!"


"Dih ngambek. Bebeb Lexaaaaaa, Aa Zion ngambek nih!" teriak Aron pada Lexa, namun Lexa tetap masih sibuk dengan berbagai cemilan Lexanya.


"Lempar aja ke laut!" balas Lexa.


"Dih, giliran Lexa ngomong gitu enggak marah, tapi sama aku ngambek!"


"Kamu bikin dulu aku cinta sama kamu, baru aku beda!"


"Dih amit-amit!"


"Makanya diam aja."


"Ngomong-ngomong, kamu enggak mau ngadain acara reoni teman-teman sekolah Lexa?"


"Enggak! Pasti ada si David. Ngapain amat, bukannya ngejauhin mereka malah buat mereka bernostalgia. Udah ah, bikin bad mood aja!"


Aron hanya cengengesan. Lexa memang kelemahan Zion.


Bisa membuat senang dan sedih.


Bisa membuat tertawa dan menangis.


Bisa membuat bahagia dan menderita.


Orang-orang yang ingin menghancurkan Zion, pasti akan memanfaatkan Lexa, namun tidak mudah juga memanfaatkan Lexa karena Lexa juga selalu dijaga oleh David bahkan hingga saat ini, meskipun saat ini jarak memisahkan mereka.


Tak ada pesta yang tak usai.


Entah kapan, namun yang pasti perjalanan ini pun akan berakhir.


Akhir dari perjalanan ini akan menentukan masa depan mereka.


Setiap malam, saat Lexa telah tidur lelap, Zion akan memeluk tubuh gadis itu dengan erat dan mengucapkan doa agar tidak ada yang akan memisahkan mereka kecuali kematian.


Setiap kali mengingat penderitaan Lexa dan perbuatan Tiara yang menjauhkan Lexa darinya, maka Zio akan menyuruh orang-orangnya untuk menyiksa Lexa.


Apakah Zion puas?


Tentu saja tidak!


Penderitaan Lexa dan Tiara sangatlah berbeda. Zion sangat ingin Tiara merasakan seperti yang Lexa rasakan.


Penyakit yang Tiara derita akibat dari perbuatannya sendiri.


Zion ingin Tiara merasakan dijauhkan dari orang yang dicintainya.


Zion ingin Tiara merasakan bagaimana rasanya hampir dinodai oleh lima berandalan yang mengidap penyakit kelamin mematikan.


Zion ingin Tiara merasakan bagaimana raanya mengalami trauma psikis selama bertahun-tahun bahkan sulit disembuhkan.


Semua, semua yang Lexa rasakan, Tiara juga harus merasakannya.


Penderitaan fisik tidak ada apa-apanya. Bahkan kalau perlu Tiara harus gila seumur hidupnya.


Membuatnya menderita fisik tidak ada apa-apanya. Membuat mati begitu saja, juga tidak ada apa-apanya.


Mungkinkah anaknya yang harus merasakan akibat dari perbuatan ibunya?


Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?


Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benak Zion.


Zion melihat gadis yang dicintainya itu sedang menikmati makanan entah apa. Lagi-lagi, Zion mengambil foto Lexa di ponselnya. Entah sudah berapa banyak foto Lexa di galery milik Zion. Hobi yang selalu Zion lakukan saat bersama Lexa.


Jika berani mencintai seseorang, maka kamu harus siap menerima akibatnya. Entah itu perasaan yang bersambut ataupun penolakan yang menyakitkan.


Dulu, Zion berpikir karena mereka sudah mengenal sejak kecil juga orang tua mereka yang bersahabat, maka akan memuluskan hubungannya dengan Lexa. Dia tidak pernah berpikir kalau hati tidak dapat dipastikan. Banyak wanita yang menyukai Zion. Pun sebaliknya, pasti banyak pria juga yang menyukai Lexa.


Kalau saja orang-orang tahu kalau hubungan pernikahan mereka tak seharmonis yang sering diberitakan, maka akan banyak yang ingin menggantikan posisi Lexa bagi Zion, juga menggantikan posisi Zion bagi Lexa.