ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
111 DOA UNTUK BABY



Mereka menikmati makan siang itu setelah selesai membahas pendirian perusahaan baru.


Lexa memandang pria-pria itu satu persatu. Ada perasaan bahagia dalam dirinya, namun ada juga perasaan takut. Takut kalau persahabatan ini akan hancur, takut kalau suatu saat nanti dia tak dapat lagi melihat mereka.


Tiba-tiba saja Lexa meneteskan air matanya.


"Beb, kok kamu nangis sih?"


Lexa hanya menggeleng.


"Hormon ibu hamil, moodnya gampang berubah. Kalau ada apa-apa kamu cerita ya Xa sama kami," ujar Yosuke. Sebagai psikiater pribadi Lexa, Yosuke harus selalu cepat tanggap dengan pasien kesayangannya itu. Sayang sebagai sahabat dan adik.


"Aku mau kalian usap-usap dong, perut aku."


Muka Zion langsung sangar. Enak saja, tangan pria lain menempel di perut seksi istrinya itu, walaupun masih dibatasi oleh pakaian. Satu pria saja dia enggak terima, apalagi sembilan.


Aaarrggggghhhh, rasanya Zion mau nangis, gak rela, gak rela.


"Enggak ada yang mau, ya?"


Lexa mulai terisak, sedih sekali dia.


"Janji deh habis ini dedeknya gak nyusahin kalian lagi!"


Lexa langsung memeluk Zion sambil sesenggukan. Srreettt ... itu adalah suara ingus yang Lexa elap di jas Zion.


Aron bergedik iri, sedangkan orang-orang yang melihat mereka, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Buruan usap perutnya!" ucap Zion. Antara cemburu sama kasihan dengan Lexa, tapi matanya juga melirik jasnya yang bekas ingus Lexa.


Mereka satu persatu mulai mengusap perut Lexa.


"Halo Baby, ini uncle David. Yang sehat ya, nanti main dengan abang Kai."


"Baby, ini uncle Kenzo, jadi anak kebanggaan orang tua, ya."


"Halo ponakan uncle Kenzi, nanti kalau sudah lahir uncle ajak ke Jepang. Kita main ke Disneyland, ya."


"Baby, ini uncle Yosuke, kamu kalau sudah besar jagain mama kamu ya, bilang juga sama ayah kamu jangan suka narsis."


"Ponakan uncle Samuel, jadi anak hebat ya. Kami semua sayang sams kamu."


"Ini uncle Malvin, kamu yang baik ya di dalam perut mommy kamu. Uncle tunggu kelahiran kamu."


"Ini uncle Andre yang paling ganteng, uncke selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."


"Ini uncle Ryu, nanti kalau kamu lahir uncle belikan mainan yang banyak, tapi harus rajin belajar juga ya dan jangan nakal."


"Ini ucle Aron, nanti kalau kamu sudah besar, kita tanding main futsal sama ayah kamu. Sehat selalu ya."


"Baby ayah, ayah sayang banget sama kamu. Ayah tunggu kelahiran kamu ya, Sayang."


Lexa tersenyum, dia kembali meneteskan air mata, lalu memeluk mereka satu-persatu.


Wajah Zion kembali sangar, tapi dia berusaha menahan sabar.


"Sampaikan salam baby buat aunty Hannie dan Kartika, ya. Buat kakek nenek juga."


Lexa memeluk Zion sangat lama, menghirup aroma tubuh pria itu.


CUP


CUP


CUP


CUP


Tanpa rasa malu Lexa mengecup kedua pipi, kening dan bibir Zion.


DEG


DEG


DEG


DEG


Jantung Zion berdetak kencang, bibirnya kelu, hatinya menghangat dan pikirannya blank seketika.


"Aku duluan ya."


"Aku antarin ya, Beb."


"Enggak usah, kamu di sini saja dulu sama yang lain, lanjutin meetingnya. Aku sudah capek banget. Lagi pula aku kan sama sopir."


"Dedek pergi dulu ya papan."


"Papan?"


"Iya papan, papi tampan."


Mata Zion berkedip-kedip, hari ini istrinya itu manis sekali.


"Iya deh, Macan."


Lexa langsung menjewer kuping Zion. Baru juga bersikap manis, sekarang langsung sangar lagi.


"Aauuwww ... sakit, Beb."


"Kenapa macan?"


"Kan mami cantik."


"Jangan disingkat macan."


"Kamu juga tadi bilangnya papan."


"Suka-suka aku, dong."


"Ya suka-suka aku juga, dong."


"Sudah-sudah! Papi tampan, mami cantik, kasihan loh dedeknya nanti galau punya orang tua kaya kalian."


Lexa dan Zion langsung menjitak Aron tanpa perasaan.


Lexa kembali memeluk Zion. Ada perasaan yang sulit diartikan oleh kedua orang itu.


"Kata dedeknya, dia sayang sama papan. Ya sudah, kami pergi dulu ya."


Lexa melambaikan tangannya dan berlalu. Zion melihat kepergian Lexa yang sudah menghilang di balik pintu restoran.


Baru beberapa detik, tapi dia sudah sangat merindukan Lexa dan baby mereka. Dia duduk dengan gelisah, ingin cepat-cepat pulang lalu memeluk dan mengusap perut Lexa sepuasnya.


☆☆☆


Lexa menyandarkan badanya di jok mobil. Rasanya dia sangat lelah. Dia membuka ponselnya dan melakukan video call dengan kedua orang tuanya juga orang tua Zion. Setelan itu dia melakukan panggilan dengan Hannie dan Kartika, membicarakan tentang meeting yang tadi dia dan yang lainnya lakukan.


Lexa mengusap-ngusap perutnya, matanya mulai mengantuk. Lexa bermimpi kalau anaknya telah lahir. Wajahnya sangat mirip dengan Zion, mungkin takut tidak diakui. Lexa memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang, menyium pipi gembul yang sangat halus itu.


"Babynya mami yang ganteng, kamu kok lucu banget, sih."


Baby itu tersenyum kecil mendengar penuturan Lexa. Matanya bulat dan bening. Hidup Lexa terasa lengkap, sudah. Memiliki karir yang bagus, suami yang luar biasa, juga anak yang tampan dan menggemaskan. Mungkin kalau dia memiliki satu anak perempuan lagi, semuanya akan lebih sempurna. Oh ya, dia jufa memiliki sahabat-sahabat yang kasih sayang dan kepedulian mereka bagai keluarga kandung, juga saudari perempuan seperti Hannie, Kartika dan yang lain.


Sempurna bukan?


Bagi Lexa hidupnya sempurna, bukan karena dia sombong, justru karena dia sangat bersyukur atas apa yang dia miliki saat ini, meski banyak juga yang iri hati dengannya.


Tangan kecil itu menggenggam jari telunjuk Lexa. Lexa tidak pernah sebahagia ini. Pernikahan yang tadinya diawali karena keterpaksaan, kini menghasilkan seorang malaikat kecil yang rupawan.


"Kesayangannya mami ... "


Lexa sangat gemas dengan babynya. Meskipun masih bayi, tapi alis dan rambutnya tebal. Ada perasaan iri dalam diri Lexa, kenapa babynya tidak mirip dia.


Oh, mungkin saja karena sang baby merasa bersalah kepada papinya, karena saat masih di dalam perut, dia sering membuat papi jungkir balik melakukan keinginan baby.


Lexa terkekeh mengingat semua itu. Saat-saat dia hamil adalah hal sangat lucu baginya. Pasti tidak akan ada yang melupakan semua itu.


"Sampai kapanpun, kamu harus sayang dengan para uncle dan aunty ya. Bukan hanya sayang sama papi, mami, omma dan oppa juga para buyut. Sayang juga sama anak-anak uncle dan aunty nanti. Mereka semua sahabat dan saudara kamu."


Babynya seperti mengerti akan perkataan Lexa, mengedip-ngedipkan matanya yang cerah itu, membuat siapa saja yang melihatnya langsung menyanginya.


"Pasti kamu kalau sudah besar jadi rebutan perempuan. Tapi ingat, enggak boleh jadi playboy ya. Papa kamu walaupun narsis tingkat dewa, tapi dia bukan playboy."


Entah itu pujian atau hinaan, Lexa hanya cekikikan.


"Yang harus kamu tahu, sampai kapanpun kami semua menyayangi kamu."


☆☆☆


Sepuluh orang pria berlari di koridor. Suasana di koridor itu sangat ramai, membuat pikiran mereka kembali berkecamuk


"Di sebelah sini!" teriak seorang wanita.


"Bagaimana Lexa?"


"Dia masih di dalam."


Zion terduduk lemas, kabar yang dia dapat langsung meruntuhkan dunianya, istri yang sangat dia cintai mengalami kecelakaan beruntun, dan kini dia belum tahu bagaimana kondisinya.