ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
52 HANNIE VS TIARA



Tes DNA tentunya tidak dapat dilakukan begitu saja.


“Ada tiga macam tes DNA yang dapat dilakukan oleh wanita hamil. Yang pertama NIPT atau pemeriksaan darah. Yang diambil yaitu sampel darah ibu dengan metode noninvasif. Dapat dilakukan pada trisemester pertama. Tapi di Indonesia belum bisa dilakukan. Yang kedua CVS (chorionic villus sampling) yaitu pemeriksaan jaringan bakal plasenta. Dilakukan di atas sepuluh minggu, jika tidak bisa meningkatkan resiko kelainan kaki pada janin karena tersentuh jarum, infeksi, pendarahan dan pecah ketuban. Yang ketiga yaitu amniosentesis yaitu pemeriksaan air ketuban. Dilakukan pada trisemester kedua akan aman. Lagi pula tes DNA yang dilakukan pada ibu hamil sebenarnya bertujuan untuk mengetahui apakah ada kelainan pada janin atau tidak. Harus konsultasikan dulu pada dokter kandungan,” terang Hannie.


“Berapa usia kehamilan kamu?” tanya David.


“Tujuh minggu,” kata Zion.


“Kamu seperti hapal sekali, ya!” sindir Kenzi.


“Tentu saja, dia kan yang punya saham.”


“Jangan menuduhku. Bisa saja itu anakmu!” ucap Zion pada Malvin.


“Jangan sembarangan, aku bahkan tidak mengenal wanita ini.”


“Hanya karena aku mengenalnya, bukan berarti aku yang menebar benih.”


“Itu berarti belum bisa dilakukan tes DNA!” ucap Ronald memutuskan pertengkaran itu.


“Dengar ya Tiara, aku tidak peduli kalau kamu itu juga sahabat Lexa. Kalau anak itu ternyata benar anak pria ini, aku tidak segan-segan mencakar, menampar dan menjambak rambutmu karena kamu telah mengkhianatinya. Tapi kalau ternyata itu bukan anaknya, aku tetap akan melakukan hal yang sama padamu karena kamu juga membohonginya. Lihat saja nanti!” ancam Hannie.


“Kenapa kamu begitu? Bukankah kita sama-sama sedang hamil, seharusnya kamu mengerti apa yang aku rasakan.”


“Kenapa aku harus mengerti apa yang kamu rasakan? Aku hamil karena telah memiliki suami, tidak merebut suami orang!”


“Siapa yang merebut siapa. Aku dan Zion lebih dulu bersama. Itu juga dia yang memaksaku.”


“Hei jangan bohong, kamu. Aku tidak pernah memaksakan apapun padamu!”


“Bukankah Lexa sudah tidak menyukai Zion? Dia sendiri juga tidak setia dan masih berhubungan dengan David! Aku tidak pernah mengkhianati Lexa!” kata Tiara membela diri.


“Jangan menyamakan Lexa dengan kalian! Lexa sudah jelas dari awal menolak pernikahan ini dan tidak pernah menutup-nutupi hubungannya dengan David. Lagi pula kenapa kalian tidak tunggu saja setelah satu tahun. Pernikahan ini hanya pernikahan kontrak. Jangan kira kami tidak tahu.” Samuel ikut emosi.


“Berikan ponselmu, Tiara!” ucap Zion.


“Untuk apa?”


“Aku tidak ingin kamu berkomunikasi dengan orang luar. Bisa saja kamu memalsukan tes DNA.”


“Bisa juga kamu yang memalsukannya!” ucap Samuel.


“Kenapa kalian selalu saja ikut campur?”


“Kami akan selalu ikut campur kalau itu berhubungan dengan Lexa!” Hannie tak mau kalah.


Dia sudah berjanji akan menjadi wanita yang berani dan kuat demi menjaga Lexa.


“Cukup! Tiara biar kami yang mengawasi. Pengawal saya akan menjaganya selama dua puluh empat jam setiap hari sampai tes DNA itu dilakukan dan hasilnya keluar. Dia juga akan ditempatkan di tempat yang aman,” kata Alex.


“Lalu bagaimana dengan kontrak dengan 4C Group?” tanya Tiara.


“Memangnya kamu pikir 4C Group mau menjalin kerja sama dengan model yang punya banyak skandal seperti dirimu?” ucap Zion dengan sinis.


“Kamu jahat sekali Zion.”


“Bukan aku. Tapi kamu! Kamulah yang menyakiti Lexa selama ini!”


“Apa maksudmu?”


“Jangan berpura-pura bodoh!”


☆☆☆


Entah siapa yang gelisah.


Apakah Zion? Atau Tiara?


Zion menggenggam tangan Lexa. Mengusapnya dengan lembut.


Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini. Cepatlah sadar, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu!


Saat ini Zion hanya bisa berdoa dan menunggu.


Menunggu tes DNA itu dapat dilakukan dan menunggu Lexa sadar.


Zion sendiri sangat yakin kalau itu bukan anaknya. Meskipun tidak ada yang mempercayainya, dia tidak peduli.


Sudah jelas-jelas dia banyak skandal dengan para pria. Bisa saja itu anak salah satu dari mereka.


Hanya Lexa saja yang akan menjadi ibu dari anak-anakku!


Teringat Lexa yang ternyata tidak sedang mengandung anak dari pria lain membuatnya senang.


Lexa hanya milikku!


Tetap saja dia percaya diri.


Namun teringat akan isi buku harian itu membuatnya geram dan mengepalkan tangan, rahangnya mengeras dan giginya saling beradu.


Sialan!


Aku harus membereskan Tiara secepatnya!


Zion lalu menghubungi Aron.


“Awasi wanita itu diam-diam.”


Dia juga mengirim pesan rahasia kepada Aron.


Tidak ada yang bisa lepas dariku!


☆☆☆


Orang-orang suruhan Zion tengah melakukan tugas yang diberikan oleh bos besar mereka.


Ada yang sedang mengawasi Tiara, ada juga yang sedang melakukan tugas penting lainnya. Semua dilakukan secara diam-diam tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.


Seperti biasa, Zion tetap menunjukkan ketenangannya menghadapi permasalahan Tiara.


“Kenapa kamu selalu ada di sini?” tanya Hannie.


“Menunggui istriku, tentu saja!”


“Suami gadungan!”


“Aku tidak ingin bertengkar dengan wanita hamil!”


“Yakin? Kamu sendiri bertengkar dengan Tiara, yang juga sedang mengandung.”


“Ck, itu beda persoalan!”


“Sama saja!”


“Kalau kamu ke sini hanya ingin mengajak aku bertengkar, lebih baik keluar saja!” perintah Zion.


“Kamu saja yang keluar! Lagi pula aku bekerja di rumah sakit ini.”


Zion tidak menghiraukan perkataan Hannie. Dia masih melanjutkan pekerjaannya dengan leptop.


Hannie duduk di sofa yang lain sambil memakan buah-buahan yang ada di kamar itu. Di ruangan tunggu itu hanya ada mereka berdua, tetapi tidak membuat Hannie gentar.


Sebelumnya dia bergantian berjaga dengan David dan Yosuke. Mereka tidak ingin meninggalkan Lexa berdua saja dengan pria itu. Entah apa yang akan dilakukan Zion jika mereka meninggalkan Lexa.


☆☆☆


Hari demi hari berganti.


Hati yang resah masih tetap gelisah.


Gelisah dengan keadaan perempuan yang masih terbaring tak berdaya.


Setiap orang membisikkan kata-kata cepatlah sadar di telinganya. Air mata masih keluar. Doa terus dipanjatkan.


Entah kapan keajaiban itu datang.


Wajah itu masih terlihat pucat dan semakin kurus.


Orang tua mana yang tak hancur melihat anak semata wayangnya seperti ini?


Sahabat mana yang tak bersedih melihat sahabatnya seperti ini?


Pria mana yang tak terluka melihat orang yang dicintainya tak kunjung sadar.


David memandangi wajah Lexa dan mengecup kening gadis itu.


Tolong jangan menakutiku seperti ini, Lexa!


Di lain waktu, Zion menggenggam tangan Lexa juga mengecup kening gadis itu.


Tolong jangan hukum aku dengan cara seperti ini, Lexa!


Dua hati pria itu sama-sama bersedih.


Yang satu merasa sedang ditakuti-takuti.


Yang satu lagi merasa dihukum.


Keduanya sama-sama merasa bersalah.


Yang satu merasa bersalah karena tak mampu melindungi lebih baik lagi.


Andai saja saat itu dia datang lebih cepat. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Yang satu lagi merasa bersalah karena menjadi penyebab kecelakaan itu terjadi.


Andai saja saat itu dia dapat mengontrol diri. Mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Tapi inilah yang namanya takdir!


Tidak dapat diprediksi.


Tidak dapat dihindari.


Semua yang terjadi sejak awal adalah takdir. Meskipun menyakitkan, namun tetap harus dijalani.


.


.


.


.


.


Hayoooo ... maunya Lexa baikan dan tetap sama Zion atau sama David? Atau enggak usah sama dua-duanya biar adil, gitu?


Jangan galau n jangan labil!


Wkwkwkkk