ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
131 AIR MATA



"Jangan bicara sembarangan kamu!" bentak Zion.


"Sabar Zi, Xa."


"Selama ini aku kurang sabar gimana sama dia. Semua yang bisa aku lakukan, aku lakukan untuk dia, yang bisa aku kasih, aku kasih buat dia. Apalagi kekurangan aku? Kurang ganteng? Kurang kaya? Kurang terkenal?"


Nafas Zion naik turun.


"Kamu enggak pernah ngertiin aku!"


"Apa yang tidak aku mengerti dari kamu? Kamu yang enggak pernah ngertiin aku!"


"Sabar Zi, kamu jangan ikut-ikutan emosi."


Nafas Lexa mulai tersengal dan pingsan seketika.


"Lexa!"


Mereka terlihat panik dan langsung menghampiri Lexa. Zion mengangkat tubuh Lexa dengan tangan gemetaran.


"Baringkan di sofa."


"Bawa ke kamar."


Andre dan Samuel berucap bersamaan.


"Langsung saja ke rumah sakit!" perintah Hannie dan Yosuke.


Saking paniknya mereka malah ribut sendiri kemana Lexa harus dibawa. Mereka bergegas ke rumah sakit menggunakan tiga mobil. Hannie, Yosuke, Zion dan Lexa ada dalam satu mobil.


Zion semakin terlihat panik saat melihat wajah Lexa yang semakin pucat dan bibir yang membiru.


"Lebih cepat Yos!" teriak Zion.


Maafin aku, Xa.


Zion terus meminta maaf dalam hatinya, dia tidak pernah menyangkan akan seperti ini jadinya. Seharusnya dia bisa lebih bersabar dan menahan emosinya.


Yosuke bahkan sudah sering mengingatkannya agar Lexa jangan sampai setres.


Untung saja jalanan tidak macet, jadi mereka bisa tiba dengan cepat dan selamat.


Melihat Yosuke dan Hannie yang turun dengan tergesa-gesa dari dalam mobil, membuat para petugas langsung membawa brankar dengan sigap.


Zion membaringkan tubuh Lexa dengan hati-hati. Wajah itu semakin pucat dan bibir membiru ditambah tubuhnya yang mendingin.


Yang lain sudah menyusul mereka di belakang.


Lexa segera dibawa ke ruang UGD. Zion ingin sekali ikut masuk, tapi dia tahu itu tidak bisa.


"Kenapa jadi seperti ini?"


Detik berganti menit, bahkan sudah satu jam tapi dokter belum juga keluar.


"Mereka tidur atau apa sih?"


Zion semakin frustasi. Mereka bahkan lupa untuk menghubungi para orang tua. Kira-kira setengah jam kemudian dokter baru keluar dengan raut wajah yang sulit untuk dijabarkan.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


Dokter menghela nafas sesaat. Terlihat dokter itu cukup lelah dengan sedikit keringat membasahi keningnya.


"Begini, keadaan nona Lexa ... "


Bukan hanya Zion, bahkan yang lain seperti kekurangan pasokan oksigen. Zion mulai terisak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Yang lain juga ikut-ikutan menangis sambil berpelukan.


"Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan."


Satu jam kemudian ...


Lexa masih tidur nyenyak karena efek obat. Wajahnya masih terlihat pucat namun bibirnya tidak lagi biru.


Zion masih menangis sambil menggenggam tangan Lexa. Tidak lama kemudian Lexa bangun. Dia merintih pelan saat merasakan denyutan di kepalanya.


"Alhamdulillah kamu bangun."


Zion langsung memeluk Lexa.


"Maafin aku yang sudah buat kamu seperti ini, yang sudah marah-marah sama kamu. Aku janji tidak akan seperti itu lagi."


Lexa melihat wajah Zion yang sembab, bahkan yang lain juga terlihat habis menangis.


"Aku sakit apa? Bentar lagi aku mati ya?"


DEG


"Kamu ngomong apaan sih, Yang. Jangan ngaco deh."


"Terus kenapa kalian nangis seperti itu? Aku mau minta maaf sama kalian, kalau selama ini aku sudah sering nyusahin kalian. Tapi sebelum aku pergi, aku ingin melihat kalian menikah dan memiliki anak."


Lexa menatap mereka yang masih jomblo.


"Jangan bicara yang aneh-aneh gitu dong, Xa."


Hannie ikut-ikutan terisak. Mendengar perkataan sahabat tersayangnya itu membuat dia jadi sedih dan kalut. Dia jadi tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Perlahan mata Lexa terpejam, efek obat yang diberikan dokter memang sangat kuat membuat dia kembali mengantuk.


Zion dan yang lain ikut tertidur dengan posisi yang sudah tak karuan. Perawat masuk memeriksa infus Lexa dan melihat keadaan kamar itu bagai tempat penampungan orang-orang terlantar.


Menjelang malam, Lexa terbangun. Dilihatnya yang lain tidur dengan awur-awuran. Zion sendiri tidur dikursi sebelah brankarnya dengan tangan menggenggam tangan Lexa.


Zion hanya menggerakan badannya, lalu perlahan membuka matanya.


"Kamu kenapa Beb, apanya yang sakit?"


"Aku lapar."


"Kamu mau makan apa?"


"Apa saja lah."


Yang lain ikut terbangun mendengar pembicaraan Lexa dan Zion.


"Kalian mau makan apa?"


"Sate kambing."


"Soto."


"Pecel ayam."


"Burger."


"Pizza."


"Sate padang."


"Nasi padang."


"Ayam bakar."


"Tongseng."


"Capcay."


Zion mendengus mendengar jawaban serempak namun berbeda itu.


"Pesan masing-masing lah, biar enggak ribet."


Selain Zion, hanya Samuel dan Ryu saja yang membawa ponsel.


Makanan yang mereka pesan akhirnya tiba di waktu yang hampir bersamaan. Mereka tetap memakan apa yang mereka inginkan dengan lesehan.


Zion memaksa untuk menyuapi Lexa hingga makanan Lexa habis. Dapat Lexa lihat wajah yang cemas pada diri Zion. Lexa menghela nafas berat. Inilah yang membuat dia malas berhubungan dengan rumah sakit. Perlahan air matanya menetes. Dia teringat akan orang tuanya. Siapa yang akan merawat orang tuanya saat mereka sudah semakin tua dan dia sudah tidak ada di dunia ini lagi?


"Ben kok kamu nangis?"


Lexa semakin terisak.


"Aku kasihan sama orang tua aku!"


Tangisan Lexa semskin kencang.


"Memang ayah bunda kenapa?"


"Bukan mereka yang kenapa-kenapa, tapi aku! Umur aku sudah enggak panjang lagi, aku tahu aku sakit parah. Nanti siapa yang menjaga mereka."


"Jangan ngomong sembarangan, Beb!"


"Udah deh jangan bohongin aku terus. Dulu kalian bilang aku enggak kenapa-kenapa tapi aku tahu kalau rahim aku bermasalah. Sekarang mau bohongin aku lagi?"


"Kamu tenang dulu, Beb ... "


"Gimana aku bisa tenang! Kamu memang enggak pernah ngerti apa yang aku rasakan."


"Iya, aku banyak salah sama kamu, tapi kamu tenang dulu ya."


Lexa masih saja terisak. Zion berusaha menenangkan Lexa.


"Nanti aku dikuburinnya disamping baby Arion, ya!"


"Ya Allah, Yang ... kamu jangan ngomong sembarangan dong! Jangan tinggalin aku sendiri!"


Zion ikut menangis memeluk Lexa. Yang lain hanya diam dan saling memandang melihat interaksi pasangan suami istri itu.


Hannie mendekati Lexa dan memeluk sahabat yang sudah dia anhgap sabagai saudaranya sendiri.


"Jangan bicara yang aneh-aneh lagi ya, Xa. Aku enggak mau dengar."


Lexa mulai mengatur nafasnya. Walau berat tetap harus dia terima, pikirnya.


"Kalau aku sudah enggak ada, kalian tolong jaga ayah dan bunda aku, ya."


Kini yang lain menghela nafas dan mengangguk, tidak ingin membuat Lexa semakin setres.


"Jangan cerita tentang keadaan aku pada ayah bunda juga mommy daddy!"


"Tapi Xa ... "


"Aku tidak ingin membuat mereka khawatir, apalagi mereka sudah semakin tua. Begitu juga dengan kakek nenek."


"Xa ... "


"Tolong!"


"Iya, kamu tenang saja. Kami akan bilang keadaan kamu baik-baik saja dan sehat selalu. Jangan khawatir, orang tua kamu orang tua kami juga jadi kami berjanji akan merawat mereka," janji David.


Pintu terbuka, dokter dan perawat masuk untuk memeriksa kondisi Lexa.