
Hujan membasahi kota. Zion menyandarkan kepalanya di sisi brankar Lexa. Nafasnya menyapu kulit tangan Lexa yang tidak ditutupi oleh selimut. Zion mengambil tangan Lexa. Meletakkan telapak tangan wanita itu di atas pipi Zion.
“Ayo kita pulang ke rumah!” bisiknya.
“Ayo cepat bangun! Kalau tidak nanti aku cium, loh!”
Zion berdecak kesal. Ancaman itu ternyata tidak berlaku saat ini.
“Kapan kita punya anak empat kalau kamu terus tidur seperti ini?”
Zion terus mengajak Lexa berbicara.
“Apa sih yang kamu mimpikan sampai kamu tidak mau bangun?”
“Kamu masih menyimpan Leon dan Zioxa?”
Zion tertawa kecil saat mengingat kedua boneka itu.
“Nanti aku berikan boneka panda yang ukurannya lebih besar dari kamu.”
Entah apa lagi yang harus dia katakan pada Lexa agar istrinya itu mau bangun.
“Kamu mau makan apa setelah bangun nanti? Es krim, coklat, roti bakar, salad, nasi goreng seafood? Aku akan membuatkannya untuk kamu!”
“Kamu mau shopping? Keliling dunia? Oya, aku kan kasih kapal pesiar untuk hadiah ulang tahun kamu. Ayo nanti kita keliling dunia dengan kapal pesiar itu! Lucu kali ya, Xa, kalau anak kita nanti lahir di kapal itu?”
Zion terus saja berbicara sambil mengkhayal tanpa sadar banyak yang mendengar perkataannya.
Orang tua Lexa dan Zion bersedih melihat putra dan putri mereka seperti ini.
Yang satu berbaring tak berdaya. Yang satu lagi terlihat sangat rapuh dan putus asa.
☆☆☆
Tiara kembali berkeringat padahal ruangan ini cukup dingin. Dia meminum susu hamil yang sudah dibeli oleh salah satu bodyguard.
Tidak ada pekerjaan yang dia lakukan selama di rumah ini. Semua sudah dilakukan oleh asisten rumah tangga. Yang dilakukannya hanya bersantai-santai. Makan tidur nonton tv. Seperti itu terus setiap hari.
Dia benar- benar seperti nyonya rumah yang tidak pernah kedatangan tamu apalagi menunggu suami pulang.
Tidak ada pesan yang disampaikan oleh bodyguard dari siapapun untuknya. Tidak ada yang mengkhawatirkan dirinya dan bayinya.
Tiara menggigit bibirnya dan mencoba menahan semua gejolak di hatinya. Dia tidak ingin pasrah begitu saja.
Perempuan itu teringat masa kecilnya meski dia tidak ingin. Bagaimana pertama kalinya dia bertemu dengan Lexa dan Zion. Lexa yang berwajah sangat cantik dan Zion yang berwajah sangat tampan meski mereka masih kecil.
Teringat bagaimana seringnya dia di bully. Lexa yang selalu mengajaknya bermain saat dia ikut kakeknya ke mansion milik orang tua Lexa. Lexa sering memberikannya hadiah. Boneka, mainan masak-masakan, buku, tas, sepatu.
Mengajaknya jalan-jalan baik berdua saja ataupun bersama Zion.
Sedangkan Zion akan membelikan Lexa banyak barang. Lalu Lexa akan membelikan barang yang sama untuk Tiara.
Barang yang sama namun dari orang yang berbeda.
Tiara tidak akan banyak bicara jika berama Zion dan Lexa, karena pada dasarnya dia memang anak yang pendiam. Tiara hanya akan mendengarkan saat Zion dan Lexa berbicara. Akan menjawab jika ditanya.
Dia akan seperti dayang yang mendampingi sang raja dan ratu.
Lexa juga sering menceritakan tentang David dan Hannie padanya. Dua orang teman Lexa yang selalu bermain bersamanya di sekolah.
Lexa tidak pernah bercerita pada Tiara bagaimana status sosial David dan Hannie. Begitu juga sebaliknya, saat menceritakan tentang Tiara pada Hannie dan David, Lexa tidak pernah menceritakan tentang status sosial Tiara. Lexa hanya mengatakan ‘sahabatku’ pada mereka.
☆☆☆
Tiara meminta salah seorang bodyguard untuk mengantarnya ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Sebenarnya dia tidak kuat untuk pergi, tapi dia juga bosan kalau harus berada di rumah kecil itu terus menerus.
Bodyguard itu menghubungi Alex untuk menyampaikan informasi.
Tiara di kawal dengan ketat. Bukan seperti seorang putri bangsawan, tapi lebih seperti seorang tahanan. Kalau pengawal putri bangsawan akan menundukkan kepalanya memberi hormat, maka pengawal tahanan akan bersikap galak dan angkuh.
“Apa ada keluhan?” tanya dokter.
Setelah melakukan USG, Tiara di bawa ke ruangan VVIP itu agar semua orang dapat mendengarkan penjelasan dokter dan untuk membahas masalah tes DNA.
“Saya sering demam dan kelelahan dan pegal meskipun tidak melakukan apa-apa. Sakit tenggorokan, sakit kepala juga ruam kulit dan batuk kering. Hmmm ... saya juga muntah-muntah dan diare!”
Dokter mengernyitkan keningnya.
“Maaf sebelumnya dengan pertanyaan saya ini. Apa Anda sering berganti-ganti pasangan atau menggunakan jarum suntik bergantian?”
Pertanyaan dari dokter itu membuat yang lain langsung memandang Tiara.
“Tidak, Dok! Memangnya ada apa ya? Apa setiap wanita hamil akan mengalami hal ini?”
“Saya curiga Anda mengalami PMS atau penyakit menular seksual. Gejala-gejala yang Anda sebutkan tadi hampir sama dengan gejala HIV. Gejala HIV itu seperti gejala flu yang dapat dikenal sebagai sindrom retroviral akut (ARS). Seperti demam yang berupa kelelahan, pembengkakan pada kelenjar getah bening dan sakit tenggorokan. Pegal, nyeri otot dan sendi. Sakit kepala. Ruam kulit. Mual, muntah, diare, penurunan berat badan. Batuk kering. Pneumonia. Keringat malam meskipun tidak melakukan kegiatan apapun. Perubahan pada kuku seperti bentuk dan warna. Infeksi jamur. Kebingungan atau kesulitan konsentrasi. Herpes mulut dan herpes kelamin. Kesemutan dan kelemahan. Juga ketidak teraturan menstruasi,” dokter mejeda perkataannga sebelum melanjutkan.
“Tapi gejala yang saya sebutkan tadi bukan berarti selalu berhubungan dengan HIV. Jadi belum pasti terkena, ya! Tetap harus dilakukan cek darah terlebih dahulu.”
Kini jantung Tiara berdetak keras. Dia belum pernah setegang ini. Dia meremas tangannya.
“Sebaiknya segera dilakukan pengecekan agar bisa ditangani dengan cepat. Sebab HIV bila tidak segera diobati akan menjadi penyakit baru salah satunya bisa menjadi AIDS!”
Zion dan Lexa saling melirik. Hal itu tidak lepas dari pengawasan orang-orang yang ada di ruangan itu.
“Saya akan merekomendasikan dokter yang tepat untuk Anda!”
Tiara hanya diam. Dia memejamkan matanya. Pikirannya menjadi kacau.
Hari itu juga Tiara langsung melakukan tes darah. Prosesnya cepat dan hasilnya juga langsung keluar.
Tiara dinyatakan positif mengidap HIV.
“Harus dilakukan tes lagi tiga bulan ke depan untuk mengetahui apakah Anda telah terkena AIDS atau belum. Tolong jaga pola hidupnya. Makan makanan yang sehat dan berolah raga. Untuk wanita hamil di sesuaikan saja bentuk olah raganya.”
Tiara ingin menanyakan kondisi janinnya apakah akan atau telah terkena juga tapi pikirannya sendiri sudah sangat kalut.
Bahkan dia berpikiran untuk menggugurkan saja janinnya itu.
Rasa terkejut itu tentu saja bukan hanya untuk Tiara. Zion dan yang lain juga sangat kaget.
“Sebaiknya kamu juga melakukan pemeriksaan, Zion!” ucap mommy Zion.
Bagi David cs, ini adalah karma bagi Zion. Sebenarnya mereka tidak mau tertawa di atas penderitaan orang lain. Tapi mengingat penderitaan Lexa selama ini, rasanya apa yang dialami oleh Zion sangat pantas.
.
.
.
Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penjelasan gejala-gejala HIV. Aku juga baca banyak artikel dulu.