
Kenzo membuka matanya perlahan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi dan dimana dia berada sekarang. Dia mulai menggerakan kepalanya dan melihat kesekeliling.
Lexa dan yang lain nampaknya belum menyadari bahwa Kenzo telah sadar.
"Ahhh ... " rintih Kenzo saat merasakan sakit di bagian pinggangnya.
"Kenzo sadar!"
Mereka langsung menghampiri Kenzo untuk melihat keadaannya.
Hannie langsung menekan tombol untuk memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter dan seorang perawat datang.
"Kondisinya baik-baik saja tapi kita tetap harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat apakah ada cedera otak dan sebagainya."
Sementara Kenzo sudah sadar, di sampingnya David masih belum sadarkan diri.
Lexa menatap David penuh kesedihan.
Cepatlah sadar, bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu menjagaku?
☆☆☆
Sudah dua hari sejak kecelakaan itu terjadi Lexa tidak pulang ke rumah, selama itu dia berada di rumah sakit untuk menjaga David. Selama itu juga Zion terus menghubunginya.
Hari itu juga Zion sudah tahu dari anak buahnya kalau David dan asistennya mengalami kecelakaan. Zion ingin menyeret Lexa pulang, mengatakan kalau seharusnya dia menemani suaminya, bukan mantan pacarnya. Tapi dia membiarkannya, bukan karena dia lembek. Dia hanya ingin Lexa sadar sendiri tetapi sepertinya sulit.
Ini yang terakhir kalinya Lexa, setelah ini aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Jika malam ini kamu tidak pulang juga, jangan salahkan aku jika bertindak kejam!
Aku tahu pernikahan ini tanpa cinta, tapi tidak bisakah kita saling menghargai?
Apakah aku harus bermain kasar?
Haruskah aku menunjukkan kekejamanku yang sesungguhnya?
Apakah kamu ingin aku benar-benar menjadi pembunuh?
Zion melempar ponselnya yang sejak tadi berbunyi, yang membuatnya kesal adalah yang menghubunginya adalah para wanita sialan itu.
Para wanita itu tidak peduli kalau Zion sudah menikah. Siapa yang akan melepaskan tambang emas?
Tidak apa tidak dinikahi secara sah, menjadi simpananpun sudah sangat bagus, apalagi kalau sampai memiliki anak. Darah lebih kental dari pada air, begitulah pikiran mereka. Jika anak mendapatkan kemewahan dan fasilitas dari ayah, maka ibunya akan ikut menikmatinya. Padahal belum tentu! Bisa saja anak diambil, ibunya ditendang!
☆☆☆
David akhirnya sadar juga. Sama seperti Kenzo, dia melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mereka merasa lega saat mengetahui bahwa hasil pemeriksaan David dan Kenzo menunjukan bahwa mereka baik-baik saja. Yang lain bernafas lega, benar-benar lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Mobil kami tiba-tiba oleng, saat akan mengerem, ternyata remnya tidak berfungsi."
"Polisi sudah menyelediki kecelakaan itu, kita tinggal menunggu hasilnya saja."
"Sebaiknya suruh orang kita saja untuk menyelidiknya!"
"Apa kamu pikir ini ada unsur kesengajaan?"
"Bisa saja kan!"
Mereka masih berdiskusi di dalam kamar rawat tersebut.
☆☆☆
Suara deru mesin mobil terdengar dari kejauahan.
"Dari mana saja kamu?"
"Bukan urusan kamu!"
"Aku ini suami kamu, Lexa."
"Hanya di atas kertas."
"Ingat pernikahan kita sah secara hukum dan agama!"
"Terus?"
"Bersikaplah sebagai seorang istri!"
"Kamu lupa dengan kesepakatan kita? Jangan mencampuri urusanku, jangan mengaturku!"
"Kamu ... "
"Kalau kamu menyesal, kita bisa langsung bercerai saat ini juga. Dengan senang hati aku akan menanda tangani surat perceraian itu."
"Jangan harap!"
"Kalau begitu bersikap baiklah selama satu tahun ini. Aku mau istirahat, jangan ganggu aku!"
Lexa langsung menuju kamarnya dan mengunci pintunya.
Kepala mereka sama-sama terasa dakit dan berdenyut-denyut.
Tidak ada senyum
Tidak ada tawa
Yang ada hanya tatapan sinis, cibiran dan pertengkaran.
Kapan cinta itu akan datang diantara dua manusia itu?
☆☆☆
Satu minggu kemudian Ken dan David sudah dibolehkan pulang.
"Polisi mengatakan kalau kecelakaan ini terjadj akibat kerusakan mesin, tidak ada unsur kesengajaan."
"Tapi kita tetap harus menyelidikinya sendiri."
"Orang-orang kita masih menyelidikinya."
Sementara itu Zion sudah menyiapkan bulan madunya bersama Lexa. Mereka akan pergi ke Turkey selama dua minggu. Lexa tidak menolaknya, bukan karena dia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Zion, tapi karena ada urusan pekerjaan di sana.
Mereka berdua berusaha menyelesaikan pekerjaan yang ada sebelum pergi ke Turkey.
Mereka juga harus ke Surabaya dan Bima untuk memantau pembangunan hotel disana. Tidak ada waktu untuk mereka memperdebatkan maalah pribadi, keduanya sama-sama sibuk. Bukan karena pernikahan, tetapi pekerjaanlah yang menyatukan mereka.
Hingga tiba waktunya mereka pergi ke Turkey. Kalau dulu Lexa menikmati sunrise bersama David saat akan ke Korea, maka kini Lexa menikmati sunsite bersama Zion dari dalam jet pribadi.
Perlahan matahari mulai tenggelam. Makan malam disajikan dihadapan mereka. Mereka makan dalam diam.
Jam sembilan, perlahan mata Lexa mulai meredup. Setelah yakin Lexa sudah tertidur lelap, Zion menggendong tubuh Lexa dan membawanya ke kamar. Zion membaringkan Lexa di atas kasur dan membuka sepatunya.
Zion menoel-noel pipi Lexa, ingin tahu apakah Lexa akan terganggu atau tidak. Tapi tidak, Lexa sangat pulas dalam tidurnya, entah apa yang dia mimpikan.
Zion lalu mengecup puncak kepala, kening, pelipis, hidung, pipi, dan bibir Lexa.
Kesempatan dalam kesempitan!
Kalau Lexa tahu, sudah dapat dipastikan kalau dia akan langsung mencabik-cabik Zion.
Tapi kan Lexa tidak tahu, dan Zion tidak akan meninggalkan barang bukti sedikitpun.
Zion lalu membaringkan dirinya sendiri di sisi Lexa dan menutupi dengan selimut tebal.
Zion menatap Lexa dalam tatapan yang dalam, lalu dia senyum-senyum sendiri.
Oke Zion, satu langkah sudah kamu lakukan. The true game is begin, lets play and be the winner!
Pagi-pagi sekali, tepatnya jam empat tiga puluh Zion terbangun. Dia segera merapihkan bagian tempatnya tidur, lalu keluar dari kamar.
Satu jam kemudian Lexa terbangun dan menyadari kalau dirinya sudah ada di dalam kamar. Dia melihat keadaan dirinya sendiri.
Aman!
Dia lalu keluar kamar, dan melihat Zion tertidur nyenyak di kursi. Perlahan Zion membuka matanya, mengulet dan menguap. Entah itu akting atau tadi dia memang tidur lagi.
"Apa yang kamu lakukan padaku?"
"Memangnya apa yang aku lakukan padamu?"
"Jangan balik bertanya!"
"Aku tidak melakukan apapun padamu!"
"Bohong! Kamu kan yang membawaku ke kamar?"
"Aku menyeretmu ke kamar!"
Lexa mendengus kesal.
☆☆☆
Mereka tiba di bandara dan langsung menuju apartemen mewah milik Zion.
Apartemen milik Zion ada di lantai 49. Berlantai dua, memiliki kolam renang, ruang fitnes dan segala fasilitas mewah lainnya.
"Dimana kamarku?"
"Kamu pilih saja yang kamu suka!"
Ada enam kamar tidur disana. Lexa memilih kamar yang menghadap pusat kota Turkey, jika malam maka lampu-lampu akan menghiasi kota itu dan akan terlihat indah dari kamar Lexa.
Sementara Zion sendiri kamarnya ada di sebelah kamar Lexa.
Lexa melihat keramaian kota Turkey dari kamarnya, sementara Zion sibuk dengan ponselnya sesekali melirik arah kamar Lexa yang dibatasi dengan tembok, lalu tersenyum.
Entah ada rencana apa di dalam otaknya, yang dia tahu selama.ini dia belum pernah gagal!