
Setiap hari bunda Lexa terus saja menghubungi putri bungsunya itu, menyuruhnya untuk kembali ke Jakarta namun tidak dihiraukan olehnya.
Ayahnya juga selalu membujuk. Lexa benar-benar takut untuk pulang. Sejak kejadian itu Lexa sangat membenci taman. Dia ingin melupakan semua kenangan itu namun ternyata tidak bisa.
Sudah lima tahun berlalu.
Lima tahun yang diisi dengan dendam yang tak reda.
Lima tahun yang dipenuhi oleh ketakutan dan trauma yang tak hilang.
Lima tahun yang mengharuskannya selalu bertemu dengan psikiater dan psikolog.
Bahkan dia sering berteriak histeris mengatakan kalau dirinya tidak gila pada psikolog dan psikiater itu.
Saat dia tidak berhenti berteriak maka obat penenanglah yang akan menjadi lawannya.
Saat dia sudah mulai bisa mengurangi obat penenang, tiba-tiba saja ayahnya menelepon menyuruhnya untuk pulang, kalau tidak maka jangan lagi menganggap mereka orang tuanya.
“Baiklah, aku akan pulang!”
Lexa berusaha menahan emosinya agar tidak menangis meskipun suaranya bergetar.
☆☆☆
“Aku akan pulang ke Jakarta!” ucapannya mengagetkan semuanya.
“Apa?”
“Ayah dan bunda menyuruhku untuk pulang. Aku tidak bisa lagi menghindar!”
“Tapi ... “
“Hanya tiga hari saja. Setelah itu aku akan ke sini lagi!”
Butuh waktu dua bulan bagi Lexa menyiapkan hatinya.
Maka pulanglah dia didampingi oleh Yosuke.
David dan Hannie tidak bisa mendampingi karena masih ada pekerjaan yang penting.
Sebenarnya mereka lebih memilih Lexa dari pada pekerjaan tapi Lexa meyakinkan mereka kalau dia hanya akan sebentar saja di Jakarta.
Sesampainya mereka di Jakarta, Lexa dan Yosuke bersikap sebagai orang yang tidak saling mengenal.
Di sore itu, pertama kali Lexa tiba di Jakarta, saat dia berjalan-jalan di mall tiba-tiba saja dia bertabrakan dengan seseorang. Dia langsung ketakutan namun berusaha menutupinya dengan marah-marah.
“Kalau jalan lihat-lihat, bodoh!”
“Hey, kamu yang ... “
DEG!
Sura itu?
Itu suara Zion. Meski sudah lima tahun lebih berlalu, namun Lexa tidak mungkin lupa dengan suara itu. Tanpa memandang Zion, Lexa langsung berjalan dengan angkuh menuju cafe.
Di cafe itu Lexa menghubungi Yosuke, mengajaknya untuk bertemu.
Sepulangnya dari mall, Lexa langsung ke hotel tempat Yosuke menginap. Lexa menceritakan semuanya. Yosuke berusaha menenangkan Lexa yang tidak berhenti gemetaran. Ini baru hari pertama tapi dia sudah langsung bertemu dengan Zion dan reaksinya sudah seperti ini. Bagaimana kalau dia harus terus berada di Jakarta?
Bisa-bisa dia benar-benar gila dan bunuh diri!
Malam itu bundanya memberikannya gaun untuk makan malam bersama rekan bisnis ayahnya.
Siapa ya? Bukan keluarga Wilson, kan?
Lexa kembali cemas. Sepertinya keputusannya kembali ke Jakarta adalah kesalahan besar.
☆☆☆
Maka di pagi itu, di hari pertama dia ke perusahaan, bertemu lagi lah dia dengan Zion. Lexa nampak acuh dengan sibuk memainkan ponselnya. Dia mengirim pesan pada Yosuke, David dan yang lain.
Dia mendengar cerita nostalgia dua pria paruh baya itu.
Dia sama sekali tidak memandang Zion.
Dasar bastard, dia bersikap seolah tidak pernah berbuat kejahatan lima tahun yang lalu.
Saat mereka makan di restoran, ayah mereka membahas masa kecil Lexa dan Zion.
Bahkan kalau aku bisa, aku akan melupakan masa-masa itu. Aku menyesal telah mengenalnya.
Zion dan Lexa bersikap seperti orang yang tidak saling mengenal. Membuat bingung sang ayah. Tidak bertemu hanya lima tahun di usia remaja apa akan membuat mereka seperti tidak pernah mengenal dan saling melupakan? Itulah yang orang tua itu pikirkan.
Siang itu dia ke mall bersama pria arogan itu. Dia mati-matian menahan emosinya. Dia tidak ingin pria itu tahu akan kecemasannya.
Lalu datanglah seorang wanita, yang tentu saja Lexa merasa sangat bersyukur.
Apakah dia senang menyakiti hati wanita, apa semua itu membuatnya bangga?
Dia pikir semua wanita akan tergila-gila padanya?
Aku menyesal telah menjadi sahabatnya.
Aku menyesal telah menyukainya.
Lagi-lagi Lexa menemui Yosuke secara diam-diam.
Malamnya, sebuah pernyataan yang membuat dunia Lexa kembali gelap, setelah lima tahun dia berusaha mengobati luka batinnya.
Dia di jodohkan dengan Zion!
Dia berusaha menolak.
Dia telah menyakiti aku lahir batin.
Apa dia pikir aku akan dengan senang hati menjadi istrinya?
Aku tidak akan pernah ikhlas menjadi istrinya.
Akhirnya dia membuat kesepakatan itu.
Lihat saja, selama satu tahun ini aku akan menunjukkan siapa aku. Jangan harap aku akan menjadi istri yang berbakti. Apa kamu pikir aku tokoh fiksi yang ada di novel atau film? Yang hanya pasrah dengan keadaan. Aku tahu skandalmu. Apa kamu pikir aku hanya akan meratapi nasib dan memaafkan kamu begitu saja hanya karena pesonamu? Lihat saja, aku pasti akan membalasmu!
Yang paling menyesakkan Lexa adalah dia terpaksa membuat perjanjian dengan orang tuanya.
Sialan kamu Zion, kamu sudah membuat aku bersikap seperti anak durhaka karena melakukan kontrak dengan orang tuaku sendiri.
David dan yang lainnya akhirnya datang dan kembali menyusun rencana untuk mengacaukan semuanya.
☆☆☆
Setiap kali melihat wanita-wanitanya Zion, Lexa merasa kesal. Bukan karena dia cemburu.
Apa dulu aku terlihat seperti mereka? Mereka sepertinya sangat menyukai Zion, seperti aku dulu. Apa mereka akan bernasib sama denganku?
Apa pria itu sangat menyukai wanita-wanita seperti ini? Berpakaian seksi dan manja. Apa seleranya semenjijikkan ini?
Lexa akhirnya liburan bersama David ke Korea. Hanya berdua saja. David sangat tahu kalau Lexa begitu tertekan. Lexa sering menangis dalam pelukannya. Dia tidak ikhlas kalau Lexa harus menikah dengan pria itu. Dia ingin terus bersama Lexa.
Akhirnya Lexa kembali ke Jakarta tepat di hari pernikahan.
“Aku hanya tidak ingin membuat malu kedua orang tuaku!”
Lexa dan David datang dari Korea sedangkan yang lain datang dari Jepang.
Di hari pernikahan air mata itu tidak lagi dapat ditahan.
Dalam pelukan itu David dapat merasakan Lexa yang gemetaran dan dia memeluk Lexa semakin erat sambil mengecup puncak kepala Lexa dan menatap sinis Zion.
☆☆☆
Setelah pernikahan itu, diam-diam Lexa membeli obat penenang dan meminumnya secara berlebihan. Entah sudah berapa botol dan butir yang dia habiskan. Membuatnya menjadi kecanduan.
Saat makan bersama Hannie, gadis itu membisikkan sesuatu di telinga Lexa.
“Buat dia jatuh cinta padamu. Setelah dia benar-benar cinta, hempaskan dia. Sakiti dia seperti dia menyakiti kamu!”
“Bagaimana kalau David tahu?”
“Jangan sampai David tahu!”
Membuatnya jatuh cinta padaku?
Tentu saja!
Aku akan membuatnya mencintaiku dan melakukan apapun yang aku inginkan.
Aku akan membuatnya berpikir kalau aku mulai peduli lagi padanya.
Aku akan membuatnya berpikir kalau aku membutuhkannya.
Kamu akan masuk ke dalam perangkapku, Zion.
Kita lihat saja, dalam satu tahun ini, siapa yang akan menang, dan siapa yang kalah!
Aku bukan lagi Lexa yang dulu. Yang akan bersikap baik pada semua orang.
Kamu menyakitiku, maka aku akan menyakitimu!
Aku bisa saja menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang tidak aku cintai dan berusaha menjadi istri yang baik, bila pria itu bukan kamu. Menikah denganmu tidak akan membuatku menjadi istri yang berbakti!