
"Apa maksud Anda, Nona?"
"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa setiap aku terbangun, selalu berada di tempat ini? Hmmm ... badanku juga, kenapa jadi setinggi ini?"
Lexa menunduk, mengamati kaki dan tangannya yang baginya ukurannya seharusnya lebih kecil.
"Apa aku pergi ke masa depan dengan mesin waktu atau pintu ajaib, ya?"
Mereka melongo, mendengar kata-kata itu.
Sepertinya ada yang tidak beres.
"Apa kamu mengenal sahabat-sahabatmu?"
"Tentu saja. Ada Zion, David, Hannie dan Tiara. Aku juga kangen mau main sama mereka."
Dikatakan dengan tanpa beban. Sudah dua kali Lexa menyebut nama Zion dengan ekspresi senang. Tidak ada kemarahan apalagi benci.
"Sepertinya pasien mengalami amnesia dan alam bawah sadarnya juga hanya ingin mengingat hal-hal yang baik. Dia hanya ingat saat ini dia masih berumur sebelas tahun."
"Itu berarti dia masih kelas enam SD."
"Ada beberapa jenis amnesia. Tapi ini sangat unik, ada penderita yang melupakan kejadian beberapa tahun sebelum mengalami kecelakaan. Tapi mendengar perkataannya, waktu yang dia lupakan cukup jauh. Sekarang umurnya 24 tahun, tapi yang dia ingat adalah 11 tahun. Itu berarti dia melupakan semua kejadian selama 13 tahun belakangan."
"Apa?"
"Sepertinya Nona Lexa mengalami trauma psikis yang tidak ingin dia ingat."
"Itu betul. Sekarang yang jadi masalahnya adalah dia akan mengalami kebingungan yang besar. Secara fisik, tubuhnya adalah tubuh wanita dewasa yang berumur 24 tahun, tetapi pikirannya adalah pikiran anak kecil berumur 11 tahun. Ini harus ditangani secara serius."
Lexa sendiri tidak menyimak apa yang para orang tua itu katakan. Fokusnya ada pada tanyangan televisi yang menyajikan kartun anak-anak.
"Orang-orang yang ada disekitarnya harus memberikan pengarahan yang tepat. Tidak boleh juga memaksakan ingatannya untuk kembali."
"Apa yang akan terjadi kalau ingatannya kembali?"
"Tidak dapat dipastikan."
Lexa cekikikan saat film anak-anak itu ada yang lucu.
Wajahnya tanpa beban. Tidak ada gurat kesedihan sedikitpun.
Haruskah mereka merasa lega atau sedih.
"Lexa, aku Hannie!"
Lexa menoleh sambil berpikir.
"Wah, nama Tante sama dengan nama sahabatku."
"Jangan panggil aku tante, Lexa! Kita seumuran, usiamu bahkan dua bulan lebih tua dariku."
Lagi-lagi Lexa nampak berpikir.
"Jangan terlalu banyak berpikir dulu, istirahatlah!"
Mereka tahu kalau Lexa memiliki rasa penasaran yang tinggi. Dia akan terus bertanya hingga menemukan jawabannya.
Tugas mereka akan semakin berat. Mereka harus memberikan pengarahan secara perlahan kepada Lexa.
"Cari psikolog terbaik untuk mendampingi kami" perintah Alex.
"Lexa, aku David. Ini Hannie, Zion, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Malvin, Andre, Samuel dan Aron."
"Hai"
Lexa tersenyum dan melambaikan tangannya.
Zion menatap Lexa. Perasaannya campur aduk. Pikirannya terus bertanya ini itu.
Dia lupa kalau kami sudah menikah.
Tapi dia juga lupa semua kesalahan pahaman antara kami.
Dia juga lupa kalau pernah mencintaiku.
Haruskah aku bersyukur? Atau bersedih?
Apakah ini cara Allah untuk memperbaiki hubungan kita, Lexa?
Kalau kamu lupa, ayo kita memulai kembali.
Akan aku buat kamu mencintaiku lagi.
Tapi apa jadinya kalau kamu ingat semua kejadian itu?
Apa kamu akan tetap membenciku?
Apa masih ada rasa cinta itu, untukku?
Zion menghela nafas berkali-kali.
☆☆☆
Lexa sudah boleh pulang. Psikolog juga selalu mendampingi Lexa dan memberikan pengarahan. Bukan hanya pengarahan untuk Lexa, tapi orang-orang disekitarnya yang berbicara dengan Lexa.
"Jadi kapan aku bisa sekolah lagi? Aku ingin bermain dengan David dan Hannie. Aku juga mau bertemu dengan Zion dan Tiara."
Sekolah?
"Nona Lexa. Nona sekarang sudah tidak sekolah lagi. Sekarang umur Anda 24 tahun."
"Bagaimana bisa?"
"Benarkah?"
"Iya. Saya disini untuk mendampingi Anda, jangan khawatir. Jalani semuanya dengan santai. Jangan memaksakan diri untuk mengingatnya!"
Lexa mengangguk meskipun dia tidak paham.
Dalam benaknya masih banyak pertanyaan.
Dia mengamati sekitarnya. Benar, ini adalah rumahnya.
☆☆☆
Lexa sibuk makan es krim dan coklat. Cara makan dan gerak-geriknya menunjukkan sikap seorang anak-anak.
Bermain boneka, main masak-masakan, nonton film kartun.
Mereka memandang Lexa dengan sedih.
"Om Zion, Tiara kemana?"
Zion mendengus kesal.
"Mana aku tahu, memangnya aku pengasuhnya?"
"Ish, Om galak amat."
"Tante Hannie ... "
"Berhenti memanggil tante dan om, Lexa!" ucap Hannie.
Lexa memanyunkan bibirnya.
Meskipun sudah diberitahu tahu kalau umurnya sudah 24 tahun, tapi Lexa tetap tidak bisa menerima begitu saja.
Tetap saja yang dia rasakan adalah jiwa gadis berumur sebelas tahun. Merekalah yang harus bersabar menghadapi Lexa dan membimbingnya secara perlahan. Untuk itulah psikolog selalu ada di sekitar mereka. Agar mereka tidak ikut-ikutan setres.
"Aku kan hanya ingin Zion, David, Hannie dan Tiara berkenalan."
Mendengar nama Tiara selalu saja membuat hati mereka kesal. Tapi itu juga bukan salah Lexa. Dia kan tidak ingat apa-apa.
Lexa mendengar ayahnya dan ayah Zion membicarakan bisnis. Tanpa sadar Lexa bergumam.
"Akuisisi saja! Nanti juga harga sahamnya bisa naik!"
Mereka terperangah.
Bagaimana bisa Lexa memahami hal-hal seperti itu. Seolah dia sudah sangat profesional di bidangnya.
"Apa Anda, ingat sesuatu Nona?"
"Ingat apa?"
"Soal perusahaan?"
"Tidak."
Hannie merasa gregetan. Dia lalu menanyakan beberapa pertanyaan yang menyangkut pelajaran anak SMP dan SMA dan Lexa menjawabnya dengan sangat lancar.
"Sepertinya ilmunya tidak ada yang menghilang dari ingatannya."
"Aku akan membawakan album kenangan saat kita SMP dan SMA," ucap Hannie.
"Aku juga akan membawakan foto-foto saat kuliah," kata Kenzi.
☆☆☆
Hannie dan David menunjukkan foto-foto itu pada Lexa.
"Ini Mia, Budi, Anton ... "
Hannie menyebutkan nama-nama yang ada di foto itu.
"Ini Minami, Yuko, Taki, Yamada, Kevin, Park Kim, Natasya ... "
David juga ikut mengenalkan Lexa pada teman-teman kampus mereka.
Zion dan Aron juga tidak kalah ketinggalan.
Lexa mengangguk, mencoba mengingat nama dan wajah mereka. Siapa tahu suatu saat nanti mereka bertemu, kan?
Lexa duduk di samping Zion tanpa ada rasa cannggung. Sesekali gadis itu juga melempar senyum pada Zion.
Senyum yang sangat dia rindukan. Hati Zion tiba-tiba menghangat. Ada kebahagian dalam dirinya saat Lexa selalu duduk di sampingnya tanpa kebencian.
Jujur saja, dia sangat ingin memeluk Lexa. Mengungkapkan semua perasaannya. Namun dia tahu ini bukanlah saat yang tepat. Akan ada banyak pertanyaan yang akan diajukan Lexa. Kali ini Zion hanya bisa menahannya.
Zion mencebik kesal saat Lexa dan David bercanda. Tentu saja dia cemburu. Dia bukan hanya harus membuat Lexa kembali jatuh cinta padanya tapi juga harus bersaing dengan David.
Kenapa dia selalu menjadi sainganku?
Hah ... merepotkan saja!
Aku benar-benar harus memulai kembali dari nol.
Tetapi tidak apa.
Terima kasih Lexa, sudah kembali mengisi hari-hariku.
Aku akan terus memperjuangkanmu!
Aku akan mengganti semua kesedihan kamu dengan kenahagiaan.