ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
8 PERSETUJUAN



"Aku memberikanmu waktu tiga hari. Kamu boleh mempertimbangkannya dulu."


Setelah berbicara mereka kembali ke ruang keluarga.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya bunda.


"Hanya masalah bisnis. Memangnya apa yang kalian harapkan?"


"Jadi bagaimana Lexa, Zion, kalian sudah setuju kan?"


"Aku akan mempertimbangkannya dulu. Tapi aku punya persyaratan." Bukan hanya untuk Zion, dia juga harus mengajukan kesepakatan dengan para orang tua. Tidak mau ceroboh atau dia akan rugi besar. Benar-benar otak bisnis yang mendarah daging.


"Persyaratan apa?"


"Jika kami jadi menikah, kalian tidak boleh ikut campur dalam rumah tangga kami dalam hal apapun. Aku akan tetap jadi wanita karir. Kalian tidak boleh menuntut apapun lagi padaku. Bagaimana, apa kalian setuju?"


"Baiklah," jawab Ronald.


"Kalau begitu aku akan menyuruh pengacara untuk menyiapkan surat perjanjiannya. Tapi itu juga kalau aku dan pria ini setuju untuk menikah!"


"Lexa, jangan keterlaluan seperti itu kamu!"


"Bukankah ini pernikahan bisnis? Aku juga tidak ingin rugi. Aku hanya bersikap sebagai pembeli yang berhak menentukan. Kalian tidak dalam posisi yang memberikan persyaratan. Tapi aku. Aku yang mengajukan persyaratan dan kalian tinggal menanda tanganinya."


Entah siapa yang paling kesal. Selain Lexa, wajah yang lain nampak sama.


Marah


Kecewa


Alex dan istrinya terlihat sedih dengan sikap anaknya yang seperti ini. Entah kenapa Lexa mereka mengajukan persyaratan yang seperti itu kepada orang tuanya sendiri, apalagi di hadapan Zion dan kedua orang tuanya.


Apa ada yang salah dalam didikan mereka? Yang salah adalah mereka memaksa Lexa menikah dengan pria pilihan mereka. Haruskah perjodohan ini dibatalkan saja?


"Aku kasih waktu satu minggu untuk ayah, bunda, om dan tante mempertimbangkannya. Selama satu minggu ini jangan ada yang membicarakan masalah perjodohan lagi. Kalau begitu aku permisi, besok pagi aku ada meeting jadi harus segera beristirahat!"


☆☆☆


"Brengsek!"


Zion melemparkan kemejanya asal-asalan. Dia mengacak-ngacak rambutnya.


Dia belum pernah sekesal ini kepada seorang wanita.


Kamu ingin mempermainkanku Lexa? Baiklah, kamulah yang akan terperangkap dalam permainanku!


Sementara itu di kamar yang lain, Lexa nampak puas dengan perkataannya. Dia berharap rencananya akan berhasil untuk menggagalkan perjodohan itu. Kalaupun ternyata gagal, dia masih punya rencana yang lain. Apapun akan dia lakukan.


☆☆☆


Tiga hari berlalu.


"Aku ingin pernikahan kita berlangsung selama dua tahun."


"Enam bulan! Ingat, aku yang berhak mengajukan persyaratan, bukan kamu!"


"Satu tahun. Tidak enak di dengar orang kalau kita hanya menikah enam bulan. Akan mempengaruhi harga saham perusahaan."


Lexa nampak berpikir.


Memangnya aku peduli dengan harga saham? Tapi tidak ada salahnya juga bermain-main sedikit lebih lama dengan pria ini. Aku tahu dia pria licik. Tidak mungkin dia tidak punya rencana. Aku harus berhati-hati.


"Baiklah, kalau begitu satu tahun. Persyaratan dariku juga akan bertambah. Aku akan memikirkan persyaratan lainnya nanti. Sekarang aku sibuk. Kamu boleh pergi!"


Lexa langsung melanjutkan pekerjaannya tanpa memandang Zion.


Sementara itu dalam rapat orang tua.


"Kita memang tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka."


"Benar, seiring waktu mereka akan saling mencintai."


"Tapi aku khawatir, ini pernikahan. Jangan samakan pernikahan dengan bisnis. Ini menyangkut kebahagian anak-anak kita."


Mereka menghela nafas bersama. Masih mempertimbangkan untung ruginya.


☆☆☆


Dengan didampingi pengacara, Zion menanda tangani perjanjian tersebut. Dia juga membuat surat pengalihan saham atas nama Alexa Elora William. Lexa juga sudah menambah beberapa persyaratan.


Sekarang hanya tinggal keputusan dari pihak orang tua.


Zion dan Lexa nampak santai menyantap makan siang mereka. Lexa memikirkan apa yang harus dia katakan pada David nanti. Seandainya saja David ada disini, nyatanya pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya dan belum bisa datang. Dia sudah sangat merindukan David dan Hannie.


Zion menatap Lexa yang nampak murung. Ada kesedihan di mata gadis itu. Zion tahu itu pasti karena perjodohan ini, tapi dia tidak ingin membahasnya.


Zion sendiri tidak ingin membayangkan kehidupan pernikahannya nanti bersama Lexa.


Untuk apa aku pikirin? Hanya satu tahun dan aku akan menyelesaikannya dengan sangat apik. Aku ini seorang pebisnis, bukan gayaku yang bisa menerima kekalahan. Kamu anggap pernikahan ini pernikahan bisnis? Kalau begitu aku akan memenangkan tender ini. Setelah itu aku akan membuatmu terjatuh. Lihat saja nanti!


Perlahan namun pasti, peperangan yang sesungguhnya akan segera terjadi jika pihak orang tua menyetujui persyaratan itu.


☆☆☆


Satu minggu berlalu. Kedua pihak keluarga akhirnya menanda tangani persyaratan itu. Lexa menahan gejolak dihatinya. Tidak dapat mundur lagi. Rencana-rencana selanjutnya sudah terpampang jelas dalam pikiannya. Dia mengepalkan tangannya dan tersenyum miris.


Zion terus memandang Lexa dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalau begitu kalian menikahlah secepatnya."


"Aku mau bertunangan dulu."


"Baikkah. Pertunangan akan diadakan minggu depan."


"Aku mau pertunangan dan pernikahan aku nanti diadakan secara besar-besaran dan mewah. Aku mau semua stasiun televisi meliputnya."


Katanya tidak ingin menikah, tapi kenapa malah ingin diadakan secara besar-besaran dan orang-orang tahu? Dasar munafik, pura-pura tidak mau tapi ingin pamer juga.


Zion berdecak singit.


"Kamu yakin?"


"Tentu saja! Banyak pria berkelas yang berharap aku menjadi pendampingnya, bahkan untuk sekedar makan bersama mereka sudah sangat senang. Apa nanti kata mereka kalau pertunangan dan pernikahanku malah sederhana dan tertutup. Mereka akan mengasihaniku. Lagi pula bukankah itu bagus untuk pria ini, semua pria akan iri padanya juga kagum aku mau menikah dengannya. Jadi berterima kasihlah kau Tuan Muda!"


Setiap yang keluar dari mulutnya hanyalah kesombongan! Lihat saja nanti, saat kamu sudah menjadi istriku, maka akulah pengendali keadaan. Bagaimanapun kuatnya dirimu, kamu hanyalah seorang wanita.


Tanggal pertunangan sudah ditetapkan. Lexa tidak peduli dengan persiapannya. Dia hanya ingin diadakan secara mewah dan besar-besaran juga diliput oleh semua media.


Besok mereka akan memesan cincin dan gaun.


Lexa ingin segera menghubungi David untuk membicarakan masalah ini. Dia tahu David pasti akan sangat marah dsn kecewa padanya. Tapi ini hanya sementara. Hanya satu tahun, setelah itu dia akan bebas. Bahkan dia sudah memikirkan rencana untuk mempercepat kesepakatan itu hingga tidak sampai satu tahun.


Lexa masih tetap diam begitu juga dengan Zion. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Menyiapkan strategi, saling menjatuhkan dan menghancurkan. Tidak ada yang mau mengalah hingga saat ini.


Lexa yang merasa dikekang oleh orang tuanya.


Zion yang merasa terhina oleh sikap Lexa.


Lexa yang benci dengan pria seperti Zion.


Zion yang berambisi dengan wanita seperti Lexa.


Siapa yang menyakiti atau disakiti?


Siapa yang menang atau kalah?


Siapa yang tertawa atau menangis?


Siapa yang bertahan atau menyerah?