ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
100 DI RUANG KERJA ZION



Kedua orang tua Lexa dan Zion sedang berbicara di taman belakang, sedangkan yang muda-muda membakar daging untuk memenuhi ngidam seseorang, entah itu Zion atau Lexa. Lexa memang tidak menyukai suasana yang sepi. Setiap akhir pekan, dia pasti meminta para sahabat dan keluarganya untuk berkumpul.


Lexa menghampiri para orang tua.


"Lagi ngomongin apa sih, Bun, kok sedih gitu?"


"Lagi ingat sahabat-sahabat kami."


Lexa melihat foto lama yang ada di atas meja. Ada enam remaja yang cantik-cantik dan tampan-tampan.


"Ini ayah, bunda, mommy dan daddy, kan? Yang dua orang ini siapa? Kok aku belum pernah lihat?"


"Ini Yuta dan Yuka, mereka saudara kembar."


"Terus sekarang mereka di mana?"


"Mereka berdua sudah lama meninggal." Raut wajah sedih terlihat di wajah keempat orang tua itu.


"Kalau mereka masih hidup, anak-anak mereka mungkin seumuran aku ya, Bun? Bisa jadi sahabat aku juga ya."


Alhamdulillah mereka enggak ada ... pikir Zion.


Eh?


Bukannya Zion jahat, hanya saja Zion berpikir kalau saja mereka ada, bisa jadi mereka akan memiliki anak laki-laki dan menyukai Lexa juga. Kan bisa bahaya, saingannya akan bertambah banyak.


Zion mengerucutkan bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal itu tidak luput dari penglihatan orang-orang ya g ada di sana.


"Kamu kenapa sih, kok aneh gitu?" tanya mommy.


"Ada hikmah dibalik kejadian."


Hanya dia saja yang benar-benar mengerti apa maksud dari perkataannya itu.


Lexa kembali melihat foto-foto itu. Pandangannya kembali pada sebuah foto pria yang sudah sangat tua, sepantaran dengan kakek neneknya.


"Ini siapa, Bun?"


"Oh, ini uncle Kamamura, orang tua Yuta dan Yuka."


Lexa melihat foto lama itu. Dia seperti pernah melihat orang itu entah dimana. Mungkin saja dia adalah seorang pengusaha yang wajahnya pernah dia lihat di televisi.


"Besok kami akan ke pemakaman Yuta dan Yuka," terang daddy.


☆☆☆


Siang ini Lexa akan ke kantor Zion. Bukan untuk membahas pekerjaan, bukan juga untuk melepas kangen. Di belakangnya sudah ada asisten yang membawa kantong yang terlihat cukup berat.


"Xa!" panggil Aron. Pria itu menghampiri sang nyonya bos yang berjalan penuh percaya diri. Mereka memasuki lift bersama.


"Gimana kandungan kamu?"


"Baik. Ron, kamu enggak bosa ngejomblo mulu?"


Aron mendelikkan matanya.


"Memang kamu ada calon untuk aku?"


"Enggak!"


Sekali lagi Aron mendelikkan matanya.


"Zion lagi apa sekarang?"


"Palingan tanda tangan berkas. Satu jam lagi ada calon klien yang mau datang buat membahas kerja sama."


Lexa membuka pintu ruangan Zion. Pria itu terlihat serius dengan berkas-berkas yang menumpuk. Zion melihat siapa yang datang.


"Beb, kamu kok enggak bilang-bilang mau datang. Kangen, ya?"


"Enggak!"


Benar-benar kejam itu si Lexa. Zion harus banyak menahan sabar menghadapi istrinya itu.


Waktu digombalin, boro-boro baper, yang ada nih kening jadi korban sentilannya terus.


Saat dicuekin, boro-boro ngambek minta diperhatikan, dia malah lebih cuek lagi.


Saat dirayu, merona dikit, kek, tuh pipi, dia malah curiga kalau aku ada maunya.


Dia saat masih kecil dengan yang sekarang beda banget.


Ck, dulu dia dikit-dikit minta gendong. Maunya diperhatikan, makan minta disuapi. Dulu gandeng tangan aku terus.


Manja dikit kek, Xa, sama suamimu yang tampannya kebangetan, ini.


Pintu terbuka, membuyarkan lamunan Zion akan nasibnya.


Matanya melebar, tak percaya dengan apa yang muncul di hadapannya.


"Ngapain kalian ke sini?"


"Mau rujakan, atas permintaan ibu hamil yang ngidamnya membuat orang jungkir balik ngelus dada dan berhenti bernafas sesaat," jawab Andre. Hannie menjitak kening Andre sedangkan pria itu meringis pelan.


Tadi, di loby, orang-orang sangat heboh atas kedatangan David, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Andre, Malvin, Samuel dan Hannie.


Ini pertama kalinya mereka datang ke perusahaan Zion. Mereka juga sangat tahu persaingan antara perusahaan David cs dengan perusahaan milik keluarga Willson, mereka juga tahu bagaimana hubungan nyonya muda mereka dengan David cs.


Tidak ada yang mencegah, entah kenapa. Sebelumnya mereka juga tahu kalau Lexa ada di ruangan Zion. Gosip-gosip mulai ditebarkan.


Tidak dapat dipungkiri sebagian besar dari mereka (khusus untuk kaum hawa, bisa dipastikan semuanya) sangat senang melihat mereka secara langsung.


Mereka kini mengakui, bukan hanya dari perkataan orang-orang, bahwa Lexa benar-benar beruntung, memiliki suami seperti Zion juga (entah sahabat atau apa) seperti Favid cs yang juga sangat tampan.


Boleh minta satu?


"Rujakan?" mungkin Zion berpikir kalau pendengarannya salah.


Lexa membuka papper bag yang tadi dibawa oleh asistennya.


Isinya?


Ulekan


Cabe


Yah, segala hal yang dibutuhkan untuk membuat bumbu rujak.


Sedangkan yang baru datang, mengeluarkan barang bawaan mereka yang isinya adalah buah-buahan.


Aron menahan tawa, sedangkan Zion, matanya tak berkedip.


"Ya sudah, tunggu apa lagi? Zion, kamu yang ngulek, ya. Aron, kamu yang ngupas dan potong-potong buahnya!" titah sang ratu.


Eh?


"Kok, aku?"


"Kenapa aku juga?"


"Kan kalian enggak ikut patungan buah. Masa enggak mau nyumbang apa-apa?" lagi-lagi Lexa membuat takjub.


"Aku sudah bawa ulekan dan bahan bumbunya loh, ini. Berat, tahu!"


Heleh, berat. Yang bawa kan, bukan Lexa, tapi asistennya.


Zion benar-benar tak habis pikir, adaaaa aja, yang dilakukan oleh Lexa. Dapat ide dari mana coba, dia?


Aron mulai mengupas buah-buahan, sedangkan Zion menatap ulekan itu dengan tatapan horor.


"Jangan dipandangi mulu, nanti kamu bisa jatuh cinta!"


"Diam deh, Davdav!"


Zion mulai mengulek ...


Pintu terbuka.


Tiga pasang mata menatap sang CEO dengan tatapan tak percaya.


Calon klien beserta asistennya diam tak bergeming.


Memang, sebelumnya dia menyuruh sekretarisnya untuk langsung saja menyuruh tamunya untuk masuk. Siapa sangka malah datang di waktu yang tak tepat.


Jatuh sudah wibawa seorang Zion.


"Eh ... kak Arkan," sapa Lexa.


"Oh, hai Xa, Han dan Dav. Kalian di sini juga?"


Ternyata calon kliennya Zion itu adalah Arkan, senior Lexa dan satu angkatan dengan David.


"Ayo sini masuk, kita rujakan, Kak."


Arkan menggaruk hidungnya, maksudnya ingin menyamarkan tawa agar tidak keluar.


Mereka mulai ngerujak dengan posisi yang sangat tidak - CEO banget -


Duduk selonjoran di lantai dengan mencocol sambel rujak.


Ceklek ...


Hening sesaat, mencoba mencerna suara apa itu.


Itu adalah suara ponsel Lexa saat mengambil foto. Tanpa ba bi bu dia langsung mengunggahnya di sosial media.


Sangat terpampang jelas wajah semua orang beserta rujak itu dengan posisi awur-awuran.


Arkan, beserta asistennya yang merupakan korban baru ingin protes, tapi takut. Entah takut pada Lexa, Zion atau David. Sudah bisa dipastikan jika mereka bersatu akan mengguncangkan dunia bisnis.


"Kalau mau bicara bisnis, bicara aja sambil ngerujak. Mereka tidak akan menyabotase kesepakatan kalian, kan perusahaan Zion perusahaanku juga."


Siapa lagi yang bicara kalau bukan Lexa.


Arkan melirik Zion, sedangkan Zion tetap cuek. Memang benar, apa yang dimiliki oleh Zion akan menjadi milik Lexa dan anak cucu mereka nanti.


Selang satu jam kemudian mereka kelelahan. Bukan lelah karena membahas bisnis. Tapi lelah karena terlalu banyak mengunyah buah dan kepedesan. Lexa tidak membiarkan mereka berhenti sebelum dia merasa cukup. Katanya tidak enak kalau makan sendirian.


Sebenarnya Zion sangat salut akan David cs. Persahabatan mereka dengan Lexa sangat kompak. Mereka masih peduli dengan ngidam Lexa dan mau melakukannya. Lexa sungguh beruntung memiliki mereka.


Zion melihat ruangannya. Ruang kerjanya malah dijadikan tempat untuk ngerujak bagai ibu-ibu yang sedang melakukan rumpi di depan rumah.


Biarlah, asal Lexa senang!