
Lexa mondar-mandir di ruang tamu menunggu kepulangan Zion, sesekali dia melirik jam tangannya.
"Kok belum pulang juga sih, sudah jam segini," gumamnya. Padahal waktu masih menunjukkan jam empat sore.
Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan mansion. Wajah Lexa langsung berbinar bahagia.
"Kamu lama banget sih, pulangnya. Aku sudah nungguin kamu dari tadi. Ayo ke kamar!"
Zion yang setibanya di rumah langsung di ajak ke kamar oleh Lexa tentu saja ikut berbinar bahagia. Dia jadi keringat dingin dan deg-degan. Sikap Lexa akhir-akhir ini benar-bemar manis baginya.
"Sabar Beb. Kamu sudah kangen berat ya sama aku?"
"Enggak!"
Ya sudah kalau enggak mau ngaku. Dasar istri gengsian tapi cantik.
Sebenarnya kaki Zion sudah lemes saat akan memasuki kamar. Dia seperti wanita yang akan menjalani ritual malam pertama yang gugup harus berbuat apa.
Pintu kamar terbuka, Zion terpana dengan suasana kamar yang banyak dihiasi oleh bunga-bunga berwarna pink. Dia semakin panas dingin dan menundukkan wajahnya menahan senyum sumringah. Kamarnya juga semakin wangi dengan lilin aroma therapi dan pewangi ruangan.
Lexa memandangi tubuh Zion dengan lekat sambil berpikir namun wajahnya tersenyum manis. Zion yang sadar Lexa sedang mengagumi tubuhnya yang macho itu, lalu berdiri bagai model profesional dengan gaya songong ala CEO.
"Kamu mandi dulu gih."
Zion hanya mengangguk semangat.
Aku memang harus wangi agar semuanya berjalan dengan lancar.
"Eh, nanti saja deh mandinya. Soalnya aku sudah enggak sabar." Lexa langsung membuka kancing baju Zion dengan terburu-buru.
Ingin sekali Zion jingkrak-jingkrak dan guling-gulingan, tapi takut Lexa ilfil.
"Tadi aku ke mall, terus aku beli banyak kemeja baru buat kamu."
Istriku ini manis sekali, sih. Gemes gemes gemes ...
Lexa lalu mengambil lima paper bag yang isinya kemeja-kemeja Zion.
"Kamu cobain dulu nih."
Lexa mengeluarkan semua kemeja itu dari dalam paper bag. Wajah Zion langsung terlihat horor. Ada beberapa kemeja pria yang semuanya berwarna pink. Mulai dari pink tua, muda, pink pucat, hingga pink keungu-unguan dll. Total ada tujuh pink yang berbeda.
Lexa bukanlah penggemar warna pink. Dia menyukai warna merah yang menurutnya warna merah itu berani dan menantang.
"Ayo buruan dicoba!"
Lexa memakaikan Zion kemeja itu, sedangkan Zion menggaruk kepalanya yang antara gatal sama pusing.
"Kok kamu garuk-garuk kepala mulu, sih? Kamu ketombean atau kutuan? Jangan dekat-dekat aku loh, nanti nular."
Masa iya ganteng-ganteng begini kutuan dan ketombean. Dia kan tahu sampoku dibuat dengan bahan khusus dan sangat mahal. Diracik oleh para ahli dan dikemas secara higienis.
"Tuh, bagus kan pilihan aku."
Lexa memakaikan satu persatu kemeja itu, Zion hanya bisa pasrah dengan perbuatan istri tercinta.
Semua kemeja sudah selesai dicoba, Lexa juga ternyata membelikannya dasi dengan warna pink berpadu warna lain (pink-ungu, pink-merah, pink-putih, pink-hitam, pink-biru, pink-abu dll).
"Ya sudah sana kamu mandi, aku mau nonton film thriller dulu."
"Gak dilanjutin, Yang?"
"Apanya yang mau dilanjutin?"
"Katanya kamu sudah enggak sabar. Aku sudah siap banget loh."
"Ya tunggu hari senin dong. Hari ini kamu cobain dulu kemeja sama dasinya. Besok kamu pergi kerja pake kemeja sama dasi baru itu. Aku yakin, pasti orang-orang akan memandang kamu takjub."
Zion melongo tak percaya.
Iya, memandang aku karena ingin mencela. CEO tampan berpenampilan alay.
Seketika khayalan Zion tentang adegan ini itu buyar sudah karena Lexa yang mulai memutar film 21+. Bukan film 21+ yang mesum, tapi film 21+ yang banyak adegan sadisnya.
Istriku itu kadang ngeselin. Gemes gemes gemes ...
Zion keluar dari kamar mandi, dilihatnya Lexa ysng tertidur dengan laptop yang masih menyala. Lexa memang kebih suka nonton dengan laptop dari pada di ruangan home theater yang sudah disediakan Zion.
Zion melihat ternyata yang sedari tadi Lexa tonton adalah film Doraemon petualangan. Zion terkekeh geli sambil menoel-noel pipi Lexa yang semakin chuby itu, namun Lexa tetap tertidur pulas. Zion membaringankan tubuhnya di samping Lexa.
Keesokan paginya Zion lebih dulu bangun dari Lexa. Dia segera mandi dan setelah itu kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Lexa.
"Ketek kamu jangan di hadapkan ke aku dong!" ujar Lexa yang terbangun karena aroma sampo yang sering Zion iklankan kepada Lexa 'Sampo mahal dengan bahan-bahan khusus bla bla bla ... '
"Ketek aku wangi, Yang. Mulus tanpa bulu, diberi sabun khusus ... "
"Stop! Enggak usah pamer."
Zion semakin mendekatkan ketiaknya yang katanya beraroma theraphy itu ke hidung Lexa.
"Aaarrgghhhh ... " teriak Zion, karena Lexa yang kaget spontan menggigit ketiak Zion.
"Aarrggghh ... jorok banget kamu, Yang. Nih, aku kasih lagi yang sebelah."
Lexa langsung mengelap mulutnya lalu menimpuk Zion dengan bantal guling.
"Awww ... awwww ... aaahhhh ... " Zion mendesah seolah sedang dig****-g**** oleh Lexa, membuat Lexa semakin geram.
"Jangan disitu Beb, yang ini aja."
"Udah ah, aku capek."
"Beberapa ronde lagi, Yang. Masa kamu baru satu ronde sudah KO, sih?"
Jika ada yang mendengar tanpa melihat kejadian, pasti langsung salah paham.
Tok tok tok ... pintu kamar mereka diketok.
"Tuan, Nyonya, ada Tuan David dan yang lain."
Mereka langsung bergegas turun tanpa merapihkan diri dulu.
David dan yang lain memandang mereka dengan tatapan aneh.
"Kok kamu keringatan gitu, Xa?" tanya Kartika.
Memang wajah Zion dan Lexa berkeringat akibat pertempuran tadi.
"Aku habis bertempur sama Zion di kasur. Davdav ... Yonyon ngeselin banget deh. Masa katanya aku payah, baru satu ronde sudah langsung KO. Aku mah selalu kuat, mau berapa ronde juga aku jabanin. Ini karena aku lagi hamil aja, makanya gampang capek. Kan kasihan anak aku nanti terguncang-guncang," ucap Lexa polos dan apa adanya.
David cs saling melirik, sedangkan Hannie menunduk malu sambil menahan tawa. Karina merasa gelisah dengan omongan Lexa, apalagi Yosuke duduk di sebelahnya.
Sedangkan Zion ... ekspresinya susah diungkapkan dengan kata-kata. Antara bangga, malu, bingung, mau ketawa, syok ... semualah bercampur jadi satu. Hidungnya kembang kempis dengan rona wajah yang dari putih normal ke pink lalu ke merah.
"Pokoknya aku enggak terima. Ayo Zi, nanti malam kita bertempur lagi. Kita buktikan siapa yang lebih kuat, aku atau kamu."
Hannie dan Kenzo menjadi panas dingin dan mendadak ingin pulang.
"Kalau perlu kita bertempur sampai pagi. Aku akan buktikan kalau aku, Alexa Elora William tidak pernah kalah oleh siapapun. Baik itu pertempuran di atas ranjang atau di arena tinju sekalipun."
David cs kembali saling melirik. Bingung mau berkomentar apa.
"Kalau perlu kalian semua jadi saksi dan menonton pertempuran aku dan Zion."
Eh?
Serius?
Hah?
What?
Zion memejamkan matanya dan menghela nafas, semakin gemas dengan istrinya itu.