
**TAQABALLAHU MINNA WAMINKUM
MAAF LAHIR BATIN YA**
"Bukan boneka yang diempok, tapi aku."
Zion tersenyum penuh kemenangan. Kapan lagi, pikirnya. Zion mulai mengusap-ngusap punggung Lexa, senyum malu-malu Zion terus saja mengembang.
Ya, seperti itulah selama tujuh hari berturut-turut. Lexa akan menempel terus pada Zion. Apa karena area kasur yang jadi sempit atau karena Lexa yang memang ingin bermanja. Namun yang ada dalam pikiran Zion adalah Lexa memang tidak bisa jauh darinya. Lebih tepatnya itu pikiran untuk menghibur dirinya sendiri, meskipun tiap malam dia akan jatuh dari kasur karena kesempitan.
Waktu terus bergulir, banyak masalah yang datang silih berganti. Berita tentang Zion yang dekat dengan banyak wanita terus saja diperbincangkan. Entah siapa yang menyebarkan berita-berita itu. Para bodyguard juga selalu mendampingi Zion dan Lexa, bukan tanpa sebab.
Sekarang adalah hari ulang tahun pernikahan Zion dan Lexa. Mereka mengadakan pesta yang dihadiri bukan hanya keluarga besar dan sahabat, tapi juga relasi bisnis dan anak-anak panti asuhan. Pesta meriah sekaligus tanda syukur atas kehamilan Lexa yang sudah memasuki usia delapan bulan.
"Selamat malam semuanya. Hari ini saya saya sangat bahagia, selain karena hari ulang tahun pernikahan saya dengan istri tercinta, juga karena sebentar lagi kami akan memiliki anak yang akan menjadi penerus keluarga William dan Willson."
Jantung Zion berdebar sangat kencang, entah apa penyebabnya, begitu juga dengan Lexa.
"Saya tidak tahu hadiah apa yang bisa saya berikan untuk satu-satunya wanita yang sangat saya cintai sejak kecil."
Zion terdiam sesaat sambil terus memandang wajah canti istrinya itu.
"Begitu banyak ujian yang harus kami hadapi untuk dapat bersama. Begitu banyak cobaan untuk kami saat bersama, namun kami tetap bertahan."
Lexa menyeka sudut matanya, benar apa yang dikatakan Zion.
"My Honey, tanpa kamu minta, hati ini telah kuberikan semuanya untukmu. Aku enggak peduli meskipun kamu sampai gumuh."
Tawa langsung terdengar dari orang-orang. Masih sempat-sempatnya Zion yang terkenal cuek dengan orang-orang itu becanda disela kata-kata romantis yang hanya diberikan untuk Lexa seorang.
"Aku persembahkan sebuah lagu untukmu, Yang."
Zion lalu memainkan piano itu seorang diri.
(Teruntuk kamu, hidup dan matiku
Aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya
Atau dengan kalimat apa aku mengungkapkannya
Karena untuk keberkian kalinya
Kau buat aku kembali percaya akan kata cinta
Dan benar, bahwa cinta masih berkuasa di atas segalanya
Ketika hati yang mudah rapuh ini
Diuji oleh duniawi, diuji oleh materi untuk kesekian kali Lagi, lagi, dan lagi)
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
'Kan teramat panjang puisi
'Tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Aku pernah berfikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini?
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Untukmu hidup dan matiku
Bila musim berganti
Sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci 'Ku 'kan tetap di sini
Bila habis sudah waktu ini (Bila musim berganti)
Tak lagi berpijak pada dunia (Sampai waktu berhenti)
Telah aku habiskan (Walau dunia membenci)
Sisa hidupku hanya untukmu ('Ku 'kan tetap di sini)
Telah habis sudah cinta ini (Bila musim berganti)
Tak lagi tersisa untuk dunia (Sampai waktu terhenti)
Karena telah kuhabiskan (Walau dunia membenci)
Karena telah kuhabiskan Sisa cintaku hanya untukmu
Sebuah lagu yang benar-benar mewakili isi hati Zion. Para tamu wanita meneteskan air matanya dan merasa melting, tak terkecuali Lexa.
Para sahabat Zion dan Lexa (selain yang tergabung dalam 12 F) benar-benar takjub. Mereka juga sangat tahu kalau Zion sangat mencintai Lexa, namun melihat Zion menyanyikan sebuah lagu yang sangat mewakili isi hati Zion benar-benar luar biasa.
Suara Zion memang sangat bagus, apalagi memainkan alat musik sendiri menambah pesonanya. Tapi kalau harus menyanyikan lagu dangdut seperti saat itu, duh, jangan diharapkan deh. Yang ada malah hancur.
Dari kejadian ini, ada yang mengambil kesimpulan bahwa menikah itu harus dengan orang yang kita cintai.
Ada juga yang berpikiran bahwa lebih baik menikah dengan orang yang memang mencintai kita agar bisa membahagiakan kita.
Dan pikiran-pikiran lainnya.
Mereka tidak tahu saja apa yang pernah terjadi dalam hidup Zion dan Lexa, seperti apa yang sudah dikatakan Zion sebelumnya--semua itu tidak mudah untuk bisa sampai seperti ini, butuh perjuangan bahkan mengancam nyawa.
Pikiran Lexa flashback ke saat dia masih kecil hingga saat ini. Jantungnya semakin berdetak kencang tak karuan. Dia memandangi Zion, orang tuanya, mertuanya, juga sahabat-sahabatnya. Anak dalam perutnya bergerak-gerak, seperti ikut merasakan apa yang maminya rasakan.
Peluh mulai membasahi kening dan tangan Lexa. Dia bahagia juga cemas di saat yang bersamaan.
Zion kembali menyanyikan sebuah lagu untuknya, yang juga mewakili isi hatinya, bahkan lebih mewakili isi hatinya. Membuat hati siapa saja yang mendengarkannya sangat yakin bahwa Zion benar-benar mencintai Lexa.
Lagu itu sangat merdu dinyanyikan oleh Zion. Lagu yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan, membuat iri orang-orang. Zion memandang wajah Lexa penuh tatapan cinta.
Aku sangat mencintaimu My Honey, semoga Allah selalu menyatukan kita. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku mencintaimu, selamanya ...
Kau mau apa pasti 'kan ku beri
Kau minta apa akan aku turuti
Walau harus aku terlelah dan letih
Ini demi kamu, sayang
Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada Ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Di setiap doa sepanjang hariku?
Tuhan, tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan, aku sayang dia
Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada Ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
Oh
Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada Ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti