
Makasih untuk yang masih setia membaca hingga bab ini. Walo kalian sering kesal dengan jalan ceritanya, hehehe.
Hidup tak selurus jalan tol dan tak semulus kulit bayi. Ada yang punya konflik ringan atau berat dalam hidupnya. Masalah keluarga, persahabatan, kesehatan, pekerjaan atau ekonomi.
Begitu juga dengan cerita novel, termasuk novel ini.
.
.
Pas aku baca ulang bab sebelumnya, ternyata ceritanya ada yang kurang, terpaksa aku tulis di bab ini. Malas kalo harus revisi bab sebelumnya.
Sekali lagi, terima kasih untuk yang masih setia dan selalu setia hingga tamat :)
Happy reading ....
.
.
.
"David ...."
Suara Lexa terdengar bergetar sambil menatap ke arah pintu.
"Han ... David?"
Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya untuk bertanya soal David. Rasanya seperti mimpi.
Zion pun sama saja. Pria yang kini telah menjadi ayah untuk bayi kembar lima itu hanya bisa terdiam.
Dia seolah melihat David dengan wajah pucatnya berada di samping Hannie.
Isakan Lexa kembali terdengar dan semakin besar.
"Sudah, Yang. David sudah tidak ada, biarkan dia beristirahat dengan tenang, kasihan dia. Nanti arwahnya penasaran."
Zion masih bisa melihat arwah David yang wajahnya pucat. Pria itu juga menatapnya dengan tatapan kosong.
"Jangan bicara seperti itu, Zi. David baik-baik saja."
Ternyata Lexa masih tidak terima.
"Kita seharusnya mendoakan David. Nanti kalau kamu sudah keluar dari rumah sakit dan sehat, kita akan ke makam David. Aku ingin memberikan penghormatan terakhir padanya."
Zion melihat David yang mendekati Lexa. Pria berwajah pucat itu mengusap kepala Lexa dan mencium keningnya.
"Jangan sedih lagi Xa, sekarang aku sudah baik-baik saja dan tidak merasakan sakit lagi."
Zion dapat mendengar David mengatakan itu.
"David baru saja berpamitan padamu, Sayang. Jadi biarkan dia pergi dengan tenang."
"Maksudnya?"
"David ada di hadapanmu, katanya dia sudah baik-baik saja. Jadi kamu jangan seperti ini lagi."
Lexa memandang yang lain. Mereka menatap horor pada Zion.
"Jangan bicara sembarangan kamu, Zi."
Suara Lexa terdengan bergetar, mungkin saja dia takut, entahlah.
"Aku serius,Yang. Masa aku bohong sama kamu. Kalau kamu begini terus, nanti Davdav tidak akan tenang di alam kubur."
"...."
"Aw, sakit, Yang."
Zion mengusap lengannya yang dicubit oleh istri tercintanya itu.
Pletakkk
"Aw, sakittt anjirrrr!"
Kali ini keningnya yang dijitak.
Pletakkk
"Woy, sakit ogeb."
Wajah Zion memucat melihat David yang melotot seram padanya.
Zion mulai membaca Al Fatihah, Ayat Kursi, Annas, Al Falaq, Al Ikhlas dan Yasin (lima ayat pertama saja, selanjutnya dia oleng, alias lupa).
"Makanya, Yang, buruan sehat biar kita adain tahlilan. Aku juga sudah memaafkan semua kesalahannya ... awww, sakit!"
"Dasar teman gak ada akhlak!"
"Tega banget kamu, Zi, doain Davdav jadi almarhum."
Zion terperangah ....
Dengan ragu, tangannya mengarah pada wajah Davdav dan mengusap pelan wajah yang pucat itu. Lalu meramasnya dengan gemas.
"Wooiii jijikkkk tauuuu ... ngapain kamu ngelus-ngelus pipi aku?"
"Ya ... Yang? Ini beneran Davdav?"
"Iya, Zi."
"Serius?"
"Kamu juga lihat apa yang aku lihat kan, Zi?"
"Aku enggak lagi mimpi, kan?"
Lexa melihat ke arah sahabat-sahabatnya yang mengangguk menyakinkan.
"Davdavvvvvv ....!"
David langsung mendapat pelukan hangat dan sangat erat.
Bukan, bukan dari Lexa, tapi dari soulmatenya ....
Siapa lagi kalau bukan Zion.
"Anjiiirrrr ... lepassss, jangan peluk kencang-kencang. Sesak nafas aku!"
"Aku kangennn!"
Lagi-lagi bukan Lexa yang berkata, tapi Zion.
Davdav jadi merinding, dia ragu apa dirinya sudah benar-benar sadar dan kembali ke alam nyata atau masih ada di alam ghaib.
Yang lain menahan tawa, terutama Lexa yang masih merasa sakit di bagian perutnya akibat operasi.
"Dav?"
Kali ini baru Lexa yang menegurnya. David kembali bergerak maju dengan kursi rodanya.
Dia mendekatkan wajahnya pada Lexa.
CUP
"Anjriittt asin banget!"
"Gurih ya?" tanya Zion cengengesan, lalu ....
"Huaaaa ... Ayang, kening aku ternoda. Maafkan aku yang tak dapat menjaga kesucianku hanya untuk dirimu saja. Sungguh aku sangat berdosa!"
"DIAM!"
Lexa berteriak, tapi juga tertawa sambil memegangi perutnya. Bisa-bisa bekas jahitannya yang memang masih basah itu lepas gara-gara dua CEO yang memadu rindu.
Eh?
Tunggu!
Ini benaran David, kan?
Berarti yang tadi Zion kira arwah Davdav yang mengecup kening Lexa ternyata benaran?
Serta merta Zion mengambil tisu dengan mengusap bibir Davdav.
"Sungguh, aku tak rela," ucapnya.
"Han, tolongin aku, aku enggak sanggup!"
Hannie dan yang lain?
Jangan ditanya, mereka sudah mondar-mandir ke kamar mandi karena tidak dapat menahan pipis sejak Zion mengatakan melihat arwah David yang ingin berpamitan. Apalagi sampai membaca ayat-ayat Al Qur'an dan mengajak tahlilan.
Sungguh terlalu!
Zion langsung buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya terutama keningnya yang putih mulus dan kini telah ternoda oleh bibir David.
Lexa masih terus berjuang menahan tawa dan air mata yang menetes.
Zion kembali lalu mengecupkan wajahnya sendiri ke bibir Lexa.
"Tolong hapus jejak kenistaannya dari wajahku ini!"
Bukannya Lexa ingin jadi istri durhaka, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menoyor Zion.
Tidak tahukah Zion bahwa dirinya lah yang telah menzolimi istrinya itu.
Sudah tahu istrinya baru saja lahiran bayi kembar lima dan bekas cesarnya masih basah, malah dibikin sakit perut.
CUP
Zion mengecup kening Lexa yang tadi bekas David.
Zion dan Lexa tentu saja bersyukur akan mukzizat ini. Kenzo yang memang sejak awal selsku berada di ruangan David lalu menceritakan semuanya ....
FLASHBACK ON
Saat Lexa digendong oleh Zion dengan kondisi ketuban yang telah pecah dan darah menetes-netes di lantai, Kenzo mendekati David yang tubuhnya masih terpasang alat-alat medis.
Tiba-tiba jari David bergerak, Kenzo langsung memberi tahu Dokter.
Mereka langsung nengambil tindakan. Tapi detak jantung David kembali berhenti dan nafasnya yang memang masih lemah juga menghilang.
Tidak lama kemudian, kelopak mata David seperti bergerak, dokter dan perawat kembali melakukan tindakan.
Hal tersebut terus saja berulang berkali-kali.
Pergi
Kembali
Pergi
Kembali
Bahhkan dokter sudah tidak ada lagi yang berani keluar agar bisa terus memantau David.
Hingga akhirnya, saat Lexa mulai mengeluarkan bayi pertamanya, David benar-benar kembali.
Di saat Lexa berjuang menahan rasa sakit untuk melahirkan, David juga berjuang untuk kembali.
Yang lain menangis penuh haru saat mengetahui David kembali dengan perjuangan yang sangat berat, terutama Hannie. Dia terus saja memeluk David. Bahkan Kenzo tak dapat melerai pelukan itu.
"Lexa sudah melahirkan, Dav. Bayi kembar lima. Kamu harus cepat sehat agar bisa melihat keponakan-keponakan kita."
Di saat Lexa berjuang untuk sadar setelah mengalami pendarahan dan harus mendapatkan donor darah, David juga berjuang untuk sehat secepatnya.
Di saat Lexa merajuk untuk melihat anak-anaknya yang lahir prematur, David juga membujuk Hannie dan Kenzo agar bisa melihat Lexa dan keponakan-keponakannya.
Mereka ingin memberi tahu kabar gembira ini kepada Zion dan Lexa. Tetapi Zion selalu menghindar saat ada yang menyebut nama David, takut juga membuat Lexa semakin sedih.
Bagai perempuan yang sensi saat ada seseorang yang menyebut nama mantannya yang berkhianat dan menikahi gadis lain.
David hanya bisa melihat video live dari ponsel Hannie, lalu Hannie mendorong kursi roda David.
Mereka tersenyum saat mendengar nama malaikat-malaikat kecil itu yang diberi oleh Zion tanpa paksaan, membuat David benar-benar terharu.
Davin ... Davio ... Davis ... Daviv ... Davia
FLASHBACK OFF
Zion menatap David dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu memberikannya nama seperti namaku?"
"Agar kamu tahu bahwa kamu salah satu orang yang penting dalan hidupku."
Ini antara bercanda dan serius, tapi tetap saja membuat yang lain ngilu.
Entah apa yang ngilu itu.
Sambil berbicara, David sambil mengusap-ngusap bibirnya yang tadi digosok dengan tanpa kelembutan oleh Zion. Begitu juga dengan Zion yang masih mengusap keningnya yang sudah merah.
"Aku baru tahu, ternyata keringat CEO juga asin!"
"Cih, makanya jangan suka nyosor."
"Kamu tuh yang main sosor, enggak malu apa di sini banyak orang."
Astagfirullah ....
Lexa menggigit bibirnya dengan kuat. Dosa apa dia punya suami dan sahabat seperti ini?
"Aku pikir kamu meninggalkanku."
"Mana mungkin aku pergi, kalau separuh jiwaku tertinggal di sini."
Lalu David kembali melanjutkan, "Bila ku mati ... kau juga mati. Walau tak ada cinta ... sehidup semati ...."
(Penggalan lirik lagu Naif-Posesif ... ingat kan video klipnya?)
Zion mengerucutkan bibirnya dan terlihat seksi.
"AAARRGGHH ... HANNIE BAGAIMANA INI ... AKU NGOMPOL."
Serius loh, Lexa ngompol gara-gara Zion dan David.
Hannie sendiri memang sudah basah dari tadi, tapi dia malu mengatakannya. Masa dokter ngompol sih, apa kata pasiennya nanti.
Kamvret tuh emang dua CEO, enggak tahu apa ada dua cewek yang sejak dulu susah nahan pipis dan empat orang tua yang beranjak manula.
Sepertinya Lexa harus ikut-ikutan pakai pampers seperti bayi-bayinya.