
Zion Melviano Willson ....
itulah aku, pria dengan berjuta pesona.
Ganteng?
Banget!
Kaya?
Gak usah ditanya!
Tenar?
Artis saja kalah!
Banyak wanita yang mengejar-ngejar diriku. Tidak perlu ditanya apa alasannya.
Untung saja aku pria yang setia dengan satu wanita saja.
Dia adalah Alexa Elora William ....
Aku sudah mengenalnya sejak dia pertama kali mengucapkan oekkk ... oekkkk ... oeeekkkkk ....
Wajahnya imut menggemaskan, boneka barbie saja kalah. Ingat ya, boneka barbie, bukan boneka panda kesukaannya apalagi boneka Hulk.
Dia gadis yang ceria dan lucu.
Dia sering bercerita tentang David, Hannie dan Tiara.
David?
Siapa sih dia?
Siapapun dia, aku yakin tidak lebih tampan dariku.
Kaya?
Masa sih lebih kaya dariku?
Aku yakin isi dompetku lebih tebal dari dia.
Tebal karena foto Lexa yang aku simpan bagai jimat, hehehe.
Bukannya aku sombong, karena kata mommy dan daddy anak baik tidak boleh sombong.
Tapi aku sangat yakin bahwa ketampananku permanen dan tak ada duanya. Juga sudah dihak patenkan.
Bukan imitasi bukan juga abal-abal
Saat kami SD, calon istriku itu mengenalkan temannya yang bernama Tiara.
Sayangnya, aku dan Lexa tidak pernah satu sekolah.
Saat pertama melihat Tiara, aku langsung tidak menyukainya. Dia itu kaya nyamuk, pengennya aku tabok.
Satu hal yang aku tanamkan dalam pikiranku, David adalah saingan meskipun aku belum pernah melihatnya.
Waktu silih berganti, ketampananku menjadi-jadi.
Dampak negatifnya adalah, si ulat bulu binti nyamuk aides aigepti itu terus saja mendekatiku. Apa dia tidak tahu aku alergi serangga?
Pernah suatu ketika aku melihat wajah ulat bulu itu memakai makeup. Dih, masih SMP aja sok-sok'an dandan.
Memang hanya Lexa yang cantiknya natural dan segar bagai air terjun dan embun pagi hari di tengah pegununungan yang ditumbuhi pepohonan.
Bukan hanya aku yang semakin ganteng, tapi Lexa juga semakin menggetarkan hati (kalau fisik gak perlu ditanya, lah).
Tapi, aku merasa ada yang berbeda dari Lexa. Dia seperti jauh dariku.
Apa karena pria yang bernama David itu?
Lexa milikku, hanya milikku. Tidak ada yang boleh merebutnya dariku.
Ulat bulu semakin begerilya. Tapi aku eneg saat melihatnya dan pusing saat mendengar suaranya yang sok dilembut-lembutin. Aku heran sama Lexa, kok bisa sih dia akrab dengan cewek munafik seperti itu.
Hah, tapi Lexaku memang baik.
Aku merasa ada yang hampa dalam diriku saat Lexa semakin menjauh. Apa dia marah padaku?
Tibalah saatnya aku harus ke London, meninggalkannya sendiri di Jakarta. Ingin sekali aku menikahinya, tapi dia masih SMA.
Sejak aku di London, Lexa benar-benar menghilang dalam hidupku.
Aku merindukannya, sangat rindu.
Ada kalanya akunmenyesal pergi ke London. Tapi aku juga ingin mewujudkan cita-citaku, untuk membahagiakan Lexa dengan kemampuanku sendiri, mendirikan 4C.
"Aku suka pria seperti ayah, yang bisa mendirikan perusahaan sendiri, bukan warisan oma opa," seperti itulah yang dia katakan dulu.
Maka aku akan menjadi apapun yang dia sukai.
Bagiku mendirikan perusahaan itu hal yang kecil. Yang berat itu jika dia berkata, "Aku ingin menikah dengan Superman."
Aku tidak bisa terbang!
Menghilangnya Lexa dari kehidupanku, membuatku berpikir apakah dia tidak merindukanmu? Apakah dia tidak merasakan seperti yang aku rasakan?
Apakah ....
Apakah ....
Apakah ....
Itulah yang selalu aku tanyakan dalam hatiku setiap harinya.
Aku rindu menggendong dirinya.
Aku rindu menyuapi saat dia makan.
Aku rindu menoel pipinya.
Aku rindu mendengar celotehannya.
Rindu ....
Aku rindu dengan segala apa yang ada dalam dirinya.
Kabar yang aku dengar dari kedua orang tuanya, bahwa Lexa dinJepang bersama dengan David dan Hannie.
Untuk yang pertama kalinya aku merasakan patah hati yang sedalam-dalamnya.
Aku menyibukkan diriku dengan bekerja dengan membawa keyakinan bahwa sebelum janur kuning melengkung, aku masih bisa mendapatkannya. Bahkan jika mereka menikah, maka aku akan menunggu jandanya.
Haruskah aku bahagia atau bersedih?
Aku akan menikah dengan Lexa, tapi sepertinya dia tidak menginginkan pernikahan ini.
Biarkan aku egois, aku ingin memiliki Lexa. Masalah hati itu belakangan, cinta akan datang dengan sendirinya.
Aku yakin seiring berjalannya waktu, Lexa akan merasakan bahwa aku tulus mencintainya.
Lexaku berubah, dia kini arogan dan judes.
Apakah pria itu yang membuat Lexaku seperti ini?
Dia benar-benar membawa pengaruh buruk untuk Lexa.
Dia tak lagi berkata lembut, sorot matanya memancarkan kebencian. Apa karena aku tidak menolak perjodohan ini dan membuat dia harus berpisah dengan pria itu.
Memang apa sih kurangnya diriku?
Di acara pernikahan kami, di saat itulah pertama kalinya aku melihat pria tang bernama David itu.
Ck, tetap saja lebih ganteng aku.
Sial, dia memeluk Lexaku di pernikahan kami.
Apa dia ingin menunjukkan bahwa Lexa sangat mencintainya?
Cih, aku tidak akan pernah terpengaruh.
Tetap saja aku yang menikah dengan Lexa, dan dunia mengetahui itu.
Lexa hamil!
Sial, berani sekali pria itu merusak Lexaku yang lugu. Tidak puaskah dia mengubah Lexa menjadi seperti ini?
Ingin sekali aku membunuhnya!
Aku tahu Lexa mengerjaiku dengan meminta ini itu saat dia hamil. Tapi biarlah, dari pada dia memintanya kepada pria itu. Aku tidak akan pernah membiakan mereka dekat.
Lexa terjatuh dari tangga dan ini semua salahku. Rasanya aku tidak akan memafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan Lexa.
Sayangku, maafkan aku!
Aku tidak ingin hidup lagi saat dokter mengatakan Lexa telah pergi. Penantianku selama berbulan-bulan saat dia koma haruskah berakhir seperti ini?
Bahkan aku sudah berjanji padanya, jika dia sadar, maka aku akan menceraikannya. Apakah janjiku tidak cukup untuk dia kembali?
Tiara!
Dialah penyebab semua ini terjadi.
Lexa sadar, dan aku bahagia meski harus menceraikannya.
Tapi, dia kehilangan ingatannya.
Jujur saja aku bahagia Lexa amnesia, dengan begitu dia lupa akan segala kesalah pahaman yang terjadi meski dia juga lupa bahwa kami telah menikah.
Mungkin ini yang terbaik. Aku bisa mengulang semuanya dari awal lagi, merebut hatinya dan membuat diriku yang dia cintai.
Hari-hari berjalan dengan cukup lancar, sampai akhirnya Lexa tiba-tiba mengucapkan kata pisah padaku. Apa ingatannya sudah kembali?
Bolehkah aku mengingkari janjiku?
Aku tidak ingin menceraikannya.
Aku memanfaatkan perjalanan kami dengan kapal pesiar sebaik mungkin, hingga kabar kehamilan Lexa dua bulan setelah kami kembali aku dengar dari bibir manis itu.
Akhirnya aku punya anak dengannya dan David sendiri yang mengantarkan Lexa padaku.
Masa-masa kehamilan Lexa membuatku bahagia tapi juga deg-degan.
Untung saja bukan hanya aku yang meladeni ngidamnya.
Hubunganku dengan David juga semakin dekat.
Aku dan Lexa dirundung duka saat kehilangan calon anak kami. Sesak sekali rasanya.
Lagi-lagi ujian datang, setelah cukup lama menunggu dan Lexa dinyatakan hamil, tragedi kembali terjadi. Penembakan brutal itu terjadi tiba-tiba.
Aku melihat David yang juga berusaha melindungi Lexa dan dunia seolah menggelap.
"Kembalilah, Lexa dan anakmu sangat membutuhkanmu."
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Jangan khawatirkan aku. Tugasku untuk menjaga Lexa akunserahkan kepadamu. Bukan tak ingin lagi menjaganya, tapi mungkin ini saatnya menyerahkan jabatan kepadamu."
"Aku angkat lagi jabatanmu menjadi bodyguard Lexa."
"Aku ini seorang CEO, berani bayar berapa kamu?"
"Dengan kedipan mataku."
"Jijik!"
"Banyak loh perempuan yang girang menerima kedipan mataku."
"Aku bukan perempuan dan aku laki-laki normal."
Kami semakin menggigil kedinginan sambil melihat perahu kecil yang tiba-tiba muncul lagi setelah membawa Lexa.
Dia mendorong tubuhku, memaksaku untuk menaiki perahu itu. Perahu mulai bergerak dan aku melihatnya melambaikan tangan dengan wajah yang tersenyum sangat tulus.
Kembalilah ... segeralah susul aku dan Lexa pulang. Aku akan menjadi orang terdepan yang akan selalu mendukungmu!
Kembalilah!
Kembalilah!
Kembalilah!
Doa yang terus kuucapkan dengan tulus.
David pergi, kenapa rasanya jufa sakit, ya?
Bukan karena aku ada kelainan, tapi seolah kembaranmu pergi meninggalkanmu meskipun aku juga tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara kembar.
Di saat itu juga Lexa melahirkan.
Dua doa dalam satu harapan.
Keselamatan Lexa dan anak kami juga David.
Davin, Davio, Davis, Daviv, Davia ....
Sebagai tanda persahabatanku dengan pria yang bernama David, yang dulu sangat aku benci.
David hadir dalam ruang rawat inap. Aku jadi semakin sedih, apa karena aku dan Lexa yang belum ikhlas makanya dia jadi gentayangan?
Tenang saja David, aku akan membuat pemakaman yang indah untukmu.
Cup!
Dia memeluk dan mengecup kening Lexa.
Ingin marah, tapi toh Lexa juga tidak merasakannya, kan. Sebenarnya aku juga ingin memeluknya. Tapi apa yang akan mereka pikirkan jika aku memeluk udara.
Nanti mereka sangka aku gila.
Aku mulai membaca yasin, agar arwahnya damai dan dia bisa pergi dengan tenang.
Dia mengeplak kepalaku, haruskah dia mengucapkan salam perpisahan dengan cara seperti ini?
Aku mulai cemas, apa dia jadi tidak ikhlas membiarkan aku menaiki perahu kecil itu dan kini dia kesepian?
Jangan-jangan dia ingin mengajak aku lagi.
Tapi, sentuhan tangannya terasa sangat nyata (aku merinding, bukan karena takut loh, tapi karena kalimatku sendri).
Ternyata Davdav kembali pada kami.
Ingin sekali aku mencubit pipinya gemas apalagi saat dia akan kembali memeluk Lexa.
Tapi jika aku mencubit pipinya, Lexa akan cemburu dan menganggap aku telah menduakannya.
Tenanglah Lexaku Sayang, cintaku hanya padamu.
Dan untuk David, terima kasih telah kembali. Bukan hanya untuk Lexa, tapi juga untukku ... sahabatku, saudaraku!
Ayo bersama kita membuat cerita untuk dikenang anak cucu kita :)