
"Apa? Katakan sekali lagi!"
"Aku akan menikah! Dengan Zion Melviano Wilson."
"Jangan bercanda Lexa!"
"Aku serius!"
"Tapi bagaimana bisa? Apa kamu mencintainya?"
"Orang tuaku memaksa. Tentu saja aku tidak mencintaniya."
"Aku akan ke Indonesia sekarang juga. Tunggu aku!"
"Tapi pekerjaanmu?"
"Masa bodo dengan pekerjaanku. Kamu yang utama. Seharusnya aku ke Indonesia sejak awal. Kenapa kamu tidak cerita sejak awal?"
"Maafkan aku. Bukannya aku ingin menutupinya darimu. Aku sudah mencari berbagai cara untuk membatalkannya. Tapi sepertinya aku tetap harus menikah dengannya."
"Kamu serius kan, tidak mencintainya?"
"Iyaaa ... kamu tidak percaya padaku lagi?"
"Aku percaya padamu. Maafkan aku!"
"Ya sudah, aku tunggu kedatanganmu di Jakarta."
David mengepalkan tangannya.
Sial, aku kecolongan!
Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas pergi.
"Ken, siapkan perjalanan ke Jakarta sekarang juga."
"Baik!"
☆☆☆
Di Jakarta Lexa dan Zion sedang memesan cincin.
"Aku mau yang elegan dan tidak ada yang boleh menyaminya."
"Baik, Nona!"
Setelah cincin selesai dipesan, mereka lalu ke butik untuk memesan gaun pertunangan untuk Lexa juga jas untuk Zion.
Para orang tua sibuk mempersiapkan konsep, undangan, gedung juga semua yang berhubungan dengannya. Mereka memang menggunakan jasa EO, tapi mereka juga tetap mengambil bagian dalam persiapan ini. Mereka tahu selera Lexa yang menyukai kemewahan. Apalagi ini juga acara satu-satunya penerus keluara William dan keluarga Wilson. Jadi mereka tidak ingin asal-asalan.
☆☆☆
Seorang pria tampan berjalan dengan tergesa-gesa. Kulitnya putih, pandangan matanya menawan, rahangnya tegas, postur tubuhnya tinggi tegap. Dialah David Ardiansyah.
"Aku sudah tiba di Jakarta. Kamu ada dimana? Aku akan menjemputmu sekarang juga."
Setelah mendengarkan jawabannya, David segera menyuruh sopir menuju alamat yang dimaksud.
Satu setengah jam kemudian dia tiba dan segera menuju loby. Wajahnya yang rupawan membuat mata wanita enggan untuk berkedip.
Ruangan Lexa terbuka.
"Lexa!"
Lexa melihat kehadiran David dan langsung memeluknya dengan erat, tidak peduli kalau disitu ada Zion.
Setelah puas mereka melepaskan pelukan itu.
Zion berdeham.
David menatap Zion dengan pandangan penuh permusuhan, begitu juga dengan Zion.
"Kamu tunggu dulu ya, Sayang. Aku masih rapat dulu dengannya."
"Baiklah, aku tunggu kamu di loby!"
Sepuluh menit Lexa dan Zion menyelesaikan pertemuan itu.
Lexa bergegas menuju loby bersama Zion. Setelah melihat David, Lexa langsung menghampirinya dan mereka bergandengan tangan penuh mesra tanpa mempedulikan tatapan orang-orang terutama Zion.
☆☆☆
"Jangan khawatir, aku hanya satu tahun saja menikah dengannya."
"Apapun bisa terjadi dalam waktu satu tahun itu, Lexa. Bisa saja kamu jatuh cinta dengannya."
"Kamu tidak percaya denganku? Aku percaya padamu tapi aku tidak percaya padanya. Bagaimana pun dia itu laki-laki."
"Tenang saja. Aku akan menjaga diriku baik-baik selama satu tahun ini. Tidak akan aku biarkan dia menyentuh aku!"
"Jangan pernah terbuai dengan rayuannya. Dia terlihat licik!"
"Tentu saja. Sampai kapan kamu akan di Jakarta?"
"Aku akan terus berada disini dan menjaga kamu!"
Lexa tersenyum, mereka lalu melanjutkan makan siang mereka.
☆☆☆
Persiapan pertunangan sudah sembilan puluh persen. Disaat orang-orang sibuk dengan rencana pertunangan itu, Lexa malah sibuk menghabiskan waktu luangnya dengan David.
"Kata Hannie dia juga akan kesini," ucap Lexa.
"Benarkah?"
"Iya. Dia kaget saat aku bilang akan menikah dengan pria itu."
"Apalagi aku."
☆☆☆
Lexa, Zion dan para ayah mereka sedang membahas masalah pekerjaan di ruangan Lexa.
Tok tok tok
"Maaf Nona, ada paket untuk Anda!"
Sari memberikan amplop coklat pada Lexa. Lexa membuka amplop itu dan melihat isinya satu-persatu.
"Wow, menakjubkan!"
Lexa langsung melempar ke arah meja hingga foto-foto itu berantakan di atasnya. Foto-foto yang menunjukan Zion dengan banyak wanita.
Zion mengernyitkan alisnya.
"Mereka bukan siapa-siapaku. Apa kamu sengaja melakukannya untuk menjebak aku?"
"Untuk apa aku melakukannya. Sejak awal juga aku sudah tahu kalau kamu itu playboy brengsek yang menjijikan!"
"Jaga ucapanmu!"
"Memang kenyataannya seperti itu!"
Mereka terus saja beradu mulut.
"Sebaiknya ayah pikirkan lagi untuk menikahkan aku dengannya!"
"Lexa, dengarkan ayah baik-baik. Ayah dan bunda percaya dengan Zion. Dia tidak seperti itu. Bukan salahnya juga kalau banyak perempuan yang menyukai dan mendekatinya. Lagi pula sebentar lagi kalian juga akan menikah dan orang-orang pasti akan tahu juga kan soal status kalian yang suami istri. Para wanita itu akan menyingkir dengan sendirinya. Jadi jangan khawatir!"
Lexa nampak geram. Bisa-bisanya ayahnya bersikap santai seperti itu. Zion tersenyum puas mendengar perkataan Alex. Mendapat dukungan dari calon mertua sudah benar-benar ada di tangannya.
☆☆☆
"Kamu mau makan malam apa? Biar aku yang masakin."
David sudah memakai celemeknya. Saat ini dia dan Lexa sedang berada di apartemen David.
"Aku mau makan nasi goreng udang saja, tapi yang pedas."
"Baiklah tuan putri, makanan akan segera siap, mohon tunggu sebentar."
David tampak lihai mengolah bahan.
Tidak berapa lama kemudian makanan sudah siap. Aroma yang menggiurkan semakin menggugah selera. Jeruk hangat dan madu juga sudah disiapkan oleh David. Sangat terlihat sekali kalau pria itu menyayangi gadis dihadapannya.
☆☆☆
Zion teringat akan David saat pria itu memeluk Lexa dihadapannya. Emosinya seketika membesar. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol.
Entah kenapa dia merasa sangat kesal. Padahal dia dengan Lexa sudah mencapai kesepakatan. Mereka juga belum menikah, bertunangan saja belum.
Kalau terus-terusan kesal seperti ini aku bisa cepat tua!
Ponselnya berdering, lagi-lagi pesan masuk dari wanita. Wanita kali ini yang dia tulis dengan nomor urut sepuluh. Dia sudah malas menamai nomor-nomor itu dengan nama asli mereka. Toh dia juga tidak akan ingat.
Seberat inikah resiko pria tampan dan kaya?
Nasihat dari sahabatnya, Aron.
Pikirkanlah hal-hal yang narsis disaat dirimu pesimis!
Entah kenapa akhir-akhir ini dia malah mengikuti saran yang sejak dulu dia anggap tidak berfaedah itu.
Dia bukannya tidak percaya diri. Berwajah tampan, cerdas, kaya raya, berasal dari keluarga terpandang. Banyak wanita yang mengejar-ngejarnya.
Jika Zion berdiri berdampingan dengan David, maka para wanita akan bersikap serakah. Mereka ingin memiliki keduanya.
Sulit untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Jika orang-orang tahu hubungan Zion - Lexa - David, maka semakin irilah para wanita kepada Lexa.
David sedang mencari cara untuk menggagalkan pernikahan Lexa dan Zion. Dia tidak ingin Lexa jatuh ke dalam pelukan Zion. Dia sudah lama mengenal dan bersama Lexa, bukan hanya dua tiga tahun.
David adalah tempat bagi Lexa bersandar.
Lexa adalah bagian penting dalam hidup David.
Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia!