ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
33 ITU ANAK AKU



"Ih, pedas banget!"


"Ya iyalah, cabenya banyak gini!"


Dua wanita itu sedang asik menikmati rujak di apartemen rahasia Lexa.


Dua pria lagi sudah mengambil keputusan yang akan sangat mempengaruhi masa depan mereka.


Ponsel Lexa berbunyi.


Zion


[Aku mau bicara padamu sekarang. Penting!]


David


[Ada yang maj aku tanyakan padamu sekarang. Penting!]


Ada apa dengan mereka berdua?


[Aku tunggu di restoran dekat kantorku]


Lexa mengirim pesan itu kepada mereka berdua.


"Hannie, aku mau pergi dulu. Kamu masih mau disini?"


"Iya."


Sepeninggal Lexa, Hannie lalu mengelus perutnya yang masih rata itu sambil tersenyum.


"Kamu kangen ayah ya, Nak? Sabar ya, nanti kita bertemu ayah," gumam Hannie pelan.


☆☆☆


Lexa sudah memesan banyak makanan. Dua pria itu belum ada yang datang. Lexa juga memesan ruang VVIP.


Zion dan David bertemu di pintu masuk restoran tersebut. Mereka saling berpandangan sinis.


Saat akan memasuki ruangan yang sama, mereka saling mengernyitkan kening tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Cepat duduk, aku sudah lapar."


David dan Zion duduk bersisian. Mereka melihat Lexa yang makan dengan lahap.


Selesai makan, Lexa terlihat akan muntah tapi dia dapat mengatasinya.


"Apa yang mau kalian sampaikan?" ucap Lexa sambil mengusap-ngusap perutnya.


"Ayo cepat, aku ada meeting sebentar lagi!"


Zion dan David menelan saliva mereka dengan susah payah.


"Tidak bisakah kita bicara berdua saja?" tanya Zion.


"Aku juga ingin bicara berdua saja dengan kamu," ucap David.


"Tidak bisa. Ayo cepat bilang!"


Sekali lagi Lexa terlihat akan muntah, tapi tidak jadi.


"Kamu hamil?" tanya Zion dan David bersamaan.


Lexa terdiam beberapa saat. Matanya terpejam cukup lama.


"Kalian tahu dari mana?"


"Jadi benar?"


"Itu anak aku, kan?" tanya David.


"Tentu saja."


Lexa tersenyum sumringah.


David menghela nafas. Entah merasa lega atau putus asa.


Zion juga menghela nafas. Kalau dia sudah pasti merasa marah.


"Enak saja. Itu anak aku, tahu!" ucap Zion.


Eh? Kok dia ngaku-ngaku?


"Itu anak aku!"


"Anak aku!"


Biasanya kalau ada wanita hamil yang terlibat dengan dua pria, sang pria akan saling melemparkan tuduhan dan tanggung jawab.


Maka ini yang terjadi justru sebaliknya.


Mereka saling berebutan.


Mamanya diperebutin, anaknya juga diperebutin.


"Jangan ngaku-ngaku!"


"Kamu yang jangan ngaku-ngaku!"


"Aku ini suaminya. Istri hamil ya aku akuin, lah."


"Tapi suami bohongan!"


"Dari pada kamu, pacar simpanan!"


"Ya penting diakui!"


Lexa yang melihat perdebatan itu semakin merasa pusing dan mual.


"Sudahlah, kita bicara lagi nanti!"


☆☆☆


Zion melemparkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.


Dia benar-benar marah.


"Aarrgghhh!" teriaknya.


Bagaimana ini bisa terjadi?


Sialan!


Brengsek!


Tidak akan aku biarkan kalian bersama meski ada anak diantara kalian.


☆☆☆


Jadi benar a**kan ada dua bayi yang lahir?


David lalu tersenyum.


Akan bagus kalau bayi itu laki-laki dan perempuan.


Tapi Hannie sebaiknya jangan sampai tahu, dia pasti akan sedih.


Tapi sampai kapan semua ini bisa disembunyikan?


Lama kelamaan perut itu akan membesar juga.


David segera memanggil Ken.


"Belikan aku bakso dan rujak. Yang pedas, ya! Mangga muda sama nanasnya dibanyakin!"


Ken mengernyitkan keningnya tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


"Oya, sama es campur juga, deh!"


☆☆☆


"Aku mau bicara sama kamu!"


"Kamu siapkan saja surat-suratnya, aku akan segera tanda tangani."


"Surat apa?"


"Surat cerai, kan?"


"Lexa! Bisa tidak sih kamu jangan dikit-dikit cerai, dikit-dikit cerai."


"Emang mau bicara apa?"


"Aku akan jadi ayah bayi itu!"


Lexa tertegun dengan perkataan Zion.


"Jangan bercanda, deh!"


"Aku tidak mungkin bercanda untuk hal seserius ini, Lexa!"


"Tapi ini bukan anak kamu!"


"Terus kenapa? Aku juga bisa kok jadi ayah anak itu. Menyayanginya dengan tulus. Bahkan nanti kalau kita punya anak, aku tidak akan membeda-bedakan mereka."


Lagi-lagi Lexa tertegun. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun perkataannya dia telan lagi.


"Coba pikirkan baik-baik!"


Zion masih terus membujuk Lexa.


Lexa sendiri nampaknya sedang berpikir keras.


"Aku ... "


"Tidak perlu kamu jawab sekarang."


Lexa meninggalkan Zion menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Lexa kembali memikirkan pembicaraannya bersama Zion.


Senyum terukir dari wajahnya. Dia terlihat senang.


Entah apa yang dia pikirkan dan rasakan. Tapi perkataan Zion itu seperti angin segar. Rasanya sangat sejuk dan menyenangkan.


Tapi ada perasaan bimbang.


Bisakah dia menjalani semua ini bersama Zion?


☆☆☆


"Kamu mau makan apa?" tanya Zion penuh perhatian.


"Aku mau bubur kacang hijau dan ketan."


"Ya sudah, aku suruh pelayan membuatkannya dulu."


Sebenarnya Zion ingin membuatkan sendiri untuk Lexa, tapi dia tidak ingin Lexa marah lagi seperti dulu.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah bilang belum soal kehamilan kamu pada ayah dan bunda?"


"Belum. Jangan kasih tau orang tua kita!"


"Kenapa?"


"Ya kamu pasti tahu lah, kenapa! Lagi pula aku tidak mau mereka jadi over protektif. Mereka suka berlebihan!"


"Ya itukan demi kebaikan kamu, juga!"


"Pokoknya jangan! Yang ada nanti aku malah jadi setres. Kamu mau, aku sakit lagi?"


"Baiklah, aku tidak akan menceritakan apapun pada mereka."


Tidak lama kemudian bubur dihidangkan untuk mereka.


"Kamu jangan nonton film hantu dan pembunuhan lagi! Kasihan dede bayinya!"


Lexa terbatuk-batuk.


Sebegitu perhatiannya kah Zion pada anak yang sedang dikandung Lexa?


"Jangan makan yang terlalu pedas dan asam!"


Oke, sekarang Zion seperti dokter kandungan yang sedang memberikan arahan pada pasiennya.


"Sudah berapa minggu?"


"Belum aku cek!"


"Ya sudah, nanti aku temani. Kapan mau periksa?"


"Tidak usah! Aku sama Hannie saja. Dia kan dokter kandungan."


"Aku juga mau kok, temani kamu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja!"


Masih tetap usaha!


Mungkin saja mendekatkan diri disaat bayi itu dalam kandungan akan mendekatkan bayi itu pada Zion. Walau bagaimanapun, kan, mereka lebih sering bertemu.


Kalau Lexa ngidam malam-malam, maka Zion lah yang akan menjadi ayah siaga, bukan David!


Kahadiran anak ininakan menimbulkan dua kemungkinan.


Pertama, akan membuat Lexa kembali pada David.


Kedua, akan mendekatkan Lexa dengan Zion dan membuat mereka tetap bersama.


Darah lebih kental daripada air!


Tentu saja Zion tidak akan melarang David bertemu dengan anaknya. Dia tidak akan egois.


Tapi dia juga tidak ingin melepaskan Lexa. Dia berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik.


Dia hanya perlu diberikan kesempatan untuk membuktikan semuanya.


Lexa adalah kunci dari semua itu.


Dia ingin Lexa memberikannya kesempatan. Tidak lagi mengungkit masalah perjanjian satu tahun itu.


Dia ingin ini menjadi pernikahan sekali seumur hidupnya.


Dia tidak ingin memiliki mantan istri.


Dia tidak ingin menjadi mantan suami.


Aku ingin memiliki kalian!