
FLASHBACK ON
Mobil yang ditumpangi Lexa melaju dengan kecepatan normal. Sopir juga masih menjaga jarak dengan mobil yang ada di depannya.
Dari arah berlawanan, sebuah mobil terlihat oleng dan menabrak dengan sangat kencang mini bus yang ada di depannya. Mini bus itu akhirnya terbalik melewati batas jalan dan menghantam mobil yang ditumpangi Lexa.
"Aarrgghh ... awas Pak!" teriak Lexa.
Brugghhh ... mobil itu menghantam sisi yang bertepatan dengan posisi duduk Lexa.
"Aarrgghhh ... "
"Aaarrgghh ... "
Lexa dan sopir berteriak bersamaan. Dering ponsel Lexa berbunyi, namun siapa yang akan mempedulikan sebuah panggilan telepon disaat keadaan sangat mencekam seperti ini.
Ponsel itu terus saja berdering.
Sopir Lexa tidak sempat untuk menghindar, dia hanya mengerem mendadak, namun akibatnya mobil yang ada di belakang Lexa akhirnya ikut menabrak mobil Lexa. Bahkan mobil-mobil lain di belakangnya juga jadi ikut-ikutan menabrak. Mengakibatkan mobil Lexa seperti gangsing yang berputar saling menabrak antara mobil.
"Aaaarrrggghhh ... "
"Aarrggghhhh ... "
Tubuh Lexa terombang-ambing di dalam mobil. Kepalanya terbentur pintu dan jendela mobil. Posisinya sudah tak beraturan. Kepala di bawah dan kaki di atas. Dia memegangi perutnya, menjaga agar perutnya tidak terbentur apapun. Darah mulai menetes dari hidung dan mulutnya.
"Zi ... onnn ... " ucap Lexa lirih, teringat wajah Zion yang tadi tersenyum saat dia mengecupnya, lalu sahabat-sahabatnya, orang tua, mertuanya, dan kakek neneknya. Lexa meneteskan air mata sebelum akhirnya menutup mata dengan darah segar yang terus mengalir dari kepala, hidung, mulut dan bagian bawahnya.
Tidak cukup sampai di situ, mobil Lexa terbalik dan menabrak bahu jalan.
Entah berapa banyak mobil yang mengalami kecelakaan. Yang masih sadar segera keluar dari mobil, itu pun sekitar dua tiga orang saja dan langsung ambruk.
Orang-orang yang tidak terkena tabrakan beruntun tersebut langsung berhamburan, ada yang menghindar karena takut jika ada mobil yang meledak, ada juga yang berusaha menyelamatkan korban terdekat, juga ada yang menelepon ambulans dan polisi.
Tidak bisa dijelaskan bagaimana kacaunya jalanan tersebut. Tabrakan yang terjadi dari dua arus yang berlawanan mengakibatkan banyak yang menjadi korban. Dari arus yang di lalui Lexa sendiri ada sekitar sepuluh mobil yang kecelakaan, lalu arus lawan ada delapan mobil.
Bukan hanya mobil, pengendra motor dan pejalan kaki juga banyak yang menjadi korban akibat kecelakaan maut tersebut, karena ini bukan di jalan tol.
Polisi langsung mengevakuasi para korban. Mobil Lexa yang keadaanya paling ringsek karena terbalik dan terjepit beberapa mobil, mengakibatkan sulit untuk mendapatkan pertolongan secepatnya. Polisi dibantu warga mengeluarkan para korban yang masih ada di dalam mobil.
Asap mengepul dari berbagai mobil. Kaca-kaca pecah berhamburan. Darah segar mengalir dari celah-celah. Mobil-mobil penyok tak beraturan. Bsn motor bergelinding di jalanan.
Teriakan-teriakan meminta tolong terdengar dari berbagai arah, membuat orang-orang semakin panik. Suara rintihan dan erangan kesakitan seperti paduan suara yang menyayat hati.
Mereka bingung mana dulu yang harus ditolong. Semua terlihat kacau. Suara tangis dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut bersahut-sahutan.
Kematian ...
Ya, pasti banyak kematian yang terjadi hari ini. Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa.
Anak yang kehilangan saudara atau orang tuanya.
Istri yang kehilangan anak atau suaminya.
Suami yang kehilangan anak atau istrinya.
Sahabat yang kehilangan sahabat lainnya.
Calon suami atau istri yang kehilangan calon pasangannya.
Takdir, inilah takdir. Semua tidak dapat dihindari.
Maut sudah ditentukan. Siapa yang pernah menyangka bahwa jalanan yang tadinya tenang berubah menjadi bagai neraka.
Ada yang pergi dengan riang meninggalkan orang-orang disekitarnya, seperti Lexa.
Ada juga pergi dengan pertengkaran dan akan membuat penyesalan seumur hidup.
Pergilah dengan tenang, damailah di sana. Mungkin itu yang diucapkan dalam hati oleh orang-orang yang mengevakuasi.
Ada yang sudah meninggal di tempat, ada yang tangan dan kakinya terjepit hingga sulit untuk dikeluarkan. Semua terlihat kritis. Yang lukanya paling ringan hanya yang posisinya paling belakang dan tidak ditabrak oleh mobil dibelakangnya karena sempat menghindar. Walau mobil-mobil selanjutnya juga lecet, namun para penumpangnya dipastikan selamat.
Mobil Lexa lah yang paling terakhir dievakuasi. Polisi yang sangat sulit mengeluarkan Lexa, akhirnya berhasil juga, sedangkan sopirnya sudah lebih dulu dikeluarkan.
Polisi dan beberapa warga yang mengenal sosok Lexa dari berita dan infotainment, tentu saja merasa terkejut dengan salah satu korban itu.
"Segera hubungi keluarga Willson dan William," salah satu polisi langsung menghubungi atasannya untuk mengabari berita tersebut. Lalu atasannya yang memang mengenal pengusaha itu segera memberi kabar.
Ambulans yang mengangkut Lexa menjadi prioritas utama.
Pihak rumah sakit tempat Hannie dan Yosuke bekerja sudah dihubungi. Entah berapa banyak ambulas yang membawa para korban itu. Dokter dan perawat segera melakukan pertolongan pertama di UGD. Kedatangan ambulans Lexa lah yang paling heboh.
"Beri tahu dokter Hannie, nona Lexa menjadi korban kecelakaan," perintah salah satu dokter pada security, karena mereka tahu bagaimana hubungan Lexa dan Hannie.
Sementara itu, di tempat lain di waktu bersamaan saat Lexa mengalami kecelakaan tadi ...
Zion dan David duduk dengan gelisah. Bayang-bayang wajah Lexa memenuhi pikiran mereka. Seperti itulah mereka, jika ada sesuatu yang buruk pada Lexa, perasaan mereka akan tidak tenang, seperti kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Pantat kalian bisulan? Enggak bisa tenang banget, sih."
"Aku juga kepikiran Lexa, ingin melihat dia dan baby."
Zion dan David saling berpandangan. Untuk saat ini Zion tidak merasa cemburu dengan perkataan David, karena ada hal lain yang lebih meresahkan hatinya, tapi dia tidak tahu apa itu. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Lexa, tapi tidak juga diangkat-angkat.
Sekejur tubuh Zion mendadak gemetaran, wajahnya pucat.
"Kenapa?"
"Kok Lexa enggak angkat-angkat teleponnya, ya?"
"Tidur mungkin."
Zion membuka galery ponselnya, memandangi satu persatu foto Lexa, terutama foto saat Lexa sedang hamil. Air matanya menetes, entah mengapa dia sangat ketakutan saat ini.
Di tempat Hannie ...
"Dokter Hannie, nona Lexa menjadi salah satu korban kecelakaan, saat ini sedang ditangani di ruang UGD."
Tubuh Hannie membeku, dia langsung berlari menuju ruang UGD. Dia ingin memastikan bahwa itu Lexa, tapi semoga saja salah. Jangan sampai terjadi apa-apa pada saudarinya dan keponakannya.
Hannie langsung menerobos rusng UGD, ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
DEG
Itu Lexa, itu memang Lexa. Air matanya mengalir. Dokter meminta Hannie untuk menunggu di luar.
Hannie terduduk lemas di lantai. Dia ingin menghubungi David dan Kenzo, namun tangannya tak mampu untuk mengambil ponsel yang ada di sakunya.
Ya Allah, tolong selamatkan Lexa dan babynya.
Di kediaman orang tua Lexa.
"Hallo ada apa San?" tanya ayah kepada temannya yang bekerja di kepolisian.
"Lex, sebelumnya tolong tenangkan dirimu."
"Memangnya ada apa?"
"Anakmu Lexa, menjadi salah satu korban kecelakan beruntun. Saat ini dia sudah dibawa ke rumah sakit. Segeralah ke sana. Aku memberitahukan ini secara pribadi padamu. Anak buahku tadi langsung menghubungiku saat mengevakuasinya."
"Apa!" Alex memegang dadanya yang terasa sakit.
"Cepat ke sana, Lex."
"Baiklah. Oya, tolong kamu selidiki diam-diam penyebab kecelakaan itu."
"Tentu saja, aku dan orang-orang kepercayaanku akan menyelidiki ini secara pribadi. Aku tutup dulu."
Alex berusaha menenangkan dirinya.
"Kenapa, Yah?"
"Lexa kecelakaan beruntun, Bun. Ayo kita ke rumah sakit. Sandi juga pasti sudah menghubungi Ronald."
Bunda menangis, mereka segera ke rumah sakit dengan menggunakan sopir.
Di tempat Zion ...
"Halo?"
"Halo selamat siang Tuan Zion. Kami dari kepolisian ingin menyampaikan bahwa istri Anda, nona Lexa menjadi salah satu korban kecelakaan dan saat ini sudah dilarikan ke rumah sakit."
"Apa, jangan mengada-ada kamu. Saya akan menuntut kamu atas kebohongan yang kamu katakan."
"Saya tidak berbohong tuan. Saya anak buah pak Sandi. Pak Sandi sedang menghubungi tuan Alex dan tuan Ronald ... "
Zion langsung mematikan ponselnya. Air matanya langsung mengalir.
"Ada apa?"
"Ada yang meneleponku, katanya Lexa kecelakaan."
Mereka langsung terdiam, tidak ingin percaya begitu saja. Bisa saja kan ini jebakan.
Ponsel Zion dan David berbunyi bersamaan. Zion mendapat telepon dari orang tuanya, sedangkan David mendapat telepon dari Hannie.
Sudah bisa dipastikan kalau berita yang mereka dengar itu memang benar, karena Hannie sendiri yang sudah membuktikannya.
Mereka langsung berlari menuju mobil. Mereka menggunakan dua mobil, sedangkan mobil lainnya dibiarkan begitu saja di parkiran restoran.
Zion diam. Dia tidak mampu berkata apa-apa. Nafasnya terasa sesak.
Beb, jangan pergi!
FLASHBACK OFF