
Kembang api dinyalakan, menerangi kegelapan malam di atas kapal. Suara tawa, cerita masa lalu, rencana masa depan, semua dibicarakan oleh mereka. Ada yang akan menjalin kerja sama bisnis, para artis dan model juga mencari kesempatan agar mereka dapat menjadi brand ambassador perusahaan-perusahaan itu. Teman-teman Zion tentu saja bekerja di berbagai bidang. Pengusaha, dosen, pemain film, model, penyanyi, produser, sutradara, arsitek, dokter, pengacara dan sebagainya. Bukankah ini kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan? Ada juga yang berencana menjodohkan anak-anak mereka. Yakinlah, kalau Zion sudah memiliki anak, mereka pasti menjadi target utama perjodohon ini.
Siapa yang akan menolak berbesan dengan Zion dan Lexa? Siapa yang akan menolak mendapatkan menantu yang berkualitas?
Acara reoni itu disiarkan di stasiun televisi milik salah satu teman Zion, tentu saja atas izin Zion. Abram, teman Zion yang memiliki stasiun televisi tersebut, tentu saja tahu mengambil kesempatan. Orang-orang sangat antusias dengan berita tentang Zion dan Lexa, pasangan pengusaha muda yang fenomenal. Acara itu mendalatkan ratting tertinggi di televisi. Orang-orang dapat menyaksikan bagaimana mewahnya sebuah acara yang diadakan di atas kapal pesiar.
Kelucuan dan kekompakan mereka dapat dilihat oleh orang-orang yang menyaksikannya.
☆☆☆
Hari semakin berlalu. Kondisi kesehatan Zion akhir-akhir ini menurun.
"Sebaiknya kita pulang saja!"
"Tapi perjalanan kita bahkan belum ada setengahnya," ucap Zion dengan lesu.
Tentu saja Zion tidak ingin pulang, kalau mereka pulang, maka Zion harus menepati janjinya untuk menceraikan Lexa.
Huek ... huek ...
Zion kembali muntah-muntah. Mungkin ini efek karena sudah terlalu lama berada di laut. Dokter juga menyarankan agar Zion dirawat di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini Zion muntah-muntah, apalagi kalau ada gelombang yang cukup besar, ditambah kondisi cuaca yang kurang bagus semakin menambah rasa mual dan pusing.
Menu siang ini semuanya serba sayur dan buah. berbagai jenis rujak buah, salad buah dan sayur, juga asinan buah dan sayur. Begitu juga minumannya, wedang jahe, lemon tea hangat, juga minuman herbal lainnya.
Lexa yang memang pecinta buah dan sayur tentu saja sangat senang dengan menu tersebut. Malam harinya chef akan menyajikan berbagai jenis sup. Mulai dari sup udang, sup ayam, sup kepiting, sup ikan.
"Ini bahkan sudah lebih dari tiga bulan kita melakukan perjalanan. Lagi pula sebentar lagi Hannie melahirkan. Aku ingin berada disisinya."
Zion memandangi wajah Lexa. Ada perasaan sedih dalam tatapannya.
"Baiklah. Aku juga tidak mau kamu nanti ikut-ikutan sakit. Aku akan menyuruh Aron untuk mengirimkan helikopter agar kita bisa cepat tiba di bandara. Setelah itu kita bisa naik jet untuk kembali ke Indonesia."
Keesokan paginya, helikopter mendarat dengan aman di atas kapal. Lexa dan Zion segera naik.
Mereka tiba di bandara, jet sudah siap untuk membawa mereka kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Zion hanya diam saja. Pikirannya berkecamuk, wajahnya pucat dan keringat dingin bercucuran di wajahnya. Dia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, menutupi segala kegelisahannya.
☆☆☆
Mereka telah tiba di Jakarta. Jantung Zion semakin berdetak kencang. Mobil sudah menunggu mereka untuk kembali ke rumah masing-masing. Lagi-lagi Zion hanya diam, mencoba menikmati sisa-sisa perjalanan.
Tanpa terasa mobil sudah tiba di depan mansion Lexa. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Itulah yang dipikirkan oleh Zion.
"Istirahatlah, jangan sampai sakit. Aku langsung pulang, ya!"
"Jangan lupa janjimu!"
Zion menatap punggung Lexa yang mulai menjauhinya. Ada kehampaan yang mulai mengisi hati Zion.
Setelah Lexa masuk, sopir langsung melajukan mobilnya untuk mengantar Zion. Dokter menyarankan agar Zion dirawat di rumah sakit, namun Zion tidak melakukannya.
Zion tiba di mansionnya, menandakan bahwa perjalanan ini telah berakhir. Entah juga akan menjadi akhir dari pernikahannya dengan Lexa atau tidak, karena selama ini Zion selalu menghindar saat Lexa menunjukkan tanda-tanda akan membahas masalah perceraian. Zion sangat tahu bahwa Lexa adalah perempuan yang tegas. Apa yang sudah menjadi keputusannya, maka akan dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Misalnya saja saat mereka akan menikah, Lexa menentang orang tuanya sendiri bahkan mengajukan surat perjanjian. Bahkan disaat ingatannya hilang lalu sembuh, dia tetap dengan keputusannya untuk berpisah. Tidak peduli bagaimana kedekatan mereka saat dia amnesia. Kalau seperti ini, salahkah Zion bila berharap kalau ingatan Lexa tidak pernah kembali?
Zion juga teringat akan janjinya kalau apapun akan dia lakukan agar Lexa sembuh dari koma. Dia dulu pernah berjanji akan menceraikan Lexa kalau gadis itu mau bangun dan bila perpisahan akan membuat Lexa bahagia.
Lalu kini, sangat berat Zion lakukan disaat perpisahan itu sudah di depan mata. Tidak ada lagi alasan untuk menundanya. Orang tua mereka tidak dapat membujuk Lexa. Sedangkan sahabat? Mereka pasti akan mendukung Lexa untuk berpisah dari Zion. Toh mereka sahabat Lexa, bukan sahabat Zion.
Meski belum semua negara mereka kunjungi, tapi mereka tetap kembali. Sebenarnya mereka bisa saja mengunjungi negara-negara itu kapan saja. Tapi bukan itu masalahnya, kan. Apakah masih ada kesempatan itu?
Zion memijat keningnya yang nyut-nyutan. Kalau saja dia tidak sakit, mungkin saja Zion masih bisa menunda kepulangan mereka meski Lexa memang sudah meminta untuk pulang sejak sebelum reoni.
Zion berbaring di kasurnya, memandangi foto pernikahannya dengan Lexa. Baru satu jam dia berpisah dari Lexa, tapi dia sudah sangat rindu.
Zion menutup mulutnya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk muntah. Setelah itu dia meminum obat yang diberikan oleh dokter karena tadi dia lupa meminumnya saat masih di pesawat.
Dia kembali membaringkan badanya. Kasur itu terasa dingin. Bukan karena sudah lama tidak ditiduri, tetapi karena tidak ada Lexa disisinya. Selama lebih dari tiga bulan ini dia sudah sangat terbiasa tidur disisi Lexa. Memeluknya secara diam-diam, mengamati wajah Lexa tiap incinya.
Lalu kini?
Kehampaan lah yang Zion rasakan.
Malam semakin sunyi, bulan dan bintang tak menampakan wujud mereka karena hujan turun dengan derasnya. Meskipun sudah sangat larut, tapi Zion tetap tidak dapat tidur.
Sayang, aku kangen. Apa kamu bisa tidur tanpa aku di sisi kamu? Apa kamu merasa kesepian tanpa kehadiranku? Apa kamu gelisah, seperti yang aku rasakan saat ini? Kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan? Apa kebersamaan kita selama ini tidak membuatmu merasakan apa yang aku rasakan padamu? Apa kamu tidak pernah mempercayaiku? Harus dengan cara bagaimana lagi aku memperjuangkanmu?
Haruskah aku menyanyikan lagu cinta untukmu?
Haruskah aku menuliskan puisi cinta untuk mengungkapkan isi hatiku?
Aku sangat merindukanmu.
Kembalilah padaku ... aku akan selalu menunggumu, meskipun hingga aku menua!
.
.
.
.
SEASON 2 SAMPAI SINI YA ... CHAPTER SELANJUTNYA MASUK SEASON TIGA.
HMMM ... TEMA SEASONNYA APA YA?
TUNGGU AJA DEH CHAPTER SELANJUTNYA, HEHEHE ...
Tapi alhamdulillah chapter ini bisa selesai juga karena tadi ada kendala. Aku enggak konsen malah nulis cerita untuk chapter selanjutnya, terpaksa aku hapus sebagian, perutku juga keram jadi agak tersendat.
Yaudah, tunggu next chapter ya. Silahkan menebak-nebak nasib Zion. Apapun yang terjadi, kalian boleh marah sama Lexa, tapi jangan marah sama aku wkwkwkkk.
Thanks juga sama yang masih setia baca cerita ini. Yang udah like, komen, vote. Segala bentuk dukungan kalian, makasih banyak.
Semoga Season selanjutnya lebih menghibur. Enggak sedih mulu, enggak konflik mulu, enggak ngegombal mulu.
Terus?
Silahkan menunggu dan menikmati!