
"Dari mana Tiara mendapatkan uang itu?" tanya Alex kepada mereka berlima.
"Kami tidak tahu, tuan. Dia hanya memberikan kami masing-masing seratus juta sebagai uang muka. Sisanya dikirim secara berkala dengan transferan."
"Apa kalian tidak pernah mendengar wanita itu menyebut nama seseorang?"
Mereja berlima mencoba mengingat-ngingat.
"Tidak. Kami juga hanya dua kali saja bertemu dengan perempuan itu."
"Bagaimana kalian bisa yakin kalau dia tidak akan menipu kalian?"
"Itu karena saat kami mencoba kabur dari taman itu ternyata di dalam mobil yang kami gunakan malam itu sudah ada uang sebanyak tiga milyar. Kalaupun dia menipu kami, kami juga tidak terlalu rugi. Sisanya 1.5 milyar di transfer sebanyak tiga kali dalam jangka waktu satu minggu. Kami hanya disuruh pergi sejauh mungkin dan jangan sampai menyebut namanya."
Yang ada dalam pikiran Alex, Zion dan David saat ini sama. Mereka harus memeriksa rekening Tiara enam tahun belakangan. Juga mencari tahu dengan siapa saja perempuan itu berhubungan.
Ada kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikan dari raut wajah mereka.
Siapa dalang sebenarnya?
Apa motif utamanya?
Apakah orang itu orang yang mereka kenal?
Apakah orang itu masih ingin mencelakai Lexa?
Satu hal lagi yang hanya dapat mereka pikirkan dalam hati. Mereka harus waspada dengan orang-orang di sekitar mereka dan tidak boleh membiarkan Lexa sendiri.
☆☆☆
Tiara sedang duduk seorang diri. Menyandarkan badannya di tembok sambil mengelap peluh yang membanjiri wajahnya.
"Ini minum!"
Seseorang sedang memberikan susu kotak kepadanya. Wanita dengan rambut bondol dan wajah sedikit galak.
Tiara tidak mengambil susu itu.
"Ayo ambil, bukankah kamu sedang hamil?"
Tanpa sadar Tiara mengusap perutnya.
"Aku hanya teringat dengan adikku yang sekarang juga sedang hamil."
Wanita itu meneruh susu itu di samping Tiara lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tiara meminum susu rasa coklat tersebut. Ini pertama kalinya dia diperhatikan seseorang di dalam penjara saat orang-orang membullynya.
Tiba-tiba saja dia teringat akan Lexa.
Orang pertama yang bersikap baik padanya saat teman-teman sebayanya memperlakukan dia dengan buruk. Air matanya menetes tanpa izin.
Tiara menghela nafas.
Mungkin ini pengaruh hormon kehamilan. Kenapa aku harus teringat dan merindukan dia?
Orang yang memberikan susu itu memandang Tiara dengan tatapan yang sulit diartikan. Seulas senyum menghiasi wajahnya saat Tiara meminum susu itu dan mulai menangis. Dia lalu menghela nafas lega.
☆☆☆
Kelima pria itu masih disiksa. Sudah mengatakan apa saja yang mereka tahu bukan berarti mereka bisa bernafas lega. Mereka dalam hati berharap ingin dikembalikan saja ke tempat asal. Bahkan dipenjara seumur hidup masih jauh lebih baik dari pada di tempat ini. Disiksa tiada henti. Tidak dibiarkan mati begitu saja. Entah sampai kapan mereka harus merasakannya.
Uang satu milyar untuk tiap orang yang dulu mereka rasakan kini tiada artinya lagi. Siapa sangka enam tahun kemudian mereka akan berurusan dengan Alex William, Zion Melviano Wilson dan David Ardiansyah. Tiga pengusaha besar yang ternyata sangat sadis dibalik wajah ramah dan tampan itu.
Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya mereka bertiga berteman akrab dengan gangster, yakuza, mafia dll.
Terutama Alex yang sudah sangat berpengalaman di dunia itu.
Kalau saja mereka tahu, mereka tentu tidak akan mengambil resiko dengan menyakiti putri kesayangan Alex William dan memfitnah Zion M Wilson.
Mereka sangat tergiur dengan uang sebanyak itu tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa sebenarnya target mereka.
Menyesal!
Hanya itulah yang mereka rasakan kini.
Meskipun sudah batuk darah tidak menghentikan siksaan itu. Meminta maaf dan memohon juga tidak ada gunanya.
☆☆☆
Di rumah sangat sepi. Ayah pergi entah kemana dan bundanya sedang menghadiri rapat pemegang saham di perusahaan lain.
Mata Lexa kini melihat kunci mobil yang tergeletak begitu saja di meja ruang tamu. Dia berpikir sejenak lalu mulai tersenyum. Lexa segera mengambil kunci itu san menuju halaman yang terparkir deretan mobil mewah.
Dengan jantung deg-degan dia mulai menyalakan mobil itu dan menjalankannya.
Eh, aku bisa ya?
Rasa penasarannya semakin tinggi. Dia mulai membawa mobil itu keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun termasuk sekuriti yang saat itu sedang ke toilet. Sedangkan sekuriti yang lain sedang berada di dapur khusus pelayan untuk membuat kopi dan mie instan.
Lexa mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Adrenalinnya terpacu dan mulai melajukan kendaraan itu semakin kencang.
Dia berpikir akan kemana dia pergi.
Sepertinya mall akan menyenangkan.
Sesampainya di mall dia sedikit kebingungan saat akan memarkirkan mobilnya dengan tepat. Dia takut akan menabrak mobil lain. Tapi instingnya tak pernah salah. Mobil itu terparkir dengan mulus.
Lexa berjalan tak tentu arah dalam mall. Dia tidak berniat membeli apa-apa.
Tiba-tiba saja ada tangan kekar yang menyentuh pundaknya. Dengan reflek Lexa langsung memelintir tangan itu dan membanting pria itu ke lantai.
"Aduh!" ucap pria itu.
Lexa memandang wajah pria itu.
"Lexa. Kamu Lexa, kan?"
Lexa masih nampak bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dia baru saja membanting pria dewasa. Dia melihat tangannya sendiri.
"Kamu tidak ingat aku? Ck, aku Yudha. Teman SMA kamu! Kamu kok galak banget sih, badan aku sakit banget tahu."
"Owh hai Yudha, maaf tadi aku reflek. Kamu sih bikin aku kaget. Kamu gimana kabarnya?" kata Leza sok kenal. Padahal dia sama sekali tidak mengingat pria yang bernama Yudha ini yang mengaku teman SMA-nya.
"Aku baik. Oya gimana kabar Hannie, kalian masih sama-sama?"
"Masih!"
"Oya rencananya bulan depan sekolah kita mau mengadakan reoni akbar. Jangan lupa kasih tahu Hannie, nanti undangannya aku kirim. Jangan lupa ajak pasangan kalian."
Lexa hanya mengangguk. Yudha langsung pergi meninggalkan Lexa yang masih bengong.
Tangan aku kok kuat banget, ya?
Apa itu tadi? Pasangan? Maksudnya apa, ya?
Memang sejak kejadian enam tahun yang lalu Lexa dan Hannie mulai belajar ilmu bela diri untuk membekali mereka. David dan yang lain selalu mengasah kemampuan mereka.
Ada banyak pertanyaan dalam hati Lexa.
Lexa masuk ke mobilnya. Saat pulang dia melewati sebuah taman. Taman yang dia datangi enam tahun yang namun kini sudah dia lupakan.
Dia menghentikan mobilnya namun tidak keluar dari mobil itu. Lama dia berada disitu tanpa melakukan apapun. Hingga akhirnya dia menyalakan lagi mesin mobilnya.
Baru saja mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tiba-tiba saja bunyi letusan terdengar dan mobilnya oleng. Mobil itu menabrak pohon dengan sangat kencang hingga keningnya membentur stir mobil dan mengeluarkan darah. Lexa merasa pusing namun dia masih tetap tersadar.
Sementara itu di rumahnya orang-orang sudah panik mencari keberadaan Lexa yang tidak dapat dihubungi karena ponselnya berada di rumah.
.
.
.
SEASON DUA INI BANYAK ADEGAN FIGTHING SEPERTINYA!
NIKMATI ALURNYA YA.
TERIMA KASIH UNTUK YANG MASIH SETIA MEMBACA.